IG @suliani_cucu
Karena kesalahan satu malam yang dilakukan oleh Aruna, hal itu membuat dia harus menikah dengan pria yang tidak dia cintai. Awalnya pernikahan itu terasa baik-baik saja, hingga 5 tahun kemudian Aruna melihat sang suami pergi bersama dengan wanita lain.
Hal itu membuat Aruna selalu membuntuti suaminya, hatinya begitu sakit ketika mengetahui kenyataan bahwa suaminya telah berselingkuh. Bahkan, suaminya sudah memiliki putri dari wanita itu. Melihat akan hal itu, Aruna bertekad untuk membalas dendam kepada sang suami.
"Jangan pernah kamu kira aku akan diam saja, Sam. Aku akan membalaskan semua rasa sakit hatiku kepada kamu!" tekad Aruna.
Cara apa yang akan Aruna lakukan untuk membalaskan dendamnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Aruna mendadak linglung setelah membaca berkas tersebut, tetapi walaupun seperti itu Aruna bukanlah anak kecil yang bisa dibohongi. Aruna sangat paham jika itu artinya Arimbi bukanlah ibunya, Aruna ternyata merupakan anak dari pasangan Rachel Dinata dengan Satria Putra Dinata.
"Apa maksudnya ini?" tanya Aruna dengan bingung.
Aruna mengeluarkan semua barang yang ada di dalam kotak tersebut, ada beberapa foto bayi yang begitu cantik sekali. Ada selimut bayi berwarna pink di sana dan ada topi kecil berwarna pink.
Aruna bahkan menemukan sebuah surat di dalam kotak tersebut, karena merasa penasaran akhirnya Aruna membuka surat tersebut.
**Teruntuk Putriku Aruna
Sayang, jika kamu menemukan surat yang Ibu tulis, itu artinya Ibu sudah tiada. Sebenarnya ada sebuah rahasia besar yang tidak pernah Ibu ungkapkan, rahasia tentang diri kamu.
Maaf jika selama ini Ibu tidak pernah berbicara jujur kepada kamu, maaf karena selama dua puluh dua tahun ini Ibu menyembunyikan kebenaran atas dirimu.
Kamu bukanlah anak ibu, kamu merupakan putri dari pasangan tuan Satria Putra Dinata dengan nyonya Rachel Dinata. Ibu hanya wanita yang mengambil kamu dari mereka, karena ibu merasa iri ketika melihat kebahagiaan mereka.
Dua puluh dua tahun yang lalu**--"
"Mas, ini sangat sakit." Rachel terus saja mengeluh kesakitan seraya mengelus pinggangnya yang begitu panas.
"Sabar, Sayang. Sebentar lagi kamu akan melahirkan," ucap Satria menenangkan.
Sudah seharian penuh Rachel berada di rumah sakit, tetapi tidak ada tanda-tanda pembukaan. Padahal dia terus saja merasakan mulas yang luar biasa, tetapi saat Satria meminta dokter untuk melakukan operasi Caesar, Rachel menolaknya.
Wanita itu berkata jika dirinya ingin melahirkan secara normal, dia ingin menjadi Ibu yang sempurna bisa melahirkan seperti ibu-ibu yang lainnya.
Airin dan juga Ridwan yang baru saja datang terlihat begitu panik ketika melihat wajah pucat putri mereka, Ridwan bahkan langsung mengelus lembut puncak kepala putrinya dan mengecup kening putrinya dengan penuh kasih.
"Kita lakukan operasi Caesar saja ya, Sayang. Baby kamu bisa kenapa-kenapa jika kamu tidak segera melakukan operasi," bujuk Ridwan.
"Tapi, Ayah. Aku---"
Ridwan yang merasa tidak tahan melihat putrinya yang terus saja kesakitan langsung memungkas ucapan dari putrinya, dia benar-benar merasa kasihan dan tidak tega.
"Apakah kamu mau jika baby kamu kenapa-kenapa, hem?" tanya Ridwan.
"Tidak, Yah. Aku mau babyku selamat," ucap Rachel.
"Kalau begitu, izinkan Satria untuk menandatangani berkas operasi sekarang juga," pinta Ridwan.
Rachel menolehkan wajahnya ke arah Satria, dia seolah berkata jika dirinya ingin melahirkan secara normal bukan secara Caesar.
"Dengarkan aku, Sayang. Walaupun kamu melahirkan secara Caesar, tetapi bagi aku kamu adalah wanita yang paling sempurna. Wanita yang sangat aku cintai, wanita yang selalu aku puja," ucap Satria membujuk dengan kenyataan.
Untuk sesaat Rachel terdiam, tetapi tidak lama kemudian dia tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. Satria langsung menunduk dan mengecup kening istrinya.
"Tunggu sebentar, Mas akan ke ruang dokter. Mas mau bilang kalau kamu sudah bersedia untuk melakukan operasi Caesar," ujar Satria.
"Ya, Mas," jawab Rachel.
Satria dengan cepat berlari ke ruang dokter, dia memberitahukan jika istrinya sudah bersedia melakukan operasi Caesar. Setelah menandatangani berkas persetujuan, akhirnya Rachel dibawa ke ruang operasi.
Rachel menjalani operasi Caesar selama kurang lebih 1 jam, dia merasa tidak khawatir karena Satria terus saja berada di dekatnya. Satria bahkan terus saja menggenggam tangannya seraya memberikan semangat kepada dirinya.
Rachel begitu bahagia mendapatkan perlakuan seperti itu, apalagi ketika dia mendengar suara tangisan bayi yang begitu kencang, dia begitu bahagia bahkan sampai menangis sesenggukan.
"Aku sudah jadi ibu kan, Mas? Apa jenis kelamin bayi kita?" tanya Rachel dengan tidak sabar.
"Sebentar, Sayang. Kita tunggu dokter dulu," jawab Satria.
"Bayinya cantik sekali, Nyonya. Selamat ya, putri kalian sangat cantik," ujar Dokter yang membantu persalinan Rachel.
"Kamu dengar, Mas? Kita punya seorang putri, sesuai dengan apa yang sudah direncanakan. Aku mau memberi nama baby kita Aruna Sachi Dinata," ujar Rachel senang.
Ya, Satria dan juga Rachel memang sudah melakukan perjanjian. Jika yang terlahir adalah bayi laki-laki, maka Satria yang akan memberikan nama untuk bayi mereka.
Namun, jika bayi yang terlahir adalah bayi perempuan, maka Rachel yang akan memberikan nama untuk putri mereka.
"Ya, Sayang. Nama putri kita adalah Aruna, dia sangat cantik sekali. Tapi, sayangnya wajahnya mirip aku," ujar Satria ketika dokter perempuan itu menyerahkan bayi mereka kepada Rachel untuk disusui.
Bayi perempuan itu ditengkurapkan di atas dada Rachel, hal itu sengaja dilakukan karena memang bayi tersebut harus mendapatkan asinya dengan segera.
"Oh ya ampun! Dia benar-benar mirip dengan kamu, Mas!" ujar Rachel seraya memandang bayi mungil yang berada di atas dadanya.
Tidak lama kemudian, bayi perempuan yang dinamai dengan nama Aruna itu langsung menyesap ujung dada Rachel. Rachel sempat meringis karena Aruna menyesap ujung dadanya dengan begitu kuat.
"Ya ampun, Mas. Aruna kuat sekali enennya," adu Rachel disertai ringisan.
Ini adalah untuk pertama kalinya dia menyusui, rasanya sakit, ngilu dan juga geli bercampur aduk menjadi satu. Akan tetapi, rasa itu tidak dia rasa. Karena rasa sakit itu seakan tergantikan oleh rasa bahagia setelah dia menatap putri cantiknya.
"Anak pandai, enen yang banyak. Biar tumbuh jadi baby yang kuat," ujar Satria.
Setelah mendapatkan ASI pertamanya, dokter mengambil Aruna untuk dipakaikan baju. Setelah itu, Satria langsung mengadzani putri cantiknya di telinga kanannya. Lalu, Satria mengucapkan iqomat di telinga kiri putrinya.
"Jadi putri yang Sholeha ya, Sayang. Jadilah putri kebanggaan untuk Ayah dan Bunda," doa Satria.
Selesai operasi Caesar, Rachel langsung dipindahkan ke ruang perawatan. Sedangkan Satria dengan cepat pergi ke toko perhiasan dan membeli kalung berlian dengan liontin bertuliskan Aruna.
"Mas dari mana aja? Aku cape nungguin kamu ngga dateng-dateng," keluh Rachel dengan manja.
"Maaf, Sayang. Tadi Mas ke toko perhiasan, beli ini." Satria menunjukkan kalung berlian yang sudah dia beli, lalu memakaikan kalung tersebut di leher Aruna.
"Cantik, Mas. Sangat cantik," ujar Rachel.
"Hem! Cantik seperti Bundanya," ujar Satria seraya mencubit dagu Rachel dengan gemas.
"Mas! Sakit ih," keluh Rachel manja.
"Maaf," ucap Satria seraya menunduk lalu mengecup bibir istrinya.
"Mas! Jangan kaya gitu, nanti aku pengen." Rachel langsung mendorong dada Satria setelah pagutan bibir mereka terlepas.
"Ck! Aku hanya mengungkapkan rasa cintaku dan rasa terima kasihku, makasih ya, Sayang. Kamu memang wanita terbaik," ucap Satria dengan tulus.
Satria kembali menunduk, dia ingin mengecup bibir istrinya. Namun, niatnya dia urungkan karena ada Larasati yang masuk ke dalam ruang perawatan tersebut.
"Ehm! Kalian lagi apa, hem?"
"Eh? Anu, Buna. Kami--"