Hervinda Serana Putri, seorang gadis dengan kesabaran setebal baja. Hidup dengan keluarga angkat yang tidak pernah menganggapnya keluarga. Hidup terlunta dan diperlakukan seperti pembantu. Bahkan, dia seperti membiayai kehidupannya sendiri. Suka, duka dan bahkan segala caci makian sudah diterimanya.
Kejadian besar menimpa Hervinda ketika saudaranya, Rensi kabur dari rumah ketika hari pernikahannya. Seluruh keluarga bingung. Akhirnya, mereka menjadikan Hervinda sebagai ganti tanpa sepengetahuannya.
Michael yang merupakan calon Rensi sudah sangat bahagia. Sayangnya saat dia tau wanita yang dinikahinya bukanlah Rensi, emosinya meluap. Dia berjanji akan menyiksa Hervinda dan mendapatkan kembali Rensinya.
"Apapun untuk mendapatkannya. Kamu bukan yang aku inginkan. Bahkan melukaimu pun aku sanggup."
-Michael Adithama-
"Setidaknya tatap aku dan belajarlah mencintaiku."
-Hervinda Serana Putri-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim Meili, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 10_Muak
Tasya menatap Michael dengan tatapan tajam. Setelah semua yang diceritakan suaminya, otaknya langsung berhenti berfikir. Tidak menyangka jika anak kesayangannya bertingkah konyol. Sedangkan pelakunya hanya diam dengan wajah dongkol setengah mati. Dia merasa disidang di rumah sendiri dan orangtua yang tidak juga membelanya. Bukannya dibela, dia malah ditodong dengan tatapan tajam dari dua pasang mata yang duduk didepannya. Belum lagi usahanya untuk keluar dari rumah dapat dicegah oleh Adam, body guard papanya. Jadilah dia duduk di ruangan papanya dengan tatapan tajam.
Helaan nafas terdengar dari arah mamanya dan matanya melirik sekilas. Michael tau mamanya sudah siap berceramah panjang lebar kali ini dan telinganya sudah benar-benar siap.
“Ael, jelaskan apa yang sudah kamu putuskan. Mama gak mau Cuma mendengarkan satu pihak,” ucap Tasya dengan nada suara yang terkesan lembut, tetapi ada ketegasan didalamnya.
Michael diam. Otaknya masih mencerna apa yang harus diucapkan tanpa membuat kedua orangtuanya marah. Namun, lagi-lagi otaknya berhenti mencerna kebohongan dan itu membuatnya ingin sekali mengumpat kesal. Kenapa semua membela Vinda yang tidak becus dalam melakukan hal. Ya, meski itu bukan untuknya.
“Mengeluarkan mahasiswi terbaik dan mencabut beasiswanya. Mengeluarkannya dari pekerjaan. Apa ini sedang kamu lakukan, Ael? Papa benar-benar kecewa sama kamu,” sambung Adelardo dengan tatapan datar dan suara dingin. Michael tau saat ini papanya tengah menahan amarah yang siap meledak. “Siapa yang mengajarimu untuk menggunakan kekuasaan demi kepentingan pribadi, Ael?”
“Kamu bicara sama kamu. Sudah mulai bisu, hm?” Tasya menatap anaknya tajam. Dia masih tidak menyangka bahwa anaknya bertingkah dan menggunakan kekuasaan untuk semena-mena. Semu karena wanita yang baru ditemuinya beberapa hari yang lalu.
“Apa ini semua karena wanita yang baru kamu temui? Siapa namanya? Rensi?” Tasya memastikan.
Mendengar namanya disebut, Michael menatap mamanya santai dan mengangguk. “Dia tidak pernah melakukan apa yang Rensi inginkan dengan benar, Ma. Jadi…”
Braak…
Suara gebrakan membuat Michael behenti menjelaskan dan menatap Michael dengan tajam. Jadi, semua hanya karena wanita yang bahkan belum pernah dikenalkan kepada keluarganya? Adelardo menatap Michael dengan tatapan membunuh. Tasya yang melihat langsung menatap sang suami dengan wajah yang menunjukan kekhawatiran. Dia tau, suaminya akan meledak dan marah besar.
“Kamu bertingkah konyol Cuma demi wanita yang bahkan belum kamu kenalkan ke Papa, Ael?” teriak Adelardo tidak tahan dengan kebodohan anaknya, “ kamu bahkan tidak memikirkan nasib orang lain.” Adelardo mendesis tidak suka.
Tasya yang melihat sang suami melangkah mendekati anaknya langsung bangkit dan mencegahnya. Dia tau apa yang akan dilakukan suaminya dan dia tidak ingin ada kekerasan dalam rumah mereka.
Adelardo yang mengerti dengan kekhawatiran sang istri langsung menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Berulang kali dilakukan agar amarahnya mereda. Kepalan tangannya mulai mengendur, nafasnya juga sudah kembali normal. Tasya yang melihat mengelus dada lega. Setidaknya tidak ada baku hantam di dalam rumah.
“Kamu hampir saja membuat kampus kita kehilangan mahasiswi paling berprestasi dan mencoreng nama baik universitas, Ael,” desis Adelardo lebih pelan karena dia tidak mau terpancing emosi.
“Tetapi dia memang pantas mendapatkannya, Pa,” ucap Michael langsung berdiri dengan satu tangan dimasukan ke dalam kantong celana, berdiri angkuh dan tanpa rasa bersalah. “Dia sudah mengecewakan Rensi.”
“Rensi lagi, Rensi lagi. Mama sampai bosan dengan nama gadis yang arogan seperti dia, Ael,” sahut Tasya tidak suka. Dia benar-benar tidak percaya jika dulu Rensi yang menyelamatkan anaknya.
“Tetapi, Ma. Rensi adalah orang…”
“Hentikan. Papa tidak mau dengan omong kosong lagi. Kalau kamu memang serius, baa dia kehadapan Papa,” potong Adelardo lelah dengan sikap keras kepala Michael.
Michael yang mendengar melongo. Dia bahkan belum sempat berkenalan dengan Rensi dan bagaimana bisa dia mambawanya ke rumah? Apa jika dia mengatakan bahwa dia adalah anak kecil yang diselamatkan puluhan tahun lalu, Rensi akan menerimanya?
Michael sibuk dengan pemikirannya, sampai suara ketukan mengalihkan perhatian mereka berdua. Tampak Adam masuk dan menatap tuannya tajam.
“Nona Hervinda sudah sadar, Tuan,” ucap Adam singkat.
Adelardo mengangguk dan menatap Michael lekat. “Kalau kamu sampai membuat onar lagi, Papa pastikan kamu tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi, Ael,” ancam Adelardo dan langsung melangkah keluar. Diikuti Tasya yang masih setia berada di belakangnya.
_____
Hervinda menatap sekitarnya bingung. Dimana dia berada? Ruangannya benar-benar berbeda dan itu terasa asing untuknya. Rasanya dia belum pernah masuk dan melihat ruangan kecil yang tampak indah tersebut.
Hervinda menutup mata perlahan ketika kepalanya mendadak pusing. Tangannya memijat pelipisnya pelan, melepaskan sedikit rasa sakit yang setia hinggap dikepalanya. Saat sudah membaik, dia mulai bangkit dan duduk di ranjang. Matanya menatap keluar jendela dengan tatapan lembut. Dia merasa nyaman di ruangan yang bahkan belum pernah disinggahinya.
Derit pintu terbuka membuat Vinda mengalihkan pandangannya dan menatap tiga orang dewasa yang masuk ke dalam ruangannya, salah satu dari mereka adalah wanita dengan guratan samar yang tidak terlalu tampak. Menyadari siapa yang datang, Vinda langsung merapikan diri dan tersenyum canggung.
“Sudah, tidak usah dipaksakan. Kamu bisa tiduran dulu di sini,” jawab Adelardo yang melihat Rensi tampak tidak enak.
“Maaf, Tuan. Jadi merepotkan,” ucap Vinda tidak enak hati. Dia sendiri tidak tau kenapa bisa pingsan saat di rumah orang lain dan membuat seisi rumah repot.
“Ada yang sakit?” tanya wanita yang ada disebelah Adelardo yang langsung melangkah dan duduk disebelah Vinda, memegang keningnya, memastikan apakah badan gadis tersebut panas. Vinda yang diperlakukan sedemikian merasa semakin tidak enak hati dan menunduk, menahan air mata yang siap meluncur.
“Apa ada yang sakit?” tanyanya lagi dan kali ini dengan wajah khawatir karena Vinda menitikan air mata.
Vinda yang menyadari langsung menghapusnya cepat dan menggeleng. “Tidak ada. Saya sudah baik-baik saja. Maaf merepotkan Tuan dan Nyonya.”
“Tasya,” sahut Tasya dengan cepat, “panggil saja Tante.” Tasya tersenyum lembut dan menatap Vinda lekat. Dia berharap bahwa anaknya salah menemukan seseorang. Dia benar-benar ingin mantu, tetapi selain Rensi yang digilai anaknya.
Vinda mengangguk dan tersenyum. Keluarga Aditama terlalu baik untuknya. Adelardo yang melihat hanya memperhatikan Vinda lekat.
“Apa ada masalah dengannya, Randy?” tanya Adelardo sembari menatap pria yang sejak tadi berdiri disebelahnya dan menatap lekat.
Randy menggeleng. “Dia hanya shock saja. Tidak ada hal buruk yang terjadi. Dia juga baik-baik saja dan hanya butuh sedikit istirahat,” jelas Randy sembari memberikan selembar kertas kepada Adelardo yang langsung diterima, “ini resep untuk menebus obatnya. Aku hanya memberikan vitamin untuknya.”
Adelardo yang menerima mengangguk dan menatap Vinda lembut. “Vinda, mulai besok kamu sudah mulai kuliah kembali. Beasiswamu juga sudah kembali. Maafkan atas kesalahan Michael,” ucap Adelardo tepat saat pintu terbuka dan menampilkan Michael yang masih dengan tampang santainya. Vinda yang melihat hanya mengabaikan dan tersenyum menatap Adelardo.
“Terima kasih, Tuan,” ucap Vina dengan mata berbinar dan menatap ke jendela. Hari sudah hampir gelap. “Maaf, Tuan, saya harus segera pulang ke rumah. Terima kasih semuanya dan maaf merepotkan.” Vinda langsung turun dari ranjang dan itu membuat Tasya yang sejak tadi duduk disebelahnya merasa kecewa. Entah mengapa dia senang Vinda ada dirumahnya.
“Biar Ael yang mengantar,” tawar Adelardo dan mendapatkan tatapan protes dari anaknya.
Vinda menatap Michael yang enggan menuruti kemauan papanya. “Tidak perlu, Tuan. Saya sudah membawa sepeda. Jadi, biar saya pulang sendiri saja.”
“Ah, iya, biar Michael yang mengatar,” tambah Tasya sembari menatap Michael tajam, tidak mau dibantah, “biar sepedanya ditaruh di sini aja. Kapan-kapan bisa kamu ambil lagi.”
Vinda baru saja hendak menolak karena dia tau Michael tidak mau dan dia tidak berharap. Kakinya masih bisa digunakan untuk mengayuh sepeda meski kepalanya sedikit sakt. Namun, sebuah suara menghentikannya.
“Ya sudah, ayo pulang,” kata Michael dan langsung keluar ruangan.
Vinda yang hendak memprotes langsung diurungkan. Dia memilih untuk mengikuti Michaal yang sudah melangkah lebih dahulu. Setelah berpamitan, dia langsung menyusul Michael. Bukan dia tidak tau apa yang dirasakan pria tersebut. Dia benar-benar tau kalau Michael enggan duduk dengannya.
“Kalau kamu gak mau, aku bisa pulang sendiri,” usul Vinda tidak mau merepotkan.
“Diam. Pasang sabuk pengaman dan jangan banyak bicara,” tegas Michael tanpa menoleh ke arah Vinda yang sudah duduk disebelahnya. Dia muak dengan tingkah sok baik wanita disebelahnya.
Sedangkan di rumah, Tasya tampak bahagia dan itu membuat Adelardo bertanya-tanya. Ada apa dengan istrinya? Sejak tadi hanya tersenyum dan tidak luntur-luntur.
“Vinda itu manis ya, Pa. Mama jadi gemes,” ucap Tasya menjawab semua pertanyaan Adelardo. Dia hanya mengangguk dan memeluk istirnya untuk masuk ke dalam rumah, setelah memastikan Michael keluar dari pekarangan rumah.
_____
ael apakabar, gak pingin bales tuh
masa bacanya Michael bintangbintangbintang kertas 😑🙄