NovelToon NovelToon
Respect

Respect

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Matabatin / Hamil di luar nikah
Popularitas:83
Nilai: 5
Nama Author: Anisa Rahayu

Arisa Salsa Bila atau Acha adalah seorang pramuniaga minimarket yang ceria, rajin, namun terkadang egois dan kekanak-kanakan. Suatu hari ia bertemu dengan Andra Nathan Ardimana, pemuda pekerja keras yang merintis usaha percetakan sablon sandal. Di balik sikap keras kepalanya, Nathan memiliki hati yang lembut dan selalu mengalah demi orang lain.

Hubungan mereka tumbuh menjadi cinta yang tulus. Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama ketika keluarga mereka menolak hubungan tersebut karena perbedaan latar belakang dan berbagai kesalahpahaman. Hinaan, penolakan, dan tekanan membuat hubungan mereka berkali-kali berada di ambang perpisahan.

Meski begitu, Nathan dan Acha memilih bertahan. Mereka belajar bahwa cinta tidak cukup hanya dengan rasa sayang, tetapi juga membutuhkan rasa hormat, kepercayaan, pengorbanan, dan penerimaan. Di tengah segala luka, mereka membuktikan bahwa perjuangan yang dilakukan dengan tulus tidak akan pernah sia-sia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 09. Respect

Hari baru di sekitar area pertokoan dimulai dengan kesibukan yang cukup menguras tenaga. Acha mendapat tugas untuk memindahkan beberapa botol air mineral ukuran besar dari dalam gudang menuju Minimarket atau area depan.

Dengan menggunakan sebuah keranjang dorong yang sudah penuh sesak dengan botol-botol galon mini atau botol air berukuran besar, Acha berjalan dengan hati-hati.

Namun, nasib sial tampaknya belum mau jauh-jauh darinya. Di tengah jalan berkerikil dekat halaman depan, langkah kaki Acha tidak sengaja tersandung sebuah batu yang cukup besar.

Brukk!

Keranjang miring seketika, membuat keseimbangan Acha hilang. Seketika itu juga, botol-botol air berukuran besar yang ada di dalam keranjang terlepas dan mulai menggelinding bebas ke arah jalanan aspal di luar area toko.

"Aduh!" pekik Acha kaget sambil mencoba menggapai botol-botol yang berhamburan.

Di saat Acha sedang panik memunguti botol yang berserakan ke tengah jalan, sesosok pria berjaket rapi dengan sigap berlari kecil menghampiri. Pria itu adalah Nathan, yang kebetulan sedang berada di sekitar tempat itu.

Tanpa banyak bicara, Nathan langsung ikut berjongkok, mengumpulkan botol-botol air yang menggelinding menjauh, lalu memasukkannya kembali ke dalam keranjang.

Begitu semua botol berhasil diamankan, Nathan berdiri sambil tersenyum ramah dan mengangkat keranjang tersebut.

"Biar saya bantu bawain sampai ke Minimarket ya, Mbak. Jalanan di sini lumayan licin buat keranjang yang muatannya over kayak gini," ujar Nathan menawarkan bantuan dengan tulus.

Acha, yang masih sedikit syok dan kelelahan, hanya bisa mengangguk pelan sembari mengucapkan terima kasih, mulai menyadari bahwa pria asing yang kemarin dia abaikan ini ternyata tidak menyebalkan atau sekedar iseng seperti dugaannya.

Nathan membawa keranjang dorong tersebut dengan mudah, berjalan tepat di samping Acha yang mengekor pelan sambil merapikan jaketnya yang sedikit berdebu. Sesampainya di depan area Minimarket, Nathan meletakkan keranjang itu dengan hati-hati ke tempat yang aman.

"Nah, aman ya, Mbak. Lain kali pelan-pelan aja dorongnya, nggak usah buru-buru," ujar Nathan sambil tersenyum ramah, memperlihatkan sorot mata yang tulus tanpa ada niat mengejek atau tebar pesona seperti yang biasa dilakukan Denis.

Acha menatap pria di hadapannya itu dengan perasaan yang perlahan melunak. Rasa kesalnya tempo hari kini berganti dengan rasa tidak enak karena sempat mengabaikannya begitu saja.

"Makasih banyak ya, Mas... eh, bantuannya. Maaf juga kalau kemarin-kemarin saya sempat ketus, lagi capek banget soalnya," kata Acha jujur, sedikit merona karena merasa sungkan.

Nathan tertawa kecil mendengar pengakuan polos itu. "Santai aja, Mbak. Saya paham kok, orang capek mah wajar kalau sewot. Oh ya, kalau begitu, saya pamit dulu ya mbak." Nathan mengulurkan tangan kanannya dengan sopan.

Acha menyambut uluran tangan itu sekilas sambil tersenyum tipis. "Iya, sekali lagi makasih yah mas."

Pertemuan tak terduga hari itu mencairkan kecanggungan di antara mereka, meninggalkan kesan yang jauh lebih hangat dan manis di hati Acha.

Suasana Minimarket yang mulai sepi selepas jam istirahat siang mendadak terasa berbeda bagi Acha.

Dia duduk di balik meja kasir sambil menatap kosong ke arah luar jalanan, tangannya yang memegang bolpoin mengetuk-ngetuk meja pelan.

Pikiran Acha justru melayang jauh, kembali pada kejadian tadi pagi saat Nathan dengan sigap membantunya memunguti botol air mineral yang menggelinding.

Senyum ramah pria itu, suaranya yang tenang, hingga cara Nathan memperlakukannya dengan begitu sopan tanpa ada niat mengejek—seperti yang biasa dilakukan Denis—berputar berulang-ulang di kepalanya.

Tiba-tiba, Acha mengerjap cepat, lalu menepuk kedua pipinya sendiri dengan pelan untuk menyadarkan diri.

"Duh, Acha! Kenapa jadi mikirin dia sih?" batinnya merutuk dalam hati.

Yang lebih membuat Acha gemas sekaligus salah tingkah kepada dirinya sendiri adalah kenyataan bahwa dia bahkan belum d menanyakan nama pria itu secara resmi.

Setiap kali bayangan wajah Nathan melintas di benaknya, dadanya berdegup sedikit lebih cepat, memunculkan rasa hangat yang tak biasa.

Tanpa sadar, bibirnya mengukir senyum kecil, menyadari bahwa sosok asing yang awalnya dianggap menyebalkan itu kini diam-diam berhasil mencuri perhatiannya.

"Heh, kesurupan apa kamu dari tadi senyam-senyum sendiri kayak kerang busuk?"

Suara Vika yang mendadak muncul di samping meja kasir membuat Acha terlonjak kaget.

Gadis itu langsung merapikan duduknya, buru-buru memasang wajah datar sok sibuk sambil merapikan tumpukan nota belanjaan di hadapannya.

"Apaan sih, Vika! Siapa juga yang senyam-senyum," kilah Acha cepat, berusaha menyembunyikan rona merah yang telanjur merambat di pipinya.

Vika menyipitkan mata, menatap sahabatnya dengan tatapan penuh selidik dan curiga.

"Alah, ngeles aja terus! Dari tadi aku perhatiin dipanggil dua kali nggak nyaut-nyaut, matanya kosong menerawang ke awan. Jangan-jangan... lagi mikirin cowok misterius yang kemarin nanya saus, ya?" tebak Vika tepat sasaran sambil tersenyum usil.

Mendengar nama Nathan disebut—meski dalam hati Acha baru saja tahu bahwa pria itu bernama Nathan dari obrolan singkat mereka sebelumnya, namun Vika belum mengetahuinya—jantung Acha kembali berdegup dua kali lebih kencang.

Dia buru-buru menggeleng kuat-kuat, berusaha menepis godaan Vika agar tidak semakin salah tingkah.

"Sembarangan banget kalau ngomong! Udah sana balik kerja, nanti dimarahin Ibu Ema baru tahu rasa!" elak Acha sambil mendorong pelan bahu Vika agar menjauh.

Vika tertawa puas melihat tingkah salah tingkah Acha yang tidak biasa itu, sementara Acha hanya bisa menghela napas panjang dalam hati, berharap debaran aneh di dadanya segera mereda sebelum Vika kembali membongkar pertahanan rahasianya.

Malam harinya, kamar Vika kembali menjadi tempat pelarian yang paling nyaman bagi keempat sahabat itu.

Sambil duduk melingkar di atas karpet berbulu ditemani sepiring camilan, Vika, Amina, dan Tasya mendadak menghentikan obrolan mereka saat melihat Acha yang kembali melamun dengan tatapan kosong ke arah gelas teh di depannya.

Amina yang duduk paling dekat langsung menyenggol lengan Acha dengan gemas. "Heh, Acha! Mulai lagi deh mode autopilot-nya. Ngaku aja kamu, pasti dari tadi sore lagi mikirin cowok itu kan?"

Acha mengerjap kaget, lalu buru-buru menyangkal dengan wajah memerah. "Apaan sih, nggak kok! Siapa juga yang dipikirin."

Tasya tertawa renyah sambil bersidekap. "Alah, nggak usah ngeles. Muka teteh tuh keliatan banget lagi galau tapi versi berbunga-bunganya. Lagian ya, teh Acha, kalau emang penasaran setengah mati kenapa tadi pas dibantuin nggak langsung ditanyain?"

Mendengar ucapan Tasya, Vika langsung menimpali dengan antusias. "Nah, bener banget tuh! Kenapa tadi nggak kamu tanyain sekalian 'Masnya namanya siapa? Kerja di mana? Rumahnya di sebelah mana?' Kan nggak perlu repot-repot jadi HRD mendadak kayak sekarang, nebak-nebak sendiri sambil senyum-senyum sendiri!"

Acha langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan karena malu diledek oleh ketiga sahabatnya sekaligus. Dalam hati kecilnya, dia membenarkan perkataan mereka.

"Iya juga ya... kenapa tadi aku nggak sempat tanya siapa namanya?" jerit Acha dalam hati, semakin salah tingkah di hadapan Vika, Amina, dan Tasya.

"Udah, udah, jangan dibully terus muka temen kita yang lagi kasmaran ini, nanti malahan dibawa mimpi beneran lho!" bela Amina sambil tergelak renyah, merangkul pundak Acha yang masih enggan membuka kedua tangannya dari wajah.

Vika menyeringai usil, matanya berbinar penuh rencana. "Tenang aja, Cha. Kalau jodoh mah nggak bakal kemana. Besok-besok kalau tuh cowok muncul lagi di Minimarket, kamu tinggal pasang radar paling peka. Atau... mau kita bantuin tanyain langsung?"

"Eh, jangan! Jangan ngadi-ngadi ya kalian!" seru Acha panik.

Dia langsung menurunkan tangannya dan menatap ketiga sahabatnya tajam dengan pipi yang sudah semerah kepiting rebus.

"Bisa-bisa aku pingsan beneran karena malu kalau kalian yang turun tangan!"

Gelak tawa langsung meledak di dalam kamar Vika. Suasana malam itu dipenuhi oleh canda tawa hangat, mencairkan seluruh sisa penat dan rasa canggung yang sempat dirasakan Acha.

Meski dia masih malu setengah mati karena ketahuan salah tingkah, jauh di dalam lubuk hatinya, Acha merasa bersyukur dikelilingi sahabat-sahabat yang selalu tahu cara menghiburnya.

Dan tanpa dia sadari, bayangan wajah Nathan malam itu kembali singgah di benaknya, menyisakan debaran halus yang membuat tidurnya terasa jauh lebih manis.

Di tempat yang berbeda, suasana malam di dalam sebuah workshop sablon terasa begitu sunyi. Mesin cetak manual berdengung pelan, menemani Nathan yang tengah menyelesaikan lembur mencetak pesanan tatakan sandal.

Tangannya yang terbalut sisa tinta Cat bergerak teratur di atas meja sablon, menarik rakel dengan penuh konsentrasi.

Namun, fokus Nathan malam itu tampak terpecah. Gerakan tangannya tiba-tiba terhenti sejenak.

Dia mematikan mesin pengering kecil di sudut meja, lalu menatap kosong ke arah deretan tatakan gelas yang baru saja selesai disablon.

Sama seperti Acha yang tak bisa mengeluarkan sosoknya dari kepala, Nathan pun mengalami hal serupa.

Senyum tipis gadis itu saat menerima bantuan galon air tadi sore, ekspresi jengkelnya saat salah tingkah, hingga cara Acha menatapnya dengan penuh rasa terima kasih terus berputar di benak Nathan.

Bayangan itu membuat sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman kecil di tengah lelahnya bekerja.

Ada rasa hangat yang menyelinap di dadanya, sekaligus dorongan yang kian kuat. Pertemuan demi pertemuan tak terduga itu meyakinkan Nathan bahwa ketertarikannya pada Acha bukan sekadar kekaguman sesaat.

"Gue harus bisa lebih dekat sama dia," batin Nathan mantap, menatap lurus ke depan dengan tekad yang semakin bulat untuk mengenal gadis itu lebih jauh dan merebut hatinya.

Di bawah temaram lampu workshop sablon yang mulai mendingin, Nathan menarik napas dalam-dalam.

Sisa-sisa aroma tinta dan karet sablon seolah tidak lagi mengganggu konsentrasinya, sebab seluruh pikiran dan energinya kini sepenuhnya tertuju pada satu nama Acha.

Ingatannya kembali berputar kepada momen-momen kecil yang mempertemukan mereka.

Mulai dari insiden bubur gratis, aksi kocak Acha saat karaoke, hingga saat dia dengan sigap membantu gadis itu memunguti botol-botol galon yang menggelinding. Setiap potongan memori itu terasa begitu berkesan di mata Nathan.

Nathan merapikan peralatan kerjanya satu persatu, melepaskan sarung tangan karetnya yang kotor, lalu mencuci tangan di sudut ruangan.

Tekad di dalam hatinya kini sudah bulat. Dia tidak ingin lagi hanya menjadi pria asing yang kebetulan lewat atau sekadar penonton di hidup Acha.

Nathan menyambar jaketnya yang tersampir di kursi, melangkah keluar workshop sambil menatap langit malam yang mulai larut.

Dengan senyum penuh keyakinan tersungging di bibirnya, dia bersiap merencanakan langkah selanjutnya untuk benar-benar mendekati Acha dan memenangkan hati gadis itu.

Udara malam yang dingin menyambut kepulangan Nathan begitu dia keluar dari area workshop. Langit gelap tanpa bintang seolah menjadi saksi atas tekad baru yang kini bersemayam di dalam dadanya.

Selama perjalanan pulang mengendarai motornya, kepala Nathan tak henti-hentinya berputar memikirkan cara terbaik untuk bisa mendekati Acha secara natural tanpa terlihat kaku atau berlebihan.

Dia tahu Acha bekerja di Minimarket, dan dia juga tahu gadis itu sering kali tampak kewalahan dengan pekerjaan yang berat-berat di sana.

"Mungkin besok atau lusa, gue bisa datang lagi dengan alasan yang lebih pas," batin Nathan merencanakan siasat kecilnya sambil tersenyum sendiri di balik helm full face-nya.

Bagi Nathan, Acha memiliki daya tarik tersendiri—kesederhanaan, kepolosan saat salah tingkah, hingga ketangguhannya dalam bekerja berhasil membuat pria itu jatuh hati secara perlahan.

Dengan semangat baru yang membara, dia bertekad menjadikan hari-hari kedepannya sebagai awal dari cerita baru di antara mereka berdua.

Siang harinya di Minimarket tempat Acha bekerja mendadak terasa lebih berat, bukan karena tumpukan barang atau tugas yang banyak, melainkan karena sosok wanita yang baru saja mendorong troli belanjaan ke dekat meja kasir.

Wanita berpenampilan rapi itu adalah Suci, kakak iparnya Acha.

Acha yang sedang berjaga di balik meja kasir seketika terpaku sejenak. Otaknya langsung memutar kembali kenangan-kenangan pahit saat dia masih terpaksa tinggal satu rumah dengan Suci dulu.

Masa-masa di mana dia sering kali disakiti, disudutkan, dan mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari kakak iparnya itu masih membekas jelas di lubuk hatinya. Luka lama itu mendadak berdenyut nyeri, membuat dadanya terasa sesak.

Namun, di detik berikutnya, Acha menarik napas dalam-dalam. Dia tahu betul di mana dia sekarang. Ini tempat kerjanya, dan dia adalah seorang profesional.

Dengan memaksakan senyum ramah yang terlihat tulus, Acha menyambut kedatangan Suci begitu wanita paruh baya itu meletakkan barang-barang belanjanya di atas meja kasir.

"Selamat siang, Teh. Silakan, ada lagi yang mau ditambah?" sapa Acha dengan nada suara yang tenang, berusaha menepis segala gemuruh benci dan rasa sakit di dadanya demi menjaga sikap profesional.

Suci melirik Acha sekilas, tampak acuh tak acuh seperti biasa, lalu menyebutkan total belanjaannya tanpa sedikit pun menyadari badai emosi yang tengah diredam oleh gadis di hadapannya itu.

Acha bergerak cepat namun tetap teliti memindai satu persatu barang belanjaan Suci menggunakan mesin scanner kasir.

Suara beep yang konstan berpadu dengan deru pendingin ruangan Minimarket, menjadi latar suara saat bayangan masa lalu kembali berkelebat di kepalanya—mulai dari sindiran pedas hingga perlakuan tidak adil yang diterimanya semasa tinggal serumah.

Meski hatinya bergemuruh hebat dan tangannya sempat sedikit gemetar, Acha mati-matian menahan diri agar tidak menunjukkan kelemahan di hadapan wanita itu.

Dia sadar, membalas dengan amarah hanya akan merugikan dirinya sendiri dan mencoreng nama baik tempat kerjanya.

"Totalnya jadi seratus delapan puluh lima ribu rupiah, Teh," ujar Acha dengan nada yang tetap sopan dan terkontrol, menyerahkan struk belanjaan begitu transaksi selesai.

Suci mengeluarkan dompet dari tasnya, menyerahkan sejumlah uang pas tanpa mengucapkan sepatah kata terima kasih, lalu menyambar kantong belanjaannya begitu saja dan berlalu meninggalkan area kasir tanpa menoleh lagi.

Begitu punggung Suci menghilang di balik pintu keluar swalayan, Acha langsung menyandarkan punggungnya kepada kursi kasir.

Dia menghela napas panjang, membiarkan udara yang sejak tadi tertahan di dadanya terhembus keluar.

Meski meninggalkan rasa perih yang menguar di dadanya, Acha merasa bangga kepada dirinya sendiri, dia berhasil melewati ujian mental yang cukup berat hari itu tanpa kehilangan kendali.

Sisa hari di Minimarket terasa jauh lebih tenang setelah kepergian Suci. Acha berusaha menyibukkan diri dengan merapikan produk-produk di dekat meja kasir untuk mengalihkan sisa-sisa sesak di dadanya.

Luka lama memang tidak semudah itu hilang, tetapi ketegaran yang dia tunjukkan hari ini membuktikan bahwa dirinya sudah jauh lebih kuat.

Menjelang sore hari, ketika suasana swalayan mulai lengang, pintu kaca swalayan terbuka, memunculkan sosok pria berjaket rapi yang sudah beberapa hari terakhir ini rutin singgah di benak Acha yaitu adalah Nathan.

Kali ini, Nathan tidak datang dengan tangan kosong atau berpura-pura mencari saus sambal. Dia melangkah masuk dengan senyum hangat, menghampiri meja kasir tempat Acha berdiri seorang diri.

"Halo, Mbak," sapa Nathan ramah sambil meletakkan sebuah kotak kecil berisi roti hangat di atas meja kasir.

"Kebetulan tadi saya lewat toko roti langganan saya, dan rasanya nggak tahu kenapa pengen mampir aja ke sini."

Acha tertegun sejenak. Matanya mengerjap, menatap kotak roti lalu beralih menatap sorot mata Nathan yang tulus.

Kepenatan dan sisa air mata yang sempat tertahan karena kedatangan Suci seolah luruh seketika digantikan oleh rasa hangat yang merayap di dadanya.

Tanpa dia duga, kehadiran pria yang awalnya dianggap asing ini justru datang di saat yang paling tepat untuk mengembalikan senyum di wajahnya.

Be to continued

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!