Di balik senyum ceria Nadia, tersimpan ketangguhan luar biasa. Meski ia tidak bisa bicara dan berasal dari keluarga sederhana, kecerdasannya membawa Nadia meraih beasiswa di universitas swasta ternama.
Namun, dunianya yang begitu sempurna seketika runtuh saat kedua orang tuanya tewas dalam kecelakaan tragis. Demi masa depannya, Nadia membalut lukanya dengan senyuman. Sayangnya, badai kembali datang seolah tidak membiarkan Nadia hidup dengan tenang, hingga ia bertemu dengan seorang pria yang membantunya dari kejamnya dunia.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang terjadi pada Nadia? Siapakah pria yang membantu Nadia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Pak Hendra menghela napas berat, bersedekap dada. "Kamera CCTV di lorong dan lab komputer lantai itu sedang ada masalah sejak kemarin, Nadia. Jadi tidak ada rekaman sama sekali. Lagipula, kamu ini kan mahasiswa penerima beasiswa unggulan, seharusnya kamu lebih berhati-hati menjaga keamanan akun dan file pribadimu sendiri, bukan malah menyalahkan orang lain,"
Nadia terpaku, logikanya menolak percaya. Bagaimana mungkin CCTV di seluruh lantai itu mendadak mati secara kebetulan tepat pada jam kejadian.
"Pihak kampus tidak bisa memproses laporan tanpa bukti yang valid, saya sarankan kamu fokus menyusun ulang tugasmu daripada menyebar kecurigaan yang bisa merusak nama baik fakultas," lanjut Pak Hendra.
Nadia menatap pria paruh baya di hadapannya dengan keheningan yang amat dalam, ia tahu betul apa yang sedang terjadi. Pihak kampus sengaja menutup mata dan telinga, mengorbankan dirinya yang seorang mahasiswa miskin tanpa pelindung demi menjaga hubungan baik dengan para donatur berkuasa di belakang Tamara.
Dengan dada yang terhimpit sesak, Nadia menundukkan kepalanya, mengatupkan kedua tangan di dada sebagai tanda pamit lalu melangkah keluar dari ruangan yang dingin itu dengan kekecewaan yang tak tertahankan.
Kejamnya perundungan tidak berhenti sampai di situ, Tamara yang merasa pihak kampus berada di bawah kendalinya semakin bertindak tanpa batas. Ia mengincar hal yang paling krusial bagi kelangsungan hidup Nadia di kampus yaitu beasiswa unggulan Magister.
Beberapa hari setelah insiden penghapusan file, sebuah surat beserta beberapa foto editan rekayasa dikirimkan ke kantor Pengelola Beasiswa Universitas. Foto-foto tersebut menampilkan sosok wanita yang mirip dengan Nadia sedang keluar dari sebuah mobil mewah bersama pria paruh baya di malam hari, disertai narasi bohong yang menuduh Nadia melakukan tindakan tidak terpuji demi mendapatkan uang tambahan.
Tidak hanya itu, nilai tugas kelompok Nadia sengaja tidak dimasukkan namanya oleh teman-teman sekelas atas perintah Tamara dan mendadak diberi nilai nol oleh salah satu dosen asisten yang berada di bawah pengaruh kelompok Tamara, bahkan nilai IPK Nadia yang semula sempurna seketika merosot drastis di bawah standar minimum penerima beasiswa.
Siang ini, Nadia dipanggil ke ruang sekretariat pengelola Beasiswa. Seorang wanita dengan kaca mata tebal menyerahkan selembar surat resmi berstempel basah kepada Nadia.
"Nadia, berdasarkan evaluasi nilai semester ini yang mengalami penurunan drastis, serta adanya laporan pelanggaran kode etik mahasiswa yang tidak bisa kamu klarifikasi secara lisan, tim komite memutuskan untuk mencabut beasiswa unggulan Magister milikmu terhitung mulai semester depan," ucap wanita itu dengan suara datar tanpa empati.
Nadia menerima kertas itu, jemarinya bergetar begitu hebat hingga kertas tipis di tangannya berbunyi menggeletar. Pencabutan beasiswa ini bukan hanya berarti hilangnya pembebasan biaya kuliah, tetapi juga terhentinya tunjangan hidup bulanan yang selama ini menjadi satu-satunya sumber menyambung nyawa untuk makan sehari-hari dan membayar biaya kontrakan rumahnya.
Nadia mencoba menuliskan klarifikasi dengan cepat di kertas catatannya.
[Ini semua tidak benar! Nilai saya ditahan dan foto-foto ini adalah fitnah! Tolong beri saya waktu untuk membuktikannya!]
Wanita pengelola beasiswa itu hanya menggelengkan kepala dingin, "Keputusan yang diambil bersifat final dan tidak dapat diganggu gugat, Nadia. Jika kamu tidak sanggup membayar biaya semester berjalan secara mandiri, kamu disarankan untuk mengundurkan diri atau mengambil cuti akademik," jawabnya.
Nadia keluar dari ruangan tersebut dengan langkah yang oleng. Dunia di sekelilingnya seakan berputar dengan cepat, kebisingan kampus yang biasanya tak terdengar kini seolah bergemuruh di dalam kepalanya bagaikan ledakan gelombang yang menghantam jiwanya tanpa ampun.
Kehilangan kedua orang tua dalam semalam telah meremukkan hatinya, dan kini, mimpi-mimpi yang ia raut dengan air mata dan kerja keras dicabut secara paksa dari genggamannya oleh kelicikan manusia.
Nadia berjalan menyusuri koridor utama dengan pandangan kabur. Di depan tangga utama, Tamara, Hesti dan Erika berdiri menunggunya dengan senyuman puas.
"Gimana, Nadia? Sudah terima suratnya? Itu baru pembalasan kecil buat cewek yang nggak tahu diri kayak lo. Kampus ini bukan tempat buat orang cacat dan miskin," bisik Tamara saat Nadia berjalan melewatinya.
Nadia tidak menjawab, ia bahkan tidak sanggup lagi mengangkat tangannya untuk membentuk bahasa isyarat. Dengan sisa-sisa tenaga dan harga diri yang masih ia miliki, Nadia terus melangkah maju tanpa menoleh sedikit pun ke belakang.
Sesampainya di taman belakang kampus yang sepi, di bawah rindangnya pohon angsana, lutut Nadia akhirnya gemetar dan menyerah. Ia meluruh ke atas rumput, meremas surat pencabutan beasiswa itu di dadanya.
Untuk pertama kalinya sejak pemakaman orang tuanya, pertahanan kokoh Nadia hancur berantakan. Tidak ada suara jeritan yang keluar dari mulutnya, hanya bahunya yang naik turun hebat dan air mata yang mengalir deras bagaikan tanggul yang bobol membasahi pipinya yang tirus, keheningan yang menyelimuti Nadia saat itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada jeritan paling keras sekalipun.
"Nadia," panggil Resya pelan.
"Maafin aku, aku nggak bisa bantu kamu. Aku nggak bisa melakukan apa-apa, Tamara benar-benar keterlaluan, dia ngancam aku dengan keluargaku," lanjut Resya.
Nadia menggelengkan kepala, ia mengerti situasi yang dihadapi Resya dan tidak pernah mempermasalahkannya. Semua ini terjadi karena dirinya sendiri yang tidak memiliki kekuasaan, Nadia tidak sebanding dengan Tamara dan Nadia harus mengakui itu, mau sekeras apapun Nadia berusaha semuanya akan sia-sia.
Langkah kaki Nadia terseret pelan menelusuri trotoar di luar gerbang kampus, sinar matahari sore yang menembus celah dedaunan terasa membakar kulitnya, namun di dalam dada Nadia, segalanya terasa begitu membeku.
Surat resmi pencabutan beasiswa itu terlipat rapi di dasar tas ranselnya, sebuah kertas tipis yang secara resmi menuntaskan kehancuran mimpinya di universitas elit ini.
Nadia memeluk erat tasnya, berusaha berjalan secepat mungkin menuju perhentian angkutan umum. Ia tidak ingin ada orang lain yang melihat matanya yang sembap dan kemerahan, topeng senyum palsu yang biasa ia pasang rapi kini hancur tak berbekas dan menyisakan wajah pucat yang memancarkan keputusasaan murni.
Namun, baru beberapa puluh meter ia melangkah meninggalkan gerbang, sebuah langkah kaki bergesa mendekatinya dari arah belakang.
"Nadia! Tunggu, Nadia!"
Nadia menghentikan langkahnya tanpa berbalik. Suara itu begitu familier. Ketika ia memutar tubuhnya perlahan, Roy sudah berdiri di hadapannya dengan napas tersengal. Pria berkarisma itu mengenakan jaket himpunan BEM, matanya menatap Nadia dengan kecemasan yang teramat sangat.
Roy menatap wajah Nadia yang kusam dan tirus, lalu pandangannya turun ke jemari Nadia yang gemetar. "Nadia... kamu kenapa? Aku baru dengar dari anak-anak kalau kamu baru saja keluar dari ruang Pengelola Beasiswa, apa benar beasiswamu dicabut?" tanyanya.
Nadia mengerjapkan matanya, menunduk dalam-dalam. Ia menggelengkan kepala pelan, berpura-pura tidak terjadi apa-apa, lalu mencoba mengulas senyum tipis yang tampak sangat dipaksakan.
"Jangan bohongi aku, Nad," pangkas Roy dengan artikulasi bibir yang diperlambat dan nada suara yang sangat lembut namun penuh penekanan.
"Aku juga tahu soal lokermu yang dirusak kemarin. Aku tahu ada orang yang sengaja merundungmu di kampus ini, kenapa kamu nggak pernah cerita sama aku?" tanya Roy.
.
.
.
Bersambung.....