NovelToon NovelToon
Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda

Status: tamat
Genre:Anak Yatim Piatu / Tamat
Popularitas:12.5M
Nilai: 5
Nama Author: Senjahari_ID24

Karena nila setitik rusak susu sebelanga, itulah perumpamaan yang terjadi dalam kehidupan Khalisa Suci Kirani. Jejak noda yang tersemat padanya membawa lara. Cemoohan sudah akrab menyapa yang selalu ditanggapi Khalisa dengan senyuman. Bahkan secara tak terduga, orang-orang yang dianggapnya keluarga termasuk sang suami, bermain madu dan racun di balik punggungnya sebab jejak noda tersebut.

Namun, saat poros hidup yang menjadi kekuatannya terenggut dari sisinya, mampukah Khalisa tetap tersenyum kala noda itu menyeretnya hingga ke dasar nestapa?

Yudhistira Lazuardi, si pengacara muda yang memutuskan mandiri dan menjauh dari keluarganya demi meredam kisruh di dalamnya, alih-alih mendapat ketenangan, hidupnya mendadak tak lagi sama saat membiarkan sosok Khalisa yang dipenuhi problema masuk ke dalamnya.

"Dua ratus juta!"

"Dua ratus juta di muka sekarang juga, untuk dia!" Yudhistira mengarahkan telunjuknya tepat pada Khalisa. Dengan rahang mengetat dan sorot mata tajam tak terbaca.

Akankah Khalisa tetap suci semurni arti namanya? Atau justru tergerus noda yang tak pernah diinginkannya.

Ikuti kisahnya.

Jangan plagiat! Ingat Azab

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjahari_ID24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penampakan

Bab 10. Penampakan

Begitu asyiknya berjalan-jalan dengan Afkar, Khalisa baru menyadari bahwa gelap semakin larut. Jam di ponsel bututnya sudah menunjukkan pukul setengah sembilan.

“Duh, dasar aku. Kampungan banget sih, jarang main jadi begini nih, lupa waktu.”

Mengancingkan jaket Afkar lebih rapat juga memasangkan topi hangatnya, Khalisa menggendong Afkar yang masih asyik memijakkan kaki ke sana kemari di lokasi alun-alun Kota Bandung yang mulai sepi. Menggendongnya menggunakan kain jarik yang tersimpan lama di lemari sebab gendongan bayi yang biasa dipakai sudah kurang layak dipakai bepergian. Mengencangkan simpulnya, memastikan sang anak dilingkupi kehangatan.

“Kita pulang ya, Sayang. Nanti kapan-kapan kita main lagi. Afkar juga sudah waktunya bobo.”

“Af nantuk, Unda. Tapi asyik,” ujarnya sembari menguap lebar.

“Ya sudah, sekarang Af merem ya, bobo di gendongan Bunda.” Khalisa mengecup pipi gembul sang anak, lalu memeluknya erat sembari mengayunkan kaki menuju pinggiran jalan, menunggu angkutan umum jurusan ke tempatnya pulang melintas.

Dua puluh menit berlalu, angkutan jurusan yang ditunggunya tak kunjung datang. Trotoar di sekitarnya mulai lengang. Beberapa orang yang tadi sama-sama menunggu angkot sudah lebih dulu menaiki jurusan masing-masing.

Di sisi kanan dan kirinya tinggal dua orang pemuda yang sejak sepuluh menit lalu ikut berdiri tak jauh dari Khalisa. Mereka tak terlihat berniat mencegat angkot, terus menerus melirik padanya.

Riak tak aman menyeruak menyapa tengkuk. Khalisa menarik napas gelisah. Rasa takut mulai merambati punggungnya. Memutar otak, ia berpikir keras, mengamati lokasi sekitar. Lantaran tak mengamati dengan benar sebelumnya, ia baru menyadari tempatnya mencegat angkot merupakan kawasan yang minim penerangan. Matanya berlarian panik memetakan arah, mencari celah memungkinkan menyelamatkan diri andai terjadi hal darurat yang terus berlalu-lalang di benaknya.

“Hei cantik, mau ke mana? Abang antar.” Si pemuda berambut gondrong yang berada di sisi kanan menyapa dengan nada mencurigakan.

Matanya jelalatan memindai Khalisa yang tetap memikat cantiknya meski dalam dandanan super sederhana, hanya mengenakan blus longgar sebetis. Rambut hitamnya kendati dikuncir sembarang tetap tak kehilangan kilaunya. Kulitnya bersih putih langsat. Hidung bangir, bibir mungil merah muda, dengan alis hitam terbentuk rapi sejak lahir membingkai manik sendunya.

“Tidak usah, Bang. Saya nunggu angkot saja. Silakan duluan,” jawab Khalisa, bola matanya bergulir resah meredam kepanikan.

Erat, Khalisa mendekap Afkar yang berangsur terlelap. Sembari berusaha untuk tetap tidak gemetaran meski jujur saja itu sulit. Ingin berteriak minta tolong juga tidak terlihat ada orang lewat.

“Enggak baik nolak rezeki. Kalau enggak mau sama Abang itu, bagaimana kalau sama Mas saja diantar pulangnya? Pakai motor,” tawar yang satunya lagi dengan nada tak kalah mencurigakan lalu menyeret langkah mendekat. Membuat Khalisa kian panik, mati-matian mengokohkan lututnya yang lunglai diserbu rasa takut yang kian bertambah intensitasnya.

Atmosfer tidak aman berembus kencang. Kendaraan semakin jarang yang melintas mengingat waktu semakin malam. Hanya beberapa mobil pribadi yang melaju lewat dan itu pun dalam kecepatan tinggi.

Melalui kedua sudut mata Khalisa dapat melihat, si dua pemuda mencurigakan itu mengikis jarak, kian mendekat.

Terdorong rasa takut yang kian menghebat, Khalisa menguatkan tekadnya, mengambil ancang-ancang untuk berlari ke sisi kiri menuju jembatan penyeberangan. Akan tetapi, niatannya meletus sudah saat terdengar suara gaduh di belakang punggungnya. Disusul suara ribut hantaman juga teriakan.

Dari ujung kepala hingga kaki, Khalisa gemetaran ketakutan tak ubahnya gempa dahsyat. Saat suara gaduh berkurang, ia memberanikan diri berbalik. Tercengang begitu disuguhi pemandangan tak terduga.

Di belakangnya dua pemuda yang tadi mengganggunya terkapar dengan dahi berdarah. Dua orang pria adalah pelaku yang membuat si dua pemuda mencurigakan mengaduh. Dua orang pria gagah rupawan.

“Kena kalian!” Si pria berbaju polisi berseru sembari mengunci pergerakan si dua pemuda yang terkapar. “Katakan, siapa yang menyuruh kalian melakukan teror pelemparan batu pada kendaraan di jalanan!”

“Ampun, Pak. Kita enggak disuruh siapa-siapa, cuma iseng bercanda, sumpah,” ujar mereka kehilangan taringnya. Merengek seperti bayi.

“Bohong! Saya tak butuh sumpah omong kosongmu. Jelaskan semuanya di kantor polisi! Yudhis, pegangi mereka, aku akan menghubungi petugas patroli lain untuk membawa si pelaku pelemparan batu ini.”

“Ghai, tunggu. Coba lihat baik-baik.” Si pria berjas biru yang dipanggil Yudhis itu kembali bersuara.

“Bukankan si gondrong ini oknum yang sedang dicari-cari juga? Si maling jemuran pakaian dalam yang akhir-akhir ini meresahkan warga perumahan-perumahan di daerah Bandung Kota. Dasar penjahat otak mesum!” Si pria berjas biru memelintir kian kencang kedua lengan salah satu preman hingga kembali mengaduh.

“Hah, p-pakaian dalam?” refleks Khalisa berkomentar meski tergagap akibat masih dilanda keterkejutan. Ia masih gemetaran, langkahnya membeku, seolah kakinya dipaku ke tanah.

Dua orang pria itu baru menyadari akan kehadiran orang lainnya di sana. Keduanya menoleh ke arah sumber suara. Mereka berjengit nyaris terjengkang, mendapati sosok wanita cantik pucat pasi yang menggendong balita, berdiri tak jauh dari pohon rindang di sisi trotoar.

“Astaghfirullahaladzim! K-kamu manusia atau kuntilanak!” seru si pria berjas biru spontan setengah berteriak.

Bersambung.

1
Ida Setiarti
lope lope sekebon bunga 🥀🥀🥀🌹🌹🌹🌹🌹🥀🥀🥀🥀🥀🥀
Nur Inayah
aku jadi kangen baca lagi kisah Brama dan Selena🤭🤭
Nur Inayah
aku udah baca ini entah yg keberapa kali, tetep aja candu dan gak pernah bosan, semua karya kak senja emang secandu itu🥰🥰
citra marwah
Aku udh baca yg kedua kali nya....tapi masih kurang huhuhuhu suka bgt dengan sikap dan sifat yudistira....senang juga dengan Khalisa yg skrg,kasihan dengan yg dlu...
citra marwah
hahahhahahahhaha pengen jdi khalisa yg sekarang bukan yg dulu😁
citra marwah
Cah gemblung gawe kaget ....syafa syafa
citra marwah
hahhahaha geli sendiri ya khal klo ingat itu pria nyuci cd😹
Hari Saktiawan
lope lope bang Yudis
Andy Mauliana
mengsedih
Andy Mauliana
Hanya ada nopel2 ya ges
Widiyani
kapan kak rilis cerita baru nya
narugendis
kenapa iklan mulu si sekarang /Grievance/
Widi Safitri
Luar biasa
Ira Suryadi
Luar Biasa
Ira Suryadi
Padahal udh baca Ulang Novel ini yg ke 2xny ,,pas part ini masih aja nyesek,,🥺
Tina Stiawan
Luar biasa
Shieay_Laa
mantap mami Rani....... aku padamu❤️🥰😘
Shieay_Laa
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣bisa aja si Abah mah bikin orang bengek
Shieay_Laa
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Shieay_Laa
asekkkkkkkk....hahahahaha
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!