Bima mengira ia bisa mengubur masa lalunya yang kelam di Desa . Mantan komandan regu pasukan khusus ini memilih hidup bersahaja sebagai petani jagung dan pemancing di tepi sungai demi melarikan diri dari trauma perang. Namun, kedamaian yang ia bangun susah payah runtuh setiap kali ia teringat pada Joni, sahabat sekaligus anak buahnya yang gugur dalam pelukan Bima akibat terjangan peluru senapan mesin musuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pergi dalam diam
Sepanjang sisa hari di kantor, fokus Viona benar-benar terpecah antara tumpukan dokumen kerjaan dan peta bayangan siluet Bima yang masih terus mengganggu konsentrasinya. Ketika jam pulang kantor tiba, Viona memutuskan untuk membawa map merah marun berisi berkas piutang macet itu pulang ke villa. Niatnya malam itu sebenarnya hanya ingin berdiskusi dan mencari jalan keluar dari masalah pelik yang sedang menghimpit perusahaannya.
Malam harinya di villa tepi danau, suasana terasa sunyi. Bima sedang duduk santai di ruang tengah sambil membaca sebuah buku, sementara Viona berjalan mendekat dengan langkah kaki yang pelan. Dia meletakkan map merah marun itu di atas meja tepat di depan Bima.
dan viona pun mengempaskan dirinya dan duduk disamping bima.
"Bima, coba kamu lihat ini," ujar Viona, melipat kedua tangan di dada sembari mencoba mempertahankan gengsi dinginnya sebagai gadis tsundere.
Bima mendongak, menatap istrinya sejenak sebelum dengan tenang mengambil map tersebut dan membukanya. Matanya menyapu deretan angka piutang yang sangat besar beserta nama perusahaan debitur yang tertera di sana. Dia hanya diam memperhatikan lembar demi lembar berkas itu dengan saksama.
"Itu adalah salah satu piutang terbesar dan paling macet yang dimiliki oleh perusahaan keluarga Utara," jelas Viona dengan nada suara yang mulai melunak namun tetap terdengar serius. "Sudah banyak penagih profesional dan kelompok pihak ketiga yang aku utus ke sana, tapi semuanya gagal total. Bahkan... beberapa dari mereka berakhir di rumah sakit karena dihajar oleh para penjaga dan preman di sana."
Viona menghela napas pendek, lalu menatap Bima dengan pandangan penuh harap yang disembunyikan. "Mengingat latar belakangmu yg juara beladiri apakah kamu punya kenalan preman pasar atau siapa saja yang bisa disuruh atau disewa untuk menagih hutang itu?
Aku benar-benar butuh orang yang tangguh dan dapat dipercaya untuk urusan ini."
Sebenarnya... Viona murni hanya ingin bertanya dan meminta rekomendasi kontak dari suaminya yang merupakan mantan juara bela diri pasar.
Namun... di luar dugaan Viona,
Bima hanya diam dan mengamati bahkan sama sekali tidak mengeluarkan sepatah kata pun untuk menjawab pertanyaan tersebut. Raut wajahnya tetap datar, tenang, dan tidak menunjukkan ekspresi bingung sedikit pun namun penuh ketelitian.
Dengan gerakan yang sangat mantap namun santai, Bima langsung menutup map merah marun tersebut. Dia bangkit berdiri dari sofa, mengapit dokumen itu di ketiaknya, lalu berjalan ke arah gantungan baju dan langsung menyambar jaket hitamnya.
Bima langsung melangkah tegap menuju pintu keluar villa dalam keheningan total, tanpa berbalik, tanpa pamit, dan tanpa memberikan jawaban verbal apa pun. Pria itu membawa pergi berkas berbahaya tersebut begitu saja dalam diam, menganggap pertanyaan istrinya sebagai sebuah perintah tugas yang harus dia selesaikan sendiri.
Mendengar suara pintu villa yang tertutup rapat diikuti deru mesin mobil yg hitam Bima yang mulai menyala dan bergerak menjauh meninggalkan pekarangan, Viona seketika berdiri teraku di ambang pintu dalam kondisi syok. Detik itu juga, rasa penyesalan, cemas, dan ketakutan yang teramat sangat langsung menyergap dadanya. Dia baru menyadari bahwa pertanyaan sederhananya telah memicu tindakan nekat dari suaminya yang berwatak sedingin es itu untuk langsung meluncur ke jantung bahaya.
Pikirannya pun berkecamuk dan langsung membayangkan hal hal yg tak diinginkan...