Dikhianati oleh pria yang sangat ia cintai demi sebuah tahta, membuat Ningmas Danastri Kartawidjaja benar-benar terluka.
Dibawah aturan keluarga, Raden Dwipa Soeradiningrat, tak bisa berbuat apa-apa demi tahta sebagai pewaris dari Trah Soeradiningrat. Ia bahkan harus kehilangan Ningmas Danastri yang sangat ia cintai.
Namun, takdir justru membawa Ningmas Danastri ke arah yang tak disangka-sangka. Karena keterpurukannya, ia justru tanpa sadar menghabiskan malam dengan pria yang memiliki hubungan dekat dengan mantan kekasihnya.
Selain itu, satu persatu rahasia dua Trah (Trah Soeradiningrat dan Trah Kartawidjaja) yang tak pernah akur pun terbuka. Hal yang menyebabkan dua generasi terakhir selalu bersitegang itu, ternyata karena ada masa lalu yang masih belum selesai.
Bagaimanakah kelanjutan hidup Ningmas Danastri Kartawidjaja?
Akankah ia jatuh cinta pada orang yang tepat?
Apakah rahasia masa lalu dari dua keluarga yang masih belum tuntas?
Simak terus keseruan kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Tertangkap Basah
Astri melirik sekilas ke arah Raden Daksa yang menghampirinya. Pria itu duduk dengan tenang tak jauh dari Astri yang masih belum selesai dengan meetingnya.
Raden Daksa tampak mengamati Astri yang sedang serus dengan meetingnya. Wanita cantik itu, menjelaskan setiap detilnya dengan rapi dan terstruktur hingga apa yang ia sampaikan sangat mudah dipahami.
Jantung Astri berdebar keras karena ulah Raden Daksa yang terus menatapnya seperti itu. Untungnya, ia bisa tetap profesional hingga meetingnya berakhir.
"Ah, Mas Daksa!" Keluh Astri sambil melempar bola kertas ke arah Raden Daksa. Raden Daksa pun terkekeh sambil menangkap bola kertas yang dilempar oleh Istrinya.
"Kenapa to, Dek Ayu?" Tanya Raden Daksa yang pura-pura polos.
"Aku kan gugup kalo di tatap seperti itu, Mas. Bikin jadi ndak fokus saja." Keluh Astri yang membuat Raden Daksa terkekeh.
"Gak fokus saja, presentasimu bagus, Dek Ayu. Bagaimana kalau lebih fokus lagi?" Ujar Raden Daksa yang memuji kemampuan istrinya. Sementara Astri hanya tersenyum malu-malu saat Raden Daksa memujinya.
"Bagaimana, Mas? Masih lungkrah badannya?" Tanya Astri.
"Sudah lebih baik dan lebih segar, Dek Ayu. Matur suwun, njih. Mas suka rendamannya." Kata Raden Daksa yang memang menyukai racikan yang dibuat Astri untuknya berendam.
"Alhamdulillah. Nanti aku rutin buatkan seminggu dua kali racikannya untuk Mas berendam." Kata Astri yang dijawab anggukan oleh Raden Daksa.
"Mas ndak lanjut bekerja?" Tanya Astri.
"Sudah Mas serahkan ke Rama." Jawab Raden Daksa.
"Mas kok datang dari pintu luar? Memangnya dari mana?" Tanya Astri lagi.
"Ah itu, habis menemui Gareng. Minta tolong untuk membawa hape Mas ke tempat servis." Jawab Raden Daksa.
"Loh! kenapa memangnya, Mas?" Tanya Astri.
"Terjatuh tadi, Dek Ayu."
"Lagi, Mas? Astaghfirullah." Ujar Astri sambil mengusap dadanya. Sementara Raden Daksa hanya bisa tersenyum melihat reaksi istrinya.
"Sepertinya Mas harus pesan pelindung hape dari besi. Supaya ndak rusak hapenya kalau tiba-tiba jatuh." Cicit Astri yang membuat Raden Daksa terkikik.
Raden Daksa kemudian mendekat ke arah Astri. Ia membaringkan kepalanya di pangkuan Astri dengan santai. Sementara Astri, jantungnya kembali dibuat berdegub kencang karena Suaminya yang tiba-tiba tidur di pangkuannya.
"Sasa dimana ya, Mas?" Tanya Astri untuk mengalihkan kecanggungan saat ini.
"Sedang mewarnai di kamarnya bersama Sus Sari." jawab Raden Daksa.
"Apa ndak kerumah utama, Mas?" Tanya Astri yang dijawab gelengan oleh Raden Daksa.
"Mas bilang Sasa beristirahat dulu hari ini." Ujar Raden Daksa kemudian.
"Menurutmu bagaimana, Dek Ayu. Apa Mas sekolahkan saja Sasa ke sekolah formal? Seperti taman kanak-kanak atau play group." Tanya Raden Daksa yang meminta pendapat Astri.
"Di usia Sasa, memang lebih baik untuk belajar sambil bermain, Mas. Kalau dipaksa untuk terus belajar etika dan kemandirian, rasanya masih belum tepat. Apa lagi, Eyang Putrinya cukup kaku dengan masalah itu." Cerocos Astri yang menyampaikan pendapatnya hingga tanpa sadar ia mengomentari prilaku Ibu Mertuanya.
"Ngapunten, Mas. Bukan maksudku-"
"Gak apa-apa, Dek Ayu. Yang kamu sampaikan itu memang benar. Ibu memang selalu kaku dan ketat pada anak keturunannya, dan baru aku sadar jika itu berpengaruh besar pada mental Sasa akhir-akhir ini." Ujar Raden Daksa yang memotong ucapan istrinya.
"Tapi, apa Ibu bisa menerima keputusan Mas, nanti?" Tanya Astri..
"Mas akan bicara baik-baik dengan Ibu." Jawab Raden Daksa yang sepertinya sudah mantap untuk menyekolahkan putrinya di sekolah formal.
"Dek Ayu..."
"Dalem, Mas."
"Besok malam ada jamuan makan untuk menyambut menantu di rumah utama. Tapi kita diminta datang saat jam makan siang." Ujar Raden Daksa.
"Njih, Mas. Dalem manut mawon. (Iya, Mas. Aku nurut saja.)" Jawab Astri dengan patuh.
"Keluargamu juga diundang kesana, Dek Ayu. Selain itu, ada beberapa tamu lain disana." Kata Raden Daksa yang dijawab anggukan mengerti oleh Astri.
"Dek Ayu, besok adalah kali pertama kamu datang ke rumah utama. Mas tau, akan ada keluarga Mas yang mungkin tidak menyukaimu. Tapi, jangan khawatir, Mas akan berusaha untuk menjagamu disana." Kata Raden Daksa sambil menatap manik mata Astri.
"Njih, aku percaya dengan Mas Daksa." Jawab Astri.
Tangan Raden Daksa pun terulur ke arah kepala Astri. Ia menarik sirkam yang mengunci gelungan rambut Astri hingga membuat rambut panjang Astri terurai.
"Cantik..." Puji Raden Daksa.
"Kamu selalu cantik seperti dulu. Seperti awal kita bertemu." Imbuhnya.
"Mas masih ingat, awal kita bertemu?" Tanya Astri. Sejujurnya, ia sendiri sudah lupa kapan kali pertama bertemu dengan Raden Daksa itu.
"Masih." Jawab Raden Daksa.
"Pertama kali kita bertemu di acara pernikahan Paklik Arya dan Bulik Trisna (Saudara Sepupu dari Bapak Raden Daksa dan Bapak Astri)"
"Kamu memakai kebaya berwarna pink muda dengan rambut yang diikat sebagian. Rambutmu panjang dan ujungnya dibuat bergelombang. Saat itu, kamu baru lulus kuliah di luar negri." Ujar Raden Daksa yang mengenang pertemuan mereka.
Pada saat itulah, Raden Daksa jatuh cinta pada pandangan pertama pada seorang wanita, dan wanita itu adalah orang yang ia miliki saat ini.
"Ah! Iya, aku ingat." Ujar Astri.
"Padahal keluarga kita masih terhitung satu keturunan. Tapi, baru di usia dua puluh satu tahun kita saling bertemu." Kata Astri yang dijawab anggukan oleh Raden Daksa.
"Saat itu, hubungan keluarga kita baru mulai adem, Dek Ayu. Makanya saat itu Trah Soeradiningrat dan Trah Kartawidjaja bersedia berada dalam satu acara yang sama." Ujar Raden Daksa.
"Semoga kedepannya hubungan antara dua keluarga ini akan lebih baik lagi. Mungkin, akan bisa kompak dengan berbisnis bersama." Ujar Astri sambil terkekeh dan dijawab senyuman oleh Raden Daksa.
"Kalau ada keluarga Mas yang menyakitimu, jangan ragu untuk bilang ke Mas ya, Dek Ayu. Bahkan jika itu Ibu sekalipun." Pesan Raden Daksa pada Istrinya.
Ucapan suaminya itu terasa begitu menyentuh. Astri merasa kalau dirinya benar-benar dijaga dan dilindungi oleh sosok suaminya.
Raden Daksa kemudian duduk dan menghadap ke arah istrinya. Suasana sepi dan syahdu di pondokan itu, membuatnya terbawa ke dalam alunan gairah.
Ia menarik lembut tengkuk Astri yang terlihat pasrah dan menurut saja. Raden Daksa kemudian menempelkan bibirnya pada bibir sang istri dengan lembut. Perlahan, ia mulai menghisap bibir istrinya dengan hisapan-hisapan lembut yang menenangkan.
"Ayaah... Bunda... Sedang apa?" Suara Sasmaya membuat Raden Daksa dan istrinya terkejut.
Refleks, Astri mendorong dada suaminya hingga membuat Raden Daksa hampir terjatuh ke belakang.
"Ya Allah, ngapunten, Mas." Ujar Astri yang buru-buru menghampiri Raden Daksa. Sementara, Raden Daksa hanya bisa terkekeh saat ia dan Astri tertangkap basah oleh Sasmaya.
Pesona istri Raden Daksa yang kerap membuatnya tremor.
kan wong 2 kui podo2 ne , , ,