Diseret paksa oleh ayahnya untuk menggantikan kakaknya yang kabur sehari sebelum pernikahan, membuat hidup Aneska berubah 360 derajat.
Aneska yang membutuhkan uang untuk biaya berobat ibunya, yang sudah bercerai dengan ayahnya itu, akhirnya menerima perintah tersebut dengan berat hati.
Dan saat Danish mengetahui kalau sebenarnya yang dia nikahi bukan Aresha, melainkan Aneska, membuat ia menjadi sangat marah, dan bahkan tidak mempedulikan Aneska. Terlebih setelah fitnah yang Aresha lakukan pada adiknya sendiri.
Sementara Aneska menjalani kehidupan terburuknya setelah pergi dari Danish, dan ditinggal sang ibu untuk selamanya, tiba-tiba teman masa kecilnya datang. Pria itu juga membawa Aneska jauh dari kota tersebut, membuat Aneska meninggalkan kenangannya dengan sang suami, membawa benih cinta yang tertanam di rahimnya.
***
Original story by MYLIHU
Image from Freepik
Edited by Canva
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EgaSri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebimbangan
Aneska bingung harus menjawab apa. Di satu sisi, dia sangat ingin melihat kondisi ibunya yang tengah berjuang di rumah sakit antara hidup dan mati. Dan disisi lain, Aneska tak ingin mengecewakan Danish dengan menolak keinginan pria itu.
Apalagi yang menyarankan adalah mama mertuanya. Aneska dilanda kebimbangan, antara mengiyakan atau menolak.
Aneska menggigit bibir bawahnya, otaknya berpikir keras hingga pada akhirnya ia mendapatkan hasil keputusan.
"Oke, Mas. Sebaiknya kita pergi saja, apalagi Mama juga memaksa, kan?" Diujung katanya, Aneska tersenyum lembut yang membuat Danish ikut mengangkat sudut bibirnya.
"Baiklah, aku akan bilang sama Mama kalau kita akan pergi, dan kemudian menyiapkan semuanya," ucap Danish. Ia tak tahan kalau harus lama-lama melihat senyuman Aneska, tak baik untuk jantungnya yang tiba-tiba berdebar keras.
"Astaga, kenapa semakin hari dia terlihat semakin cantik!?" tanya Danish saat ia sudah keluar dari dalam kamar. Jantungnya terus berdebar keras selaras dengan perasaannya yang serasa terbang melayang.
Melihat langkah anaknya yang tidak stabil di tangga, Marisa mengerutkan keningnya.
"Danish? Kamu mabuk?" tanya Marisa ngawur. Mana mungkin Danish mabuk, sedangkan dia baru kembali dari kamarnya. Kalau dimabuk cinta, maka itu mungkin saja terjadi.
Tersadar saat mendengar suara mamanya, Danish kemudian berdehem singkat.
"Ekhemm, gak, Ma. Mama ngawur, mana mungkin aku mabuk," jawab Danis.
Marisa mengerlingkan matanya, kemudian tersenyum mengejek. Ia berjalan menjauh dari anak laki-lakinya itu, dan diikuti oleh Danish dari belakang.
"Ma, Anes setuju untuk pergi bulan madu," ucap Danish, saat ia duduk di sofa samping mamanya.
Mendengar perkataan Danish, membuat Marisa tersenyum senang.
"Beneran?" tanya Marisa antusias. Ia terlihat seperti baru saja mendapatkan jackpot.
Danish mengangguk mengiyakan, dan kemudian dia mengerutkan keningnya. Terlebih saat melihat Marisa tersenyum sendiri dan kemudian akhirnya ia tertawa kecil dengan menutup mulutnya.
"Segitu senangnya, Ma?" tanya Danish sedikit mengejek.
Mendengar pertanyaan itu, Marisa kemudian berdehem.
"Ya jelas, Mama senang. Kalau kalian pergi bulan madu, maka kalian akan punya banyak waktu berdua. Dan dengan begitu, cucu Mama pasti juga akan cepat hadir," ucap Marisa yang membuat Danish terdiam.
Cucu?
Anak?
Danish menundukkan kepalanya. Ia belum terpikir untuk itu. Tapi, dengan kondisi hubungannya bersama Aneska, apakah wanita itu mau mengandung anaknya? Terlebih mereka menikah atas dasar perjodohan.
Sedangkan Aneska yang tak sengaja mendengar pembicaraan mertua dan juga suaminya itu, langsung menegang saat dia mendengar kata cucu yang keluar dari mulut Marisa.
Aneska tentu ingin seorang anak, tapi apakah seterusnya, hubungan ia dan Danish akan baik-baik saja? Terlebih waktu itu Anes melihat Aresha sudah kembali. Aneska yakin, kalau kakaknya itu akan membuat keributan nantinya, cepat atau lambat.
Langkah kaki gontai Aneska ayunkan menaiki tangga. Pikirannya juga melayang pada wanita yang waktu itu menggila di mall saat melihat ia dan Danish jalan bersama.
Memikirkan rasa sakit saat wanita itu menyakitinya, membuat Aneska yakin, kalau dia masih belum melepaskan Danish.
"Ya Tuhan, kenapa aku harus terjebak dengan ini semua?" batin Aneska bertanya-tanya. Ia merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur, menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong.
Tadi, sebelum memutuskan menyusul Danish kebawah, Aneska sudah meminta suster di rumah sakit ibunya dirawat, untuk memberikan perhatian ekstra pada ibunya, dengan bayaran yang Aneska lebihkan. Dan untungnya suster itu mengiyakan permintaan Aneska, jadi ia bisa sedikit bernapas lega saat nanti dirinya pergi dengan Danish.
"Resha, kalau saja kamu tidak kabur dengan laki-laki lain, ini semua tak akan terjadi. Aku tidak akan terjebak dan kemudian harus menggantikanmu menikah," ucap Aneska dengan air mata yang tiba-tiba menitik. Tak tahan saat ia membayangkan kehidupannya yang kacau gara-gara kelakuan kakaknya itu.
Pikiran-pikiran buruk terus melayang didalam otak Aneska. Hingga kemudian ia tidur menyamping dan melihat dinding. Dan di dinding itu ada foto pernikahannya dengan Danish yang dipajang dalam figura besar.
Dan saat melihat foto itu, membuat Aneska langsung tersadar, kalau ini memang sudah menjadi takdirnya. Iya, takdirnya untuk menjadi istri Danish, menggantikan Aresha.
Dalam diam, Aneska menatap foto besar itu. Walaupun senyuman di sana terlihat indah, tapi Aneska tahu, kalau itu adalah senyum palsunya. Dan foto itu juga membuka pikiran Aneska.
"Tidak boleh! Aku tidak boleh menjadi lemah seperti ini! Kalau aku lemah, siapa yang nantinya harus menemani ibu? Saat ini, yang menjadi istri Danish, adalah aku, bukan Aresha. Jadi aku berhak mempertahankan rumah tanggaku, dan tidak membiarkan siapapun merusaknya!"
Aneska kemudian duduk. Ia mengusap air mata yang tadinya membasahi pipinya. Kemudian ia menguncir rambutnya yang semula tergerai.
"Aku harus bertahan apapun yang terjadi. Danish adalah suamiku, Aresha sudah menyerahkannya padaku saat dia memutuskan untuk kabur dari pernikahan. Jadi aku harus menjaga milikku, dan tidak membiarkan siapapun mengambilnya, atau merebutnya dariku!"
Aneska tersenyum tipis sesaat kemudian. Ia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan wajahnya. Selama ia hidup, Aneska sudah terlalu banyak mengalah untuk Aresha. Kali ini, ia tidak akan menjadi protagonis wanita yang lemah dan hanya menangis saat miliknya direbut. Aneska tak akan membiarkan miliknya diusik oleh orang lain.
Sudah cukup kehidupannya dikacaukan oleh Aresha, untuk kali ini, Aneska akan melawan dan tak membiarkan pernikahannya hancur oleh kakak kembarnya yang jahat.
Sedangkan saat Aneska berada di kamar mandi, Danish masuk. Dan ia tidak mendapati istrinya didalam pandangannya. Hingga ia mendengar suara gemercik air kran dari dalam kamar mandi.
Danish kemudian duduk, dengan senyuman tipis dibibirnya, ia melihat kembali pada tab yang ada ditangannya. Itu adalah gambar yang Liam kirim padanya, untuk tempat bulan madunya dengan Aneska nanti.
Hingga kemudian Aneska keluar dari dalam kamar mandi. Mereka berdua sama-sama terkejut hingga suasana canggung terjadi begitu saja.
"Sini, Nes. Mas mau memperlihatkan tempat-tempat yang akan menjadi tempat bulan madu kita," ucap Danish. Aneska menurut, ia duduk di sebelah Danish, dan kemudian menerima tab tersebut.
Aneska melihat semua gambar dan juga keterangan tempat indah itu. Danish memilih lokasi dalam negeri untuk perjalanan mereka, karena tempat wisata dalam negeri sangat indah, tak kalah dari wisata luar negeri.
Sedangkan Danish terdiam saat melihat Aneska yang tersenyum. Manis senyuman itu ternyata kembali menghipnotisnya. Apalagi dengan leher jenjang nan putih yang ia lihat tak tertutupi rambut. Membuat Danish menelan salivanya dengan susah payah.
"Gimana kalau kesini aja, Mas?" tanya Aneska menoleh kearah Danish, menunjukkan satu tempat yang menarik perhatiannya.
Saat saat itu juga Aneska terkejut ketika Danish yang secara tiba-tiba menciumnya.
Aneska terdiam. Ia tak menjauh dan juga tidak membalas ciuman Danish. Ia sangat terkejut dengan apa yang terjadi kali ini.
"Balas Mas, Anes!"
***
Happy reading! Silakan tinggalkan like dan komentar jika berkenan, ya teman². :)