Kalimat 'Mantan Adalah Maut' rasanya tepat jika disematkan pada rumah tangga Reya Albert dan suaminya Reyhan Syahputra
Reyhan merasa jika dirinya yang hanya seorang staff keuangan tidaklah sebanding dengan Reya yang seorang designer ternama, setidaknya kata-kata itu yang kerap ia dengar dari orang-orang disekitarnya
Hingga pertemuannya dengan Rani yang merupakan mantan kekasihnya saat sekolah menengah menjadi awal dari kehancuran bahtera rumah tangga yang telah dibangun selama tujuh tahun itu
Apa yang akan terjadi pada pernikahan ini pada akhirnya? Dapatkah Reya mempertahankan rumah tangga yang ia bina walaupun tanpa restu dari orang tuanya? Atau pada akhirnya semua akan berakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CTPS 9
"Maafkan aku Reya, aku bukan suami yang baik. Bahkan aku mengkhianati istri yang begitu sempurna seperti kamu!" Bisiknya
Reyhan mengecup kening wanita itu dengan lembut, kecupan itu lama dan begitu dalam
Reyhan menyesali semuanya, namun hati juga tak bisa berbohong, perasaannya pada Rani memang berbeda. Wanita itu selalu memiliki tempat dihatinya yang tak pernah ia berikan pada wanita lain termasuk Reya
Reyhan berbaring dibelakang istrinya, tangannya melingkar diperut Reya dengan tubuh keduanya yang menempel
"Selamat tidur istriku!" Reyhan akan berusaha mengubur rasa itu dalam-dalam, dirinya tak seharusnya memiliki perasaan pada wanita lain
Pernikahan antara dirinya dan Reya penuh dengan cobaan, bahkan sampai hari ini ia dan Reya tak kunjung mendapat restu orang tua Reya
"Aku akan mempertahankan rumah tangga kita Reya! Aku janji"
***
Satu Minggu sudah Reyhan tak datang ke cafe, Rani seperti kehilangan sesuatu yang berarti dalam hidupnya
"Astaga Rani, harusnya kamu seneng kalau dia gak kesini. Kalian memang gak seharusnya memiliki hubungan" Gumamnya
Rani mengutuk kebodohannya, bagaimana bisa dia merindukan seorang pria yang merupakan suami orang lain
"Aku gak boleh seperti ini, Reyhan udah nikah, gak seharusnya aku memiliki perasaan itu lagi"
Rani kembali menyibukkan dirinya, hingga dirinya dikejutkan oleh kedatangan Revan sang calon suami
"Hay sayang!"
"Revan? Kamu kesini gak mau booking cafe ini lagi kan?" Rani menatap pria tampan itu penuh selidik
Revan tersenyum, tangannya mengusap puncak kepala wanita itu membuat Rani kesal
"Revan, rusak kan rambut aku!" Gerutu Rani, Revan tersenyum karena Rani terlihat menggemaskan
"Aku mau ngajakin kamu ke butik nya Reya" Mendengar namanya Reya membuat Rani terdiam, entah kenapa ada rasa bersalah dalam dirinya pada wanita itu
"Kita mau ngapain di butik?"
"Kamu ini gimana sih? Ya mau bikin gaun pengantin buat kamu lah sayang"
Rani memaksakan senyumanya, Revan dapat melihat semuanya. Ia tahu jika sebenarnya Rani tak tertarik mendengar kata gaun pengantin
"Gimana? Kamu bisa?"
Wanita cantik itu mengangguk "Aku pamit dulu! Kamu tunggu sebentar!"
Revan tersenyum, ia akan mencoba untuk memahami Rani. Mungkin selama ini memang dirinya egois dan mengabaikan apa yang calon istrinya itu inginkan
"Ayo!"
Mobil sport mewah berwarna biru itu melaju, siang ini jalanan ibu kota cukup lengang
Setelah hampir setengah jam, mobil mewah itu tiba disebuah butik dengan nama Reya Boutique
Begitu mereka masuk, Rani dibuat kagum oleh koleksi yang ditampilkan pada butik milik sahabat dari calon suaminya itu
"Hay Revan, Rani!" Revan memang telah membuat janji, itu kenapa Reya tak terkejut saat melihat keduanya
"Princess Reya" sapa Revan
"Kita mulai sekarang?" Tanya Reya dan calon pengantin wanita itu mengangguk "Ya udah, ayo kita lihat koleksinya!"
Ketiganya tiba di ruang kerja milik designer tersebut, Reya membawa sebuah buku besar kearah sepasang kekasih itu
"Ini beberapa koleksi aku, kalau kamu mau design yang berbeda kamu boleh request!" Ujar Reya seraya menyerahkan kumpulan foto gaun pengantin koleksinya
Rani dan Revan melihat beberapa koleksi yang tertera, semuanya sempurna. Elegant dan mempesona
Reya mengerti saat melihat raut wajah Rani yang terlihat tak tertarik "Kamu ingin yang seperti apa?"
Mendengar pertanyaan itu membuat Rani menoleh, ia tak tahu jika Reya memperhatikan raut wajahnya
"Semuanya bagus, aku bingung mau yang mana!" Elaknya
"Kamu ingin yang sederhana?" Tanya Reya
"Hum?"
Reya mengulas senyumnya, ia tahu jika Rani bukanlah wanita yang menyukai kemewahan
"Aku punya beberapa yang lebih simpel kalau kamu mau!" Ucap Reya "Koleksinya belum aku publish, jadi lebih eksklusif"
Reya beranjak, lalu menyerahkan sebuah buku sketsa pada Rani
Wajah Rani berbinar, walaupun masih berupa gambar, tapi ia dapat melihat keindahan dari gaun itu. Pantas saja Reya sampai berkarya hingga ke Milan, ternyata dia sekeren ini
"Gimana?"
"Ini indah, aku suka"
Reya tersenyum, ia menatap Revan yang duduk di samping Rani. Setelah keluhan Revan hari itu, Reya sengaja menyiapkan gaun yang mungkin akan Rani suka
"Kamu bisa pilih salah satu"
"Aku suka yang ini!" Rani menunjuk satu gambar dan Reya mengangguk
"Pilihan yang bagus!"
"Emm.. gak pa-pa kan kalau aku pakai gaun yang ini?" Rani bertanya pada calon suaminya
Ia harusnya sadar jika calon suaminya adalah seorang konglomerat, tapi Rani juga tidak tertarik dengan gaun-gaun penuh batu permata itu
Revan tersenyum "Tentu saja, ini pernikahan kamu, dan kamu berhak menentukan semuanya"
Rani menatap pria tampan itu dengan perasaan yang entahlah, Revan begitu meratukan dirinya. Tak seharusnya ia memikirkan pria lain terlebih suami orang
Rani akan menjalani kehidupannya setelah ini, melupakan semua yang terjadi antara dirinya dan Reyhan, pria pemilik hatinya selama ini
"Terima kasih yaa" Ucapan Rani pada calon suaminya
"Sama-sama sayang!"
"Duhh.. aku iri deh sama kalian berdua!" Celetuk Reya
"Kamu malah lebih keren lagi karena udah nikah" Ucap Revan "Aku harap rumah tangga aku dan Rani akan langgeng seperti rumah tangga kamu dan Reyhan"
"Aamiin, aku doain!"
***
Reya tengah duduk dikursi meja riasnya, seperti biasa, wanita cantik itu akan melakukan ritual malamnya sebelum tidur
"Tadi Revan sama calon istrinya dateng ke butik" ujar Reya, ia menatap suaminya yang tengah duduk diatas ranjang lewat pantulan cermin
"Ngapain?" Tanya Reyhan, mendengar nama Rani ia jadi penasaran
"Ya tentu saja bikin gaun pengantin buat Rani"
"Apa?"
Reya mengerutkan keningnya, kenapa Reyhan begitu terkejut mendengar kata gaun pengantin
"Kamu kok kayak kaget gitu?"
"Emm.. enggak, maksud aku, ohh yaa?" Reyhan mencoba menetralkan lagi raut wajahnya, bisa-bisanya ia bereaksi seperti itu
"Tapi Rani itu aneh deh, masa dia gak suka sama gaun yang ada Swarovski nya"
"Rani memang seperti itu, dia itu orangnya sederhana" Tanpa sadar Reyhan tersenyum saat mengatakannya
Reya berbalik, kini tatapan keduanya bertemu "Kamu kok tau bangat tentang Rani? Sehari jalan di taman emang cerita apa aja?"
Reyhan tersadar, terlebih tatapan Reya seolah tengah mengulitinya
"Enggak kok, cuma nebak aja! Kayaknya sih emang gitu"
Reyhan menghindari tatapan istrinya, ia berbalik membelakangi Reya dan menutup tubuhnya dengan selimut
"Kamu keliatan aneh Rey" gumam Reya, wanita cantik itu kembali menatap pantulan dirinya di cermin
***
Setelah ucapan Reya malam hari, Reyhan menghampiri Rani ditempat kerjanya. Entah apa yang membuatnya merasa gelisah mendengar wanita itu akan menikah
"Rani!"
Rani terkejut, setelah seminggu pria yang tidak ingin ia lihat datang lagi
"Mau apa lagi kamu kesini?"
"Ikut aku!"
Reyhan mengabaikan Rani yang memberontak, emosinya seperti meluap. Rani bahkan tak mengenal Reyhan yang hari ini menemuinya