NovelToon NovelToon
Cinta Di Ujung Perceraian

Cinta Di Ujung Perceraian

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Angst
Popularitas:17.2k
Nilai: 5
Nama Author: ainuncepenis

Terpaksa menggantikan sang kakak untuk menikahi pria yang tidak diinginkan kakaknya. Menjalani pernikahan lebih dari 3 tahun, pernikahan yang terasa hambar, tidak pernah disentuh dan selalu mendapatkan perlakuan yang sangat dingin.
Bagaimana mungkin pasangan suami istri yang hidup satu atap dan tidak pernah berkomunikasi satu sama lain. Berbicara hanya sekedar saja dan bahkan tidak saling menyapa
Pada akhirnya Vanisa menyerah dalam pernikahannya yang merasa diabaikan yang membuatnya mengajukan permohonan perceraian.
Tetapi justru menjelang perceraian, keduanya malah semakin dekat.
Apakah setelah bertahun-tahun menikah dan pada akhirnya pasangan itu memutuskan untuk berpisah atau justru saling memperbaiki satu sama lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10 Mengetahui.

Dengan memakai dress di bawah lutut berwarna coklat susu dan rambut di biarkan di gerai. Vanisa pagi ini tampak Fress dan sangat cantik.

Vanisa yang sudah menyiapkan beberapa pakaiannya dimasukkan ke dalam koper mini. Dia tahu jika sudah berurusan dengan keluarga Arvin pasti tidak cukup satu hari. Vanisa juga tidak ingin mendapatkan masalah dari keluarga itu.

Setelah semua persiapannya sudah dimasukkan ke dalam koper. Vanisa menurunkan koper itu, mengambil tas dan juga ponselnya. Sebelum pergi Vanisa menoleh ke arah laci, masih tersimpan rapi berkas-berkas perceraiannya di sana.

Vanisa menghela nafas panjang, "setelah pulang dari puncak. Maka aku akan menyelesaikan semua ini," ucapnya dengan yakin yang harus bersabar lagi.

Vanisa mendorong kopernya yang langsung keluar dari kamar dan ternyata Arvin juga sudah menunggu di luar. Arvin menoleh ke arah Vanisa sembari menelpon. Vanisa tampak cuek yang berjalan menuju bagasi mobil dan membuka bagasi tersebut, saat ingin memasukkan kopernya yang cukup berat yang tiba-tiba saja langsung diambil alih oleh Arvin.

Vanisa cukup kaget dengan kehadiran pria itu yang tadi menelpon dan sekarang sudah berada di sampingnya. Vanisa hanya dia melihat Arvin sampai pintu bagasi tertutup.

"Ayo masuk!" titah Arvin yang melihat istrinya itu bengong.

Vanisa menganggukkan kepala yang akhirnya memasuki mobil dan disusun oleh Arvin.

Mobil itu yang sudah berjalan dengan Arvin yang menyetir, memang Arvin tidak membawa supit. Sejak tadi pasangan suami istri itu hanya diam yang tidak ada pembicaraan diantara mereka berdua.

Vanisa sebenarnya sangat malas dengan perkumpulan keluarga itu yang apalagi digabungkan ujung-ujungnya hanya memojokkan dirinya. Tetapi bagaimanapun dia menghargai keluarga besar Arvin. Jika dia tidak hadir maka akan lebih parah lagi.

"Kamu masih tetap mengajar?" tanya Arvin yang tiba-tiba saja membuka obrolan.

Vanisa seperti dikejutkan sesuatu hal yang aneh saja. Karena memang mereka berdua tidak pernah mengobrol apalagi basa-basi seperti itu.

"Iya," jawab Vanisa.

"Apa yang membuat kamu bertahan dalam pekerjaan itu?" tanya Arvin.

"Apa maksud pertanyaannya? Apa dia juga ingin menyuruh kan untuk berhenti mengajar seperti apa yang dikatakan Mama Lara kemarin?" batin Vanisa.

"Jangan salah paham. Aku hanya bertanya saja dan bukan berarti menyuruh kamu untuk berhenti mengajar," sahur Arvin yang seakan bisa membaca pikiran Vanisa.

"Tidak ada yang bisa aku lakukan selain mengajar. Aku menyukai suasana itu," jawabnya dengan singkat.

"Jika kamu merasa nyaman dengan pekerjaan kamu. Maka lakukan dengan semau kamu dan jangan mendengarkan orang lain. Aku tidak akan mengganggu pekerjaan kamu dan sejak awal aku memang tidak pernah ikut campur dengan pekerjaan kamu. Mama hanya menggertak saja dan segala sesuatu memang suka memerintah. Tetapi membantah juga bukanlah suatu hal yang benar," ucap Arvin seolah memberikan semangat kepada istrinya.

"Kenapa dia tiba-tiba membahas masalah ini. Kenapa aku merasa bahwa dia seperti ingin membangun komunikasi dengan ku. Tidak itu sama sekali tidak mungkin. Bahkan lihat saja dia tidak ingin mempublikasikan ku yang tetap meletakkan ku sebagai pajangan di rumah. Karena dia tetap masih ingin menunggu pengantin yang sebenarnya," batin Vanisa yang tidak ingin memikirkan apapun apalagi sampai terlalu kegeeran.

"Tapi kenapa kata-katanya seolah berada di pihakku dan memberikan peluang yang besar untuk aku tetap mengajar," Vanisa terus bergerutu di dalam hatinya.

Tiba-tiba mobil itu berhenti di bengkel.

"Aku merasa sedikit kurang nyaman mengendarai mobil ini, Aku ingin memeriksa mesinnya sebentar," ucap Arvin sembari membuka sabuk pengamannya dan langsung turun dari mobil.

Vanisa tidak merespon apapun yang hanya melihat suaminya itu mulai berbicara kepada pihak bengkel. Arvin yang tampak berbicara serius dan tiba-tiba saja matanya melihat salah satu mobil yang sangat dia kenali yang sedang diperbaiki beberapa karyawan bengkel tersebut.

Arvin mengerutkan dahi dan tiba-tiba mengetuk kaca mobil bagian Vanisa. Vanisa menurunkan kaca mobil itu.

"Bukankah itu mobil kamu?" tanya Arvin membuat Vanisa melihat mobil tersebut. Vanisa menganggukkan kepala.

"Ada apa?"

"Kenapa mobil kamu ada di sini dan seperti baru saja mengalami kecelakaan?" tanya Arvin yang tanpa khawatir dengan suaranya mendesak.

Arvin mengerutkan dahi yang tiba-tiba saja angin kencang datang yang membuat rambut bagian dahi istrinya sedikit terbelah dan Arvin melihat luka di bagian kening Vanisa yang membuat Arvin menunduk yang ingin melihat lebih jelas lagi luka itu yang membuat Vanisa refleks mundur dengan tingkah Arvin yang terlalu dekat dengannya.

"Kau mengalami kecelakaan?" tanya Arvin memastikan.

Dia mengingat perkataan kliennya waktu itu, seorang wanita yang dikatakan istri Arvin yang memeluk seorang anak yang dikerumuni orang-orang.

Arvin menyergah nafasnya kasar yang kembali menegakkan tubuhnya dan langsung membuka pintu mobil Vanisa dan menarik Vanisa keluar dari mobil tersebut. Vanisa yang sejak tadi hanya diam saja yang bingung melihat ekspresi Arvin.

"Katakan apa yang terjadi. Kamu kecelakaan saat membawa Mahira?" tanya Arvin memastikan dengan tatapan mata yang sangat serius dan bahkan wajahnya dengan cepat menegang.

"Katakan Vanisa!" suara Arvin sedikit mengeras yang membuat Vanisa kaget.

Arvin yang mencoba untuk mengendalikan diri dengan mengatur nafas dan kembali melihat ke arah Vanisa yang memeriksa kembali luka itu.

"Katakan apa yang terjadi?" tanya Arvin kembali dengan suara lembut.

Dia seperti orang gila yang apa yang dikatakan kliennya memang terjadi, mobil istrinya yang sangat rusak parah dan terlebih lagi Vanisa juga terluka.

"Kemarin ada orang yang mengikuti ku dan menyerempet mobilku saat aku udah selesai melakukan pertemuan makan siang dengan Mama," jawab Vanisa dengan gugup tampak sedikit takut-takut.

Arvin kembali melihat ke arah mobil itu dan memang lecetnya sangat terlihat banyak dari samping.

"Lalu?" tanya Arvin.

"Aku mengelakkan mobil di depan yang akhirnya membanting setir dan aku menabrak pembatas jalan. Tetapi untung saja Mahira tidak kenapa-napa," jawab Vanisa.

"Kau mengatakan untung saja Mahira tidak kenapa-napa. Lalu dengan dirimu bagaimana?" tanya Arvin yang sudah jelas wajahnya begitu sangat khawatir.

"Aku juga tidak apa-apa. Hanya luka sedikit," jawab Vanisa.

"Apa tabrakan tunggal yang kau lakukan membuat mobil merusak seperti itu dan kenapa ada tabrakan dari belakang yang terlihat parah?" tanya Arvin.

"Orang itu sepertinya masih mengejar ku dan Mahira. Begitu aku dan Mahira keluar dari mobil. Mobil itu melaju dengan kencang dan menabrak mobilku. Tetapi untung saja orang-orang di sekitar tempat kejadian langsung datang dan mobil tersebut langsung pergi," jelas Vanisa.

"Kenapa tidak mengatakannya kemarin? kenapa hal sebesar ini kamu hanya diam saja?" tanya Arvin kesal.

"Ini bukanlah hal yang besar dan banyak hal yang lebih besar lagi yang terjadi dan aku rasa kita berdua memang tidak punya tempat untuk saling mengatakan," jawab Vanisa.

Arvin terdiam dengan menelan salivanya. Benar apa kata Vanisa mereka yang tidak pernah mengobrol dan sangat aneh sekali jika tiba-tiba Vanisa mengatakan semua itu kepada Arvin.

"Lain kali apapun yang terjadi katakan kepadaku! Jangan hanya diam saja," ucap Arvin.

"Bukankah kamu yang menyuruhku untuk diam saja dan menganggap sendiri-sendiri yang tidak perlu saling memberitahu satu sama lain," ucap Vanisa tiba-tiba.

Arvin yang kembali terdiam dan menatap Vanisa. Bahkan ini tatapan paling lama diantara mereka berdua.

Bersambung.......

1
Naufal Affiq
jangan vanisa kau tinggal arvin,dia sangat mencintaimu,kamu harus yakin kalau Arvin sangat sangat membutuhkan mu .
Naufal Affiq
vanisa sadar,suami ada di dalam mobil,tolong dia vanisa,kasihan arvin
mbok Darmi
ternyata arvin sdh mencintai vanisa dari remaja dia dijodohkan dgn angel demi bisnis ortunya, orang kaya mau hidup bahagia aja susah semua serba diatur bahkan memilih jodoh sendiri ngga boleh, kalau arvin sdh mencintai vanisa knp diawal pernikahan hrs ada perjanjian dan kata2 kasar yg menyakitkan
Naufal Affiq
bagus arvin,kamu harus tegas dengan irang tua mu,karena posisi disini yang harus kamu jaga adalah istrimu
Adinda
aku aja yang baca sesak banget apalagi jadi vanisa
Naufal Affiq
bagus papa daniel,jangan sampai harga diri putri mu di injak sama mama kara,biar tau rasa dulu dia
mbok Darmi
ternyata lara mulutnya lemes bgt seandainya aku punya mertua modelan lara sudah ku racun arsenik tiap hari diki2 biar matinya pelan2, siapa yg pengen jd menantu mu vanisa aja sdh gugat cerai semoga segera terealisasi biar arvin cari istri baru sesuai selera ibunya yg pasti angel aja ngga sudi jd menantu nya makanya melarikan diri
Herman Lim
yg jls arvin pasti mati²an tahan diri buat tidak kasih perhatian ke vanisa Krn dia tau di luar byk yg ngincar dia dan org dia sayang
Naufal Affiq
vanisa sebenarnya alvin itu menjaga mu,dia tidak mau kalau kamu sampai celaka,maka dari itu saling mengertilah saat ini,karena dia membutuh kan mu,jadi tolong mengertilah vanisa
Teh Euis Tea
mungkin itu ibu kandungnya arvin, sedangkan bu lala mungkin ibu tirinya
lalu siapa orang yg mengingunkan alvin jatuh ya?
Naufal Affiq
lanjut thor
Teh Euis Tea
syukurlah vanisa selamat
mbok Darmi
sebenarnya yg paling bodoh disini arvin dia hanya boneka ortu nya laki2 plin plan ngga tegas ngga salah vanisa menuntut cerai bisa matikan berdiri punya suami modelan arvin
meris dawati Sihombing
Othor fokus dong ngetiknya, bnyak typo..ceritanya jg jgn terus menjatuhkan mental orng, dah 3 thn hrsnya sdh berontak.
meris dawati Sihombing
bnysk banget typonya..nm bersalahan
Warung Sembako
emak durjana..
mbok Darmi
mampuss kamu sarah karena mulut ember mu sekarang nasib vanisa diujung tanduk bener kata daniel kamu manusia egois yg ada didunia ini mengorbankan segala cara demi ambisi mu bukan kebahagiaan anakmu ya..sudah nikmati saja kalau vanisa dibunuh sama penculik nya kamu cuma bisa menyesal saja, dasar ibu lucknut matre
Herman Lim
gila vanisa sungguh sangat kasian apalgi dgn kata Arvin yg sangat kejam
Teh Euis Tea
emang benar semua itu gevara sarah yg ingin vanisa di akui publik jd vanisa di culik
mbok Darmi
arvin pembicaraan mu dgn penculik vanisa sedikit banyak membunuh vanisa secara perlahan hbs ini saat nantinya dia akan beneran di eksekusi penculik nya dia akan pasrah krn merasa hidupnya tdk penting bagi siapapun
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!