Sedang REVISI
Info novel 👉🏻 ig @syifa_sifana
Dendam sang anak yang membuatnya terjerumus pergaulan bebas.
Hidayah datang membuatnya kembali dan bertaubat kepada Allah.
Dalam Taubatnya ia menemukan Cinta yang sekian lama hatinya tertutup karena masa lalu nya yang suram.
Balasan Allah kepada hamba-Nya yang bertaubat.
Kisah Cinta yang Romantis dan perjalan Cinta yang Menguras Air Mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syifa Sifana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EP : 10 KELUARGA BAHAGIA
"Mas mohon jangan pergi! pinta Salman memeluk erat tubuh istrinya. Asyi hanya terdiam dalam tetesan air mata.
"Mas sama sekali nggak perasaan apapun kepada Nana," ucap Salman berusaha menjelaskan kepada istrinya.
"Lepas, Mas!" pinta Asyi sengau.
Salman membalikan tubuh Asyi menghadap dirinya.
"Sayang, menangis?" Asyi membuang wajahnya, Salman segera mendekapnya.
"Jangan menangis! Mas pilih kamu bukan dia. Kamu sekarang istrinya Mas bukan dia, kamu nggak boleh seperti ini, Sayang." Membelai seraya mencium keningnya.
Asyi mengangkat kepala menatap suaminya dan berkata, "Iya Mas, tapi lepaskan dulu pelukan Mas! Malu dilihat orang," mata celingungan melihat beberapa pasang mata memandang ke arahnya.
"Nggak mau, Sayang. Biarin orang tau, kamu ini istrinya Mas," celotehnya manja.
"Pak, Bu, ini makanan dan minumannya."
Salman menarik tangan Asyib lalu duduk kembali. Kecemburuan yang terjadi sangat menggemaskan, untung di luar, kalau sedang berduaan pipi Asyi pasti sudah dicubit.
...****************...
Setelah melakukan perjalanan yang lumayan jauh. Kini Maira dan Mira tiba di rumah tercinta. Dengan girangnya mereka masuk menyapa ibunya.
"Anak Mama akhirnya sampai juga." Sara memeluk mereka silih berganti dan tak lupa ciuman kerinduan di kedua pipi mereka.
"Kami rindu banget sama Mama," celoteh mereka manja, merebahkan kepala ke pundak ibunya.
Mengusap kepala mereka dengan lembut. Lalu mengajak mereka duduk di sofa.
"Ma, Kak Salman sama Mbak Asyi di mana?" Maira celingukan mencari mereka.
"Iya Ma, aku pun dari tadi gak liat mereka, kemana mereka?"
Bibir Sara terhenti saat mendengar ketukan pintu.
Maira dan Mira berlarian ke arah pintu utama.
Salman tersenyum membuka lebar tangannya, ternyata adik-adiknya malah berbelok memeluk Asyi.
"Mbak, kami rindu banget," mendongak sebentar lalu mengeratkan pelukannya lagi.
"Kakak kalian di sini, kenapa kalian malah meluk Asyi?" protesnya berkacak pinggang.
"Bodo amat. Kakak jauh-jauh sana!" melirik sinis sambil melambaikan tangan.
"Nggak ada, pokok kalian nggak boleh peluk istri Kakak lagi, lepas-lepas!"ketus Salman mencoba menarik tangan adiknya.
"Mas, jangan seperti itu ah! Kayak anak kecil, malu tau," cerocos Asyi menyeringai.
"Tega banget kalian, masa nggak rindu sama Kakak yang paling ganteng ini," ujarnya melas sambil mengusap rambutnya.
"Nggak!" ucap mereka kompak.
Asyi tertawa melihat ekspresi Salman pura pura sedih diledekin adik adiknya.
"Oh gitu, ingat ya! Ulang tahun kali ini kalian nggak dapat kado dari Kakak."
"Jangan! kami rindu kakak kok," Mira dan Maira kompak melepas pelukan Asyi dan memeluk dan mencium pipi Salman.
"Kalau ada maunya aja," cibirnya.
"Enggak loh, kami saaayang Kakak."
"Sudah cukup adegan manja-manjanya! Sekarang kalian pergi mandi, siap-siap kita sholat magrib berjamaah!" titah Sara menghampiri mereka.
"Siap, Ma." Semuanya berpencar menuju kamar masing-masing.
Usai shalat magrib mereka semua diminta untuk bersiap-siap karena akan makan di luar.
Tak ada rasa kecurigaan, mereka semua bersiap-siap, memakai gaun baru yang telah dibeli.
Melihat Salman dan Asyi turun dengan bergandengan mampu mencuri perhatian semua orang, bahkan ribuan pujian diraih mereka.
Tidak ingin mengganggu mereka, Salman dan Asyi diminta untuk pergi dengan mobil yang berbeda.
Salman dengan senang hati mengemudi, tangan kirinya terus menggenggam tangan Asyi, sesekali menciumnya.
"Sayang, kamu cantik sekali malam ini," puji Salman melirik dan mencium tangan istrinya.
"Memangnya biasanya aku nggak cantik ya?"
"Cantik, tapi kalau kamu memakai baju seksi," ujarnya menyeringai.
"Mas!" Asyi malu mendorong wajah Salman dari samping.
"Berasa udah pernah lihat aku pakai baju seksi aja," gumamnya kembali.
"Udah dong, saat kamu ganti baju. Seksi sekali," jawab Salman spontan.
Asyi membelalak, menoleh menatap Salman. "Jadi selama ini Mas intipin aku?"
"Bukan intip, Sayang. Tapi surga di depan mata, sayang kalau dilewatkan."
"Ihhh, Mas ini." Pipi putih itu seketika memerah.
Salman meraih tangan Asyi dan kembali menciumnya. "Mas berharap secepatnya bisa memilikimu seutuhnya."
Asyi tersenyum menganggukkan kepala.
Kedua mobil sampai berbarengan dan parkir berdampingan.
Salman turun, membukakan pintu untuk istrinya, lalu menggandeng tangannya berjalan masuk ke restoran.
Papa turun juga membukakan pintu untuk istri dan anak-anaknya. Tidak mau kalah juga, Papa selalu menggandeng istrinya berjalan masuk ke restoran.
Semuanya duduk di kursi, Yusuf mulai membuka suara. "Malam ini Papa sama Mama sengaja siapkan semuanya untuk merayakan hari kelulusan Mira dan Maira yang sudah berhasil menjadi juara kelas tahun ini."
"Ya Allah, Pa, Ma, thank you so much/," ucap Mira dan Maira terharu.
"Congratulations adik-adik Kakak."
"Selamat ya Mira, Maira."
"Selamat Non Mira, Non Maira," ucap Bi Asih dan Pak sopir.
"Terima kasih untuk semuanya."
"Kalau begitu ayo silahkan dimakan! Bi, Pak jangan malu-malu ya! Makanlah sepuasnya," titah Sara sangat ramah.
Semua mengangguk kepala, mengambil sendok lalu mencicipi makanan di depannya.
Sara dan Yusuf majikan yang sangat sempurna, tak ada perbedaan bagi mereka, semuanya setara.