Tidak ada yang salah, termasuk bertemu dan menikah dengan pria itu, pria asal Busan-Korea, yang hidupnya terlalu pas-pasan. Pernah mendapatkan cinta yang penuh dari pria itu sebelum akhirnya memudar lalu kandas.
Gagal di pernikahan pertama, Anjani kembali menjalani pernikahan kedua, dengan seorang pengacara kontroversial di negeri yang sama. Bukan hanya harta dan kedudukan tinggi yang menaunginya, Anjani berharap, ada kekuatan cinta menghampar 'tak terbatas untuknya, menggantikan yang lebur di kegagalan lalu, dia tidak ingin kandas kedua kali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Magisna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siklus Perubahan (Datang dan Pergi)
Hari-hari kelam mulai sedikit ada cahaya. Meski tetap suram, setidaknya tidak hanya hitam.
Anjani sudah kembali pada kesibukannya seperti biasa. Mata yang selalu bintit karena menangis sudah nampak normal dan ada nyawa.
Perceraiannya sudah tersebar di sekitaran tetangga. Orang-orang memandangnya dengan menyembunyikan rasa kasihan mereka di balik senyum sapaan yang seolah bisa menghangatkan kedinginan Anjani.
'Wajah cantik yang selalu nampak resah, kecantikannya terhalang noktah hitam akibat menikahi seorang pria yang hanya bisa diandalkan seujung kuku'. Begitu sebagian dari mereka yang mengasihani.
Yang lain bahkan sibuk menghujat, entah karena iri, atau sedang menjalani peran yang dibayar dengan setumpuk dosa.
Tapi Anjani tidak ingin menggubris, menegakkan diri dengan: Aku sudah cukup dewasa untuk peduli pada hal-hal remeh yang hanya akan membuang waktu.
Hidup hanya perlu dijalani, dunia berakhir begini pun 'tak apa-apa.
Sekarang, anak tangga terakhir baru habis dipijak pasang kakinya. Dia sampai di loteng, halaman rumah atap yang sederhanaーbaru pulang bekerja.
Mata lelah yang sudah diniatkan akan langsung dipejam, malah terbelalak dengan kehadiran seseorang yang sudah lebih dulu ada di sana, berdiri di depan pintu. Meski wajahnya samar karena cahaya redup, Anjani tak amnesia untuk lupa porsi tubuhnya.
Langkahnya membatu di jarak sedikit lagi.
"Anjani.”
Ahn Woojun, sepertinya masih merasa punya urusan yang belum usai.
Lekas membuang wajah seolah tampang itu haram untuk ditatap, sikap Anjani jelas tak menghendaki kehadiran lelaki itu. “Untuk apa lagi kau kemari?!” tanyanya dengan nada ketus.
“Kudengar kau menginap beberapa hari di rumah Jisu, apa kau baik-baik saja?” Ahn Woojun balik bertanya, suaranya selembut kesiur angin, tatapannya menyimpan kesan seolah cemas, atau terlalu rindu.
“Apa pedulimu?!” Anjani, dengan oktaf sedikit naik dari yang tadi.
“Aku ...." Woojun meragu, menahan langkahnya saat Anjani malah mundur menjauh, tidak ingin didekatinya. “Aku hanya mencemaskanmu."
Wajahnya mungkin serius, tapi malah terdengar geli di telinga Anjani, bibirnya yang pucat menarik senyuman kecut. “Omong kosong!” Satu tanggapan mendorongnya bergerak melewati Woojun, melangkah menuju pintu.
"Kau bahkan mengganti nomor ponselmu.” Woojun mengekor dari belakang. “Apa kau sungguh serius dengan perceraian ini?!”
Menghentikan geraknya tepat di depan pintu, sejenak Anjani memejamkan mata, menarik napas panjang lalu menghadap lelaki itu. Tatapannya tidak lagi sehangat saat mereka masih sejalan. "Ya! Kita sudah bercerai, jadi jaga sikapmu!"
"Tapi aku tidak menyetujui perceraian itu! Aku terpaksa karena aku tertekan!”
“Itu salahmu!” sembur Anjani. “Jangan bersikap seolah-olah kau menyesali perceraian itu!” Matanya tajam menikam, geram penuh di dalam mulut sampai ke urat kepala. “Kau bahkan terlihat senang dengan wanita itu.”
“Anjani, aku tidakー”
“Pergi! ... Pergi dari hadapanku sekarang!”
“Anjani tolong jangan begini.”
"LALU KAU MAU APA?!” teriak Anjani, 'tak tahan lagi. "Kau ingin aku diam dan tetap jadi istri penurut? Kau ingin aku menontonmu menyetubuhi wanita lain sambil tersenyum, begitu?!" Menggeleng kepala dengan napas yang mulai kacau, dalam sesaat matanya sudah berair. Semua ingatan sialan itu terlalu menyesakkan dada. Suara berikutnya lemah dan parau, “Ahn Woojun ... apa kau ingin menjadikan aku perempuan yang menyedihkan, huh?”
Woojun teredam, menelan ludah dan diam, matanya yang redup seperti kurang tidur bergulir acak menatap Anjani. Tidak ada kata yang keluar, cecaran Anjani menekan menyudutkannya.
“Setelah aku melepas semua demi untuk bersamamu, setelah aku mengorbankan banyak hal untukmu ... setelah semuaー” Napas Anjani sengak parah di tenggorokan. Sebentar dia meraup udara untuk meraih kembali suara yang hasilnya tetap tersengal-sengal.
“Woojun ... energiku hampir habis, timbul tenggelam karena lelah, kacau balau pikiranku dan badanku nyaris remuk ... semua itu ... semua kutahan hanya demi untuk tetap bersamamu. Tapi kau ... kau malah menyakitiku sekejam ini. Dan sekarang ... sekarang kau ingin aku tetap diam menikmati lagumu yang mengerikan itu? Katakan! Katakan kau ingin melihatku sehancur apa?! Katakan, Ahn Woojun?!!!”
"Anjaniー"
"Cukup! Sudah cukup." Anjani menggeleng-geleng. “Aku tidak akan mengorbankan apa pun lagi untuk hal yang hanya akan merendahkan harga diriku. Tidak akan pernah lagi. Tidak akan. Aku sudah muak.”
Woojun meresah kacau, melihat Anjani terisak, jelas sekarang tampangnya dipenuhi sesal. Dia ingin memeluk, sangat ingin memeluk tubuh yang ringkih itu, tapi pengakuan dalam hati menahan dirinya lebih berat dari egonya.
“Cepat pergi dari sini sebelum aku memanggil Pak Jin untuk menyeretmu!"
Pak Jin atau Jin Chung-mo, adalah aparat setempat yang biasa menindak masalah di sekitar dan mengusir yang meresahkan.
"Anjani, aku mohon ...."
"PERGI!!!”
.
.
.
Setelah semalaman sibuk menyembuhkan diri pasca kepergian Ahn Woojun yang dengan kasar diusirnya, pagi harinya Anjani tetap pergi bekerja.
Terus berusaha menekan diri agar 'tak kacau lagi.
Kedai sup Nyonya Ju sedang ramai sekarang, dia nampak sangat sibuk melayani semua tamu berbagai gender juga usia.
"Nona aku tambah supnya!"
"Tolong satu gelas air putih, aku tersedak."
"Nona, bisa kau bawakan satu mangkuk nasi?"
Anjani sudah seperti kincir yang berputar, satu pegawai lainnya, sebut saja Bibi Ok, sedang sakit dan tidak masuk. Nyonya Ju sendiri sibuk memasak di dapurnya. Keadaan benar-benar keteter.
"Sepertinya kau sangat butuh bantuan, Nona."
Anjani yang repot membereskan piring-piring kotor bekas pelanggan, terkejut dan melengak. Saat menoleh ke sisi kiri, lagi-lagi mendapati wajah itu, wajah bermasker dengan binar mata seindah kilau lautan.
"Kauー"
"Serahkan padaku! Kau urus mereka yang akan membayar saja!"
Untuk sekian detik itu mengejutkan Anjani, diam bengong seolah tersihir.
Namun teriakan pembeli lebih cepat menyadarkannya.
“Ah, iya, baik! Segera datang ke meja Anda, Paman.” Orang itu memesan satu porsi sup.
Sambil tangannya bekerja, Anjani menoleh lelaki dewasa yang dianggapnya terlalu sinting, pria itu sedang menuang minuman ke dalam gelas untuk pelanggan. Mereka nampak senang dilayani seorang pria dengan tubuh seperti model.
Dari arah belakang, Nyonya Ju muncul dan tatapannya langsung tertuju pada sosok lelaki tinggi yang sekarang sedang sibuk melayani tamu-tamunya.
“Anja, dia ... siapa?" tanyanya terheran. “Apa kau membawa rekan?"
“Ah, umm, itu ....” Jujur saja itu sangat membingungkan Anjani. Harus diakui sebagai apa lelaki itu. Teman bukan, saudara bukanーbukan siapa-siapa.
Saat bergelut dengan kebingungannya, lelaki itu mendekat dan segera memberi sapaan hangat pada Nyonya Ju. "Hallo, Nyonya. Maaf tidak meminta izin lebih dulu. Aku melihat Anjani sibuk, jadi aku tergerak hati ingin membantu."
Nyonya Ju memperhatikan wajah itu penuh telisik.
"Perkenalkan!" Cepat lelaki aneh itu menjulurkan tangan. "Jeong! Namaku Jeong! Aku teman Anjani!"
Pupil mata Anjani membesar, alisnya tersentak bersama-sama. Tapi kemudian pasrah. “Ah, i-iya, Nyonya. Dia temanku.”
Tanggapan Nyonya Ju tentu saja senang sekali, seperti mendapat pertolongan Dewa di saat yang sangat dibutuhkan.
Siang hari selepas pekerjaan selesai, Anjani keluar dari kedai dengan tas selempang dan coat yang itu-itu saja.
Tuan Berkaki Panjang atau Ryu Jeong, keluar sepuluh detik setelahnya, usai menerima sekantong hadiah berisi kotak makanan dari Nyonya Ju.
“Kau lihat ini! Aku mendapat sup gratis dari Nyonya Ju!” kata Jeong girang, seraya mengangkat jinjingannya ke depan wajah. Langkah Anjani yang berjalan duluan diimbanginya segera.
“Itu upahmu karena kau menolak uang!" Anjani menanggapi datar. Tidak lagi formal seperti kemarin-kemarin.
“Benarkah?”
“Hmm!”
“Kalau begitu aku akan sering datang kemari untuk membantumu!"
“Demi satu wadah sup?!” sergah Anjani, menghentikan langkah lalu menghadap lelaki itu.
“Tidak."
“Lalu? Demi aku?!” Pertanyaan itu impulsif, Anjani teredam diam dan melotot, sadar kesalahannya yang berkesan terlalu percaya diri. “Maksudkuー”
“Ya, memang! Demi kau."
DZIIIING... 🤜🥴💨
Selamat jingkat buat Author!