Bertemu setelah berpisah selama bertahun-tahun. Sahabat yang pernah mengisi ruang di hatinya. Pertemuan yang tak di sangka akan membuat jalan baru dalam kehidupannya yang kelam.
Sosok pria inilah yang dulunya membuat Rindu Nyaman.
Setelah mereka bertemu lagi, kini Ardian ingin mendapatkan Cinta Rindu secara utuh. Setelah dia terlambat menyadari cinta itu. Ardian berusaha untuk membuat Rindu kembali jatuh cinta padanya.
Status dan masalah yang berat, membuat Rindu ragu untuk membuka hatinya kembali.
Akankah persahabatan mereka berubah menjadi hubungan Asmara yang indah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MamGemoy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serangan romantis
***
Dekapan Ardian begitu hangat, sehangat hatinya saat ini. Rindu memang tidak bisa melihat wajah sedih Ardian saat ini, Tapi dia yakin jika pria itu sedang menahan diri. Rindu ingin tau, bagaimana respon Ardian setelah mendengar kisah hidupnya yang Menyedihkan.
Ardian mengangguk lemah. "Iya, aku menyesal. Aku tidak sempat mengatakan padamu bahwa aku sangat mencintaimu. Aku menyesal cintaku datang terlambat padamu." Dihirupnya harum puncak kepala Rindu, lalu dikecup berkali-kali.
"Tidak ada yang perlu disesalkan, Ardi. Tuhan telah membagi jalan kehidupan manusia secara adil, takdir masing-masing sudah ditentukan. Bisa bertemu dan berpisah begitu saja, lalu akan bertemu lagi," jelasnya dengan suara pelan dan lembut.
Rambut panjang Rindu diusap perlahan. Mencurahkan kasih sayang sang selama ini tertunda. "Ya, kamu benar. Mungkin setelah pertemuan kita kali ini, Tuhan akan menakdirkan kita untuk bersama."
Anggukan kecil Rindu membalas ucapan Ardian. "Emm, semoga saja. Hanya Tuhan yang tahu."
Ardian diam sesaat. "Siapa namanya, pria tidak bertanggung jawab itu. Kamu masih mencintainya?"
"Bagas. Entahlah, cinta itu bisa datang dan pergi kapan saja," tutur Rindu.
"Dulu kamu mengatakan bahwa, 'cinta yang sebenarnya akan mengikat jiwa, memenuhi semua pikiran. Cinta memiliki ruang tersendiri di dalam hati.' Bagaimana itu, apa jiwamu telah terikat pada cintanya, jadi kamu akan terus memikirkannya?" Pelukan Ardian semakin erat, suaranya lirih mengharapkan jawaban.
Iya, dulu Rindu pernah mengatakan hal ini. Ternyata Ardian masih mengingatnya. Padahal itu sudah bertahun-tahun yang lalu.
"Kamu mau tahu?" Rindu mendorong tubuh mereka sedikit menjauh.
Ardian mengerjab berkali-kali sebelum Rindu menyadari bahwa dia menangis. "Apa?"
"Hanya satu cinta yang bisa mengikat jiwa seseorang. Tempatnya tidak akan berubah di dalam hati. Itulah cinta yang sebenarnya, cinta sejati. Sedangkan cinta yang lain, bisa berada di bagian mana saja di dalam hati. Bisa datang dan pergi begitu saja," ucap Rindu seraya menunjuk bagian dada, tepat letak jantungnya.
"Jadi, jiwamu belum terikat sama sekali?" tanya Ardian penasaran.
"Emm, entahlah." Rindu mengedikkan bahunya. "Menurutmu?"
Pria itu menatap mencari jawaban. Dia menyakinkan diri, jika jawaban seperti yang dia pikirkan. "Jika belum, aku yang akan mengikat jiwamu," ucapnya yakin, lalu kembali mendekap wanita itu. Menyandarkan kepala Rindu ke dadanya yang berdegup kencang.
Rindu tersenyum tipis. Dia hanya bisa mengungkap semuanya dalam hati. "Sudah sejak lama Ardi … hanya saja aku sudah menyimpannya, kunci hatiku entah hilang kemana. Kamu harus mencarinya dahulu." Rindu memejamkan mata, irama jantung pria itu membuatnya merasakan ketenangan.
"Emmm …," guman Rindu akhirnya, dia telah menguap beberapa kali, matanya sudah sangat mengantuk.
"Aku akan menjadikanmu ratu. Membahagiakanmu seumur hidupku." Sambung Ardian lembut. Dia menunggu balasan, tapi Rindu hanya diam. "Bisakah kamu menceritakan tentang putrimu? Dia pasti cantik seperti kamu, siapa namanya?"
Pria itu tampaknya masih ingin mendengar cerita Rindu. Tapi matanya benar-benar tidak bisa diajak kompromi lagi. Akhirnya Rindu terlelap begitu saja.
"Hei, Rin … kenapa diam? Rindu." Ardian mengintip menundukkan sedikit kepalanya. Ternyata Rindu sudah tertidur. Dia pun tersenyum, dituntun tangan wanita itu meletakkan di pinggangnya. Rindu tanpa sadar mengetatkan dekapan. Ardian mengecup kening serta bibir Rindu sekilas. "Tidurlah, waktu kita masih banyak untuk menceritakan semuanya," bisiknya.
Cukup lama Ardian memandangi wajah cantik wanita pujaannya itu. Dibelainya setiap sudut wajah. Mulai dari kening, alis, mata, hidung, pipi hingga bibir tipis Rindu. Ardian begitu mengagumi kecantikan yang Rindu miliki. Dia tersenyum berulang kali, menahan dagu Rindu dan mengecup bibir itu lagi dan lagi. Ardian tak merasa cukup, hingga membuat Rindu melenguh sesaat, tapi tidak sampai bangun. Kemudian Ardian memperdalam kecupan itu menjadi ******* kecil. Hingga dia merasa cukup puas, mata pun dipejamkan, tidak lama Ardian juga terlelap.
***
Akan selalu ada hari-hari menyakitkan dan kita tidak tahu kapan hari itu menghantam kita. Tapi akan selalu ada hari-hari berikutnya, memulai bab yang baru bersama datangnya pagi. Selama matahari terbit, kehidupan seseorang masih bisa berubah jauh lebih baik. Jangan biarkan bayangan masa lalu merusak sinar matahari untuk hari esok, hiduplah untuk hari ini.
***
Sinar matahari menembus ke celah-celah jendela kaca kamar Ardian. Dia perlahan menggeser tirainya ke pinggir. Rindu mengerjapkan mata menetralisir cahaya yang tiba-tiba masuk mengenai mata. Sebelah tangannya diangkat ke kening menghalangi sinar mentari yang hangat .
Ardian tersenyum. Perlahan dia mendekat dan berlutut di samping wanita yang masih terbaring. Diraihnya tangan yang menghalangi sinar tadi dan menggantikan perisai itu dengan tubuhnya. Dia kemudian mengecup punggung dan telapak tangan Rindu bergantian, lalu mendekatkan wajahnya ke wajah teduh itu.
"Aku mencintaimu di pagi hari, tengah hari, di saat-saat kita bersama, dan saat-saat kita berpisah. Selamat pagi cintaku."
Iris mata hitam Ardian menatap dengan penuh cinta. Rindu akhirnya terbangun, mengerjapkan mata begitu mendengar bisikan itu. Dia tidak siap diperlakukan seromantis ini. Terlebih jarak wajah mereka begitu dekat. Tak taukah Ardian, dia telah membuat jantung Rindu berolahraga?
Hari masih pagi, hati Rindu telah dibuat berbunga-bunga, wajahnya kini memerah. Ardian telah melancarkan aksi sedemikian romantis. Jika terus seperti ini mungkin Rindu akan cepat membuka kembali hatinya.
"Ardi, ini masih pagi ... kamu sudah mulai menggombal," ucap Rindu membalas tatapan itu. Suaranya terdengar serak khas bangun tidur dan Ardian suka itu.
Sudut bibir Ardian mengembang. "Ini bukan gombalan, Sayang. Aku hanya berusaha meyakinkanmu betapa aku sangat mencintaimu," bisik Ardian lagi. Suaranya sangat lembut di pendengaran Rindu.
"Apapun itu, kamu membuatku berbunga-bunga pagi ini," balasnya tersenyum. Sangat cantik.
"Benarkah? Apakah itu adalah cinta untukku?" tanya Ardian antusias. Wajahnya tampak berbinar.
"Hemm ... berharap saja." Rindu mengedikkan bahu. Sebenarnya dia tak ingin terlalu memberi harapan.
"Jika begitu, aku akan terus berharap kamu bisa mencintaiku lagi, dan hal kecil seperti ini akan terus aku lakukan." Ardian menyelipkan tangannya di leher dan lipatan kaki Rindu. Kemudian perlahan mengangkat tubuh itu ke udara. Rindu yang kaget, reflek mengalungkan lengannya di leher pria itu.
"Aahh, Ardi ... apa yang kamu lakukan?"
"Membawamu ke kamar mandi."
"Aku bisa jalan sendiri, cepat turunkan aku." Rindu menggoyangkan kakinya minta diturunkan.
"Nggak, aku akan menurunkanmu setelah kita sampai disana." Ardian semakin mempererat pegangannya.
"Ya Tuhan, ini terlalu berlebihan … apa kamu juga akan membantuku untuk mandi?"
Pria itu menatap dengan tatapan aneh. "Jika kamu mengizinkan."
"Hiihhh ... dasar mesum!" Rindu memukul pelan pundak pria itu.
"Hahaha … aku mesum cuma sama kamu, dan kamu juga bisa begitu. Tetapi, mungkin aku akan memakanmu," seringai godaan Ardian.
"Cckk … kamu, terserah saja." Rindu cemberut dan menyembunyikan wajahnya.
Perlahan Ardian berjalan menuju kamar mandi. Senyumannya puas karena berhasil serangan romantis pagi ini dan membuat Rindu berbunga-bunga.
***
aku tunggu kelanjutannya....
☺️
Bagus.. mudah di pahami...
juga menyentuh...
. selalu semangat untuk kakak author....
semoga karyamu semakin berjaya,...
💪💪💪💪☺️☺️
..