Saat si badboy jatuh cinta pada kebaikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aarav Rafandra01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Getar dibalik keheningan.
Sejak insiden di belakang sekolah itu, ada yang berubah drastis pada dinamika hubungan Faisal dan Aruna. Keterlibatan mereka tak lagi terasa seperti Faisal yang mengganggu, melainkan Faisal yang selalu siap melindungi.
Di koridor sekolah yang padat, Terlihat Aruna yang seperti sedang mencari sesuatu, melihat ke kanan dan ke kiri. Mencari kehadiran Faisal, sekarang ia tak akan lagi meghindar atau merasa terganggu.
Faisal mungkin masih lekat dengan masalah, tapi bagi Aruna. Ia adalah satu satunya masalah yang terasa paling aman. Pagi itu Aruna kembali ke kelas, baginya ruang kelas sudah seperti comfort zone nya. Tetapi kini, tempat itu terasa hampa. Ia menyadari, ruang kelas tak lagi menyenangkan jika Faisal tak ada disana untuk sekedar mengganggunya. Ia merasa kehilangan.
Aruna duduk dimeja yang sama, tetapi kali ini ia tidak fokus pada buku. Ponselnya ia letakan di depan meja, menunggu notifikasi yang ia harap akan datang, entah chat basa basi, atau sekedar pesan pendek.
15 menit kemudian, ponselnya bergetar.
Terlihat disudut layar ada notifikasi pesan masuk dari Faisal.
Faisal. Kamu pasti lagi dikelas ya? Aku tau, orang kaya kamu pasti ga betah di tempat rame.
Aruna tersenyum tipis, ia bahkan tak membalas. Ia hanya menikmati, menyadari bahwa Faisal selalu tahu dimana tempat ia berada. Aruna menutup matanya dalam dalam, memutar ulang rekaman kejadian selama beberapa hari terakhir.
- Tangan kasar Faisal yang dengan lembut menggoreskan kuas pada banner, mengajarkan bahwa campuran tidak selalu berarti kekacauan.
- Genggaman tangan Faisal saat mengantarnya pulang, sebuah deklarasi kepemilikan yang membuat semua orang menoleh, tetapi Aruna merasa sangat terlindungi.
Saat ia memikirkan sentuhan itu, tiba tiba Aruna merasakan denyut asing di hatinya. Bukan rasa takut, bukan rasa iba. Melainkan rasa rindu yang hampir tak tertahan lagi. Aruna menyentuh pergelangan tangannya, tepat dibekas yang digenggam Faisal kemarin.
" aku tidak lagi merasa terganggu dengan kehadirannya."
Aruna membuka mata, mengambil secarik kertas dari tasnya. Dimana Faisal pernah menulis kata kata, Aruna kini mengambil pulpennya dan menuliskan satu kalimat. " Luluh. "
Aruna tak luluh dengan paksaan, ia luluh karena perjuangan Faisal untuk menjadi lebih baik. Aruna jatuh cinta pada Kakak kelas yang terkenal sebagai pembawa masalah, bukan karena paras, atau reputasi nya sebagai siswa yang paling disegani disekolah, tapi karena ia melihat potensi Faisal yang tak kenal menyerah dibalik semua lukanya.
Cinta yang Aruna rasakan adalah Cinta yang berani. Mencintai Faisal berarti berani masuk ke dunianya yang gelap dan penuh kekacauan.
Aruna mengambil ponselnya, mengetik pesan balasan.
Aruna. Hehehe, iya kak. Aruna di kelas. Bisa datang sebentar? Ada yang mau Aruna omongin.
Aruna menekan tombol kirim dengan perasaan campur aduk, tangannya gemetar. Ini adalah pernyataan tak langsung. Sebuah undangan untuk masuk lebih dalam ke kehidupannya.
Beberapa menit kemudian, ponsel Aruna bergetar. Ada balasan singkat dari Faisal.
Faisal. Baiklah
Disisi lain, Faisal berjalan dengan percaya diri, terkesan angkuh. Dengan seragam yang berantakan dan aura pembawa masalah yang tak pernah hilang. Ia bergegas menuju lorong kelas X untuk menemui Aruna. Faisal melihat Aruna sedang menunggunya dimeja, dengan tatapan kosong.
" Ada apa? Kamu mau nembak aku ya? " Faisal tersenyum, tetapi ada nada cemas di suaranya. Ia takut Aruna merasa tak nyaman dan kembali menjauhinya.
Aruna bangkit, ia berjalan mendekat, mengurangi jarak diantara mereka. Ia tak peduli pada aturan, tak peduli pada sudut pandang teman temannya yang berada dikelas, dan tak peduli pada citra Faisal.
Aruna mengangkat tangannya, tangan yang selama ini digunakan hanya untuk memegang pulpen dan buku pelajaran. Kini menyentuh pipi Faisal, tepat dibekas lebam.
Sentuhan Aruna begitu lembut, begitu tulus. Sehingga membuat Faisal terdiam, seluruh pertahanan nya runtuh dalam sekejap. Faisal meneteskan air mata.
" Aku udah ga takut lagi sama kegelapan, Sal." Bisik Aruna, memanggil nama Faisal tanpa embel embel 'kak' untuk pertama kalinya.
Faisal menunduk, mencoba sekuat tenaga menahan air matanya agar tidak jatuh. Matanya menatap Aruna dengan tatapan yang belum pernah ia tunjukkan pada siapa pun, tatapan penyerahan diri. Ia meraih tangan Aruna yang berada dipipi nya.
" Aku ga tau cara menjadi orang baik, Na. Aku terlalu terbiasa bikin masalah. "
Aruna menggelengkan kepala, senyumnya meyakinkan.
" Gapapa, biar aku yang mengajarimu. Aku bakal jadi arah buat semua kekacauanmu. Aku luluh, Aku cinta kamu, Sal."
Faisal meneteskan air matanya, lalu menutup matanya rapat rapat. Setelah bertahun tahun penuh luka, penghianatan, dan perkelahian. Ia akhirnya mendengar kata itu. Dikataka langsung oleh orang paling tulus yang pernah ia temui.
Ketika Faisal membuka mata, ia menarik Aruna kedalam pelukannya, canggung tetapi erat.
PDKT Faisal si pembuat masalah, akhirnya membuahkan hasil. Ia berhasil meluluhkan cinta pertamanya yang berani dan pendiam.
Momen ini menjadi puncak pengakuan emosional Aruna dan menjadi awal dari hubungan mereka.
Keesokan harinya, suasana di sekolah mengalami guncangan kecil.
Faisal dan Aruna datang bersama ke sekolah. Faisal tidak menyembunyikan Aruna, sebaliknya. Aruna juga dengan bangga menggandeng tangan Faisal.
Seperti biasa, Faisal melangkah dengan tegap dan penuh percaya diri, sebuah gestur yang jelas menunjukan kepemilikan. Aruna yang biasanya berjalan menunduk dan menghilang ditengah keramaian, kini dengan bangga melempar senyum bahagia dihadapan ratusan pasang mata.
Di area ujung lorong menuju kantin, teman komunitas Faisal, termasuk Yadi. Tercengang melihat Faisal yang berjalan santai sambil menggenggam erat tangan Aruna, mereka menatap dengan tajam seolah Faisal baru saja menumbuhkan sayap.
" Gila nih si Faisal, akhirnya kesampean juga mimpi lu, btw kalian udah jadian? " tanya Yadi.
Faisal menyunggingkan senyum sombong, menarik Hani ke dekapannya.
" Menurut Lu?, kalo sampai kalian macem macem sama dia, gue sendiri yang bakal turun tangan. "
Reaksi Faisal yang sangat protektif membuat geng dan seluruh siswa yang berada di kantin terdiam. Mereka mengerti, Aruna adalah batas yang tak boleh dilewati.
Pak Agung, wali kelas Faisal. Yang sudah pasrah dengan tingkah lakunya, hanya bisa menggeleng lega.
" Selama Aruna bisa membuatnya tidak bolos dan tidak membuat masalah, saya akan tutup mata." Bisik Pak Agung kepada guru BP.
" Sepertinya cinta yang tak terduga ini adalah obat yang selama ini kita cari."
Ditengah semua bisikan dan pandangan mata, Faisal dan Aruna menemukan kenyamanan satu sama lain. Faisal yang biasanya jarang terlihat berada di lingkungan sekolah, kini memilih duduk dikantin bersama Aruna. Berdiskusi tentang pelajaran sambil sesekali mencibir jawaban Aruna yang terlalu sempurna. Perubahan besar besaran terjadi pada Faisal.
- Berkurangnya perkelahian, Faisal memang tak sepenuhnya berhenti. Tetapi kini, motifnya berubah. Bukan karena perebutan kekuasaan, melainkan siap berkelahi jika ada yang mengganggu Aruna.
- Kehadiran dikelas, Faisal mulai rajin hadir. Meskipun ia sering tertidur di jam pelajaran. Namun, Aruna selalu hadir dalam ingatannya, itu membuat Faisal mempunyai energi untuk melawan rasa kantuknya.
Disisi lain, Aruna menjadi lebih berani. Ia tak lagi berbisik, ia belajar tertawa lebih keras. Dan ia tak takut lagi berinteraksi dengan dunia luar, Faisal telah berhasil mengeluarkan Aruna dari cangkangnya. Mereka berdua adalah pasangan paling tidak serasi, tetapi paling nyata dilingkungan sekolah.