Dikhianati oleh keluarga sendiri, tidak akan membuat Hasper Laurensya Veranichii gentar. Kunjungannya secara tidak sengaja ke sebuah mansion tua di tengah hutan, bertemu dengan Kaisar berwajah dingin, Neca Aguilera Levine sampai masuk ke dunia fantasi underground ... keajaiban tidak pernah berakhir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon иⱥиⱥツ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 9 - Jevi dan Caver
(Hasper, Xel, Jevi, dan Caver)
"Saya? Ingin tempat seperti apa?" Hasper terlihat berpikir sebelum akhirnya matanya berbinar. "Nuansa klasik kental, seperti di belakang kamar ada pantai, gunung, atau pemandangan alam lainnya. Apakah ada yang seperti itu?"
Xel menatap Hasper datar, lalu berpikir. "Ya, ada satu, dekat selat Vinichii, nama yang sama eh dengan nama saudaramu?"
"Ya. Baiklah di sana saja. Tapi sebelum itu, toko baju. Anda bawa koin tidak?"
"Untuk apa koin?" Xel mengangkat sebelah alisnya, sama seperti yang dilakukan Hasper beberapa jam yang lalu. "Aku akan membayar mereka dengan berlian."
"Ha! Terserah Anda!" decak Hasper malas.
"Jalannya di sini, Nona," Xel sudah berlalu lebih dulu tanpa menunggu Hasper.
"Dasar Penguasa Dunia," Hasper menggembungkan pipinya.
"Setidaknya, aku memesona bukan?" tanya Xel dengan percaya dirinya.
"Anda? Memesona? Tidak! Tidak sama sekali," Hasper jujur, dia tidak merasa terpesona dengan Xel sama sekali meskipun dia itu tampan dan kaya. Gadis itu sudah diberi julukan Ice oleh siswa/i sekolahnya dari SMP sampai SMA dan mungkin sampai sekarang.
"Kamu adalah orang kedua yang mengatakannya setelah Zenya. Ya, mungkin bagi kalian aku tidak memesona sama sekali."
Dia mulai lagi, batin Hasper.
Semua orang menatap Hasper dengan ekspresi terkejut. Bahkan ada yang sampai gemetaran tidak karuan. Di kerumunan orang-orang, pemilik manik ruby itu bisa mendengar orang-orang berbisik:
"Itu Permaisuri Cryzta?"
"Dia masih hidup?"
"Astaga aku tak percaya ini! Bagaimana orang mati bisa hidup kembali?"
Abaikan mereka, Hasper Laurensya Veranichii! Kamu hanya mirip dengan Hasper Cryztelly Zenya, itu saja.
Xel tiba-tiba menggandeng tangan Hasper. Membuat gadis itu merona, terkejut. Pemilik manik amethyst itu menarik Hasper lebih dekat lagi dengannya.
Hasper bisa melihat kerumunan orang-orang dengan ekspresi tidak percaya mereka:
"Dia benar-benar Permaisuri! Permaisuri hidup lagi!"
"Jangan ungkapkan identitas aslimu. Jika orang-orang tahu bahwa kamu bukan Permaisuri mereka, mereka akan membakarmu hidup-hidup karena dianggap telah melakukan praktek sihir dan menjadikan wajahmu mirip sekali dengan Permaisuri yang mereka cintai." Kata-kata Xel sukses membuat Hasper menegak ludahnya kasar. Oh astaga! Apalagi ini?
"Cukup tenang, berjalanlah seperti biasanya. Jangan gugup. Kamu tahu bukan kamu orangnya seperti apa?" bisik Xel.
Hasper mengangguk, lalu tersenyum layaknya yang dia lakukan ke orang-orang. Aneh dan familiar. Perasaan yang begitu bersahabat dengannya. Gadis itu merasa semuanya pernah terjadi dan dia mengikutinya begitu saja.
Seorang anak kecil sengaja menabraknya untuk memastikan apa itu Permaisuri mereka.
Mampus aku! Aku harus berbuat apa?
"Maaf, Yang Mulia! Maaf saya tidak sengaja!"
"Hati-hati ya, Nak!" Hasper mengelus kepala anak itu sambil tersenyum lembut.
Anak itu memberikan isyarat tangan ke arah kerumunan orang-orang bahwa yang di hadapan mereka saat ini benar-benar Permaisuri mereka. Rakyat yang semula diam senyap dengan ekspresi keterkejutan mereka mulai ribut dan bersorak sorai. "Selamat datang Yang Mulia Neftaza dan Yang Mulia Cryzta!"
Teriakan itu benar-benar ramai, menungkikkan telinga. Xel mengangkat tangannya. Kerumunan yang semula ribut menjadi diam tak bersuara. Hasper tahu arti tangan pria yang sedang menggandengnya. Itu artinya 'kami terganggu' atau 'saya sangat terganggu'. Huh! Dasar tak punya hati! umpat Hasper.
"Aku dengar suara hatimu. Setidaknya aku memang orang brengsek yang tidak punya hati. Jadi, sekian," ujar Xel santai dengan wajah dinginnya.
Kruyukkk!
Astaga mati aku! Kenapa kau harus berbunyi di saat seperti ini oh perutku yang malang? tanya Hasper merutuki dirinya sendiri.
"Tak kusangka dirimu bisa memikirkan makanan di saat-saat seperti ini, Hasper Lauren." Ucapan Xel membuat Hasper malu.
"Saya tida... Whoa!" Xel menarik tangan Hasper, berbelok ke arah gang-gang sempit, dan berhenti di sebuah rumah nuansa bar kekaisaran klasik yang dipenuhi orang-orang dari kalangan bawah sampai atas—tidak memperhatikan di kalangan mereka berada.
Saat memasuki tempat itu, ekspresi semua orang di sana sama seperti di kota tadi—terkejut. Hasper memutar bola matanya malas. "Apa lihat-lihat?" Kata-kata itu sukses meluncur dari mulut mungilnya.
Semua orang menatap tidak percaya pada Hasper; Permaisuri mereka kembali. Ini seperti mimpi. Oh astaga, Permaisuri mereka telah kembali! Orang yang bangkit dari kematian.
"Salam kami pada Permaisuri Cryzta!" Orang-orang bersorak sorai. "Salam kami pada Yang Mulia!"
Xel menepuk jidatnya pelan. Jangan lagi.
"Silahkan duduk di sini, Yang Mulia!" Semua orang berebutan ingin duduk dengan mereka.
Hasper tidak tertarik dengan tawaran orang-orang itu. Manik rubynya tertegun melihat seorang anak perempuan berusia mungkin empat belas tahun duduk di pojokan, tidak peduli dengan mereka, terlihat sedih. Gadis itu melepaskan genggaman tangan Xel, berlalu di meja-meja, menghentikan langkahnya di ujung meja pojok tempat anak perempuan itu berada.
"Selamat sore," sapa Hasper ramah. Dia pernah mengalami hal seperti ini saat kehilangan vater-nya.
"Ah... Permaisuri-i selamat so-sore!" ujar anak perempuan itu gagap.
Semua orang tertegun melihatnya. Memang aneh sikap Permaisuri mereka. Alih-alih duduk dengan bangsawan, dari dulu dia selalu memilih duduk dengan orang-orang yang sedih ataupun yang merasa terkucilkan.
Xel mengikuti Hasper. Berakhir di ujung meja, pemilik manik amethyst yang dingin itu bisa melihat Hasper menepuk bangku panjang kosong di sampingnya, menyuruhnya duduk di sana.
Xel menatap Hasper datar. Dia itu ditakuti semua orang, untuk apa dia duduk bersama orang.
"Apa yang Anda lihat? Sini!" Hasper menarik tangan Xel, sukses membuatnya duduk di samping.
Xel melipat kedua tangannya di depan dada. Bingung. Perasaan baru membuncah. Dia melihat anak perempuan di hadapannya datar. Tidak takut, anak perempuan itu balik menatapnya bingung.
"Selamat sore, Yang Mulia!"
"Ah... Selamat sore."
Tidak seperti yang diketahui orang-orang, ternyata seorang Xel bisa ramah juga meski ekspresi dan perkataannya masih tergolong dingin. Gadis itu tertegun dibuatnya.
"Lalu siapa namamu dan mengapa kamu sendiri?" Hasper membuka pembicaraan.
"Ah... Saya Jevi, saya..." Tatapan gadis itu sayu dan sedih.
"Kamu pasti sedang kesal dengan orang tuamu bukan?" tanya Hasper.
"Ya... Saya kesal..." Tebakan Hasper tidak salah.
"Terkadang, kita itu tidak bisa berharap bahwa semuanya sesuai keinginan kita eouny—adik perempuan—, kita juga harus banyak bersabar. Terkadang kita juga tidak bisa menghindari masalah yang akan terjadi. Saya juga begitu. Saya berharap bahwa semuanya akan baik-baik saja, kenyataannya adalah bahwa semuanya tidak akan selalu berjalan lancar sesuai harapan. Tapi kamu harus tahu dan yakin bahwa itu adalah yang terbaik untukmu. Mereka sedang mengujimu, menata masa depanmu menjadi sesuatu yang lebih cerah!" Hasper tersenyum hangat.
"Velha—kakak perempuan—bisa memberi saya saran?" tanya Jevi.
"Saran seperti apa?" Hasper menatap Jevi hangat layaknya menatap adik sendiri.
"Velha, bagaimana cara membuat diri sendiri tidak membenci orang lain?" Pertanyaan yang sering ditanyakan kepada Hasper melontar dari mulut Jevi.
"Eouny, coba pikirkan kebaikan mereka! Apa yang telah mereka perbuat untukmu, seberapa kecil maupun seberapa besar itu. Perbanyak ucapan terima kasih, mau itu besar ataupun kecil, mau itu baik ataupun buruk. Setiap orang pasti pernah kesal atas perlakuan buruk orang lain. Seberapa buruk itu, pasti ada hal baik yang bisa kamu ambil dari sana. Saya juga bukan seorang yang tidak bisa membenci orang lain, tapi saya bisa mengendalikannya, dan saya yakin kamu juga bisa berbuat demikian," ujar Hasper.
"Ehem!" Dehaman Xel sukses membuat Hasper menoleh.
"Ah... Maaf..." kata Hasper canggung.
"Ingin makan apa?" tanya Xel.
"Saya ingin sup labu tumbuk dengan kentang, oh ya, jangan pakai daging," jawab Hasper.
"Ya, aku tahu kamu tidak makan daging. Lanjutkan pembicaraan kalian, aku akan memesan dan menunggu," Xel mengecup pucuk kepala Hasper. Orang-orang melihat keromantisan mereka—terutama yang berpasangan—mulai menatap sekitar sambil menutup mulut mereka, berharap ada yang melakukannya.
"Siapa suruh Anda menunggu di sana? Selesai memesan, Anda harus langsung ke sini, saya ingin bertanya sesuatu," titah Hasper.
"Tidak, aku akan menunggu di sana," Xel menunjuk sebuah meja, "kalian lanjutkan dulu, aku janji akan menjawab pertanyaanmu ketika makanannya sudah siap," Xel berlalu, berhenti di depan meja kurir bayar, terlihat akrab dengan seorang lelaki.
"Velha sangat akrab dengan Yang Mulia ya. Padahal mynhear itu merupakan orang yang dingin," kata Jevi.
"Dia tidak dingin, dia hanya tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan perasaannya," decak Hasper.
Xel tiba-tiba kembali lagi ke meja Hasper dan Jevi. "Maaf, milady, sup labu tidak ada. Harga labu melambung tinggi akhir-akhir ini di sini. Hanya tersisa jamur dan kentang."
Hasper bangkit dari duduknya. "Tunggu sebentar eouny sepertinya saya harus melakukan sesuatu."
"Saya akan menunggu di sini velha," ujar Jevi.
Hasper melangkah bersama Xel setelah mendapat kepastian dari Jevi, menuju meja yang ditunjuk Xel tadi.
"Halo Permaisuri Cryzta," kekeh lelaki manik green nature itu manis. Akrab. Umurnya mungkin dua atau tiga tahun lebih tua dibanding Hasper.
Entah darimana Hasper tahu namanya, yang jelas sudah tercatat di pikirannya. "Selamat sore, Caver."
"Bagaimana kamu tahu?" bisik Xel.
"Saya juga tidak tahu, nama itu ada di pikiran saya sedaritadi!" Hasper balas berbisik.
"Kamu punya gandum tidak?" tanya Hasper mengalihkan topik dan menghindari tatapan tajam Xel.
"Sayang sekali, Tequille akhir-akhir tidak mendapat gandum yang cukup padahal saya yakin ada banyak gandum yang di panen akhir-akhir ini," ujar lelaki bernama Caver itu. "Tapi kami punya sedikit beras."
"Mengerikan sekali kondisi negara ini. Beras lebih dari cukup. Kamu punya paprika tidak?"
"Ya, masih ada tiga sampai empat buah paprika yang tersimpan di sini. Anda ingin dibuat bagaimana?" tanya Caver.
"Haluskan beras menjadi tepung, lalu haluskan paprika. Campur ke dalam tepung beras, iris jamur, kremas jamur dengan tepung paprika, rendam di minyam sayur panas dengan sepuluh nyala api sampai berwarna keemasan," Hasper menjelaskan.
"Ah... Anda membuat makanan baru lagi," kata Caver.
Hasper menoleh ke arah Xel meminta penjelasan. Pria itu hanya mengangkat bahunya: Kamu sering membuat sesuatu yang baru terutama saat di dapur dengan bahan yang tersedia. Begitu ekspresi Xel.
Hasper memutar bola matanya. "Berapa harganya?"
"Yang Mulia sudah membayarnya, sekalian dengan gadis yang duduk di sana," Caver menunjuk ke arah Jevi, memberikan ekspresi aneh. Suka. Hasper bisa membacanya.
"Kamu tahu bruder? Orang tidak akan pernah tahu bahwa ada tamu yang datang ketika tamu tersebut tidak pernah mengetuk pintu rumahnya." Kata-kata Hasper sukses membuat Caver merona.
"Astaga saya tidak tahu Anda tahu darimana tapi say..."
"Tatapanmu mengatakan bahwa 'saya sangat suka dengannya'. Matamu juga berbinar saat melihatnya," potong Hasper. Gadis itu tertawa ringan. "Saya pesan tiga piring, dua untuk saya, satu untuk gadis itu. Namanya Jevi. Saya rasa kamu harus berani berbicara padanya."
Xel terlihat jengkel. Sedaritadi yang diperhatikan Hasper bukan dirinya. Melainkan lawan bicaranya dan anak perempuan yang barusaja dikenalnya.
"Oh astaga, saya hampir lupa..." Hasper menepuk jidatnya pelan, terkekeh. "Anda ingin apa?"
Xel mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. "Samakan saja dengan milikmu."
"Baiklah, jadinya empat piring ya, saya undur diri terlebih dahulu," ujar Hasper meninggalkan Xel bersama Caver.
Xel menatap kepergian Hasper. Gadis yang unik, batinnya.
"Anda benar-benar tidak salah memilih Permaisuri ya, Yang Mulia," kata-kata Caver sukses membuat Xel menoleh padanya.
"Dia aneh," ujar Xel.
"Velha, apakah Anda membuat makanan baru lagi?" tanya Jevi.
"Kamu tahu darimana?" Hasper balik bertanya.
"Semua orang di sini sering memesan makanan yang Anda buat, terutama sup mi yang saya makan ini," kata Jevi.
"Saya tidak tahu, tapi terima kasih," ujar Hasper, tersenyum.
Xel kembali dari tempat Caver. "Pria itu sungguh berhasil membuat orang kesal dengan sifat kekanakannya."
"Eouny, Anda ingin bertanya sesuatu bukan? Tanya saja, jika dia marah saya akan menendangnya keluar," kekeh Hasper.
"Ah... Saya ingin bertanya apakah Tequille benar-benar akan dalam krisis yang serius? Maksud saya, akhir-akhir ini, meski sudah panen, hasil panennya itu entah disalurkan kemana, saya jadi curiga..." kata Jevi lirih.
"Tunggu sebentar, meski sudah panen tapi tidak terlihat hasil panennya?" tanya Hasper tidak terkejut—dia sudah memperkirakannya.
Jevi mengangguk.
"Apakah kamu pernah melihatnya sendiri?" tanya Xel.
"Pernah, satu kali. Saat malam hari. Begini ceritanya..." Hasper dan Xel memasang tampang serius dan siap mendengarkan. "Saya sedang berjalan-jalan sendirian di malam hari, tidak lama setelah matahari tenggelam di ufuk barat. Ketika itu saya melihat orang-orang di lahan sedang memanen hasil mereka. Namun orang-orang itu terlihat gelisah dengan alasan yang tidak saya tahu kenapa. Saya mengabaikan mereka lalu berjalan kembali menuju sebuah toko kecil yang menjual kue di dekat pantai; hari itu hari ulang tahun ibu saya. Saat di tengah perjalanan, empat orang prajurit yang menunggang kuda melewati saya. Saya kira ada perampokan atau sejenisnya. Saya masih mengabaikannya. Sepulang dari toko kue itu, saya melihat mereka mengambil hasil panen dari para petani dan penanam. Mereka membawanya, entah kemana. Saya kira mereka akan mengedarkannya ke kalangan rakyat. Namun, hal itu tidak pernah terjadi."
Hasper terlihat berpikir.
"Bagaimana menurutmu, Zenya?" Xel bertanya dengan hati-hati, takut salah ucap.
"Undur pertemuannya seperti yang saya bilang. Kita tidak akan menginap di penginapan manapun. Berusaha untuk menghilangkan diri kita dari peredaran Tequille. Saya akan coba bertanya pada Jevi kapan saja panen dilakukan dan kita akan tinggal di rumah Jevi atau Caver selama proses berlangsung. Anda paham?" bisik Hasper.
Xel mengangguk paham. Tidak salah pria itu memercayakan semua hal kepada Hasper karena otak cerdiknya jalan layaknya Zenya.
"Em... Begini Jevi, setelah saya pikir-piki..."
"Ini pesanan Anda, Permaisuri," Caver datang dengan empat piring di tubuhnya, layaknya seorang akrobat yang sedang melakukan atraksi.
"Syeh! Siapa yang menyuruh kamu pergi? Duduk di sana," Xel berbicara layaknya Hasper dan menunjuk bangku kosong di samping Jevi. Pria itu menoleh ke arah Hasper yang langsung disambut senyuman manis pemilik manik ruby.
"Ha? Apa yang kalian inginkan dari saya?" Caver menolak yang langsung diberikan deathglare oleh Xel: titahku mutlak!
Caver menghela nafas panjang. Pasrah. Jantungnya berdengup kencang saat duduk di samping Jevi.
Seorang pelayan lewat dan Caver langsung menghentikannya. "Tolong suruh Mei gantikan aku di kurir bayar ya!" Disambut anggukan pelayan itu. Mei adalah adik Caver.
"Baiklah, saya akan langsung mulai," ujar Hasper. "Jevi, apakah kamu tahu kapan akan dilaksanakan panen?"
"Kebetulan sekali, velha, panen akan dilaksanakan dua dae lagi," kata Jevi.
"Caver, kamu hanya tinggal berdua dengan Mei bukan?" tanya Xel.
"Dengan suami Mei, tapi saya punya rumah pribadi di sudut kota, dekat selat," jawab Caver.
"Aku akan pinjam rumah itu untuk beberapa dae ke depan."
"Kalian ingin melakukan apa?" tanya Caver.
"Mengungakapkan sesuatu dibalik krisis pangan Tequille dan Istaq," jawab Hasper gampang.
Hasper mulai menyebarkan rencananya pada Jevi dan Caver. Ditutup dengan anggukan paham mereka berdua.
"Baiklah kita akan memulainya dua dae lagi," kata Hasper mengumumkan.
"Saya pamit undur diri terlebih dahulu. Terima kasih atas saran Anda, Permaisuri Cryzta," Jevi melambaikan tangannya. "Oh ya, berapa harganya?" Pemilik manik hijau daun cerah itu mencolek bahu Caver yang tidak mendengar.
"Sudah-h dibayar oleh Yang Mulia..." ucap Caver gagap.
"Sebentar, ini untuk kamu," Hasper menunjuk satu piring dengan menu barunya.
Jevi menatap Hasper. "Ah... Terima kasih." Pemilik manik hijau daun itu tersipu. "Pemilik toko, bisakah Anda membungkusnya?"
Caver mengangguk canggung, mengambil piring yang berisi menu baru itu lalu pergi ke arah kurir bayar. Dia terlihat canggung dan blak-blakan, umurnya dan Jevi terpatok lumayan jauh. Tapi suka kan tidak memandang umur.
Setelah semuanya selesai, Hasper dan Xel bisa melihat Jevi yang melambaikan tangan, hilang di balik pintu dan Caver kembali ke tempat mereka, langsung menyembunyikan wajahnya dengan kedua telapak tangannya. "Anda berdua benar-benar jahat pada saya!"
Gelak tawa Hasper terdengar. Lalu gadis itu menggeleng kepalanya. "Tetap saja, kamu adalah tamu yang tidak mau mengetuk pintu padahal kami sudah memperlihatkan cara mengetuk yang baik dan benar kepadamu! Hati-hati dia akan berlabuh di hati orang lain, bruder!"
Sukses iya buat karyanya.
Jangan lupa mampir di karya pertamaku. Yang menceritakan seorang lelaki letoy yang selalu ditolak sama cewek dalam judul THE FAILED PLAYBOY.
terimakasih 🙏
udah aku like , like back ya kak..