"Orang bilang cinta itu membebaskan. Tapi bagi kami, cinta adalah rantai. Dan aku tidak akan pernah melepaskannya."
Elara Vance telah kehilangan segalanya—keluarga, masa depan, dan harga diri. Dibuang oleh kerabatnya yang kaya raya, dia bertahan hidup di selokan kota, menolak untuk mati dalam diam. Hingga satu malam yang berdarah, takdir menyeretnya kembali ke hadapan Ciarán Vane.
Ciarán bukan pangeran penyelamat. Dia adalah raja bisnis yang dingin, kalkulatif, dan tak punya hati. Dia tidak menawarkan cinta; dia menawarkan kepemilikan. Dia membawa Elara masuk ke dalam sangkar emasnya, memberinya makan, dan membalut lukanya dengan sutra mahal.
Namun, Ciarán melakukan satu kesalahan perhitungan: dia mengira dia memelihara seekor domba yang lemah.
Ini bukan kisah tentang penyembuhan. Ini adalah kisah tentang dua jiwa rusak yang memutuskan bahwa neraka terasa lebih nyaman jika dinikmati berdua.
Mereka busuk. Mereka hancur. Dan mereka sempurna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bangun Dalam Sutra
Aku pikir aku sudah mati.
Itu adalah penjelasan paling logis. Tidak ada tempat di bumi yang bisa sehalus ini. Tidak ada tempat di kehidupan nyataku yang baunya seperti vanila dan lavender segar, bukannya bau jamur dan air got.
Aku membuka mata perlahan, berharap melihat langit-langit berjamur hijau kehitaman yang biasa menyapaku setiap pagi di panti.
Tapi yang kulihat adalah putih.
Bukan putih kusam cat tembok yang mengelupas. Ini adalah putih cream yang kaya, dihiasi dengan ukiran gipsum rumit berbentuk sulur-sulur bunga yang saling membelit di sekeliling ruangan. Di tengah langit-langit yang menjulang tinggi itu—begitu tinggi hingga rasanya aku sekecil semut—tergantung sebuah benda yang membuat napasku tercekat.
Sebuah chandelier kristal.
Benda itu tampak seperti air mata beku raksasa yang dijatuhkan dari surga, membiaskan cahaya matahari pagi menjadi ribuan pelangi kecil yang menari-nari di dinding.
Aku mengerjap, mencoba menghilangkan kabut di mataku.
Aku mencoba duduk, tapi tubuhku tenggelam. Kasur di bawahku begitu empuk, begitu tebal, seolah-olah dia mencoba menelanku hidup-hidup. Ini bukan kasur busa tipis di atas lantai semen. Ini adalah awan yang dibungkus kain katun Mesir dengan kerapatan benang ribuan.
Rasa panik mulai merayap di dadaku. Di mana aku?
Aku menyingkap selimut tebal yang menutupi tubuhku. Tanganku meraba tubuhku sendiri, dan aku tersentak.
Baju kaosku yang robek dan bau lumpur sudah hilang. Jaket denimku yang rusak sudah lenyap.
Sebagai gantinya, aku mengenakan sepasang piyama.
Kainnya berwarna champagne pucat, terbuat dari sutra murni yang terasa licin dan dingin di kulitku. Begitu halusnya kain itu hingga rasanya seperti air yang mengalir di tubuhku.
Ini salah. Ini sangat salah.
Kulitku kasar. Siku dan lututku kapalan karena bekerja keras selama bertahun-tahun. Memakai sutra sehalus ini di atas kulit sekasar parutan kelapa rasanya... menyinggung. Seolah kain itu sedang mengejek kemiskinan kulitku.
Aku memeriksa lengan dan kakiku. Luka-luka gores akibat cakaran preman semalam sudah bersih. Tidak ada darah kering. Plester medis berkualitas tinggi menutupi memar-memar di lenganku. Pergelangan kaki kananku yang terkilir dibalut perban elastis yang rapi dan kencang, disangga bantal kecil agar posisinya lebih tinggi.
Siapa yang melakukan ini?
Ingatan semalam menghantamku seperti kereta barang.
Gang sempit. Preman. Lampu mobil yang menyilaukan.
Dan dia.
Ciarán.
Aroma itu... aroma sandalwood dan tembakau mahal yang kuhirup sebelum pingsan.
Aku menoleh cepat ke sekeliling ruangan. Kamar ini luasnya tiga kali lipat aula utama panti asuhan. Jendela-jendela besar setinggi lantai hingga langit-langit ditutupi tirai beludru berat yang disisihkan sedikit, membiarkan cahaya pagi masuk. Perabotan kayu mahoni gelap yang mengkilap berdiri kokoh di sudut-sudut ruangan, tampak seperti penjaga diam yang angkuh.
Ini bukan rumah sakit. Ini bukan surga.
Ini adalah sarang monster itu.
Aku mencoba menurunkan kakiku dari tempat tidur. Lantainya dilapisi karpet bulu tebal yang membenamkan jari-jari kakiku.
Semuanya di sini lunak. Semuanya di sini mahal. Semuanya di sini berteriak bahwa aku tidak pantas berada di dalamnya.
Aku merasa seperti tikus got yang tidak sengaja jatuh ke dalam kotak perhiasan ratu. Kotor, asing, dan menunggu waktu untuk dibuang keluar.
...***...
Aku menyeret langkahku—sedikit pincang karena kaki kanan yang diperban—menuju sebuah pintu ganda di sisi kanan ruangan.
Pintu itu berwarna putih dengan pegangan emas. Emas asli, bukan cat semprot murahan yang biasa kulihat di hiasan Natal plastik. Saat aku menekan tuasnya, pintu itu terbuka tanpa suara sedikit pun. Engselnya mungkin diminyaki dengan uang.
Aku melangkah masuk, dan napasku tercekat lagi.
Ini bukan kamar mandi. Ini adalah kuil pemujaan kebersihan.
Ukurannya... Tuhan, luas ruangan ini sama dengan seluruh kamar tidurku dan Lily di panti, digabung menjadi satu. Lantainya terbuat dari marmer hitam dengan urat-urat putih yang berkilauan di bawah cahaya lampu dinding yang hangat. Dindingnya dilapisi keramik marmer senada setinggi langit-langit.
Di tengah ruangan, berdiri sebuah bathtub porselen putih berbentuk oval yang berdiri di atas kaki-kaki emas berbentuk cakar singa. Bak mandi itu cukup besar untuk menampung tiga orang dewasa. Di dekatnya, berjejer botol-botol kaca berisi cairan berwarna-warni yang labelnya bertuliskan bahasa Prancis yang tidak kupahami.
Aku berjalan pelan, takut menyentuh apa pun. Takut kalau sidik jariku yang kotor akan menodai permukaan yang suci ini.
Tapi tujuanku bukan bak mandi itu. Tujuanku adalah cermin besar yang tergantung di atas wastafel ganda yang luas.
Aku mendekat. Cermin ini berbeda dengan cermin retak di panti. Cermin ini jernih, bersih, dan terang benderang, diterangi oleh lampu vanity yang mengelilingi bingkainya. Tidak ada tempat untuk bersembunyi di sini. Cermin ini memperlihatkan segalanya dengan kejujuran yang brutal.
Aku menatap wanita yang berdiri di depannya.
Seorang wanita muda dengan piyama sutra seharga ribuan dolar. Rambutnya, meski sedikit kusut karena tidur, terlihat bersih dan berbau harum sampo mahal. Kulitnya yang biasanya berdaki debu jalanan kini bersih mengkilap.
Tapi wajah itu...
Wajah itu hancur.
Ada lebam besar berwarna ungu kebiruan di tulang pipi kiriku—hadiah tamparan preman semalam. Bibirku pecah di sudutnya. Mataku bengkak dan merah.
Kontras itu mengerikan.
Tubuhku dibungkus kemewahan, tapi wajahku meneriakkan kekerasan.
Aku mengangkat tangan, menyentuh lebam di pipiku. Sakit. Rasa sakit itu nyata, satu-satunya hal yang terasa nyata di ruangan mimpi ini.
"Kau siapa?" bisikku pada bayanganku sendiri.
Aku tidak mengenali diriku. Elara yang kutahu adalah gadis kumuh dengan jaket denim robek. Elara yang kutahu berbau keringat dan keputusasaan.
Wanita di cermin ini terlihat seperti... penipu.
Dia terlihat seperti gelandangan yang mencuri baju putri raja dan menyusup ke istana. Sebuah impostor. Sebuah kepalsuan yang menjijikkan.
"Kau pembohong," desisku, mencengkeram pinggiran wastafel marmer yang dingin. "Kau pikir dengan mandi air hangat dan memakai sutra, kau jadi salah satu dari mereka? Tidak. Kau tetap sampah. Kau cuma sampah yang dibungkus kado."
Aku ingin merobek piyama ini. Aku ingin kembali memakai kaos bolongku. Setidaknya baju itu jujur. Setidaknya baju itu tidak berbohong tentang siapa aku sebenarnya.
Tapi kemudian, aku teringat Lily.
Aku teringat janjiku semalam saat digendong Ciarán. Bahwa aku menyerah. Bahwa nyawaku sudah dibeli.
Aku menunduk, membasuh wajahku dengan air dingin dari keran emas. Air itu jernih, tidak berbau karat.
Saat aku mendongak lagi, tatapanku mengeras.
Jika aku memang harus menjadi penipu untuk bertahan hidup di sini, maka aku akan menjadi penipu terbaik yang pernah ada. Aku akan memakai topeng sutra ini sampai menyatu dengan kulitku.