Ayah seorang pria yang sederhana dan ramah, meskipun banyak yang menghina tapi dia selalu cuek dan tidak menanggapinya.
Namun tanpa di ketahui semua orang, termasuk mamah dan keluarganya. Ternyata ayah merupakan keturunan dari seorang pengusaha kaya.
Cerita ini hanyalah karangan fiktif belaka, jika ada kesamaan nama dan kejadian mohon maaf.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaenal arifin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepulangan Clara
Satu jam berlalu, Laras dan Anissa duduk di sofa yang berada di ruangan itu, sambil menjaga Clara dan menunggu kedatangan Luffi.
Laras sudah tidak sabar ingin memaki Luffi jika ia datang. Bagi Laras, Luffi meminjam uang begitu banyak, darimana klo bukan dari Rentenir atau pinjaman riba. Ia takut jika anak dan cucunya akan hidup lebih menderita kelak karena ulah Luffi.
"kreek.. " Suara pintu ruangan terbuka.
Luffi memasuki ruangan, dia melihat mertua dan adik iparnya sedang duduk santai di sofa, tapi pandangan nya melirik kearah dua suster cantik yang berada di samping anaknya.
"Bagaimana keadaan anak saya, Sus?" tanya Luffi pada suster di depannya.
"Kondisi pasien sudah membaik, Pak! Tadi kami sudah memberikan obat terbaik untuk pasien, sehingga kondisi pasien akan lebih baik sementara waktu," ucap salah satu Suster cantik yang merawat Clara.
"Oke, terima kasih, Sus. Pergilah biarkan aku yang menjaga anakku," ucap Luffi pada suster, karena Luffi tahu akan terjadi perang dunia ke empat, sehingga menyuruh kedua suster itu untuk keluar terlebih dahulu.
"Baik Pak, jika butuh sesuatu Bapak cukup pencet tombol yang ada disana, nanti kami akan datang kesini." ucap Suster cantik itu sambil menunjuk kesebuah tombol yang berada di tembok, dekat ranjang pasien.
Luffi hanya menganggukan kepalanya, lalu kedua suster izin pamit, untuk pergi keluar ruangan. Kini menyisakan Luffi, Clara, Laras dan Anissa.
Baru saja kedua suster itu keluar pintu, Laras langsung bangkit dari duduk nya. "Firasat ku gak enak amat yah," gumam Luffi dalam hati,
melihat gelagat mertua nya.
Apa yang diduga Luffi menjadi kenyataan, laras langsung menghampiri Luffi, begitupun dengan Anissa yang tidak mau ketinggalan acara ceramah rohani tersebut.
"Hebat kamu, yah. Bisa-bisanya kamu ini meminjam uang banyak pada lintah darat. Mau bayar pake apa nantinya?" ucap Laras judes.
Anissa gak mau ketinggalan, dia ikut serta menceramahi Luffi, "Apa kamu fikir Kak Alice yang akan membayarkan semua hutangmu, awas saja jika terjadi sesuatu pada kakak dan keponakan ku." Anissa merasa jika Luffi ingin memanfaatkan Kakak nya, karena sekarang hanya kakaknya lah yang masih bekerja.
Alice sebelumnya sudah memberitahukan niat Luffi untuk mengundurkan diri dari kerajaan nya, pada Laras. Mungkin karena dia berurusan dengan Pak Asep, karena kelakuan bodoh Luffi kemarin padanya.
"Siapa bilang aku meminjam uang itu pada lintah darat atau semacam nya. Itu semua adalah uang ku pribadi." ucap Luffi menjawab tuduhan mertua dan adik iparnya.
"Oh.. Jadi kamu mau bilang, jika sekarang kamu adalah seorang miliarder, gitu? Hebat sekali kamu dalam sekejap jadi orang kaya." Ucap Laras tertawa meremehkan Luffi.
"Haha.. Jangan mimpi kamu, dasar kakak ipar tak berguna. Opps, maksud ku lelaki miskin yang beruntung mendapatkan kakak, ku." Ucap Anissa tersenyum sinis mengejek Luffi.
"Kenapa mereka tidak percaya jika aku ini sudah menjadi orang kaya, yah. Tapi biarlah lagi pula tak ada ruginya bagiku." gumam Luffi dalam hati sambil menggelengkan Kepala.
Clara terbangun dari tidurnya, karena berisik.
Dia menatap ayahnya yang berada di samping nya.
"Ayah, kenapa nenek dan tante begitu galak padamu?" ucap Clara yang sudah mendengar pembicaraan mereka.
Luffi hanya tersenyum membalas ucapan Clara, tidak mungkin ia bilang jika mereka menganggap Luffi seorang tidak berguna.
Luffi hanya memberi penjelasan Positif pada Clara, bagaimana pun Clara masih kecil. Luffi tak mau membuat anaknya terlibat masalah keluarga nya.
°°°°°
Hari kedua. Candra telah mendapatkan donor ginjal untuk Clara. Bukan hal yang sulit untuk Candra mencari pendonor, karena dengan uang semuanya bisa di cari dengan mudah.
Clara melakukan Operasi Ginjal hari itu juga. Operasi pun berjalan dengan lancar, hanya butuh waktu beberapa hari saja, Clara akan sembuh total dan boleh pulang kerumah.
Selama tiga hari Clara berada di rumah sakit, untuk memastikan kondisinya sudah sembuh seutuhnya. Kini Clara telah di perbolehkan pulang kerumah, sehingga membuat Alice sangat bahagia. Karena saking bahagia nya, Alice sampai lupa dengan berapa jumlah biaya rumah sakit tersebut, karena semua sudah di bayar oleh Luffi.
°°°°
Kediaman Luffi dan Alice.
Sesampai nya di rumah, Clara langsung menuju kamar tidur nya yang telah lama ia tinggal kan. Alice pun langsung memasak, masakan kesukaan Clara. Terlihat kebagian dalam keluarga kecil ini dengan kembalinya buah hati mereka kerumah.
Di malam hari, pukul 22:00 di dalam kamar. Luffi dan Alice sedang berada di atas kasur, mereka duduk bersampingan berdua.
"Luffi, apa rencanamu ke depannya? Aku tahu kamu pasti butuh uang dan pekerjaan untuk melunasi hutang, mu." ucap Alice membuka pembicaraan.
"Aku tak butuh pekerjaan dan uang itu adalah uang ku pribadi, bukan pinjaman." ucap Luffi santai sambil merebahkan tubuhnya di kasur.
"Apa? Kamu tidak akan bekerja? Jangan bilang kamu ingin aku yang harus membayar semua hutang, mu?" ucap Alice sedikit emosi mendengar ucapan Luffi.
Menurut Alice, Luffi sedang membual agar dia tidak lagi bekerja dan melimpahkan masalah hutang pihutang nya, pada dirinya.
"Sudah kubilang jika uang itu punya ku pribadi, kamu tak perlu membayar apapun." Ucap Luffi meyakinkan istrinya.
"Sudah lah, jika kamu terus membual seperti ini, lebih baik kita jangan bicara dulu." Alice makin kecewa pada Luffi, seakan Luffi tidak memiliki tanggung jawab.
Alice tidak mungkin percaya jika Luffi tiba-tiba menjadi orang kaya, sedang kan Alice tahu siapa Luffi tadinya. Jadi menurut Alice, Luffi sedang membual kepada nya.
"Mau kemana kamu?" tanya Luffi pada Alice.
"Aku mau tidur dikamar Clara, sementara kita pisah ranjang dulu, sampai kamu berfikir baik." Ucap Alice pergi keluar kamar.
"Kenapa tidak ada yang percaya padaku? jika aku sekarang adalah miliarder." gumam Luffi sambil melihat kepergian istrinya.
Awalnya Luffi ingin memberitahukan pada Alice agar dia tidak harus bekerja lagi, karena sekarang mereka tidak akan kekurangan uang seperti dulu lagi. Namun niat itu akhirnya di tahan, karena memang belum saatnya Alice mengetahui, jadi butuh waktu agar Alice bisa menerima kenyataan bahwa sekarang dia adalah istri dari seorang miliarder.
°°°°
Maaf jika ceritanya tidak seperti para author yang sudah handal, maklum kan masih baru.
Terus gimana caranya biar cerita ini lebih menarik untuk para pembaca?
Mungkin dengan sedikit saran positif untuk author dari para pembaca, karena pembaca lebih mengetahui kekurangan dari cara tulisan dan kata- kata yang tidak sealur dengan cerita.
Maka dari itu tolong komen dibawah, jika ada saran pasti author pertimbangkan.
Terima kasih untuk para pembaca yang sudah mengasih dukungan pada novel ini, berupa Vote, LIKE dan Rate nya yah.
Semoga kalian semua puas dengan karya ini.
"Terima Kasih"