Apa jadinya jika seorang gadis remaja berusia 16 tahun, dikenal sebagai anak yang bar-bar dan pemberontak terpaksa di kirim ke pesantren oleh orang tuanya?
Perjalanan gadis itu bukanlah proses yang mudah, tapi apakah pesantren akan mengubahnya selamanya?
Atau, akankah ada banyak hal lain yang ikut mengubahnya? Atau ia tetap memilih kembali ke kehidupan lamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 10 - Kafilah Cinta
~💠💠💠~
"Oh iya, sebelum lanjut ke pelajaran, hari ini ustadzah ingin memperkenalkan santri baru. Miska, silahkan ke depan."
Miska tersentak, lalu menggerutu dalam hati saat mendengar namanya dipanggil. Sejak tadi, ia berusaha sebisa mungkin untuk tidak menarik perhatian, tapi sekarang malah disuruh berdiri di depan kelas.
"Miska, silakan ke depan," ulang Ustadzah Laila dengan senyum lembutnya.
Miska hanya bisa pasrah, lalu dengan enggan ia bangkit dari kursinya. Saat berdiri, seluruh pasang mata langsung tertuju padanya hingga membuatnya semakin malas.
Saat melangkah ke depan, ia langsung menyadari sesuatu yang membuatnya tambah tidak nyaman. Yakni, barisan santri laki-laki yang duduk di deretan bangku paling depan, persis di hadapannya.
Mereka semua menjaga pandangan, menunduk atau hanya melirik sekilas dengan ekspresi datar. Tapi justru karena itu, Miska merasa aneh. Mereka ini kenapa sih? Sok alim banget. Pikirnya.
Di sekolah lamanya, sudah biasa jika ada cowok yang terang-terangan menatapnya atau bahkan mencoba menggoda. Tapi di sini, mereka malah seperti menghindar.
"Baiklah, Miska, silakan perkenalkan diri," ujar Ustadzah Laila.
Miska yang berdiri dengan canggung, memperkenalkan dirinya sambil memainkan ujung lengan bajunya. "Namaku Miska Izzatunnisa. Dari Jakarta."
Hening...
Miska lalu melirik Ustadzah, dan berharap cukup sampai di situ, tapi ternyata tidak.
"Miska bisa cerita sedikit tentang hobinya atau harapannya selama di pesantren?," pancing Ustadzah.
"Apa!." pekik Miska dalam hati sambil menahan diri agar tidak mendengus kesal. "Harapan? Harapanku cuma satu, keluar dari sini secepatnya," batinnya lagi.
Tapi tentu saja, ia tidak mungkin mengatakan itu.
"Hobi… ya, aku suka dengerin musik, nongkrong, jalan-jalan," jawab Miska asal.
Mendengar jawaban Miska, beberapa santri perempuan pun mulai berbisik-bisik. Dari raut wajah mereka, jelas sekali kalau jawaban itu terdengar asing di telinga mereka.
"Kalau harapan… ya, semoga betah," lanjut Miska dengan nada malas.
Namun, Ustadzah Laila tersenyum sabar, seolah memahami ketidaknyamanan Miska. "InsyaAllah, kalau Miska membuka hati, pesantren ini bisa jadi rumah kedua yang nyaman," ucapnya.
Tapi Miska hanya tersenyum tipis, dan tidak berniat menanggapi lebih jauh.
"Baik, anak-anak, mari kita sambut Miska dengan baik," kata Ustazah.
"Selamat datang, Miska," ujar beberapa santri perempuan dengan kompak.
Miska pun mengangguk, lalu buru-buru kembali ke tempat duduknya. Meski begitu, ia bisa merasakan beberapa pasang mata masih memperhatikannya.
Lalu, Rahma yang duduk di sebelahnya langsung menyenggol lengannya. "Kamu keren, loh."
Miska pun menoleh dengan alis yang terangkat. "Apanya yang keren?."
"Jawaban kamu tadi. Simple tapi jelas. Aku kira kamu bakal diem aja," ujar Rahma sambil terkekeh.
Namun Miska hanya menggeleng, lalu menghela napas panjang. "Hari pertama udah disuruh maju ke depan. Ini aja udah cukup menyebalkan," gerutunya.
Adapun Hana yang duduk di depan mereka ikut menoleh lalu menimpali, "Kamu bakal terbiasa, kok. Lagian, gak seburuk itu, kan?."
Tapi Miska tidak menjawab. Ia hanya menatap ke luar jendela, dan melihat langit yang cerah.
"Huh! Kebiasaan yang tidak menyenangkan!!."
**
Miska benar-benar merasa seperti tahanan di tempat ini. Sejak perkenalan di kelas tadi pagi, ia hanya mengikuti arus. Belajar, menghafal, ibadah, makan, istirahat, lalu belajar lagi.
Semua terjadwal ketat, tidak ada waktu luang seperti di rumah. Bahkan sekadar memegang ponsel saja tidak boleh.
Sekarang, sore pun mulai menjelang. Miska baru saja selesai mengikuti kelas tafsir yang membahas tentang sabar dan ikhlas.
Dua hal yang jelas-jelas tidak ada dalam dirinya saat ini.
Begitu kelas berakhir, para santri berjalan rapi menuju masjid untuk persiapan solat Ashar. Tapi Miska memilih mampir ke toilet dulu, ingin mencuci muka dan menenangkan diri.
Saat memastikan tidak ada orang lain di dalam, ia langsung menyandarkan tubuhnya ke pintu toilet dan mendengus dengan keras.
"Gila! Seharian penuh belajar? Ini tuh sekolah atau tempat penyiksaan sih?!," gerutunya sambil menatap dirinya di cermin.
Ia lalu mencipratkan air ke wajahnya dan mencoba menenangkan diri.
"Gak ada hiburan, gak ada kebebasan, semuanya diatur! Gue bisa gila lama-lama di sini!."
Miska meremas rambutnya karena frustasi, tapi ia buru-buru berhenti ketika mendengar suara langkah kaki mendekat.
Tap!
Tap!
Tap!
Miska segera berpura-pura membetulkan jilbabnya, lalu keluar dari toilet dengan wajah yang masam.
Air wudhu yang baru saja ia cipratkan ke wajahnya tidak banyak membantu menenangkan pikirannya, karena ia sendiri menolak hal itu.
Rasanya seharian penuh ia sudah menahan diri, mengikuti semua aturan pesantren tanpa bisa membantah. Tapi semakin ia mencoba menerima, semakin besar rasa muak yang ia rasakan.
Sementara itu, di depan toilet, Fatin dan Hana sudah menunggunya.
"Lama banget, Mis," ujar Hana dengan nada bercanda.
Namun Miska hanya melirik sekilas tanpa menanggapi, karena saat ini ia sedang tidak ingin berbasa-basi.
"Ayo ke masjid, bentar lagi iqamah," ajak Fatin yang berjalan lebih dulu.
Miska pun hanya menghela napas dengan berat dan mengikuti langkah mereka. Saat tiba di masjid, semua santri sudah berbaris rapi, duduk di shaf masing-masing menunggu solat Ashar dimulai.
Seperti biasa, Miska mengambil tempat di belakang, dan berusaha mencari celah agar tidak terlalu diperhatikan.
Ia menatap sekeliling, melihat para santri yang begitu khusyuk berdoa dan membaca Al-Qur’an. Beberapa dari mereka terlihat sibuk berdzikir dengan wajah yang damai.
Apa mereka benar-benar menikmati semua ini? pikirnya sinis.
Saat solat dimulai, Miska berdiri dengan malas. Gerakan demi gerakan ia lakukan tanpa rasa. Baginya, ini hanya sekadar rutinitas yang harus dijalankan, bukan sesuatu yang benar-benar ia hayati.
Ketika solat selesai, seluruh santri duduk kembali untuk mendengarkan dzikir dan doa yang dipimpin oleh salah satu ustaz.
Miska kembali merasa gelisah. Punggungnya terasa kaku karena terlalu lama duduk bersila, pikirannya pun mulai melayang ke mana-mana.
Sampai akhirnya, ia mendengar nama "Miska" disebut.
"Miska, setelah ini tolong bertemu dengan Ustadzah Laila di kantor, ya," kata pengurus asrama yang terdengar dari barisan depan.
Sekejap, beberapa santri menoleh ke arahnya dengan tatapan penasaran.
Miska pun mengernyit. Dan berpikir, Apa lagi ini?
Melihat Miska yang kebingungan, Hana yang duduk di sebelahnya pun berbisik pelan. "Kamu kenapa dipanggil Ustadzah?."
"Mana aku tahu," jawab Miska ketus.
**
Setelah solat Ashar selesai, Miska berjalan menuju kantor Ustadzah Laila dengan langkah yang malas.
Setibanya di sana, pintu kantor terbuka dan ia melihat Ustadzah Laila sedang duduk di balik mejanya, dan tersenyum lembut ke arahnya.
"Silakan duduk, Miska," ujar Ustadzah sambil menunjuk kursi di depannya.
Miska pun menuruti, tapi tetap dengan wajah yang penuh tanda tanya.
"Kenapa saya dipanggil, Ustadzah?," tanyanya langsung.
Ustadzah Laila melipat tangannya di atas meja dan menatap Miska dengan lembut. "Ustadzah hanya ingin tahu, bagaimana perasaanmu setelah satu hari penuh di pesantren?," tanyanya.
Miska tertegun.
Ia bisa saja jujur mengatakan bahwa ia merasa tersiksa, terkurung, dan sangat ingin pulang. Tapi entah kenapa, ada sesuatu di dalam dirinya yang menahan untuk mengatakannya.
Melihat Miska yang ragu, Ustadzah Laila pun melanjutkan perkataannya, "Ustadzah mengerti, ini pasti tidak mudah untukmu. Pesantren memiliki aturan yang sangat berbeda dengan kehidupanmu sebelumnya. Tapi ustadzah ingin kamu tahu, semua ini bukan untuk menyulitkanmu, melainkan untuk membentukmu menjadi pribadi yang lebih baik," jelas Ustadzah Laila.
Kini Miska hanya menunduk, lalu mengusap jilbabnya yang agak berantakan.
"Aku tidak pernah minta masuk pesantren," gumamnya pelan.
Mendengar ujaran Miska, Ustazah Laila pun tersenyum tipis lalu berkata, "Mungkin tidak. Tapi Allah punya rencana lain untukmu, Miska."
Miska mendengus pelan. Ia tidak ingin mendengar ceramah panjang lebar tentang takdir dan rencana Tuhan. Baginya, ini semua adalah keputusan orang tuanya, bukan keinginannya sendiri.
"Ustadzah tidak memaksa kamu untuk langsung mencintai pesantren ini," lanjut Ustazah. "Tapi Ustadzah harap, kamu bisa memberi dirimu sendiri kesempatan untuk beradaptasi. Jangan langsung menutup hati, Miska."
Lagi-lagi Miska tidak menjawab. Ia hanya diam dan menatap meja kayu di depannya.
"Baiklah, kamu boleh kembali ke asrama sekarang," kata Ustazah Laila.
Miska pun segera bangkit dan keluar dari ruangan tanpa banyak bicara.
Saat berjalan kembali ke asrama, hatinya merasa tidak nyaman. Ia merasa ada yang mengganjal di dadanya.
Ia tidak tahu apakah itu perasaan kesal, frustasi, atau mungkin sesuatu yang lain. Tapi yang jelas, hari ini benar-benar melelahkan.
BERSAMBUNG...