NovelToon NovelToon
Senandung Malam Yang Menghancurkan

Senandung Malam Yang Menghancurkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Pelakor / One Night Stand / Selingkuh / Romansa / Playboy
Popularitas:855
Nilai: 5
Nama Author: Siti yulia Saroh

Felix yang kecewa karena kekasihnya berselingkuh dengan orang lain, menghabiskan malam penuh gairah bersama seorang gadis penyanyi bar.

Syerly adalah seorang penyanyi bar yang cantik. Suara Syerly membuat Felix terpesona.

tetapi, semuanya berubah ketika Felix mengetahui kebenarannya.

Syerly ternyata sudah memiliki kekasih, dan kekasih Syerly adalah orang yang berselingkuh dengan pacarnya sendiri.

"Mengapa kau pura-pura tidak mengenaliku? Apa kau takut, pacarmu tahu?" Felix mendorong tubuh Syerly ke dinding.

Syerly hanya tertawa kecil, sambil menatap Felix.

"Kita hanya cinta satu malam. Mengapa kau menganggap serius? Atau... "
Syerly menarik kerah Felix dan wajah mereka sangat dekat.

"Kau mulai ketagihan denganku." Senyum kecil dari bibir Syerly membuat jantung Felix berdetak kencang.

"Ya." Felix tidak menyangkal. dia berbisik didekat telinga Syerly.

"Bahkan suara desahanmu masih aku ingat dengan jelas."

Hubungan mereka makin rumit dan berbahaya. Dan menja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti yulia Saroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10

Disebuah Taman dengan rumput hijau yang luas. Dibawah pohon yang besar, Peter sedang membaca bukunya, ketika tiba-tiba Syerly menyandarkan kepalanya.

"Syer..." suara Peter begitu lembut tapi sedikit memperingatkannya.

Syerly memejamkan matanya dengan mulut menguap kecil.

"Biarkan aku tidur sebentar." Kata Syerly pelan.

"Aku sangat mengantuk."

Peter mendesah pelan, lalu melanjutkan membacanya.

Tiba-tiba saja bukunya direbut oleh seseorang. Ia hanya dapat menatap kosong tangannya, lalu menoleh kearah Syerly yang kini sedang tersenyum kepadanya sambil menyembunyikan bukunya.

"Lihat aku, sayang!" Kata Syerly dengan nada yang lembut.

"Jangan abaikan aku!" Lalu nadanya berubah sedih.

"Akhir-akhir ini aku jarang melihatmu, apa kau tidak merindukanku, sayang?"

Tangan Syerly bermain-main pada kancing baju milik Peter.

Peter menatapnya dengan tenang lalu menghentikan gerakan Syerly.

"Berhenti bermain-main!" Katanya pelan masih memegang tangan Syerly.

"Orang-orang akan melihatnya." Peter melihat sekeliling, dan menemukan beberapa orang yang sudah berbisik kearah mereka.

Lalu Peter segera melepaskan tangan Syerly.

"Lihat! Seseorang sudah mulai bergosip." Bisik Peter pelan.

"Aku tidak perduli." Jawab Syerly datar. Lalu menyipitkan matanya menatap Peter.

"Kenapa?" Katanya pelan.

"Apa kau takut Thea akan cemburu?"

Peter tidak menyangkalnya, ia mengangguk.

Syerly tiba-tiba saja menegakkan tubuhnya, dan sedikit menjaga jarak.

"Syer..." panggil Peter cemas ketika melihat Syerly membalikkan badannya seolah menolak untuk melihatnya.

"Jangan panggil aku!" Tegas Syerly dengan suara dingin.

"Aku akan pergi kalau begitu."

Peter langsung menahan lengan Syerly yang akan menegakkan tubuhnya.

"Aku tidak bermaksud seperti itu." Kata Peter dengan lembut.

Syerly tidak mempunyai banyak teman. Dan Peter adalah satu-satunya teman Syerly.

Peter sudah saling mengenal Syerly sejak kecil jadi paham dengan perasaan Syerly saat ini.

Trauma masalalunya membuat Syerly sangat takut ditinggalkan.

"Aku tidak akan meninggalkanmu, kita masih bisa berteman." Kata Peter.

"Aku tahu." Suara Syerly terdengar lirih.

"Apa yang kamu tahu?" Suara Peter sedikit meninggi. Ia membalikkan tubuh Syerly dengan sedikit paksaan.

Saat ini wajah Syerly yang selalu tersenyum didepannya berubah datar.

Tiba-tiba Peter merasakan detak jantungnya yang berhenti bedetak.

Hal ini yang sangat ia takutkan.

Ekpresi Syerly yang menarik diri dari dunia.

Dulu Peter membutuhkan waktu lama untuk menarik Syerly dari keluar dari cangkangnya, meski ia tidak berhasil sepenuhnya, setidaknya Syerly mau menerimanya menjadi teman.

Karena teman akan selalu ada, berbeda dengan kekasih yang bisa putus kapan saja.

Tapi kali ini, jika Peter tidak segera memperbaikinya, kata teman didalam dunia Syerly akan benar-benar hancur. Dan ia akan bersembunyi lagi tanpa dapat ditarik keluar lagi.

"Aku tidak akan mengganggumu lagi, mendekatimu dan muncul didepanmu." Kata Syerly tenang. Sangat tenang bahkan membuat Peter ketakutan.

Peter mendesah pelan.

"Apa kau benar-benar akan memutuskan hubungan pertemanan kita?"

Syerly menggeleng kepalanya dengan cepat.

"Aku tidak ingin hubunganmu bermasalah karena aku."

"Dengar!" Peter menatap Syerly dengan tajam.

"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan hubunganku." Katanya tegas.

"Yang harus kau khawatirkan seharusnya dirimu!"

Peter menunjuk pelan bahu Syerly, yang kini sedang menatapnya dengan pandangan kosong.

"Aku...?"

Peter mengangguk pelan dengan sedikit tersenyum.

"Kau harus berhati-hati, mungkin Felix akan salah paham."

Syerly sedikit mengerutkan alisnya.

"Bagaimana semua ini ada hubungannya dengan dia?" Lalu berkata dengan tenang.

"Aku juga tidak perduli."

Peter menghelai nafas pelan.

"Jadi, kau belum melihat fotonya?" Kata Peter pelan.

"Foto apa?"

"Foto kalian yang sedang mesra didalam kantin." Jelas Felix.

"Foto itu banyak mendapatkan like. Mereka sangat penasaran, apakah Felix dapat menenangkan hatimu?"

Syerly tidak menjawab, seolah ada sesuatu yang berdesir didalam hatinya.

"Atau..." Peter menatap Syerly.

"Sebenarnya dia sudah menenangkan hatimu?" Lalu dia dengan lembut menyentuh puncak hidung Syerly dengan lembut.

Syerly menepisnya.

"Jangan berbicara omong kosong!"

Meski berbicara seperti itu Syerly masih tidak dapat menghentikan detak jantungnya yang berdetak cepat.

Thea berdiri tidak jauh dari mereka. Rambut pendeknya tertiup angin. Matanya menatap Peter dan Syerly dengan dingin, terutama Syerly.

Thea tidak mengambil langkah maju, tapi ia memilih berbalik dan pergi.

Peter tahu Thea melihat mereka, tapi ia tidak mengejar pacarnya, hanya menatap gadis itu dengan tenang.

"Kau tidak mengejarnya?" Tanya Syerly ragu-ragu.

Peter mendesah pelan, lalu menoleh kearah Syerly.

"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu." Peter menatap rerumputan sejenak sebelum kembali menatap Syerly.

"Sebenarnya Thea mempunyai pacar lain."

Syerly menatap Peter dengan terkejut.

"Jadi dia selingkuh?"

Peter mengangguk. Senyumnya pahit.

"Tapi, aku selingkuhannya."

Udara sekitar terasa menipis.

Syerly sedikit mundur tanpa sadar.

Meskipun ia juga tidak bermoral. Ia percaya Peter, lelaki dengan prinsip kuat, moral baik, dan hati yang lembut.

Teman masa kecilnya yang tidak pernah membuat masalah.

Berteman dengan orang baik akan membuat kita ikut baik, atau minimal terpengaruh kebaikan mereka, seperti kita akan wangi jika dekat penjual parfum atau bau amis jika dekat penjual ikan.

Astaga!!

Syerly tidak menyangka sikap buruknya akan mempengaruhi temannya.

Pikiran itu tiba-tiba membuat wajah Syerly mengeras.

Peter memperhatikan perubahan itu.

Keningnya mengernyit lembut.

"Ada apa dengan wajahmu?" Tanya Peter.

"Sepertinya pilihanku untuk menjauh darimu memang benar." Kata Syerly.

"Aku tidak menyangka telah memberi pengaruh buruk kepadamu." Lanjutnya.

Peter tersenyum kecil, senyum yang tidak sampai ke mata.

"Aku belum selesai." Kata Peter tenang.

"..." Syerly.

Syerly menelan ludah. Ia bisa merasakan jantungnya mulai berdetak tidak teratur.

Peter menatapnya lama, seolah menikmati setiap emosi yang melintas di wajah Syerly, kaget, takut, bingung.

"Sebenarnya aku ini selingkuhannya Thea."

Kalimat itu menghantam Syerly lebih keras dari sebelumnya.

Ia menghirup udara dingin dengan terputus.

"Pacar Thea adalah Felix." Kata Peter tenang.

Syerly merasakan bumi di bawahnya bergetar.

Rasanya seperti ada seseorang menarik seluruh lantai dari bawah tubuhnya.

Matanya melebar, mulutnya sedikit terbuka, namun tak ada suara yang bisa keluar.

Peter bukan orang yang suka bercanda.

Ia tidak akan berbohong tentang hal seperti ini.

Syerly akhirnya berbisik, hampir tanpa suara.

“Ada apa dengan dunia ini…?”

Syerly menatap Peter, berusaha untuk tetap tenang.

"Peter…" katanya pelan.

"Aku sudah cukup buruk. Tapi kamu... kamu orang baik. Kenapa kamu...”

"Karena aku bodoh."

Peter menunduk sedikit, namun suaranya tetap stabil.

"Karena aku tidak bisa melihat, ketika Thea merasa sedih dan hancur."

Peter menghela napas panjang, lalu menatap Syerly lagi.

"Aku berbicara seperti ini, bukan ingin untuk menakutimu. Tapi, aku ingin kamu untuk mencoba membuka hatimu."

Syerly terdiam, merasakan angin yang menyentuhnya lembut. Desiran dadanya yang berdetak terasa aneh dan asing.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!