"Selama ini Mama sendirian, Papa. Kai sering melihat Mama menangis... Kalau Kai di sini terus bersama Papa, siapa yang memeluk Mama?"
....
Demi melindungi keluarganya dari ancaman mertua yang kejam, Bening Azalea (29) memilih bungkam. Ia merelakan dirinya difitnah berselingkuh dan pergi membawa rahasia besar, janin berusia satu bulan di rahimnya.
Tujuh tahun berlalu, Bening berjuang mati-matian membesarkan putranya, Kaivandra Saputra, dalam kesederhanaan. Namun takdir kembali mempertemukannya dengan Gibran Aditama (33), sang mantan suami yang kini menjadi CEO sukses.
Tahu keberadaan cucunya, sang mantan mertua dengan culas menggunakan kekuasaan untuk merebut hak asuh Kai. Gibran yang awalnya dipenuhi kebencian, mulai terenyuh oleh keteguhan Bening dan kepolosan putra kecilnya.
Perlahan, kejujuran Kai meruntuhkan ego Gibran, membuka mata sang CEO bahwa ada kebenaran dan kebohongan besar yang tersimpan rapi di masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 #Impian yang Patah
Matahari pagi menyiramkan sinar hangatnya di pelataran rumah Bening. Sejak usai subuh, Bening sudah sibuk merapikan tas sekolah milik Kaivandra. Ia memastikan seluruh buku pelajaran hari ini, kotak pensil, serta botol minum favorit anaknya tersusun rapi. Hari ini adalah hari pertama Kai kembali masuk sekolah setelah dirawat, dan Kai akan berangkat langsung dari Kediaman Aditama bersama Gibran.
Bening melangkah keluar rumah, bermaksud mengunci pintu rumahnya sebelum berangkat menuju taman kanak-kanak tempat Kai bersekolah. Namun, baru saja kunci kuningan itu berputar, sebuah mobil SUV putih berhenti tepat di pelataran rumahnya yang sempit.
Kaca mobil menurun, menampilkan sosok pria ramah bersetelan kemeja rapi. Dokter Arfan.
"Selamat pagi, Bening," sapa Arfan hangat, melangkah turun dari mobil.
"Pagi juga dokter Arfan." Balas Bening ramah.
"Panggil Arfan saja kalau kita sedang di luar rumah sakit, seperti biasa." Ucap Arfan sembari tersenyum.
Bening mengerutkan dahi, sedikit terkejut. "Mas Arfan? Mau mengambil pesanan kue, ya? Tapi... seingat saya Ibu Dewi tidak memesan kue untuk hari ini, atau saya yang lupa mencatatnya?"
Arfan terkekeh pelan, mengibaskan tangannya. "Tidak, bukan kok. Jangan panik begitu. Saya kemari hanya ingin mampir sebentar melihat keadaan Kai sebelum berangkat ke rumah sakit."
Bening menghela napas pelan, seulas senyum canggung terbit di bibirnya. "Emmh... Kai tidak ada di sini, Mas. Dia... ikut papanya."
Arfan tertegun sejenak. Ingatannya kembali pada sosok pria berdominasi tinggi yang ditemuinya di kamar rawat Kaivandra. "Jadi... pria yang di rumah sakit kemarin itu benar-benar ayah kandungnya Kaivandra?"
Bening mengangguk pelan, menundukkan pandangannya. "Iya... dia mantan suami saya. Tapi saya mohon, Mas Arfan... tolong jangan bicara apa pun di depan Kai. Kai masih terlalu kecil untuk mengerti kerumitan kondisi kami berdua."
Arfan menatap Bening dengan pandangan penuh simpati dan pengertian. "Tentu, Bening. Kamu tidak perlu khawatir, saya tidak akan mengatakan apa pun. Itu sepenuhnya privasi kalian. Nah, kamu mau ke sekolah Kai, kan? Ayo, sekalian saya antar."
"Tidak usah, Mas," tolak Bening halus. "Saya naik angkutan umum saja, tidak mau merepotkan."
"Sama sekali tidak merepotkan, Bening. Lagipula ini searah dengan rute saya menuju rumah sakit, dan jujur saya juga ingin menyapa Kai sebentar," bujuk Arfan dengan senyuman tulus yang sulit ditolak.
Bening mengembuskan napas pasrah. "Baiklah kalau begitu... Terima kasih banyak ya, Mas."
Arfan mengangguk ramah, lalu dengan sigap melangkah membukakan pintu mobil penumpang untuk Bening, sebuah perlakuan sopan yang murni lahir dari sifat ksatria sang dokter.
.
.
Sepuluh menit kemudian, SUV putih milik Arfan memelankan lajunya dan berhenti tepat di depan gerbang Sekolah Taman Kanak-Kanak Merpati.
Sangat bertepatan di waktu yang sama, sebuah mobil sedan hitam mewah berpelat nomor eksklusif milik Gibran Aditama datang dari arah berlawanan dan menepi tepat di seberang jalan.
Bening menatap sedan hitam itu dari balik kaca mobil. Jantungnya berdegup kencang. Ia tahu betul, kehadirannya bersama Arfan pagi ini akan menjadi ujian dan kesalahpahaman baru. Namun, di balik rasa sesaknya, logika Bening berbisik bahwa ini adalah hal yang bagus. Biarlah Gibran semakin membencinya. Semakin Gibran menganggapnya wanita tak berhati, semakin aman posisi Kaivandra dari jangkauan ancaman Wira Aditama.
Bening melangkah turun dari mobil Arfan.
Di seberang sana, Gibran yang semula tersenyum hangat setelah membukakan pintu untuk Kaivandra, mendadak membeku. Tubuhnya menegang sempurna. Pandangan matanya mengunci sosok Bening yang baru saja keluar dari mobil pria yang dia ketahui adalah dokter yang merawat kaivandra kemarin.
Di dalam dada Gibran, gejolak aneh yang membakar kembali meletup. Ia membenci Bening, ia mengutuk pengkhianatan masa lalu wanita itu, namun realita bahwa mantan istrinya kini melangkah bersandingan dengan pria lain membuat jiwanya berontak tak rela.
"Mama...!" jerit Kai riang begitu menangkap sosok ibunya. Bocah kecil itu berlari-lari kecil menyeberang dihampiri Bening.
Bening melebarkan tangannya, berlutut dan merengkuh tubuh mungil putranya ke dalam pelukan hangat. Rasa rindu yang menumpuk sejak kemarin menguap seketika. "Selamat pagi, anak Mama yang tampan... Wah, rapi sekali hari ini!"
"Iya, Mama! Tadi Bi Asri yang bantuin Kai pakai seragam sekolah," celetuk Kai penuh semangat. "Mama tahu tidak, rumah Papa besar sekali! Nanti Mama harus cepat-cepat nyusul Kai ke sana, ya!"
Bening menelan salivanya yang terasa pahit, memaksakan senyum manis. "Iya, sayang... Kalau semua pesanan kue Mama sudah selesai, Mama pasti menyusul Kai."
"Halo, Jagoan!" sapa Arfan yang melangkah mendekati mereka.
Kai mendongak, matanya berbinar. "Eh, Om Arfan!"
"Wah, Kai sudah sangat sehat dan ceria ya pagi ini," puji Arfan sambil mengusap kepala Kai.
Sebelum Bening sempat merespons, sebuah langkah kaki berwibawa mendekat dengan aura menekan yang dingin. Gibran berdiri di sana, menatap Arfan dengan pandangan mata yang tajam dan menusuk, meski ekspresi wajahnya tetap diatur sedatar mungkin.
"Tentu saja," sahut Gibran sinis dengan nada suara berat penuh dominasi. "Saya pasti akan memastikan putra saya benar-benar sehat. Jika dia tidak sehat, tidak mungkin saya mengizinkannya berada di sini sekarang."
Atmosfer di depan gerbang sekolah itu seketika menjadi dingin dan tidak kondusif. Bening yang menyadari perang dingin terselubung itu segera mengalihkan perhatian.
"Sayang, ayo... Mama antar masuk ke kelas ya, nanti terlambat," potong Bening cepat. Ia lalu menoleh pada Arfan dengan raut bersalah. "Mas Arfan, terima kasih banyak ya sudah diantar sampai kemari."
"Sama-sama, Bening. Kalau begitu saya pamit berangkat ke rumah sakit dulu," sahut Arfan bijak, memahami situasi.
"Dadaaa, Om Arfan!" seru Kai riang sambil melambaikan tangan kecilnya.
Gibran mengepalkan tangannya rapat-rapat di dalam saku celana. Pendengarannya mendadak panas. Ia sangat, sangat tidak suka mendengar panggilan Mas yang terucap begitu manis dan akrab dari bibir Bening untuk pria lain.
"Papa! Ayo ikut masuk!" Kai menarik-narik ujung jas Gibran antusias. "Kai mau teman-teman Kai tahu kalau Kai punya Mama dan Papa yang lengkap!"
Senyum dingin Gibran memudar, berganti kelembutan saat menatap putranya. "Ayo, sayang."
Kai melangkah di tengah dengan senyum paling cerah dalam hidupnya. Jemari sebelah kirinya menggenggam erat tangan besar Gibran, sementara jemari sebelah kanannya menggenggam jemari lembut Bening. Mereka bertiga melangkah bersama menyusuri koridor sekolah.
Di tengah langkah kompak itu, Bening sempat memalingkan wajah dan bertatapan mata dengan Gibran. Namun, hanya dalam hitungan detik, Bening buru-buru mengalihkan pandangannya lurus ke depan. Ia memasang wajah datar dan dingin, seolah tak ada lagi tersisa sedikit pun rasa cinta untuk mantan suaminya itu.
Padahal... jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, berjalan bertiga menuntun Kaivan seperti ini adalah puncak impian terbesar yang selalu ia selipkan dalam setiap doa malamnya selama enam tahun terakhir.
Sementara itu, di sebelah kirinya, benak Gibran berkecamuk hebat. Tatapannya tertuju pada profil samping wajah Bening yang tampak tenang namun berjarak.
'Seandainya... seandainya saat itu kamu tidak mengkhianatiku, Bening...' batin Gibran dengan dada yang terasa berdenyut nyeri. 'Mungkin kita bertiga sedang menjadi keluarga paling bahagia di dunia saat ini. Apakah... apakah kamu benar-benar tidak pernah memiliki cinta yang tulus padaku, Bening? Hingga kamu begitu mudah berpaling pada pria lain?'
Dua hati itu berjalan berdampingan dalam genggaman jemari mungil putra mereka, saling merindukan, namun terpisahkan oleh jurang takdir dan fitnah yang teramat dalam.
ga bakal ketauan ortu sendiri