NovelToon NovelToon
Tahta, Dahaga, Dan Mahkota

Tahta, Dahaga, Dan Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Enemy to Lovers / Cinta Istana/Kuno / Wanita perkasa
Popularitas:365
Nilai: 5
Nama Author: Laygraph

"Aku akan menumpahkan darahmu di atas ranjang ini, demi rakyatku."

Itu adalah sumpah Dyah Ayu di malam pertamanya sebagai selir rampasan perang. Tangannya menggenggam erat tusuk konde beracun di balik selimut sutra. Namun, Prabu Hayam Vira—Raja kejam yang telah membumihanguskan tanah kelahirannya—hanya menatapnya dingin, lalu mencengkeram pergelangan tangannya.

"Silakan tikam aku, Selirku," bisik sang Raja dengan senyum sinis yang mengintimidasi. "Tapi jika aku mati malam ini, pastikan kau sanggup melihat adikmu dan seluruh rakyatmu dibakar hidup-hidup esok pagi."

Terjebak di dalam Keputren Kerajaan Kagendra yang indah namun beracun, Dyah Ayu harus memutar otak untuk bertahan hidup. Ia bukan hanya harus menghadapi kekejaman Raja, tetapi juga intrik mematikan dari Permaisuri Agung dan puluhan selir yang haus kekuasaan. Niat awalnya hanya satu: menghancurkan kerajaan itu dari dalam.

Namun, seiring berjalannya waktu, kekejaman sang Raja perlahan memudar, tergantikan oleh perlindungan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laygraph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Hadiah Kesetiaan

"Kau mendengkur lagi semalam."

Prabu Hayam Vira mengucapkannya sambil mengenakan kain batiknya, membelakangi ranjang. Suaranya serak, tetapi ringan. Tidak ada sisa tuak di dalamnya. Tidak ada sisa amarah.

Dyah Ayu duduk di tepi ranjang, menatap punggung lebar yang terbalut kain putih di bahu kiri. Cahaya pagi menyusup lewat celah jendela timur, jatuh tepat di tiang ranjang. Di lubang bekas anak panah yang kini kosong, serpihan kayu jati mencuat seperti duri.

"Hamba tidak mendengkur, Gusti."

"Seperti anak kucing." Ia mengikat sabuknya. "Sudah kubilang."

Di atas meja, selendang perak tergulung rapat, membungkus sesuatu yang panjang dan ramping. Dyah Ayu sudah meletakkannya di sana sebelum fajar, di samping pecahan guci yang belum disapu. Abu di lantai sudah menyatu dengan minyak cendana, menjadi noda kelabu yang tidak lagi bisa dibedakan dari kotoran.

Hayam Vira mengambil gulungan selendang itu. Ia membukanya sedikit. Ujung hitam berduri balik itu mengintip dari lipatan sutra.

Ia tidak bertanya tentang surat.

"Tali ijuknya putus saat hamba mencabutnya," ucap Dyah Ayu. "Tidak ada apa-apa di pangkalnya."

Hayam Vira menatap mata panah itu lama. Lalu ia membungkusnya kembali, rapi, dan menyelipkannya di balik sabuk.

"Lurah Lembu Peteng menemukan jejak di alang-alang belakang pagi tadi," ucapnya, masih tanpa menoleh. "Tumit sepatu Bhayangkara. Menuju ke arah gudang pusaka tua, lalu menghilang."

Dyah Ayu tidak menjawab.

"Kelelawar," gumam Raja itu. "Beringin di Keputren ini sepertinya penuh kelelawar yang memakai sepatu."

Ia berjalan ke pintu. Di ambang pintu, ia berhenti sebentar.

"Mulai hari ini, tidak ada satu pun prajurit Sayap Utara yang boleh melewati gerbang Keputren. Untuk alasan apa pun. Dan penjagamu dilipatgandakan." Ia membuka palang pintu. "Mandilah. Pakai kain yang bagus. Siang nanti kau akan kedatangan tamu."

***

Tamu itu datang dalam bentuk dua belas peti.

Peti-peti kayu cendana berukir, masing-masing dipikul empat abdi dalem, berbaris dari gerbang Kedaton melintasi halaman Keputren. Mereka tidak melewati jalan belakang. Mereka melewati selasar utama, di depan setiap paviliun selir, di bawah jendela setiap dayang, melintasi kolam teratai besar di tengah Keputren.

Di depan barisan itu, berjalan seorang lelaki tua berjubah sutra hijau dengan sorban putih. Kulitnya gelap dan berkilat, dan di kedua telinganya tergantung anting emas sebesar ibu jari. Saudagar permata dari Kerajaan Selatan, dari pelabuhan di seberang laut, yang biasanya hanya datang ke keraton dua kali setahun dan hanya melayani Permaisuri.

Dan di belakang barisan, Lurah Lembu Peteng berjalan dengan dua puluh prajurit Sayap Dalam. Wajahnya yang penuh bekas cacar tidak menunjukkan apa-apa.

Tidak ada yang berani bertanya ke mana peti-peti itu pergi.

Mereka tidak perlu bertanya. Iringan itu berbelok di ujung selasar, meninggalkan paviliun-paviliun berlapis emas, dan berjalan menembus alang-alang. Ke sudut paling sepi Keputren.

Ke Srigading.

***

Bisik-bisik itu terdengar seperti dengung lebah sebelum hujan.

Dayang-dayang berkumpul di ambang pintu paviliun, kepala-kepala menjulur, tangan menutupi mulut. Dua selir muda berdiri di tepi kolam dan pura-pura memberi makan ikan, padahal mata mereka mengikuti setiap peti. Seorang kasim menjatuhkan nampan yang ia bawa, dan tidak ada yang menegurnya.

Dua belas.

Saudagar Kerajaan Selatan. Untuk selir dari Watugaluh.

Kemarin Rakryan Wirapati dipenggal. Hari ini.

Dyah Ayu berdiri di serambi Srigading dengan kain sutra hijau tua yang dikirim dari Kedaton pagi tadi. Rambutnya digelung sederhana dengan tusuk konde perak. Ia melihat peti-peti itu diletakkan berjajar di atas rumput yang baru dipangkas, satu per satu.

Saudagar tua itu membungkuk dalam-dalam di depannya. Lalu ia mulai membuka peti.

Peti pertama: kain sutra. Bukan sutra dari pantai utara, melainkan sutra tipis dari negeri seberang, berwarna merah anggur, biru langit malam, dan kuning kunyit. Ketika saudagar itu mengangkat selembar dan membiarkannya jatuh, kain itu mengalir seperti air, berkilau di bawah matahari siang.

Peti kedua dan ketiga: perhiasan emas. Gelang berukir naga yang saling membelit. Kalung bersusun tiga dengan liontin berbentuk teratai. Anting-anting berbentuk bulan sabit dengan butiran mutiara. Emasnya bukan emas muda yang kekuningan, melainkan emas tua yang kemerahan, diukir begitu halus sampai setiap sisik naga terlihat jelas.

Dayang-dayang yang mengintip dari kejauhan menahan napas.

Peti-peti berikutnya berisi minyak wangi dalam botol kaca, cermin perak, kotak sirih bertatahkan gading, kipas dari bulu burung merak putih.

Lalu saudagar itu berhenti di depan peti terakhir. Yang paling kecil, tidak lebih besar dari kotak sirih, dari kayu eboni yang dipernis begitu licin sampai Dyah Ayu bisa melihat bayangan dagunya sendiri di tutupnya.

Saudagar itu membukanya dengan dua tangan. Pelan, seperti membuka bungkusan sesaji.

Seuntai rantai emas tipis tergulung di atas alas beludru. Di tengahnya, sebutir batu sebesar telur burung puyuh. Saudagar itu memiringkan peti ke arah matahari, dan batu itu melemparkan bintik cahaya merah ke punggung tangannya yang keriput. Bintik itu bergetar setiap kali ia bernapas.

Di belakang Dyah Ayu, sesuatu jatuh dan pecah. Salah satu dayang baru Srigading berdiri dengan kedua tangan masih terangkat, kosong, dan air dari kendinya merembes di antara papan serambi.

"Tirta Rudira," bisik saudagar itu, menunduk. "Delima dari tambang Sailan. Hanya ada dua di dunia. Yang satu di mahkota Maharaja Cina."

Dyah Ayu menatap batu itu. Ia pernah mendengar namanya. Di silsilah Empu Wiradarma, di catatan tentang kelahiran Putra Mahkota tujuh tahun lalu.

Sinuwun menjanjikan Tirta Rudira kepada Permaisuri jika ia melahirkan seorang putra. Permaisuri melahirkan seorang putra. Batu itu tidak pernah diserahkan.

***

"Tinggalkan kami."

Suara itu datang dari balik alang-alang. Saudagar tua itu langsung bersujud, dahinya menyentuh rumput. Para abdi dalem dan dayang-dayang mundur dengan tergesa, menghilang ke balik pagar.

Prabu Hayam Vira melangkah ke serambi Srigading. Ia tidak mengenakan mahkota. Kain batiknya sederhana, hitam dengan garis emas tipis. Lengan kirinya masih terikat ke dada.

Ia berhenti di depan peti hitam kecil itu. Mengambil kalung Tirta Rudira dengan satu tangan, mengangkatnya, membiarkan batu merah itu berayun pelan di ujung rantai.

"Berbalik."

Dyah Ayu berbalik.

Ia merasakan rantai emas yang dingin melingkari lehernya. Jemari Raja itu menyentuh tengkuknya, kasar dan hangat, mengaitkan pengait kecil di belakang. Lama. Lebih lama dari yang diperlukan untuk mengaitkan sebuah kalung.

Batu merah itu jatuh di antara tulang selangkanya. Berat. Dingin. Tepat di atas garis tipis luka yang ditinggalkan ujung Kyai Naga Sasra semalam.

"Gusti sedang menggantung hamba di depan seluruh Keputren," ucap Dyah Ayu pelan, tanpa berbalik. "Seperti emas di ujung tombak. Supaya semua orang tahu ke mana harus membidik."

"Supaya semua orang tahu," jawab Hayam Vira di belakang telinganya, "milik siapa yang akan mereka bidik."

Ia membalikkan tubuh Dyah Ayu menghadapnya. Matanya turun ke batu merah di lehernya, lalu naik ke wajahnya.

"Ada satu hadiah lagi."

Ia memberi isyarat ke arah pagar. Seorang abdi dalem bergegas masuk, memikul sesuatu yang dibungkus kain putih, meletakkannya di atas lantai serambi, lalu pergi lagi.

Hayam Vira membuka kainnya sendiri.

Sebuah anglo kecil dari perunggu. Sederhana, tanpa ukiran, dengan tiga kaki berbentuk cakar macan dan pegangan dari tembaga. Di dalamnya, sudah ada segenggam arang kayu jati yang belum dinyalakan.

Dyah Ayu menatap anglo itu.

"Untuk musim dingin," ucap Raja itu. "Srigading lembap dan dingin di malam hari. Dan pelitamu terlalu kecil."

Ia menunduk sedikit, sampai bibirnya hampir menyentuh pelipis Dyah Ayu.

"Kalau ada lagi yang ingin kau bakar, gunakan anglo ini. Bukan pelita. Minyak cendana di lantai itu bisa ikut tersulut. Aku tidak mau kehilangan paviliun kedua untukmu dalam satu bulan."

Dyah Ayu merasakan seluruh tubuhnya mendingin. Lalu memanas.

Ia mengangkat matanya. Hayam Vira sedang menatapnya. Tidak ada senyum. Tidak ada kemarahan. Hanya mata hitam yang tajam dan jernih, menunggu.

Ia tahu.

Ia tidak tahu apa yang ditulis di lontar itu. Ia tidak bisa tahu. Tetapi ia tahu ada sesuatu yang dibakar. Ia tahu Dyah Ayu berdiri di depan pelita dengan sesuatu di tangannya, lalu kembali ke ranjang dan meletakkan tangannya sendiri di dalam genggamannya.

Dan ia memilih untuk tidak bertanya.

"Abu lebih mudah disapu daripada darah, Gusti," ucap Dyah Ayu akhirnya.

Sudut bibir Hayam Vira bergerak. Hanya sedikit.

"Itulah sebabnya aku membelikanmu anglo, bukan pedang."

Ia mengangkat tangan dan menyentuh batu merah di leher Dyah Ayu dengan ujung jari. Batu itu sudah menghangat oleh kulitnya.

"Tirta Rudira dijanjikan kepada seseorang yang memberiku seorang putra," gumamnya. "Aku tidak pernah menyerahkannya, karena aku tidak pernah yakin putra itu akan dibesarkan untuk takhtaku, atau untuk kakeknya."

Ia menarik jarinya.

"Kau memberiku sesuatu yang lain semalam. Kau tetap di sini."

***

Anjungan Keputren berada di lantai dua Paviliun Permaisuri, menghadap ke seluruh kompleks seperti mahkota di atas kepala.

Dari sana, Gusti Prabaswari bisa melihat setiap selasar, setiap kolam, setiap atap. Ia bisa melihat iringan dua belas peti yang melintas di bawah jendelanya, berbelok ke ujung selasar, dan menghilang ke dalam alang-alang.

Ia bisa melihat atap Srigading, kecil dan jelek di sudut tembok, dengan matahari siang yang memantul di sesuatu yang berwarna merah di serambinya.

Ia bisa melihat suaminya berdiri di sana. Sendirian. Tanpa mahkota. Mengaitkan sesuatu di leher seorang perempuan.

Nyi Ageng Rukmi berdiri di belakangnya. Ratih bersimpuh di sudut, menunduk, menuang teh ke cawan yang tidak diminum siapa pun.

Prabaswari tidak mengatakan apa-apa untuk waktu yang lama.

Di tangannya, ia memegang kipas lipat dari kayu cendana. Bilah-bilahnya diukir halus dengan motif teratai, dan di tengahnya tertanam butiran mutiara kecil. Hadiah dari Hayam Vira pada hari pernikahan mereka, empat belas tahun lalu.

Ia menggenggam kipas itu. Jemarinya menekan bilah-bilah tipis di dalam kepalannya.

Bunyi kayu yang patah terdengar sangat jelas di anjungan yang sunyi. Sekali. Lalu sekali lagi. Lalu banyak sekaligus, seperti ranting kering yang diinjak.

Ratih menumpahkan teh di atas nampan. Tidak ada yang menegurnya.

Prabaswari membuka tangannya. Serpihan kayu cendana dan butiran mutiara berjatuhan ke lantai. Telapak tangannya tergores, dan setetes darah merah muncul di garis luka yang tipis.

Ia menatap darah itu. Lalu menatap batu merah yang berkilau di kejauhan.

"Rukmi," ucapnya. Suaranya sangat tenang. Lebih tenang dari yang pernah didengar Ratih selama ia melayaninya.

"Gusti."

"Kirim pesan ke Lereng Kawi malam ini. Ke rumah di ujung hutan pinus, di bawah batu besar yang terbelah." Ia menyeka darah di telapak tangannya dengan ujung kemben sutranya, perlahan. "Panggil Nyai Ganggeng. Katakan padanya aku membutuhkan apa yang dulu ia berikan kepada ibuku. Untuk perempuan di menara barat."

Di sudut anjungan, tangan Ratih yang memegang cerek teh berhenti bergerak.

Nyi Ageng Rukmi tidak menjawab. Bekas luka di alisnya berkerut.

"Dan kirim satu pesan lagi ke barak Sayap Utara. Kepada orang kita di sana." Prabaswari berbalik dari jendela. Wajahnya putih pualam, dan untuk pertama kalinya tidak ada senyum yang dikenakan di atasnya. "Katakan padanya, aku tidak akan menunggu sampai Purnama Kadasa."

Ia menginjak serpihan kipas di lantai. Kayu cendana itu hancur di bawah tumitnya.

"Sebelum bulan itu penuh, perempuan Watugaluh itu akan memohon kepada para dewa untuk mati. Dan Sinuwun akan memeluk mayatnya dengan tangannya sendiri."

1
Agus Tina
Bagus ceritanya
Agus Tina
Sepertinya semua cerita tentang istana memang penuh dengan intrik dan kepalsuan
Laygraph: Iya kak, bahkan banyak sejahrawan mencatat banyak relief yang membuktikan Konspirasi sudah ada sejak zaman kerajaan kuno. bahkan sampai sekarang. 😄
total 1 replies
Agus Tina
Cerita, alur, cara menukis ceritq ini bagus semua ... kenapa yg like sedikit? Ayo pembaca
.. ke sini ... cerutqnya bagus loh
..
Laygraph: Terimakasih masukannya kak, semoga setia sampai ceritanya selesai yah 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!