NovelToon NovelToon
PUSAKA NAGA API

PUSAKA NAGA API

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Ilmu Kanuragan
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Fikri Anja

Dirga. Dia adalah pemuda lupa ingatan yang tak pernah bermimpi menjadi pendekar. Tapi ternyata Dewata berpikiran lain, Dirga ditakdirkan menjadi penyelamat Bumi dari upaya bangsa Iblis yang menjadikan Bumi sebagai pusat kekuasaannya. Berbekal pusaka Naga Api yang turun dari dunia Naga, dia berkelana bersama Ratnasari memberantas aliran hitam sebelum melawan Raja Iblis.

Lalu bagaimana akhir kisah cintanya dengan Ratnasari? Apakah Dirga akan setia pada satu hati, ataukah ada hati lain yang akan dia singgahi? Baca kisah selengkapnya dalam cerita silat Nusantara, Pusaka Naga Api. ikuti kisah Dirga hanya ada di disni wkwk. kalau ada kesamaan atau tempat author minta maaf mungkin hanya sekedar sama aja cerita nya mungki tidak, ikuti kisahnya dirga

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fikri Anja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10

Melihat mereka begitu ceria, aku juga ingin merasakan keceriaan itu! Makanya aku bermain dulu dengan mereka," jawabnya.

"Sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan denganmu, Dirga. Sebaiknya kita bicara sambil berjalan saja," balas Sarwana. Dia berpikir mungkin sudah saatnya bagi Dirga untuk mengetahui kenyataan dirinya. Tentang sisi buruk yang akan dihadapinya nanti selama perjalanan.

Dirga menghela napasnya kasar. Dia sedikit kesal karena waktunya untuk menyegarkan pikirannya diganggu oleh Sarwana. Tapi pemuda tampan itu sadar, dia tidak boleh bermalas-malasan apabila ingin menjadi pendekar dan menghabisi semua anggota sindikat penjualan manusia yang hampir saja menjualnya.

"Baiklah. Ayo kita berangkat sekarang!" balas Dirga. Matanya menyapu puluhan atau bahkan ratusan kera yang ada di tempat itu. Keramahan yang dia dapatkan dari sekumpulan makhluk primata itu membuatnya begitu kerasan di dalam jurang itu.

Selama dalam perjalanan menuju tempat latihan. Sarwana menjelaskan kepada Dirga tentang apa yang sudah dikatakan pertapa tua kepadanya mengenai sisi buruk sosok jenius dalam ramalan.

"Kenapa kau bisa seyakin itu jika aku adalah sosok yang dimaksud dalam ramalan itu?" tanya Dirga penasaran. Dia sendiri masih belum bisa percaya jika dirinya adalah sosok yang dimaksud.

"Memang tidak ada ciri khusus tentang sosok dalam ramalan itu, Dirga. Aku berani mengambil kesimpulan seperti itu karena telah melalui pengamatan yang tidak hanya sekedar saja.

Sejak kau baru mengkonsumsi lumut Tundra, lalu menghapalkan isi kitab jurus Raja Naga, hingga proses penyatuan unsur murni dan unsur alam di dalam tubuhmu, ada berbagai keistimewaan yang tidak dimiliki orang lain," balas Sarwana. Pandangannya menyapu jalanan setapak berbatu yang dipenuhi lumut di depan membentang jauh.

"Mengenai makhluk yang kau sebutkan kemarin, itu adalah naga. Dan tempat kau dibawa itu adalah dunia Naga. Dunia yang hanya orang tertentu saja yang bisa memasukinya," sambung Sarwana.

"Dunia naga? Tapi apa makhluk itu benar-benar ada?"

Sarwana tersenyum menanggapi pertanyaan Dirga. Sejenak dia berhenti, lalu meraih sebuah batu hitam berkilatan yang tercecer di tengah jalan dan mengamatinya dengan seksama.

Sedikit kernyitan tebal muncul di dahinya sebelum dia kembali mengayunkan langkahnya.

"Naga adalah makhluk mitologi yang kebenarannya belum bisa dipastikan, Dirga. Tapi aku meyakini jika makhluk itu benar-benar ada dan mereka memiliki dunia yang berbeda,"

jawab Sarwana.

"Apa yang kau pegang itu?" Dirga menatap batu hitam yang digenggam Sarwana.

"Entahlah. Ratusan tahun tinggal di sini, baru kali ini aku melihat ada batu seperti ini. Unsur alam yang ada di dalamnya begitu kuat, tidak seperti batu pada umumnya." Sarwana berjalan sambil sesekali mengamati batu yang ada di tangannya.

Mereka berdua terus mengayunkan langkahnya menuju tempat latihan. Sarwana merasa lega telah menyampaikan unek-unek di dalam pikirannya. Kini tinggal Dirga sendiri yang harus mengolah apa yang ada di dalam tubuhnya.

Beberapa saat lamanya, mereka akhirnya tiba di tempat Dirga kemarin melalui proses untuk meningkatkan tenaga dalam.

"Aku akan menemanimu selama dua tiga hari di sini. Jika aku rasa kau sudah bisa kulepaskan, maka kau akan kutinggal," kata Sarwana.

Dirga mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Untuk awalnya aku akan mengajarimu tentang dasar ilmu Kanuragan. Karena kau sudah memiliki tenaga dalam, maka hanya tinggal bagaimana merealisasikan gerakan yang sudah kau hapalkan," sambung Sarwana.

Kera besar itu kemudian menjelaskan berbagai macam kuda-kuda yang harus digunakan seorang pendekar untuk memperkokoh pertahanannya.

Sebagai pemuda yang kritis, Dirga langsung protes dengan apa yang ditunjukkan Sarwana. Baginya, bentuk pertahanan bukanlah kuda-kuda. Tetapi bagaimana caranya memadukan penyerangan dan bertahan dalam satu rangkaian.

"Memperkuat kuda-kuda saja tanpa ada gerakan lebih lanjut juga akan sia-sia. Tubuh kita akan rentan terluka dan menjadi sasaran serangan lawan," protesnya.

Sarwana menggaruk kepalanya. Bagaimana mungkin Dirga yang baru belajar dasar ilmu kanuragan berani membuat analisa seperti itu.

"Sejak dulu sampai sekarang, kuda-kuda selalu digunakan para pendekar, Dirga. Kuda-kuda yang kokoh bisa menentukan untuk keberlanjutan sebuah pertarungan," balas Sarwana.

"Itu pola yang salah, Sarwana. Jika kuda-kuda adalah sebuah patokan yang digunakan para pendekar, kenapa ada yang kalah dan menang dalam sebuah pertarungan? Padahal kedua pendekar yang bertarung sama-sama menggunakan kuda-kuda dengan kokoh."

"Itu karena perbedaan kualitas, Dirga," balas Sarwana tak mau kalah.

"Nah, itu yang aku maksud! Jika kita punya kualitas, maka kuda-kuda tidak ada gunanya. Sebab kokoh atau tidaknya pertahanan kita, tergantung bagaimana kita memaksimalkan apa yang kita miliki."

Sarwana mengerjapkan mata sambil memandang angkasa untuk mencerna ucapan Dirga. "Kau benar juga. Kuda-kuda adalah setiap gerakan di saat bertarung. Kokoh atau tidaknya pertahanan itu tergantung kita sendiri. Kalau kita lengah ataupun terlalu menganggap remeh lawan, maka itu juga berpotensi menjadikan kita kalah dalam bertarung."

"Dalam gerakan jurus yang sudah aku hapalkan, gerakan kuda-kuda tidak akan kupakai. Dari sekian banyak jurus yang kuhapalkan, pasti memiliki bentuk kuda-kuda tersendiri, dan menurutku itu bisa berpotensi diketahui lawan.

Jika lawan mengenali jurus yang kita gunakan, mereka bisa menyiapkan antisipasinya."

Sarwana termangu. Menurutnya, penjelasan yang diberikan Dirga begitu logis dan bahkan tidak memiliki kesalahan sama sekali.

"Begini saja, Dirga ... Lakukanlah apa yang sekiranya menurutmu baik. Sebab hanya kau sendiri yang bisa menentukan kemampuanmu, bukan aku atau yang lainnya. Guru berkualitas belum tentu menghasilkan murid yang berkualitas pula. Semua itu tergantung dari bagaimana si murid mengembangkan pikirannya, dan menurutku kau punya kemampuan kecerdasan itu," puji Sarwana.

Dirga memejamkan matanya mengingat gerakan jurus pertama yang akan dia latih. Setelah itu dia berjalan menjauh untuk mulai berlatih sendiri tanpa perlu bantuan Sarwana.

Waktu berjalan terus tanpa terhenti. Tanpa terasa, hari sudah beranjak sore mendekati malam.

Dalam pengamatannya seharian tadi, Sarwana menilai jika Dirga sudah tidak perlu untuk diawasi lagi. Kemampuan pemuda tampan itu dalam memvisualkan gerakan yang dihafalkannya, jauh dari dugaannya. Dengan cepat Dirga melahap gerakan demi gerakan dengan begitu mudah. Meski belum sempurna betul, tapi menurutnya itu sudah sangat istimewa, mengingat Dirga baru sehari ini mempelajari ilmu Kanuragan.

Ada satu hal lagi yang sulit dia percayai.

Sarwana bisa melihat dengan jelas jika pemuda tampan itu tanpa belajar sudah mengkombinasikan tenaga dalam yang dimilikinya dengan gerakan jurus yang dilatihnya.

"Benar-benar pemuda yang jenius," gumamnya dalam hati. Dia sangat yakin jika Dirga tidak butuh waktu lebih dari 3 bulan untuk menguasai semua jurus yang ada di dalam kitab Raja Naga.

Keyakinannya itu tentu didasarkan dari pengamatannya seharian tadi.

Sementara itu di dalam hutan. Sebuah pertarungan sedang terjadi dengan sengit.

Seorang lelaki setengah baya terlihat sedang dikeroyok 7 orang lelaki lainnya.

Dari pakaian yang digunakan ketujuh lelaki itu, bisa dipastikan jika mereka adalah murid Ronggo yang sedang melakukan pencarian pusaka Pedang Naga Api.

1
Redy Ryan Little
Mantap
🥀⃟ʙʀRos🥀
ijin Thor agak aneh cerita Nusantara tapi nama naga nya punya eropa,kenapa gak nama nya mambang dewa, atau samba, ataupun jamunada,knp harus hydra knp gak sekalian dragon aja Thor 🙏🙏🙏
◄⏤͟͞✥≛⃝⃕💞༄⍟Mᷤbᷡah⁴_Atta࿐🥑⃟
Meluncur 2 gift 🌹 Lanjut Up Thor ✍️✍️💪💪
◄⏤͟͞✥≛⃝⃕💞༄⍟Mᷤbᷡah⁴_Atta࿐🥑⃟
Jooosss 👍👍
◄⏤͟͞✥≛⃝⃕💞༄⍟Mᷤbᷡah⁴_Atta࿐🥑⃟
Awal cerita sudah bagus 👍 Novel ini sampai Tamat dan konsisten Up setiap hari. 💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!