Demi harta warisan, Gadhiata rela menikahi gadis cupu pilihan sang kakek. Pernikahan sandiwara yang akan mereka jalani apakah berjalan sesuai rencana? Apa Hanum sang calon istri akan diam saja saat mengetahui dia hanya dipakai sebagai alat? Bagaimana jika Hanum marah, apakah gadis cupu itu akan menjadi suhu? Hanya untuk membalas dendam pada perlakuan Arrogant Gadhiata selama ini padanya yang memandang sebelah mata.
Baca juga novel Sept yang lain :
Rahim Bayaran
Suami Satu Malam
Dinikahi Milyader
Suamiku Pria Tulen
Dea I love you
My boss my Husband
Pernikahan Tanpa rasa
Menikahi pria dewasa
Cinta yang terbelah
Wanita Pilihan CEO
The Lost Mafia Boy
Dokter Asha and KOMPOL Bimasena
KANINA yang Ternoda
IG Sept_September2020
Fb Sept September
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HULK
Crazy Rich Bagian 10
Oleh Sept
Seperti Cinderella, ketika Hanum datang di tempat itu, ia disambut layaknya seorang yang istimewa. Terbiasa mandiri, membuat Hanum merasa aneh tatkala orang-orang melayani dengan ramah. Ya, karena selama ini hidup Hanum bagai pelayan untuk orang di sekitarnya.
"Mari, Nona."
Seorang pelayan menunjukkan ke mana kaki Hanum harus melangkah. Gadis itu seperti terbius suasana di sana. Ia menurut saja ketika disuruh ke mana harus berjalan. Hanum seperti memasuki gerbang dunia baru, di mana ia tidak pernah ada di dalam sana sebelumnya.
Rumah itu terlalu besar jika disebut sebagai rumah. Terlalu luas dan terlalu banyak pegawai di sana. Sejak tadi selalu saja ada pelayan yang berpapasan dan memberi salam hormat padanya. Membuat ia tersenyum getir dalam hati. Langit Hanum seperti terbalik. Ya, dulu ia yang dihina dan direndahkan, mengapa menjadi seperti sekarang?
Sebenarnya siapa kakek Mahindra? Dan mengapa pria kaya raya itu memilih gadis miskin seperti dirinya untuk dijadikan istri cucunya? Karena pada dasarnya Hanum sadar diri, kasta mereka bagai langit dan kerak bumi, sungguh jauh.
"Silahkan masuk!" Sang pelayan membuka salah satu pintu, Hanum pun masuk.
"Selamat datang, salam kenal ... Saya madam Liora. Panggil saja Madam Li. Saya akan bertanggung jawab atas diri anda selama di sini. Mohon kerja samanya."
Seorang wanita berpakaian rapi memperkenalkan diri pada Hanum. Wajahnya terlalu serius dan terbilang sangat tegas.
'Bertanggung jawab atas diriku? Maksudnya apa?' batin Hanum sembari menatap madam Li dari atas sampai bawah.
"Sebulan dari sekarang, training akan dimulai. Saya harap Nona Hanum mematuhi aturan yang kami buat. Ini jadwal Nona Hanum selama sebulan di sini."
Madam Li menyerahkan sebuah map biru pada Hanum. Gadis itu masih mencerna perkataan madam Li, kemudian tangannya meraih benda yang tadi diberikan padanya.
Dahi Hanum pelan-pelan mengkerut. Saat membaca satu persatu kegiatan apa saja yang harus ia lakukan, dan apa-apa saja yang tidak boleh dilakukan.
"Apa ini harus?" tanya Hanum saat menunjukkan salah satu kegiatan yang ada dalam list tersebut.
Madam Li spontan mengangguk tegas.
'Aku akan menikah, kan? Bukan masuk wajib militer?' batin Hanum saat melihat betapa padatnya jadwal yang harus ia jalani dari bangun pagi sampai malam menjelang. Semua bahkan terperinci dalam kertas tersebut.
"Apa ada lagi yang mau Nona tanyakan?"
Hanum menggeleng, ia cukup mengerti. Karena ia juga bukan gadis bodohhh. Benar, tidak ada makan siang gratis. Sepertinya ia harus bekerja keras sebulan ini.
"Baiklah, saya tunggu 15 menit lagi. Nanti kita bertemu lagi. Silahkan Nona ganti pakaian dan istirahat sejenak di kamar Nona."
Hanum reflek menatap dirinya sendiri. Apa ada yang salah dengan pakaiannya? Kenapa harus ganti baju segala? Perasaan bajunya masih bersih dan wangi. Meski bajunya gak bagus-bagus amat, tapi cukup rapi dan masih layak dipakai.
"Apa tidak boleh tetap memakai pakaian ini?"
Madam Li langsung menggeleng.
'Apa dia mantan jendral perang?' batin Hanum yang melihat madam Li yang terkesan berwibawa dan tegas tersebut.
***
Kamar baru Hanum ternyata cukup besar, ranjangnya pun mungkin muat untuk tidur lima orang. Apalagi seprai yang menutupi pertemukan ranjang tersebut, lembut seperti sutra.
"Nyaman sekali di sini?"
Bukkk
Hanum merebahkan tubuhnya, merasakan kelembutan bantal yang terbuat dari ribuan serpihan bulu-bulu angsa. Ia kemudian memejamkan mata sejenak. Mencoba larut dalam suasana yang seperti negeri dongeng tersebut.
"Aku rasa ini benar-benar mimpi!" gumam Hanum.
Kelopak matanya kemudian kembali terbuka, ditatapnya langit-langit kamar. Ada sebuah lukisan di atas sana. Seorang anak kecil memegang tangan seorang wanita. Mungkin itu adalah ibunya, pikir Hanum.
Tapi, tiba-tiba ia teringat sesuatu. Sepertinya lukisan itu tidak asing baginya.
"Di mana aku pernah melihat itu sebelumnya?" tanya Hanum kemudian membetulkan posisi. Ia duduk dan menatap sekeliling.
"Apa aku pernah ke sini?"
Hanum menggeleng keras.
"Sepertinya aku terlalu halu!" cibirnya pada diri sendiri.
15 menit kemudian
Seseorang mengetuk pintu kamar. Hanum yang sudah berganti pakaian dengan setelan baju yang sudah disiapkan, akhirnya membuka pintu dan menemui madam Li.
***
Di sebuah ruangan khusus yang kedap suara. Hanum menatap aneh, mengapa ia dibawa ke sana. Ada sebuah ring, ada samsak, ada banyak matras dan ada banyak orang yang menatapnya seolah sedang menantang untuk berkelahi.
"Ada apa dengan orang-orang di sini?" gumam Hanum.
"Nona, ini pakaian Nona."
"Ganti lagi?"
Asisten madam Li mengangguk pelan.
'Astaga!'
Sesaat kemudian, Hanum muncul dengan setelan baju warna putih dengan ikat pinggang dari kain warna hitam.
'Apa aku akan diajarin cara merampokk di Bank?' dalam hati ia terus bertanya-tanya.
Karena tiba-tiba ada yang menyentuh pundaknya, reflect Hanum menghindar. Dilihatnya seorang pria berotot tersenyum padanya.
"Kita mulai dari dasar, sebab saya tidak tahu sampai mana kemampuan Nona."
"Apa?"
Hanum reflek menghindar saat pria itu mau menendang.
"Bagus!" komentar pria itu kemudian kembali memasang kuda-kuda.
Kemudian Madam Li mendekat sejenak, wanita itu berbisik.
"Ini latihan pertama, Nona harus bisa bela diri."
Dalam hati Hanum membatin apa mereka mencari bodyguard untuk Gadhi? Bukan seorang istri tapi penjaga untuk pewaris global Tourshine Groups tersebut. Dalam hati ia tersenyum miris.
'Apa kakek menjadikan aku perisai untuk cucunya itu? Orang kaya memang tidak pernah tulus.'
Kesal, Hanum menyerang balik pria yang tadi mau menendang dirinya. Sekalian ia meluapkan kekesalan yang lama ia pendam pada mereka-mereka semua yang selalu menindasnya.
Dari jauh sepasang mata menatapnya dari rekaman CCTV. Ia mendesis kesal.
"Apa-apaan ini kakek, dia mau menikahkanku dengan seorang gadis preman?"
Gadhi melipat tangan, ia mendengus kesal setelah mendapat bocoran kamera CCTV dari sekretaris Jo. Sebenarnya bukan bocoran, karena Gadhi memang memaksa sekretarisnya itu untuk mematai-matai Hanum. Ia mencurigai gadis tersebut.
Sementara itu, sekretaris Jo mencoba tidak tersenyum. Ketika melihat bagaimana ekspresi Gadhi yang mengeryitkan dahi saat Hanum membuat tutornya terpelanting.
"Jo! Cari informasi yang benar! Kau tidak pernah mengatakan dia jago bela diri!" cetus Gadhi. Lagi-lagi ia menyalahkan sekretaris Jo.
"Maaf, Tuan. Itu juga saya baru tahu."
Gadhi mendesis kesal.
"Kau memang tidak bisa diandalkan!"
Sekretaris Jo hanya menundukkan wajah. Sembari menahan senyum. Mungkin baginya sangat lucu jika nanti keduanya jadi menikah. Setidaknya ada yang akan membalas dendamnya pada Gadhi yang arrogant selama ini.
"Ya sudah. Tinggalkan ruangan ini!"
"Baik, Tuan."
Setelah sekretarisnya keluar, Gadhi kembali fokus pada laptop yang memperlihatkan Hanum sedang membanting lawannya.
"Dia bukan Chucky, dia HULK!" gumamnya.
BERSAMBUNG
IG Sept_September2020
eh, konspirasi..
.....
si sulung aku umur 8 th baru punya adek.
aku menyaksikan sendiri,walau bukan aku yg mengalami.ada keluarga yg boleh dikata mampu dan berkecukupan tapi masih juga resahndan ingin menguasai harta saudaranya yg lain.padahal sdh dibagi rata oleh orangtua mereka dulunya.sampai memutuskan tali silaturahmi dg saudara2nya yg lain.