di khianati dan di bunuh oleh rekannya, membuat zephyrrion llewellyn harus ber transmigrasi ke dunia yang penuh dengan sihir. jiwa zephyrrion llewellyn masuk ke tubuh seorang pangeran ke empat yang di abaikan, dan di anggap lemah oleh keluarga, bangsawan dan masyarakat, bagaimana kehidupan zephyrrion setelah ber transmigrasi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ncimmie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 10
Setelah latihan malamnya selesai, Valerian kembali ke kamarnya ditemani Alaric. Angin malam berembus lembut lewat jendela, membawa aroma bunga liar dari taman istana utara. Api lilin di meja belajar bergetar, menambah nuansa hangat di ruangan yang sepi itu.
Valerian duduk di kursinya, membuka buku tebal berisi catatan sihir kuno peninggalan Ratu Serephina. Halaman demi halaman dipenuhi tulisan tangan yang rapi — kombinasi antara teori sihir dan catatan pribadi seorang ibu untuk anaknya.
“...‘Kekuatan sejati bukan berasal dari darah bangsawan, melainkan dari kendali atas diri sendiri.’”
Valerian membaca kalimat itu perlahan, suaranya nyaris seperti bisikan.
Ia mengambil pena bulu dan membuka buku catatan barunya. Tulisan tangannya halus, tapi kuat.
Hari ini, sihir kuno mulai menyesuaikan diri dengan tubuhku. Api biru tidak lagi menyakiti kulitku seperti sebelumnya. Aku bisa merasakannya mengikuti keinginanku, seolah ia mengenal siapa aku sebenarnya.
Alaric, yang berdiri tak jauh dari meja, memperhatikan pangerannya yang begitu tenang menulis. Ada sesuatu yang berbeda dari Valerian malam ini — aura keteguhan dan ketenangan yang sulit dijelaskan.
“Pangeran, apakah Anda tidak lelah?” tanya Alaric lembut.
Valerian menutup buku itu perlahan, menatap halaman terakhir yang sudah penuh catatan sihir dan diagram rumit.
“Tubuhku mungkin lelah, tapi pikiranku belum.”
Ia menatap nyala lilin di depannya. “Setiap kali aku membaca tulisan ibu… rasanya seperti dia masih di sini.”
Alaric menunduk pelan, tak berani memotong suasana itu.
Valerian menutup buku sihir ibunya dengan hati-hati, lalu menaruhnya di sisi meja.
Ia berdiri dan berjalan ke arah jendela, menatap langit malam yang bertabur bintang.
Rambut peraknya berkilau tertimpa sinar bulan, dan mata emasnya memantulkan cahaya lembut yang membuat sosoknya tampak begitu anggun — seperti potret hidup dari darah kuno yang ia warisi.
“Suatu hari… aku akan membuat mereka tahu siapa sebenarnya pangeran ketiga yang mereka abaikan,” ucapnya pelan namun penuh tekad.
Angin malam berhembus lembut, menggoyangkan tirai putih di belakangnya.
Valerian berbalik, menuju tempat tidurnya. Alaric segera memadamkan lilin satu per satu, meninggalkan satu cahaya kecil di sudut ruangan.
“Selamat malam, Pangeran.”
“Istirahatlah juga, Alaric.”
Valerian berbaring di kasurnya. Meski matanya terpejam, pikirannya masih terjaga — membayangkan apa yang akan ia lakukan selanjutnya.
Di luar, bulan menggantung tinggi. Dan di bawah sinarnya, pewaris sihir kuno yang terlupakan tengah bersiap menulis takdirnya sendiri.
###
Cahaya mentari pagi perlahan menembus celah tirai, membiaskan warna keemasan di kamar Valerian. Debu halus tampak menari di udara, menambah suasana hangat di ruangan yang sederhana itu.
“Pangeran, sudah pagi,” suara lembut Alaric terdengar bersamaan dengan ketukan pelan di pintu.
Valerian menggeliat pelan di kasurnya, mengusap mata dengan punggung tangan.
“Pagi sudah datang terlalu cepat,” gumamnya setengah malas, suaranya serak khas orang baru bangun tidur.
Alaric membuka tirai jendela, membiarkan sinar matahari masuk.
Rambut perak Valerian berkilau terkena cahaya pagi, membuat Alaric sempat terdiam sesaat — sosok itu benar-benar memancarkan aura bangsawan bahkan tanpa berusaha.
“Pangeran, hari ini Anda berencana menjual ramuan ke pasar, bukan?”
Valerian mengangguk sambil duduk di tepi tempat tidur.
“Benar. Kita harus menjual beberapa ramuan baru sebelum bahan-bahan yang tersisa mengering.”
Alaric segera membantu Valerian bersiap. Ia menyiapkan pakaian sederhana berwarna krem dan jubah hitam yang sama seperti kemarin.
Valerian berdiri di depan cermin kecil, merapikan rambutnya dengan jari.
“Alaric, pastikan semua ramuan sudah dikemas rapi. Aku tak ingin satu pun pecah di jalan.”
“Sudah, Pangeran. Ramuan yang Anda buat kemarin saya simpan di kotak kayu dan dilapisi kain lembut agar tidak pecah.”
Valerian tersenyum tipis.
“Bagus. Kau memang pelayan yang teliti.”
Mereka turun ke dapur istana yang sudah lama tak digunakan. Alaric menyiapkan roti kering dan sedikit buah sebagai sarapan sederhana. Valerian duduk di kursi panjang, menatap jendela yang terbuka ke arah taman.
“Lucu juga. Dulu aku biasa sarapan dengan segelas kopi pahit dan laporan target pembunuhan… sekarang dengan roti dan udara pagi,” gumamnya, separuh menertawakan dirinya sendiri.
Alaric, yang mendengar itu, hanya menunduk tanpa berkomentar. Ia sudah terbiasa dengan kalimat-kalimat aneh pangerannya yang kadang terdengar seperti lelucon, tapi juga seperti kisah dari masa lalu yang kelam.
Setelah sarapan, mereka memeriksa keranjang berisi puluhan botol kecil dengan cairan berwarna-warni.
Valerian mengangkat salah satu botol berisi cairan biru bening dan menatapnya di bawah cahaya matahari.
“Ramuan penyembuh instan. Tiga tetes saja cukup untuk menutup luka dalam beberapa detik.”
“Kalau begitu, toko obat itu pasti senang lagi, Pangeran.”
“Bukan hanya mereka, tapi seluruh pasar akan tahu kalau ada ramuan yang tidak bisa ditiru oleh tabib mana pun,” jawab Valerian dengan nada datar tapi penuh keyakinan.
Ia menatap langit cerah di luar jendela, lalu mengenakan tudung hitamnya.
“Ayo, Alaric. Semakin cepat kita berangkat, semakin banyak yang bisa kita jual hari ini.”
“Baik, Pangeran.”
Alaric memanggul kotak kayu berisi ramuan, sementara Valerian berjalan di depan.
Langkah keduanya meninggalkan istana utara, menembus embun pagi yang masih menggantung di udara. Di bawah sinar matahari yang lembut, perjalanan menuju pasar pun dimulai — sekali lagi, kisah pangeran yang hidup dalam bayang-bayang istana perlahan menampakkan dirinya di dunia luar.
Pasar hari itu lebih ramai dari biasanya. Suara para pedagang bersahut-sahutan, aroma rempah dan roti panggang bercampur dengan semilir angin pagi yang membawa hiruk pikuk kehidupan.
Valerian dan Alaric berjalan melewati jalan berbatu, menyatu dengan kerumunan. Tudung hitam Valerian menutupi rambut peraknya dengan sempurna, hanya memperlihatkan sebagian wajahnya yang tenang dan datar.
Mereka kembali ke toko obat tempat kemarin menitipkan ramuan. Begitu masuk, lonceng kecil di atas pintu berdenting lembut. Pemilik toko — seorang wanita paruh baya bernama Madam Lora — langsung menoleh dan wajahnya berubah cerah.
“Oh, kalian datang lagi! Ramuan kemarin laku keras! Banyak tabib dan bangsawan kecil yang mencarinya.”
Alaric menatap heran.
“Sebanyak itu, Madam?”
“Tentu! Salah satu bangsawan bahkan menawar dengan harga tiga kali lipat. Katanya ramuan itu bisa menyembuhkan luka dalam sekejap, dan tidak meninggalkan bekas sama sekali.”
Valerian menaruh keranjang ramuannya di meja kayu tua, lalu menatap Madam Lora dengan senyum samar.
“Kalau begitu, mungkin hari ini Anda akan mendapat lebih banyak keuntungan.”
Wanita itu tertawa kecil.
“Kalian benar-benar membawa keberuntungan, Nak. Tapi… siapa yang sebenarnya membuat ramuan ini? Semua orang bertanya-tanya.”
Valerian hanya menjawab tenang.
“Anggap saja dari seseorang yang ingin membantu mereka yang membutuhkan.”
Madam Lora menghela napas, lalu mengangguk setuju.
“Baiklah, aku tak akan memaksa. Tapi hati-hati. Ramuan sekuat ini pasti menarik perhatian para bangsawan besar… bahkan pihak kerajaan.”
Valerian menatap ke arah luar jendela, matanya memantulkan cahaya pagi.
“Kalau memang takdirnya begitu, biar saja mereka datang.”
Sementara itu, di sisi lain pasar — dua tabib berdiskusi serius di depan warung kecil.
“Aku sudah memeriksa sampel ramuan itu, dan tidak ada satu pun bahan yang kita kenal bisa menghasilkan efek secepat itu,” ujar salah satu tabib berambut abu-abu.
“Ada kemungkinan pembuatnya menggunakan sihir kuno dalam prosesnya,” timpal yang lain.
Tak jauh dari mereka, seorang bangsawan muda berpakaian elegan mendengarkan pembicaraan itu sambil meneguk anggur. Ia tersenyum tipis.
“Sihir kuno, hm? Menarik. Jika benar ada seseorang di luar sana yang bisa membuat ramuan seperti itu, aku harus menemukannya.”
Berita tentang ramuan misterius itu menyebar cepat. Di antara desas-desus pasar, para tabib, bangsawan, bahkan mata-mata kerajaan mulai mencari-cari si pembuat ramuan ajaib itu.
Namun tak ada yang tahu — anak dengan tudung hitam yang baru saja berjalan tenang melewati jalanan pasar itulah orang yang mereka cari.
Valerian dan Alaric meninggalkan toko dengan ringan. Keranjang kosong di tangan Alaric terasa jauh lebih ringan, tapi di hati Valerian muncul firasat lain — firasat bahwa ketenangannya sebentar lagi akan berakhir.
“Alaric,” ucapnya pelan, “dunia ini selalu tertarik pada hal yang tak bisa mereka pahami. Dan orang seperti itu… bisa jadi ancaman, atau legenda.”
Alaric hanya menatap punggung majikannya yang berjalan di depan, dengan mata emas yang tampak berkilau di bawah sinar matahari.
“Saya akan selalu di sisi Anda, Pangeran.”
Valerian tidak menjawab, hanya menatap langit pagi yang mulai membiru — sementara di tempat lain, roda takdir mulai berputar menuju dirinya.
Setelah selesai menitipkan ramuan di toko obat, Valerian dan Alaric memutuskan untuk berkeliling pasar. Mata Valerian menangkap beberapa kain tebal yang digantung di depan toko perabot rumah. Warna-warnanya lembut—abu muda, coklat tua, dan biru tua.
“Kita butuh selimut tambahan,” ujar Valerian sambil menghampiri deretan kain itu.
“Malam di istana utara terlalu dingin, bahkan untuk manusia biasa.”
Alaric mengangguk setuju.
“Benar, anginnya menusuk tulang. Anda sering terbangun di malam hari karena kedinginan, bukan?”
Valerian hanya mengangguk kecil. Ia mengambil satu selimut biru tua dan satu abu keperakan, jari-jarinya menyentuh permukaannya. Lembut dan hangat — kualitas yang jarang ada di pasar biasa.
“Ambil dua lagi untukmu, Alaric,” ucapnya tanpa menatap.
“Tapi—”
“Tidak ada tapi. Kau membutuhkannya juga.”
Alaric hanya tersenyum tipis dan mengiyakan. Mereka membayar dengan sebagian kecil uang hasil penjualan ramuan, lalu berjalan menuju area bahan makanan.
Pasar siang mulai padat. Bau daging panggang, sayur segar, dan bumbu kering bercampur jadi satu. Valerian memperhatikan setiap bahan dengan cermat — dari akar obat sampai rempah yang tak asing baginya di kehidupan sebelumnya.
“Kita butuh gandum, garam, dan beberapa rempah ringan. Dan mungkin madu,” kata Valerian pelan.
“Madu?” tanya Alaric heran.
“Untuk ramuan stamina. Dan… mungkin untuk teh.”
Alaric tersenyum kecil, ikut memilih bahan sambil menatap pangerannya yang tampak menikmati suasana pasar sederhana itu. Tak ada kesan bangsawan sama sekali — hanya seorang anak dengan mata emas yang tenang dan hati yang penuh rencana.
Setelah semuanya dibeli, Alaric menggendong karung berisi bahan makanan di punggungnya, sementara Valerian membawa keranjang kecil berisi rempah dan madu. Mereka berjalan perlahan melewati jalanan berbatu, menembus sinar matahari sore yang mulai hangat keemasan.
“Rasanya… menyenangkan,” gumam Valerian pelan.
“Kapan terakhir kali aku berjalan bebas seperti ini?”
Alaric menatap punggung Valerian, dan entah kenapa ada rasa hangat di dadanya.
“Jika Anda ingin, kita bisa datang lagi minggu depan.”
Valerian menoleh, senyum samar muncul di wajahnya.
“Baiklah. Tapi dengan syarat—kita harus pulang sebelum malam. Aku tidak ingin berurusan dengan orang-orang yang terlalu ingin tahu.”
“Baik, Valerian.”
Mereka berjalan kembali ke tempat teleportasi. Di belakang mereka, mata-mata bangsawan yang sejak tadi memperhatikan dari kejauhan mencatat sesuatu di buku kecilnya.
“Rambut perak… mata emas… dan ramuan yang langka.”
“Menarik sekali.”