"Bayu Prasetyo kehilangan segalanya dalam satu hari.
Dipecat dari kantor karena posisinya diberikan kepada anak bos. Diputus pertunangan karena ""belum mapan."" Dan keris pusaka titipan sahabatnya tertipu terjual Rp 2 juta — padahal nilainya miliaran.
Di titik terendah hidupnya, Bayu Prasetyo menerima Mata Dewa dari kakek misterius — mata yang menembus batu, membaca nilai, dan membongkar kepalsuan. Dari judi batu ke meja lelang, dari pemuda miskin Pacitan ke puncak daftar orang terkaya — sampai ia menatap musuh terakhirnya: sindikat pemalsu pusaka yang dilindungi nama paling dihormati di Indonesia."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Bab 035: Kolektor yang Hancur
Pak Santoso membawa kotak kayu ke studio dengan dua tangan.
Tangannya gemetar, tetapi bajunya rapi. Lelaki tua itu memperkenalkan diri sebagai kolektor kecil dari Bekasi. Kata `kecil` terdengar aneh setelah host menyebut bahwa barang yang ia bawa adalah pusaka keluarga bernilai miliaran.
"Ini kebanggaan saya," katanya. "Saya simpan di ruang tamu. Anak-anak saya sering bilang saya terlalu percaya pada barang tua. Hari ini saya ingin membuktikan bahwa saya tidak salah."
Bayu melihat senyum anak dan istrinya di kursi penonton.
Lalu ia melihat benda itu.
Sebuah arca perunggu kecil, lengkap dengan sertifikat, foto lelang, dan kuitansi private sale. Dari luar, bagus. Terlalu bagus.
Mata kiri Bayu menyentuh lapisan dalamnya.
Hatinya turun.
Generasi ketiga.
Benda itu dibuat oleh tangan terampil yang memahami letak ketidaksempurnaan alami pada barang tua. Pemalsu pasar biasa tidak mampu mencapai kualitas tersebut.
Host menunggu jawaban.
Pak Santoso menunggu hidupnya dibenarkan.
Bayu menutup map.
"Untuk benda ini, saya tidak akan memberi putusan di panggung."
Studio bergeser.
Pak Darma, yang sejak episode pertama lebih hati-hati, langsung menatapnya.
Bayu berkata ke kamera, "Ada beberapa indikator yang perlu uji lanjutan. Karena pemilik membawa dokumen dan nilai klaimnya besar, saya menyarankan pemeriksaan laboratorium serta pendampingan hukum sebelum kesimpulan publik."
Mbak Rina di ruang kontrol tidak memotong.
Pak Santoso tampak bingung, tetapi Bayu melihat napas istrinya menjadi lega. Setidaknya harga diri lelaki itu tidak dihancurkan di depan penonton.
Sore itu, setelah rekaman, Nadira menunggu di parkiran belakang.
"Kamu menahan kata palsu."
"Saya menahan panggung."
"Kenapa?"
"Karena orangnya lebih rapuh daripada bendanya."
Nadira tidak membantah.
Mereka pergi ke rumah Pak Santoso malam itu tanpa kru televisi. Bayu datang sebagai penilai, sedangkan Nadira hadir sebagai penyidik yang belum membuka perkara baru. Semua dicatat, izin pemeriksaan ditandatangani, dan Budi ikut melalui video untuk memastikan jalur dokumen tidak bocor.
Rumah itu besar, tetapi terasa seperti orang yang menahan napas. Di ruang tamu, dua belas benda ditata dalam lemari kaca: arca, keramik, keris hias, naskah lontar, patung kayu, dan perhiasan tua.
"Semua saya beli bertahap," kata Pak Santoso. "Dua puluh tiga miliar rupiah selama delapan tahun. Saya jual tanah, pakai tabungan pensiun, bahkan gadaikan rumah. Saya pikir ini warisan untuk anak-anak."
Anaknya yang sulung berdiri di belakang sofa, wajahnya keras.
"Adik saya menunda menikah karena rumah ini masih diagunkan."
Tidak ada yang bicara selama beberapa detik.
Bayu memeriksa satu per satu.
Pola umum terlihat sejak benda ketiga. Nadira sempat berhenti mencatat pada pemeriksaan keenam, dan setelah benda kedua belas Pak Santoso duduk seperti orang yang tulangnya dicabut.
Semuanya bermasalah.
Sebelas jelas generasi ketiga high-grade fake. Satu benda memakai bagian asli kecil yang ditanam di tubuh baru, cukup untuk menipu uji permukaan dangkal.
"Tidak mungkin," bisik Pak Santoso. "Semua ada dokumen. Semua lewat orang baik. Ada lelang. Ada foto."
Bayu menaruh sarung tangan.
"Dokumen bisa benar secara bentuk, tetapi salah secara isi. Lelang bisa terjadi, tetapi barangnya tetap salah."
Nadira menyusun kuitansi, nomor rekening, nama perantara, dan tanggal transaksi di meja makan. Garis mulai terlihat.
Tiga jalur pembelian berbeda.
Empat balai lelang atau private sale berbeda.
Namun sebagian besar dokumen kurasi melewati satu nama perantara: PT Cakra Antik.
Bayu membaca nama direktur operasional di salah satu invoice lama.
Herman Susilo.
Nama itu seperti debu lama yang tiba-tiba kembali ke paru-paru.
"Dia pindah ke Jakarta," kata Bayu pelan.
Nadira mengangkat mata. "Kamu kenal?"
"Perkara lama dari Surabaya. Dulu belum cukup bukti untuk menangkapnya."
"Sekarang?"
Nadira menatap dua belas benda di lemari.
"Sekarang dia meninggalkan jejak uang."
Pak Santoso menutup wajah. Istrinya menangis diam-diam. Anak sulungnya mengepalkan tangan, tetapi tidak tahu harus memukul siapa.
"Pak," Bayu berkata perlahan, "kalau Bapak ingin melapor, Ibu Nadira bisa menjelaskan jalurnya. Tapi barang-barang ini harus dijaga sebagai bukti. Jangan dijual lagi. Jangan dipindahkan tanpa catatan."
"Kalau jadi bukti, kami makan apa?" suara anak sulungnya pecah. "Rumah ini bisa disita bank bulan depan."
Nadira hendak menjawab prosedur.
Bayu mengangkat tangan.
"Saya beli semuanya."
Ruangan membeku.
"Apa?" tanya Pak Santoso.
"Kami membelinya sebagai sampel riset dan barang pembanding untuk CV Prasetyo, dengan seluruh dokumen, foto, kuitansi, dan surat pernyataan bahwa Bapak menyerahkan barang untuk kepentingan penelitian serta laporan hukum. Statusnya tidak akan dicatat sebagai barang antik. Nilainya lima miliar rupiah."
Anak sulung Pak Santoso langsung berdiri.
"Itu jauh di bawah kerugian kami."
"Ya," kata Bayu. "Karena barangnya memang tidak bernilai dua puluh tiga miliar. Saya tidak bisa mengganti kebohongan orang lain dengan kebohongan baru."
Kalimat itu keras.
Tetapi bersih.
"Lima miliar cukup untuk menahan bank, mengurus kuasa hukum, dan memberi Bapak waktu bernapas. Setelah itu, jika perkara berjalan dan ada pemulihan aset, hak Bapak tetap dicatat."
Budi dari layar video langsung bicara, "Transaksi harus lewat rekening. Ada akta penyerahan, inventaris, foto, nomor barang, dan klausul bahwa barang bisa dipinjamkan ke penyidik sebagai bukti dengan berita acara."
"Dan pajaknya?" tanya anak sulung, masih curiga.
"Dicatat," jawab Budi cepat. "Kita tidak menyelamatkan satu keluarga dengan membuat masalah baru."
Kalimat itu membuat Nadira melirik layar.
"Saya suka orang ini," katanya datar.
"Jangan terlalu suka," balas Bayu. "Dia mahal."
Budi tidak tersenyum. "Saya dengar."
Untuk pertama kalinya malam itu, istri Pak Santoso tertawa kecil di tengah air mata.
Nadira menatap Bayu lama.
"Kenapa kamu lakukan ini?"
Bayu melihat Pak Santoso dan teringat wajah Rizal ketika Keris Nagasasra hilang. Ayah sahabatnya pernah berdiri di posisi orang yang kalah oleh barang palsu.
"Karena dulu, yang berdiri di posisi Pak Santoso itu... ayah sahabat saya."
Tidak ada kamera.
Tidak ada tepuk tangan.
Malam itu juga, transfer dilakukan bertahap sesuai dokumen. Dua belas barang difoto, diberi kode, disegel, dan dititipkan sementara dengan berita acara yang ditandatangani semua pihak. Pak Santoso tidak pulih. Tetapi ia tidak jatuh sendirian.
Sebelum Bayu pergi, Pak Santoso berdiri di ambang pintu.
"Mas Bayu, saya malu."
"Bapak adalah korban. Kami tidak menempatkan Bapak sebagai pelaku."
"Tapi saya membawa keluarga saya sampai begini."
Bayu melihat lemari kaca yang kini kosong.
"Kalau Bapak mau menebusnya, bantu kami. Ingat siapa yang bicara, siapa yang memperkenalkan, siapa yang meminta pembayaran dipercepat. Detail kecil bisa menyelamatkan orang lain."
Pak Santoso mengangguk pelan.
"Saya akan tulis semua."
Di kantor kecil Bareskrim, menjelang tengah malam, Nadira berdiri di depan papan putih.
Untuk pertama kalinya, garisnya lengkap.
Jalurnya bergerak dari Bengkel ke perantara, balai lelang, lalu kolektor.
Di antara perantara dan balai lelang, ia menggambar satu lingkaran.
Lalu menulis satu kata.
Siapa?