WARNING...!! SIAPKAN KOMENTAR TERPEDAS KALIAN YA😁
Novel ini di angkat dari kisah nyata mungkin pada awalnya si pihak perempuan bisa di bilang bodoh, kalau penasaran yuk lanjut baca kalau gak skip aja ya😁
"Tidak, bukan aku yang memulai. Kau yang lebih dulu mengkhianati ku. Lalu kenapa sekarang kau merasa paling tersakiti?" Winda menatap wajah suaminya dengan sesak di dadanya.
"Maafkan aku, aku khilaf. Tapi, kenapa kau malah berselingkuh dari ku?"
Lelaki yang tidak memiliki perasaan ini dengan entengnya melontarkan pertanyaan yang membuat Winda tertawa geli.
Bukan kesalahan Winda berselingkuh, sejak mereka menjalin hubungan di saat kuliah, Tama lah yang sudah mengkhianatinya terlebih dahulu.
Memaafkan berulang kali, begitu seterusnya hingga mereka menikah. Hati Winda benar-benar patah, wanita ini membalas pengkhianat suaminya. Mempertahankan rumah tangga demi nama baik masing-masing dari keluarga mereka. Linda dan Tama, hidup dalam kemunafikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10
Brak,....
Anwar, menggebrak meja tidak setuju dengan keputusan Winda yang meminta cerai setelah melahirkan. Bukannya apa-apa, setelah pernikahan Tama dan Winda hubungan Anwar dan Herman menjadi lebih dekat bahkan mereka menjalankan bisnis bersama.
Winda hanya bisa menangis, kenyataan yang ia lihat semuanya ia beritahukan kepada orangtuanya tapi Anwar hanya menganggap semua itu adalah ujian dari rumah tangga Winda dan Tama.
"Jika kau benar nekat bercerai dari Tama, mau di taruh di mana wajah keluarga kita?"
Sorot mata tua nan tajam ini tidak mampu Winda lawan.
"Tapi aku tidak bisa menjalani kehidupan rumah tangga yang seperti ini pah. Tama selalu mengkhianati ku!"
Air mata Winda semakin deras keluar.
"Pah, kau ini hanya mementingkan nama baik keluarga. Lalu bagaimana dengan nasib anak mu hah?" mamah Winda berusaha membela anaknya.
"Diam kau!" sentak Anwar, "kau juga harus ingat jika semua keluarga dan saudara mu makan dari usaha ku. Jangan coba-coba membela Winda, dia ini pemikirannya pendek!"
Weni langsung diam, tidak berani menentang semua keputusan suaminya.
Buntu, Winda tidak berhasil membujuk sang papah. Hatinya begitu sakit atas jalan hidupnya yang sangat di atur oleh Anwar.
Nekat, Winda nekat pergi ke rumah mertuanya. Winda sudah bisa menebak cemoohan apa yang akan di dapat jika mengadu kepada orangtua Tama.
"Halah, wajar saja jika Tama memeluk kliennya. Mungkin saja Tama mencoba menenangkan kliennya, kau saja yang berpikir terlalu jauh!" ucap sang mertua perempuan begitu menyayat hati Winda.
"Tama itu kan seorang pengacara, jika dia selalu bersama kliennya itu wajar saja!" timpal Herman yang selalu membela nama baik anaknya.
"Heh Winda, ingat ya. Tama itu kami sekolahkan mahal-mahal. Jika kau merusak nama baiknya hanya karena rasa cemburu mu itu awas saja!" ancam mamah Tama.
"Kalian ini, sebagai orangtua harusnya bisa menasehati anak kalian. Tapi, entah kenapa kalian ini suka sekali membela dan membenarkan apa yang salah!" ucap Winda dengan beraninya.
Sudahlah, Winda memutuskan untuk pergi dari rumah mertuanya. Hatinya terlalu sakit, semua orang sama sekali tidak ada yang membelanya.
Winda pasrah, wanita ini memutuskan untuk pulang. Baru saja dirinya hendak membuka pintu pagar, mobil Tama juga terlihat di sana. Sejak siang Tama mencari Winda, tapi tidak ketemu. Tama sudah menghubungkan orangtua Winda untuk menanyakan keberadaan Winda tapi sang mertua bilang tidak ada.
"Winwin, dari mana saja kau? aku khawatir pada mu!"
Tama bertanya dengan wajah khawatir.
"Sesuka hati ku dari mana, jangan ganggu aku!" ujar Winda yang sama sekali tidak ingin menatap wajah suaminya.
"Win, masalah aku memeluk Tania. Itu aku hanya menenangkannya saja!"
"Terserah apa kata mu Tam. Saat kita kuliah dulu apa kau lupa jika aku pernah memergoki mu di jendela? kau keluar masuk hotel? Tam, aku sudah kebal sekarang. Sekarang aku membebaskan mu melakukan apa saja sesuka hati mu!" tutur Winda yang sudah tidak peduli lagi dengan rumah tangganya.
"Tidak bisa begitu dong. Seburuk apa pun masa lalu ku, tapi aku sudah berusaha berubah. Kenapa kau tidak bisa menerima ini semua hah?" Tama mulai egois.
"Oh, begitu mau mu!" seru Winda dengan tawa renyah mencibir, "kau mau aku melupakan semua kesakitan yang kau berikan pada ku. Tam, akan aku tunjukan pada mu seperti apa rasa sakit itu...!"
Buk,....
Dengan kencang Winda menutup pintu kamar lalu menguncinya. Hati Winda telah keras, kekecewaannya pada Tama sangatlah dalam. Tidak ada air mata, yang ada hanya rasa sakit untuk membalas.
Tama terus mengetuk pintu kamar, memohon agar Winda mau membuka pintu. Sambil menjelaskan apa sebenarnya.
Bukan salah Winda, ia pernah percaya berulang kali tapi Tama berulang kali juga membohonginya. Hatinya telah mati untuk sebuah kepercayaan pada Tama.
Pukul delapan malam, suasana rumah nampak terlihat tenang. Winda sudah mulai tenang bahkan wanita ini mau makan masakan suaminya.
Tidak banyak bicara, Winda makan dengan lahapnya. Tidak peduli dengan Tama yang sejak tadi sibuk seorang diri.
"Ini buahnya, jangan lupa di makan!" ujar Tama menyodorkan sepiring potongan buah apel.
"Hemmm,....!" jawab Winda dengan malasnya.
Baru saja suasana hati Winda tenang, tiba-tiba saja ponsel Tama yang berada di atas meja berdering. Winda bisa melihat dengan jelas nama penelpon tersebut.
"Tania,...!" ujar Tama memberitahu tapi Winda tetap tidak peduli.
Tama mengangkat telpon tersebut, wajah Tama langsung berubah saat mendengar suara Tania yang sedang menjerit ketakutan.
"Habiskan makannya, Tania dalam masalah dan aku harus pergi....!" ujar Tama yang tampak Panik.
Winda hanya diam saja, tidak peduli dengan apa yang di lakukan suaminya. Menyelesaikan makan malam meskipun seleranya sudah hilang.
"Klein tapi mencurigakan. Bilang saja ada hubungan, gitu aja kok repot!" ucap Winda kesal.
Pukul dua belas malam Tama baru pulang. Winda terbangun saat mencium aroma menyengat di kamar.
"Kau minum kah?" tanya Winda geram.
"Aku minum sedikit, Tania memaksa ku tadi. Aku tidak enak mau menolak!" jawab Tama benar-benar melukai hati Winda semakin dalam.
"Wah, hebat sekali. Buru-buru pergi meninggal istri yang sedang hamil sendirian di rumah. Ternyata hanya pergi untuk minum bersama wanita lain. Hebat...!"
"Win, Tania stres. Suaminya datang kerumahnya dan hendak menganiayanya jadi aku datang untuk menolong." Jelas Tama.
"Di pikir pakai logika, dia punya tetangga kenapa tidak berteriak minta tolong saja atau lapor polisi? kenapa dia menelpon mu, kau kan hanya pengacaranya!"
Tama terdiam, ucapan Winda ada benarnya juga. Sudahlah, Winda hanya bisa bergeleng kepala dan melanjutkan tidurnya.
Tama mengusap wajahnya, melepas semua pakaiannya dan pergi mandi di tengah malam buta. Ini semakin membuat Winda yakin jika Tama dan Tania pasti ada melakukan sesuatu.
Malam telah berganti pagi, Winda tidak ingin bicara dengan suaminya jadi wanita ini memutuskan untuk pergi ke kantor pagi sekali.
Tama tidak mendapati sang istri saat bangun tidur, sudah biasa seperti ini. Jadi Tama tidak ambil pusing.
Ternyata Winda bolos bekerja hari ini begitu juga dengan Ferdi. Mereka pergi ke kota lain, Winda meminta pada Ferdi untuk membawanya pergi ke tempat wisata untuk sekedar menghilangkan beban di dada.
Semakin hari hubungan Winda dan Ferdi semakin dekat. Meskipun keduanya tidak pernah mengungkapkan perasaan, tapi semua itu berjalan seterusnya. Winda merasa nyaman saat bersama Ferdi, apa lagi Ferdi sangat peduli dengan kehamilan Winda. Perhatian yang dulu berikan Ferdi pada Winda melebihi perhatian Tama, itu yang membuat Winda nyaman saat ini. Ferdi bukan suaminya bahkan mereka baru kenal beberapa bulan tapi pria ini tahu semua apa yang di inginkan Winda.
hajar terus win 🤣🤣🤣
niat hati baca novel untuk melepas penat , eh yang ada malah bertambah bahkan max level lagi