Berkisah tentang seorang aktris cantik bernama Intan Rahardian berusia 20 tahun. Dalam dunia hiburan namanya sedang melambung tinggi. Namun di balik kesuksesan karirnya, dia sedang diterpa masalah, menghadapi perjodohan dari kedua orang tua. Intan berusaha mencari cara agar bisa terbebas dari perjodohan itu. Dia tak ingin menikah di usia muda, apalagi di saat karirnya sedang melejit. Namun cara yang dilakukan malah mendatangkan masalah besar.
Di hari pertunangannya, aktris cantik itu berusaha melarikan diri dari dalam sebuah hotel bintang lima, yang sudah dipenuhi begitu banyak tamu undangan. Dia di kejar oleh keluarganya, juga keluarga calon suaminya. Di saat hampir tertangkap, tanpa berpikir panjang dia langsung mencium seorang pria, yang datang sebagai tamu penting di depan semua orang temasuk calon suaminya. Dan apa yang dilakukan wanita cantik itu, pada akhirnya menjebak dirinya sendiri dalam sebuah hubungan yang sangat rumit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Pergi Bersama.
Cahaya mentari pagi mulai masuk menembus celah-celah gorden. Menyilaukan mata yang masih saja terpejam. Karena merasa terganggu, Intan pun bangkit dari tempat tidur, dan mulai berkata-kata tanpa membuka mata.
"Aku benar-benar lemas karena memikirkannya semalaman."
"Siapa yang kamu pikirkan?" terdengar suara Mamanya dari depan pintu.
"Mama.. Kok pagi-pagi sudah ada di kamar aku??" Intan pun kaget mengetahui keberadaan Mamanya.
"Ada yang mau bertemu kamu," jawab Wulan dengan senyum sumringah.
"Siapa datang di waktu pagi seperti ini?? Alif ya?? Suruh saja dia pulang. Aku lagi sakit kepala, semalaman nggak bisa tidur. Bayangan laki-laki keparat itu sudah seperti hantu, yang bergentayangan di dalam pikiranku." Intan berkata-kata tanpa tahu siapa yang datang.
"Laki-laki siapa??" tanya Wulan sedikit kaget. Dia mulai khawatir, kalau putrinya yang kegenitan itu punya lelaki cadangan.
"Siapa lagi kalau bukan Mas Richard," jawab Intan sembari beranjak turun dari tempat tidur, melangkah menghampiri Mamanya, dengan hanya mengenakan dress pendek tanpa lengan berwarna putih, yang sangat transparan.
"Ini orangnya di depan pintu. Ternyata kamu sudah mulai kebelet nikah. Sampai-sampai nggak bisa tidur memikirkan calon suami kamu," ujar Wulan yang membuat putrinya seketika mematung dengan kedua mata terbuka lebar saking kagetnya.
"Ya sudah, kalau gitu Mama tinggal dulu. Calon suaminya di suruh masuk dong Tan!" ujar Wulan dan langsung pergi meninggalkan Intan yang begitu malu dengan semua ucapannya barusan.
Tanpa di persilahkan Richard segera masuk ke dalam kamar Intan. Dia terlihat begitu tampan dengan mengenakan baju kaos hitam berbalut jas warna serupa. Namun tatapannya sangat menakutkan.
"Siapa yang tadi kamu katakan laki-laki keparat?" tanya Richard dengan tampang yang sudah seperti tembok datarnya.
"Ya kamu lah, mau siapa lagi? Aku tuh nggak bisa tidur setelah kejadian semalam. Makanya aku kesal." Intan langsung menjawab.
"Terus,, ngapain kamu datang sepagi ini?" tanya Intan sembari membuang muka, berharap Richard akan meminta maaf atas kejadian semalam.
'Aku harus jual mahal di saat dia minta maaf. Biar dia merasa bersalah, dan berusaha untuk merayuku bila perlu memohon untuk dimaafkan. Hahaha,, aku bukanlah wanita sepolos yang kamu bayangkan.' Intan berkata-kata di dalam hati penuh keyakinan.
Alih-alih menjawab. Richard malah memerintah nya untuk segera bersiap-siap, karena mereka akan berangkat ke luar kota. Dan waktu yang diberikan hanya selama satu jam.
"Pagi ini juga kita akan berangkat ke luar kota. Kamu harus menemani saya dalam sebuah acara. Dan saya memberikanmu waktu hanya satu jam saja," seru Richard, dan langsung pergi.
"Dasar cowok sialan.. Jangankan mau minta maaf, sebut namaku saja nggak. Malah dia memberikan waktu satu jam saja. Dia pikir aku biduan dangdut??" Satu jam saja, bercinta denganmu, satu jam saja ku dimanjakan mu," Intan yang begitu kesal berkata-kata sendirian, dan sempat menyanyikan sepenggal lirik lagi dangdut, sembari melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
Walaupun kesal dan tidak terima dengan Richard yang seenaknya memerintah, Intan memaksimalkan waktu yang diberikan. Buru-buru dia melangkah turun ke lantai bawah, menemui Richard yang sedang mengobrol dengan kedua orang tuanya.
"Ma, cantik nggak aku?" tanya Intan pada Mamanya di depan Richard, sambil bertingkah seperti model yang sedang berpose di depan kamera.
Sikapnya benar-benar membuat Richard bingung, dan menyesali takdir yang sudah mempertemukan mereka berdua.
"Cantik banget sayang. Kamu semakin menarik dan segar," jawaban Mamanya Intan, yang membuat Richard semakin bingung. Apalagi saat menyadari kesamaan sifat mereka.
"Halo cantik,, ternyata kamu sudah siap ya?" tiba-tiba muncul Alif dari arah depan.
"Pak Bos,, apa kita bisa pergi sekarang?" tanya Alif dengan gaya gemulai nya.
"Iya. Tante, Om, kita berangkat ya." Tak lupa Richard menyalami tangan kedua orang tua Intan, di susul oleh Intan yang terlihat sangat ceria.
Mereka berangkat menuju luar kota di antar supir pribadi, dengan mobil mewah harga miliaran milik Richard. Intan duduk bersama Alif di bangku tengah. Sementara Richard duduk di samping Pak Mamat supir pribadinya yang sedang fokus mengemudi.
"Tan,, aku dengar kabar angin, beberapa artis kembali bergosip tentang kamu. Katanya, tubuh kamu semakin hari semakin berisi. Dan ada dugaan kalau kamu sedang mengandung," ujar Alif yang membuat Intan tertawa.
"Hahahahaha... Hahahaha.."
"Loh kok kamu malah tertawa? Nama baik kamu itu sedang dalam masalah besar," ucap Alif.
"Aku tertawa karena lucu. Bagaimana bisa aku hamil, tidur bersama pria saja aku nggak pernah. Bilang sama mereka, aku tuh masih utuh dan belum tersenruh. Bukan seperti mereka yang di gilir para pejabat juga pengusaha." Ekspresi Intan seketika berubah kesal.
"Apa,, kamu belum tersentuh?? Kamu kan punya calon suami. Mana mungkin Pak Bos tidak tergoda dengan wanita secantik dan seseksi ditimu?" Alif malah meragukan ucapan Intan.
"Nggak tahu. Tanya saja sama orangnya! Mungkin dimata dia aku nggak menarik." Intan sepertinya sengaja memancing Richard. Namun Richard yang memang tidak suka banyak berargumen, hanya terdiam seperti patung.
"Apa-apaan sih kamu? Mana mungkin aku mau menanyakan hal itu. Bisa-bisa aku diturunin dari mobil," ujar Alif sembari memalingkan muka, saat menyadari kalau Richard sedang memperhatikan Intan dari kaca spion di atas kepalanya.
Setelah menempuh perjalanan selama hampir dua jam, mereka pun tiba di sebuah villa mewah milik Richard. Richard yang baru keluar dari dalam mobil, segera melangkah menuju pintu masuk villa. Tapi tiba-tiba terdengar suara seorang wanita memanggilnya.
"Richard..."
"Chelsea.. Kamu kok ada disini?" sahut Richard setelah berbalik menghadap wanita itu. Mereka terlihat behitu dekat.
Intan yang sedang melangkah mendekati mereka, seketika bersikap aneh, saat melihat wankta itu meraih tangan Richard. Buru-buru dia berbalik, menarik tangan Alif dan melangkah pergi keluar dari dalam pekarangan villa menuju jalan raya.
"Tan,, kita mau kemana? Acaranya kan di villa ini," tanya Alif setelah sudah berada di luar pekarangan villa.
"Dimana tempat pemotretan? Bukan di villa ini kan?" tanya balik Intan.
"Iya bukan. Tempat pemotretan nggak jauh dari sini. Tapi kita harus bilang duku sama Pak Bos, biar tidak dicari."
"Dia lagi sibuk, nggak mungkin kita dicari." Intan terus menarik tangan Alif melangkah tanpa tahu arah dan tujuan.
"Tapi ini kita mau kemana?" Alif malah kebingungan, karena Intan menarik tangannya menuju arah berlawanan dengan tempat pemotretan.
"Kita mau ketempat pemotretan," jawab Intan tanpa menghentikan langkah, juga tanpa menatap Alif.
"Tapi arahnya ke sana." Alif menumjuk ke arah belakang. Dan itu benar-benar membuat Intan jadi salah tingkah.