Arzya Geovanka Razeta, yang kerap disapa Arzya atau zaza ini merupakan gadis yang sangat terkenal dengan sikapnya yang pendiam. Bahkan ia sempat dijuluki sebagai patung berjalan karena wajahnya yang selalu terlihat datar. Arzya memang selalu bersikap seperti itu pada orang-orang yang baru ia kenali.
Di dalam diamnya Arzya menyimpan begitu banyak rahasia yang ia simpan dengan rapat, bahkan hatinya yang rapuh pun hanya dia yang tahu. Terlebih lagi
Arzya sangat pandai menutupi sifat asli yang ceria, cerewet, gokil dan apa adanya.
Tanpa sengaja ia bertemu dengan seseorang yang memberikan dia sesuatu yang selama ini tidak ia rasakan. Ya Arzya mendapatkan kasih sayang dari sang ketua osis disekolagnya. Dia mampu meluluhkan hati Arzya yang dingin itu.
Seperti kata orang, apa yang kita dengar belum tentu yang sebenarnya, kata itu selalu terngiang dibenak Arzan.
Follow IG : eh.han28
....
INI MURNI KARYA AUTHOR JIKA ADA KESAMAAN NAMA ATAU TEMPAT ITU HAL YANG WAJAR KARENA INI HANYA FITIF BELAKA! DAN MOHON JANGAN ADA PENIRU ATAUPUN PLAGIATISME KARENA ADA HUKUM YANG BERLAKU BAGI YANG MELAKUKAN PLAGIATISME!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aku masih menunggu mu!, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah Sangka
Arzan mengikuti langkah kaki Arzya, ia masih ingin menyelesaikan persoalan dirooftop tadi. Arzya tidak memeprdulikannya, ia memilih perpustakaan sekolah sebagai tempat menyendiri. Sudah banyak masalah yang ia hadapi dan ia tidak ingin bermasalah juga disekolah karena itu akan membuatnya semakin pusing.
Arzya melepaskan sepatunya sebelum masuk kedalam perpustakaan, ya didalam tidak boleh menggunakan alas kaki kecuali petugas. Setelah meletakan sepatunya dirak yang ada didepan perpustakaan, Arzya mengangguk sambil tersenyum tipis untuk menyapa petugas perpustakaan yang masih muda itu.
Kemudian Arzya berjalan menuju deretan buku yang berjajan rapi, ia memilih sebuah novel untuk ia baca. Setelah menemukan novel yang pas, Arzya duduk di meja pojok dekat dengan jendela sehingga ia bisa menatap luar saat matanya capek melihat tulisan-tulisan itu.
Arzya membaca cover buku itu sekilas, lalu membalik setiap lembar bab yang sudah ia baca. Arzya tidak memperdulikan sesorang yang sejak tadi mengikutinya, Arzan.
"Lo belum jawab pertanyaan gue," bisik Arzan karena didalam perpustakaan dilarang mengobol ataupun membaca dengan bersuara karena itu akan sangat mengganggu orang lain.
Arzya tidak menjawab ia hanya memutar kedua bola matanya malas, ia sedang asyik membaca dan tidak ingin terganggu. Namun, sepertinya Arzan menepati kata-katanya. Ia akan samakin mengganggu Arzya jika mengacuhkan dirinya.
"Lo liatkan tadi apa yang gue lakuin dirooftop?" tanya Arzan.
Arzya hanya menggeleng dan itu kenyataannya hanya saja Arzan tidak mempercayainya.
"Gak mungkin kalau lo gak liat, kan lo disana?" tanya Arzan lagi.
Tangan Arzan menutup novel yang sedang Arzya baca, lalu ia mengambil novel itu dan disembunyikan dibelakang badannya.
"Jawab, gue!" tegas Arzan.
"Gak penting!" dua kata itu membuat Arzan tersentak kaget.
"Gue gak penting?" batin Arzan.
"Lo batu atau apa sih!" kesal Arzan.
Arzya menujuk dirinya sendiri, "Menurut lo?" tanya balik Arzya.
"Cih!"
Arzan menarik nafasnya panjang, ia sedang berusaha mengendalikan amarahnya menghadapi Arzya.
"Gue gak liat," ucap Arzya sambil merebut kembali novel yang disembunyikan Arzan.
Arzya tidak menyadari posisinya saat ini sangat dekat dengan Arzan. Arzan bahkan bisa menghirup wangi parfum Arzya yang sangat menyegarkan di indra penciumannya.
Arzan hanya bisa diam saja menatap wajah cantik didepannya ini, jarak mereka hanya sepuluh centi saja sehingga Arzan dapat merasakan hangatnya hembusan nafas Arzya.
"Cantik alami," batin Arzan.
Tangan kanan Arzya terulur mengambil novel yang berada dibelakang tubuh Arzan, sedangkan tangan satunya bertumpu pada meja. Posisi mereka saat ini membuat orang yang melihatnya menjadi salah paham.
Set!
Tanpa perlawanan Arzya berhasil memgambil novelnya lalu kembali duduk ditempat semula, sedangkan Arzan masih diam seperti patung.
Hingga ponselnya bergetar yang membuat Arzan tersadar dari terpesonanya.
Drrttt Drrtt!
"Halo?" ucap Arzan saat sudah menggeser warna hijau pada layarnya.
"Heh, muka lo mana kok gelap?" tanya seseorang diseberang sana.
Ya, Arzan tidak menyadari jika itu panggilan video karena matanya fokus menatap Arzya.
"Zan, woy tarzan!" geram seseorang hingga terdengar oleh Arzya.
Arzya melirik kesamping sambil menggelengkan kepalanya sekilas, "Video" kata Arzya.
"Heh suara siapa itu, pantes aja lo diem aja lagi sama cewek ya? Lo dimana, cewek itu siapa?" tanya seseorang itu seperti wartawan.
"Kepo!" kata Arzan saat wajahnya sudah terlihat dilayar ponselnya.
"Gue cuma penasaran cewek mana lagi yang mau lo baperin?" tanyanya.
"Berisik lo, Ndu!" ya panggilan video itu dari Pandu.
"Lo dimana, disuruh patroli malah ilang... si Alvin malah ikut makan bakso dikantin, kalau ketahuan bisa bahaya!" cecar Pandu dari sambungan video itu.
"Gue ada urusan!" kata Arzan.
"Urusan apa? Baperin cewek?" tanya Pandu, karena malas menanggapi pertanyaan Pandu, Arzan langsung mematikan sambungan vidio call itu secara sepihak.
Lalu mengatur ponselnya dalam mode silent. Setelah itu ia melipat kedua tangannya diatas meja untuk dijadikan bantalan, Arzan merebahkan kepalanya sambil mematap Arzya yang sedang serius membaca.
Tanpa sadar Arzan tersenyum sebelum ia tertidur disebelah meja Arzya.
Hingga waktu istirahat kedua habis Arzya baru beranjak dari duduknya begitu juga dengan novel yang ia baca sudah habis sampai endingnya.
Arzya melihat meja disebelahnya yang masih terdapat Arzan disana, ia tertidur dengan sangat nyenyak. Bahkan Arzya melihat beberapa kali ponselnya menyala menandakan ada panggilan masuk.
Arzya pergi begitu saja tanpa membangunkan Arzan, tetapi saat didepan pintu ia dimintai tolong petugas perpustakaan untuk membangunkan Arzan karena sebentar lagi perpustakaan akan ditutup. Petugas perpustakaan itu ada acara sehingga ia menutup lebih awal lagi, terlebih lagi guru yang biasa membantunya berjaga sedang sakit.
Dengan terpaksa Arzya kembali ke mejanya tadi, ia berdiri tepat disebelah Arzyan.
Tok tok tok
Bukan suara pintu melainkan suara meja yang diketuk berulang kali oleh Arzya agar membangunkan sang ketua osis.
"Berisik, pergi sana ganggu aja!" gumam Arzan.
Arzya berdecak kesal jika bukan petugas perpustakaan yang meminta bantuannya ia juga tidak mau melakukan ini.
"Bangun sekarang atau lo dikunci disini!" bisik Arzya sedikit kencang membuat Arzan kaget dan langsung duduk walaupun nyawanya belum balik sepenuhnya.
Mata Arzan masih terpejam membuat Arzya memutar bola matanya malas, dengan terpaksa ia menepuk pipi Arzan beberapa kali hingga Arzan benar-benar membuka matanya.
Puk puk puk!
"Dingin woy, singkirin dari pipi gue es nya!" teriak Arzan karena kaget.
Mendengar itu Arzya langsung kembali ke ruang kelasnya, sedangkan Arzan sedang kebingungan mencari siapa yang memegang pipinya tadi. Ia merasa pipinya tersentuh oleh es atau minuman dingin karena memang terasa dingin saat menyentuh kulitnya.
Arzan mengambil sepatunya dan bertanya kepada petugas perpustakaan yang sedang mengunci pintu.
"Tadi Bu Mawar yang bagunin saya?" tanya Arzan sopan.
"Gak tuh, tadi saya suruh temen yang duduk disebelah kamu," kata Bu Mawar sambil menatap Arzan.
"Kenapa?" tanyanya.
"Gak bu, cuma nanya aja," jawab Arzan kikuk.
"Kamu juga tumben tidur diperpus biasanya kan dikantin gombalin cewek-cewek," ledek bu Mawar sambil terkekeh.
"Saya gak seperti itu ya, bu! Bu Mawar mah kebanyakn denger gosip ini," kata Arzan tidak terima.
"Saya bukan kemakan gosip tapi saya lihat sendiri," ucap Bu Mawar sambil terkekeh setelah itu beliau buru-buru karena ada acara.
Arzan hanya diam saja sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Zan! Ohh Arzan!" panggil Daffin menirukan logat seperti upin dan ipin.
"Sut berisik!" kesal Arzan.
"Lo kemana aja sih, ilang gitu aja. Ditelepon gak diangkat di sms juga gak dibales, apa sih maumu?" tanya Daffin dengan nada sesuai lagunya.
"Tidur," kata Arzan sambil berjalan ke arah kelasnya diikuti Daffin.
"What lo tidur sama cewek mana?" teriak Daffin membuat mereka berdua menjadi pusat perhatian.
"Kok gue punya temen kaya lo, sih!" gerutu Arzan sambil menarik lengan Daffin ia membisikan sesuatu.
"Gue tidur diperpustakaan bukan tidur sama cewek!"
"Lah kata Pandu lo lagi bareng sama cewek pas dia telepon lo, habis itu teleponnya lo matiin... gimana gue gak mikir kesana coba?" tanya Daffin seolah sedang mengintrogasi sahabatnya itu.
Kemudian Arzan menjelaskan semunya pada Daffin dari mulai kejadian di rooftop sampai sentuhan tangan dingin milik Arzya.
"Wah lo selangkah lebih maju kalau mau dapetin Arzya, buktinya dia berani pegang lo!" jelas Daffin.
"Tapi saingan lo sahabat sendiri, gue gak tau Alvin serius atau cuma bercada tapi yang jelas gue gak mau persahabatan kita hancur cuma gara-gara wanita!" tegas Daffin dengan bijak.
"Iya gue paham, kalian tetap sahabat gue!" Arzan menepuk bahu Daffin padahal yang harus dikuatkan itu Arzan bukan Daffin.
"Cih, dasar Dafin manja!" gerutunya.
......................
..."Mending cuek tapi perhatian dari pada sok perhatian karena gabut!"...
...----------------...
jan bikin pembully jaya dong thor.cepet kasih pelajaran buat si pembully