Finn kembali untuk membalaskan dendam kematian kedua orang tuanya. Dengan bantuan ayah angkatnya, Finn meminta dijodohkan dengan putri dari pembunuh kedua orang tuanya, yaitu Selena.
Ditengah rencana perjodohan, seorang gadis bernama Giselle muncul dan mulai mengganggu hidup Finn.
"Jika aku boleh memilih, aku tidak ingin terlahir menjadi keturunan keluarga Milano. Aku ingin melihat dunia luar, Finn... Merasakan hidup layaknya manusia pada umumnya," ~ Giselle.
"Aku akan membawamu keluar dan melihat dunia. Jika aku memintamu untuk menikah denganku, apa kamu mau?" ~ Finn.
Cinta yang mulai tumbuh diantara keduanya akankah mampu meluluhkan dendam yang sudah mendarah daging?
100% fiksi, bagi yang tidak suka boleh langsung skip tanpa meninggalkan rating atau komentar jelek. Selamat membaca dan salam dunia perhaluan, Terimakasih 🙏 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar Riyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 : TDCDD
Takk....
Takkk...
Bunyi cambuk itu menggelegar di udara, Kayla dan Bi Nilam hanya bisa menatap pilu saat Giselle tengah dihukum oleh Tuan Andreas karena ketahuan pergi dari rumah.
Ini bukan pertama kali Giselle mendapatkan hukuman seperti ini, usianya baru empat belas tahun saat pertama kali dia mendapatkan hukuman cambuk. Saat itu Giselle mulai merasa penasaran dengan dunia luar, hingga dia mulai belajar melompat dari pagar belakang rumah. Namun sayangnya aksinya ketahuan oleh mama Sonia yang kebetulan sedang melajukan mobilnya melintasi sebuah taman, wanita itu melihat Giselle sedang bermain-main disana dan langsung menyeretnya pulang. Mama Sonia juga memprovokasi suaminya untuk menghukum Giselle dengan mencambuknya supaya Giselle kapok dan tidak berani keluar rumah lagi.
"Jika kamu tidak bisa menjaganya dengan baik, aku akan memecat kamu dari pekerjaan ini!" hardiknya pada Bi Nilam, wanita itu hanya diam dengan bibir bergetar.
"Dua minggu lagi kakak kamu akan bertunangan, jadi kamu jangan terus-terusan membuat masalah! Jika kamu mengulanginya lagi, Papa tidak akan segan-segan untuk memberikan hukuman yang lebih berat dari ini, paham?!!"
Giselle tak menjawab ataupun sekedar menggelengkan kepala, dia tengah merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Tidak ada drama air mata atau memohon pengampunan, hal-hal seperti ini sudah membuatnya kebal.
Giselle mencoba untuk bangun dengan berpegangan pada meja, "Kenapa saya harus menuruti kemauan Anda? Dengan menurut tidak akan membuat keberadaan saya diungkapkan bukan?"
"Kamu!!!"
"Kenapa? Anda mau mencambuk saya lagi?" Giselle tersenyum hambar, ada rasa sakit yang sulit untuk diungkapkan.
"Tuan Andreas Milano, cepat atau lambat identitas saya akan terungkap. Dan saya akan memastikan Anda akan menanggung malu saat hari itu tiba!"
Tangan Tuan Andreas mengepal, dia berjalan mendekat dan memberikan tamparan keras tepat diwajah putrinya. Bi Nilam yang sedari diam tak kuasa lagi melihat penyiksaan di depan matanya, wanita itu mendekat dan merangkul Nona mudanya.
"Cukup Tuan, saya yang salah karena membiarkan Nona pergi, Tuan pukul saya saja," suara Bi Nilam bergetar, dia tak kuasa menahan air matanya.
Tuan Andreas menegakkan tubuhnya dan menarik nafas dalam-dalam. "Jaga dia dan jangan sampai dia kabur lagi, apalagi sampai menginjakkan kakinya di kediaman utama. Aku akan menambah orang untuk terus mengawasinya disini!"
Suara langkah kaki terdengar semakin menjauh dan terganti dengan suara derum mobil yang meninggalkan halaman rumah itu. Giselle terkulai lemas dalam dekapan Bi Nilam.
"Kayla, antar Nona Giselle ke kamarnya, Bibi akan mengambil salep dulu," perintah Bi Nilam.
Kayla mengambil alih tubuh Giselle dan memapahnya sampai ke dalam kamar. Mereka duduk di tepian ranjang. Bi Nilam datang dengan membawa salep ditangannya dan memberikannya pada Kayla.
"Kamu bantu obati lukanya dulu, Bibi akan siapkan makanan,"
"Baik Bi!"
Kayla membantu menurunkan dress Giselle sampai ke dada, dia dibuat terkejut tapi bukan karena luka cambukan, melainkan tanda keunguan-unguan buatan manusia.
"Gis, jangan bilang semalam kamu..." Kayla menggantung kalimatnya, dia mulai menduga-duga.
Giselle mengangguk, "Semalam aku memang sudah tidur dengan Finn. Aku yakin, Finn tidak akan melupakan apa yang terjadi semalam dengan begitu mudah, dia pasti akan mencari tahu tentangku,"
"Tapi Finn akan bertunangan dengan kakak kamu, apa yang akan kamu lakukan?" Kayla mulai mengoleskan salep dipunggung Giselle.
"Sshhh..." Giselle memejamkan matanya kuat-kuat saat tangan Kayla dengan telaten mengoleskan salep dipunggungnya, perihnya menusuk sampai ke tulang.
"Aku akan datang ke acara pertunangan mereka, untuk hal ini kamu harus membantuku," ucapnya.
Kayla menjawab dengan anggukan. Bi Nilam datang dengan membawa sepiring makanan dan segelas air putih. Wanita itu menaruh piring dan gelas itu diatas nakas.
"Nona pasti sudah lapar, Bibi suapin makan ya?" matanya memerah, menatap Giselle dengan tatapan iba.
"Makasih ya Bi," Giselle melingkarkan kedua tangannya di pinggang Bi Nilam, membenamkan wajahnya di perutnya, suara tangis mulai terdengar.
Bi Nilam mengusap-usap kepala Giselle, membiarkannya menangis dengan keras. Hatinya ikut sakit melihat penderitaan yang dialami oleh gadis itu. Dia sudah merawat Giselle sejak bayi dan sudah menganggapnya seperti putrinya sendiri, tentunya dia tidak akan tega melihat putrinya mengalami penyiksaan seperti ini.
💙
💙
💙
Beberapa orang tengah memasukkan barang-barang ke dalam kapal, dinginnya angin malam tak membuat mereka menghentikan kegiatannya. Mereka adalah para anak buah Tuan Andreas Milano. Barang-barang itu adalah senjata api ilegal yang akan dikirimkan ke luar negeri.
Reno, orang kepercayaan Tuan Andreas, dia yang bertugas untuk mengawasi dan memastikan barang-barang itu sampai dengan aman. Dan pengiriman barang-barang itu harus melalui beberapa proses dulu supaya tidak terendus oleh pihak berwajib.
"Cepat bawa barang-barang itu, dan kabari aku jika kalian sudah sampai!" ucap Reno pada anak buahnya.
"Baik bos!"
Orang-orang itu berjalan masuk ke dalam kapal, sementara Reno kembali ke gudang penyimpanan senjata api untuk menghitung ulang barang-barang yang keluar, setelah itu dia akan melaporkannya pada Tuan Andreas.
Hembusan angin malam telah membawa kapal itu sampai ketengah lautan. Di kejauhan sebuah jetski datang mendekat. Dengan memakai pakaian serba hitam, masker untuk menutupi wajahnya dan topi dikepalanya, Finn melajukan jetski ang sedang dia naiki ke sisi kapal. Malam ini dia akan menggagalkan rencana pengiriman barang-barang ilegal itu.
Finn meraih sebuah tali yang bergelantungan bebas disamping kapal dan mengikatkannya pada jetski yang dinaikinya, lalu dia naik ke atas kapal dengan bantuan tali itu. Beberapa orang langsung memergoki aksinya.
"Hei siapa kamu??!!" tiga orang itu berlari ke arah Finn untuk menyerangnya.
Dugghh...
Finn memutar badannya dan memberikan tendangan diperut dengan satu kakinya, lalu dia memberikan pukulan diwajah pada dua orang lainnya.
Bughhh...
Bughhh...
Tiga orang itu kembali melawan, namun Finn langsung menangkis serangan-serangan mereka dan memukul keras wajah mereka hingga berkali-kali. Tiga orang itu dibuat tak berdaya dan terkapar lemah.
Mendengar ada keributan, beberapa orang lainnya datang untuk melihat, mereka sangat terkejut saat melihat ada penyusup masuk dan sudah mengalahkan teman-teman mereka.
Perkelahian kembali terjadi, orang-orang itu mengeroyok Finn. Namun kekuatan mereka tak sebanding dengan Finn, mereka ikut terkapar dengan penuh luka lebam diwajah.
"Bersiaplah untuk berganti alam, neraka sedang menanti kalian!"
Finn menurunkan tas ransel dari punggungnya, dia mengeluarkan sebuah bom dari dalam sana dan mengatur timer pada bom tersebut.
"Dua menit dari sekarang, jika diantara kalian ada yang berhasil menjinakkan bomnya, maka kalian akan selamat,"
Finn meletakkan bom itu diatas box, lalu dia turun dengan menggunakan tali yang sama dengan yang dia pakai untuk naik tadi. Finn melepaskan tali yang mengikat pada jetskinya lalu melajukan jetski yang sudah dia naiki menjauh dari kapal.
Kepanikan terjadi di dalam kapal, beberapa orang yang masih dalam keadaan sadar mencoba untuk melarikan diri dari dalam kapal, namun mereka seperti menemui jalan buntu.
Finn sudah semakin jauh, dia mengangkat satu tangannya keatas dan mulai menghitung mundur dalam hatinya.
Tiga...
Dua...
Satu...
Duuaarrr....
...✨✨✨...