NovelToon NovelToon
Janji-janji Yang Tertelan Kekeras Kepala

Janji-janji Yang Tertelan Kekeras Kepala

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Slice of Life
Popularitas:251
Nilai: 5
Nama Author: Ningsih Niluh

Dewi ingat janji-janji manis Arif saat menikah: melindungi dan membuatnya bahagia. Tapi kekeras kepala dan kecanduan judi membuat janji itu hilang – Arif selalu sibuk di meja taruhan, tak mau mendengar nasihat.

Arif punya kakak laki-laki dan adik perempuan, tapi ia dan adik perempuannya paling dicintai ibunya, Bu Siti. Setiap masalah akibat judi, Bu Siti selalu menyalahkan Dewi.

Dewi merasa harapannya hancur oleh kekeras kepala Arif dan sikap mertuanya. Akhirnya, ia harus memutuskan: tetap menunggu atau melarikan diri dari perlakuan tidak adil?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ningsih Niluh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

harmoni yang dibangun di atas luka

Selama beberapa menit, Dewi hanya berdiri di situ, menangis sambil memandang surat Arif. Hatinya seperti terjebak di antara kegelapan dan cahaya yang terlalu lemah untuk menyinari jalan pulangnya. Saat ia mulai berusaha mengeringkan air mata, bunyi pintu depan dibuka dengan perlahan. Ia mendengar suara orang tua yang mengenal—itu adalah Bu Siti, ibu Arif.

“Dewi, sayang, kamu ada di mana?” panggil Bu Siti dengan suara yang lembut. Dewi terkejut, tidak menyangka ibunya Arif akan datang di hari ini. Ia cepat-cepat mengeringkan air mata, menyembunyikan surat di balik bantal, lalu keluar ke ruang tamu.

Di sana, Bu Siti sudah duduk di kursi, membawa tas anyaman yang terlihat penuh. Wajahnya tampak khawatir, tapi juga ada nuansa yang Dewi tidak bisa pahami. “Bu Siti, maaf ya, aku baru keluar,” ujar Dewi dengan suara yang masih sedikit lemah.

Bu Siti melihat wajah Dewi yang masih merona karena menangis, lalu mengangkat tangan untuk menyentuh pipinya. “Aku tahu kamu sedang sedih, sayang. Aku dengar Arif sudah pergi lagi. Tapi aku tidak datang untuk bicara tentang itu. Aku datang untuk kamu.”

Dewi mengangguk, duduk di kursi di hadapannya. Ia berpikir Bu Siti akan memberi dukungan, mengatakan bahwa Arif salah, dan meminta ia untuk kuat. Tapi apa yang keluar dari mulut Bu Siti ternyata jauh dari harapannya.

“Dewi, aku tahu kamu seorang istri yang baik. Kamu bekerja keras, merawat rumah, dan juga merawat Arif. Tapi aku ingin kamu tahu, laki-laki itu juga butuh hiburan, lho,” ujar Bu Siti dengan nada yang santai. “Arif itu anakku, aku yang paling tau dia . Dia selalu suka bermain bersama teman-temannya, suka mencari kesenangan. Itu sifatnya dari kecil.”

Dewi merenungkan kata-kata itu, tidak yakin apa yang Bu Siti maksud. “Tapi Bu, Arif itu tidak hanya bermain. Dia berjudi lagi, dan sekarang dia pergi membawa semua uang yang dia menangkan—uang yang seharusnya kita gunakan untuk kebutuhan rumah,” katanya dengan suara yang lemah.

Bu Siti mengangkat bahu, seolah itu bukan masalah besar. “Ah, judi itu cuma hiburan semata, sayang. Banyak orang juga yang berjudi, kan? Yang penting dia menang. Dan dia bilang kan, dia akan kembali besok dan gunakan uang itu untuk kebutuhan keluarga. Kamu jangan terlalu keras kepada dia.”

Kata-kata itu membuat hati Dewi menjadi lebih sakit. “Bu, Arif sudah banyak janji yang tidak terpenuhi. Dia janji tidak akan berjudi lagi, tapi dia melakukannya lagi. Dia janji akan bekerja, tapi dia malas. Aku sudah memberi dia kesempatan berkali-kali. Apakah itu berarti aku terlalu keras?”

“Ya, sedikitlah, sayang,” jawab Bu Siti dengan tenang. “Laki-laki itu butuh ruang untuk bernafas. Kamu jangan selalu memaksa dia melakukan apa yang kamu inginkan. Kalau dia mau bermain dengan teman-temannya, biarkan saja. Kalau dia mau berjudi sedikit, itu tidak masalah asal dia tahu batasnya. Semua itu untuk kebahagiaan rumah tangga yang lebih baik dan harmonis, kan? Karena kalau laki-laki itu senang, istri juga akan senang.”

Dewi tidak bisa percaya apa yang dia dengar. Bagaimana mungkin hiburan yang merusak keluarga bisa disebutkan sebagai jalan menuju kebahagiaan dan harmoni? “Bu, tapi judi itu yang membuat kita sering bertengkar. Itu yang membuat Arif tidak peduli dengan keluarga. Bagaimana bisa itu menjadi hiburan yang baik?”

“Kamu terlalu berpikir negatif, Dewi,” ujar Bu Siti, menyentuh tangan Dewi. “Arif itu anak yang baik. Dia hanya butuh waktu untuk berubah. Kamu harus lebih sabar, lebih memahami dia. Jangan selalu mengkritik apa yang dia lakukan. Berikan dia ruang untuk menjadi dirinya sendiri, dan nanti dia akan menyadari bahwa keluarga adalah yang paling penting.”

Saat itu, Dewi merasa seperti terhantam oleh badai yang lebih besar. Setelah Arif pergi dan menghancurkan harapannya, kini Bu Siti datang dan menyalahkannya karena terlalu keras kepada suaminya. Seolah semua kesalahan yang terjadi adalah karena dirinya—karena dia tidak sabar cukup, tidak memahami cukup, tidak memberikan cukup hiburan kepada Arif.

“Hidup ini tidak semudah itu, Bu,” katanya dengan suara yang bergetar. “Aku juga punya kesulitan sendiri—tumor yang semakin memburuk, biaya perawatan yang semakin mahal, dan rasa cemas tentang masa depan. Aku hanya ingin Arif menjadi suami yang bisa aku andalkan, yang bekerja sama dengan aku membangun keluarga. Apakah itu terlalu banyak meminta?”

Bu Siti mengangguk, tapi wajahnya terlihat tidak terlalu memperhatikan. “Aku tahu kamu punya masalahmu sendiri, sayang. Tapi Arif juga punya masalahnya. Dia merasa tertekan karena kamu sekarang lagi bisa bekerja, semua kebutuhan harus Arif yang tanggung, belum lagi untuk perawatanmu. Bahkan kalau itu dengan cara yang tidak kamu suka, ia lakukan semua itu untukmu, lho.”

“Untukku?” tanya Dewi, mata membesar. “Bagaimana mungkin berjudi dan membawa uang pergi adalah untukku? Dia bahkan tidak mengatakan kemana dia pergi dan apa yang akan dia lakukan dengan uang itu.”

“Dia pasti punya alasan, sayang. Jangan terlalu curiga. Percayakan saja semua padanya. Kalau kamu bisa lebih lembut, lebih memahami, pasti rumah tangga kamu akan lebih harmonis. Aku yakin Arif akan kembali dan berubah. Dia mencintaimu, itu pasti.”

Bu Siti terus berbicara, memberikan nasihat yang membuat hati Dewi semakin tertekan. Ia mengatakan bahwa istri harus selalu patuh pada suami, harus selalu memahami kebutuhan suami, dan tidak boleh terlalu keras dalam menyuruh suami melakukan sesuatu. Semua kata-katanya seolah menempatkan semua kesalahan pada Dewi, seolah Arif hanyalah korban dari sikapnya yang terlalu ketat.

Setelah setengah jam, Bu Siti berdiri dan mengambil tasnya. “Aku harus pulang sekarang, sayang. Ingat apa yang aku katakan ya. Jangan terlalu keras kepada Arif. Berikan dia kesempatan lagi. Semoga rumah tangga kamu segera harmonis lagi.” Ia memeluk Dewi dengan cepat, lalu keluar rumah tanpa menunggu jawaban.

Dewi hanya berdiri di situ, tangan tergantung lemah. Hatinya yang sudah sakit tadi menjadi lebih sakit, seolah ditusuk dengan banyak pisau sekaligus. Ia merasa sendirian, tidak punya siapa-siapa yang memahami kesulitannya. Ibu mertuanya menyalahkannya, suaminya mengkhianatinya, dan dirinya sendiri tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Ia kembali ke kamar, mengambil surat Arif yang masih disembunyikan di balik bantal. Ia membacanya lagi dan lagi, kata-kata “aku akan kembali besok, janji” terasa semakin hampa. Mengapa Bu Siti bisa berkata bahwa semua itu adalah karena dia terlalu keras? Mengapa tidak ada yang melihat bahwa Arif adalah yang salah?

Ia duduk di tepi kasur, memandang ruangan yang kosong. Masa lalu terngiang-ngiang di benaknya—ketika Arif pertama kali menyukainya, ketika mereka menikah dan penuh harapan, ketika ia berpikir bahwa mereka akan hidup bahagia selamanya. Tapi semua itu hanyalah mimpi yang cepat berlalu, digantikan oleh kenyataan yang menyakitkan.

Ia merasakan nyeri di perutnya semakin memburuk, tapi ia tidak peduli. Nyeri di hati jauh lebih menyakitkan daripada nyeri fisik yang ia rasakan. Ia menangis lagi, tangis yang penuh keputusasaan dan kesedihan. Mengapa hidupnya harus begitu sulit? Mengapa setiap kali ia merasa ada harapan, ada sesuatu yang selalu datang untuk menghancurkannya?

Jam di dinding menunjukkan jam sembilan pagi. Hari masih panjang, dan ia harus menghadapinya sendirian. Ia berpikir tentang apa yang Bu Siti katakan—bahwa ia harus lebih lembut, lebih memahami Arif. Tapi apakah itu berarti ia harus membiarkan Arif melakukan apa yang dia mau, bahkan kalau itu merusak keluarga mereka? Apakah kebahagiaan dan harmoni rumah tangga harus dibangun dengan mengorbankan kebenaran dan kesejahteraan dirinya sendiri?

Ia tidak tahu jawabannya. Hatinya terbagi antara rasa ingin memaafkan dan rasa ingin melarikan diri. Ia hanya duduk di situ, menangis, menunggu hari itu berlalu dan hari esok tiba—hari ketika Arif janji akan kembali. Tapi apakah ia boleh mempercayai janji itu lagi? Atau apakah ini hanya lagi-lagi mimpi yang akan hancur ketika matahari terbit?

Ia hanya bisa berdoa, berdoa agar kali ini semuanya akan berbeda, berdoa agar Arif benar-benar akan kembali dan berubah, berdoa agar ia tidak perlu lagi merasakan kesedihan yang seperti ini. Tapi di dalam hatinya, ia tahu bahwa harapan itu hanya sekadar doa yang sulit terwujud—seperti cahaya di ujung terowongan yang terlalu jauh untuk dijangkau.

1
HIATUS DULU
wahhh tulisannya rapih banget, diksinya juga bagus. Siap jadi author bertanda tangan enggak sih😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!