Namaku Jefri Andalas Sinaga. Orang rumah memanggilku Jepot, pelanggan yang marah memanggilku bodat, dan satu kota kecil di internet memanggilku Bang Jepot sambil tertawa. Semua bermula ketika aku berkata “aman, bah” di pesta pernikahan, lalu satu gedung gelap sebelum kalimatku selesai.
Setelah kehilangan pekerjaan, aku pulang ke bengkel Bapak yang nyaris tutup. Bersama Liza Cemberut, Deli Patah, Bibir Ember, Tia Cekrek, dan orang-orang yang lebih bising daripada mesin gerinda, aku membuka jasa Konslet Medan. Setiap kerusakan ternyata tersambung ke gengsi, utang, pertengkaran keluarga, konten viral, atau rahasia yang tak seharusnya kusentuh.
Ketika serangkaian korsleting mengarah pada sambungan ilegal yang dapat membakar satu kawasan, lelucon tidak lagi cukup untuk melindungi siapa pun. Aku harus memilih diam demi usaha atau membuka sistem yang juga menyeret dosa lama keluargaku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heriawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SATU LAPANGAN GELAP
Seluruh lapangan padam tepat setelah Kepling NATO menyebut namaku.
Satu detik sebelumnya, lampu-lampu tenda masih menyala terang, organ tunggal sedang mencoba lagu dangdut yang nadanya terlalu tinggi, dan Rahmat Syahputra Nasution berdiri di atas panggung dengan mikrofon di tangan. Ia baru saja mengatakan bahwa acara malam itu berjalan lancar berkat “kolaborasi seluruh unsur masyarakat, khususnya saudara Jefri selaku penanggung jawab teknis kelistrikan.”
Lalu bunyi MCB jatuh terdengar dari belakang panggung.
Tak.
Gelap.
Orang-orang menjerit seperti ada harimau masuk lapangan. Anak-anak yang tadi berebut balon langsung menangis. Seseorang menjatuhkan piring plastik. Organ tunggal mati di tengah nada panjang, menyisakan suara penyanyinya yang masih meneruskan satu suku kata sebelum sadar pengeras suara sudah tidak bekerja.
Dari arah kursi warga, seorang laki-laki berteriak, “Jepot! Kau bikin konslet lagi, ya?”
Tawa pecah di beberapa sudut. Tidak banyak, tetapi cukup untuk membuat tengkukku panas.
“Aku belum pegang apa-apa!” balasku.
“Justru itu yang kami takutkan!” sahut orang lain.
Sore tadi aku sendiri yang memeriksa pembagian beban. Liza berdiri di belakangku dengan daftar yang lebih panjang daripada pidato Kepling. Jalur panggung, tenda warga, lampu lapangan, warung, dan satu stopkontak khusus untuk dispenser semuanya sudah diberi label. Kami bahkan berdebat sepuluh menit karena panitia ingin menambah dua lampu sorot tanpa biaya.
“Acaranya untuk warga,” kata Kepling waktu itu.
“Listrik juga untuk warga,” jawab Liza. “Tagihannya tidak dibayar dengan semangat gotong royong.”
Akhirnya ia membayar—bukan dari kas panitia, tentu saja, melainkan menyuruh bendahara mencatatnya sebagai “penyesuaian teknis.” Aku masih ingat panel itu bersih ketika kututup menjelang magrib. Tidak ada kabel merah. Tidak ada terminal tambahan. Tidak ada lubang baru di sisi belakang.
Karena itu, saat seluruh lapangan menertawakanku, bagian paling keras dalam kepalaku bukan rasa malu. Melainkan keyakinan bahwa kali ini aku tidak menyebabkannya.
Aku meraih senter dari kantong rompi dan melangkah menuju panel utama. Di belakangku, Kepling NATO masih memukul-mukul mikrofon seolah listrik bisa kembali karena tersinggung.
“Bapak-bapak, ibu-ibu, mohon tetap tenang,” katanya tanpa suara. Baru setelah dua kali berbicara ia sadar mikrofon mati. Ia lalu mengulang kalimat itu dengan berteriak. “MOHON TETAP TENANG!”
“Kalau Bapak yang teriak, orang makin tidak tenang,” kata Liza di sampingku.
Aku menoleh. Dalam gelap, wajahnya hanya terlihat dari cahaya layar ponsel. Keningnya sudah berkerut—wajah standar Liza Cemberut setiap kali aku berada kurang dari lima meter dari instalasi listrik.
“Pegang senter,” kataku.
Ia tidak mengambilnya. “Jangan sentuh panel dulu.”
“Aku teknisinya.”
“Makanya aku bilang jangan sentuh sebelum dicek.”
Aku mendecakkan lidah. Delapan bulan bekerja bersama belum membuatnya paham bahwa seorang teknisi kadang perlu bergerak cepat. Delapan bulan bekerja bersama juga belum membuatku paham bahwa setiap kali aku berpikir begitu, biasanya ada tagihan baru.
Kami tiba di depan kotak panel yang dipasang pada tiang besi dekat panggung. Pintu panel sedikit terbuka. Bau plastik panas menyusup di antara aroma sate, tanah lembap, dan kopi terlalu manis dari warung Mak Sendok.
Aku berhenti.
Bau itu tipis, tetapi aku mengenalnya. Kabel yang terlalu panas memiliki cara sendiri untuk memberi tahu bahwa manusia sudah berbuat bodoh. Sayangnya, kabel biasanya memberi tahu setelah manusia selesai berbuat bodoh.
Liza menarik bagian belakang rompi kerjaku.
“Kenapa berhenti?”
“Bau terbakar.”
“Dari panel?”
“Belum tahu.”
“Berarti jangan bilang aman.”
“Aku belum bilang.”
Ia menatapku.
Aku mengusap tengkuk. “Belum sempat.”
Dari belakang, langkah sepatu mendekat. Dua petugas keamanan lingkungan datang membawa tongkat dan satu senter yang cahayanya berkedip-kedip. Di belakang mereka, Kepling NATO berjalan tergesa-gesa sambil tetap mempertahankan gaya orang yang ingin terlihat memimpin.
“Saudara Jefri,” katanya, “ini bagaimana? Acara sudah mendapat perhatian masyarakat. Kita tidak ingin terjadi kepanikan yang tidak perlu.”
“Yang membuat orang panik itu listrik mati dan Bapak pidato dalam gelap.”
Liza menyikut lenganku.
Kepling tersenyum tipis. Senyum itu tidak pernah sampai ke mata. “Saya percaya saudara dapat mengambil inisiatif teknis.”
Kalimatnya terdengar seperti pujian, tetapi aku tahu bentuk lain dari perangkap. Kalau listrik menyala, itu keberhasilan panitia. Kalau lapangan terbakar, itu inisiatif teknis Jefri.
“Siapa terakhir buka panel?” tanya Liza.
Kepling mengusap ujung mikrofon yang masih dipegangnya. “Panel berada dalam pengawasan panitia.”
“Itu bukan jawaban,” kata Liza.
“Saudari Liza, dalam kegiatan masyarakat seperti ini, kita harus mengutamakan penyelesaian, bukan mencari siapa yang—”
“Siapa terakhir buka panel?”
Aku hampir tersenyum. Liza bisa memotong pidato Kepling seperti memotong angka nol yang tidak perlu di kuitansi.
Sebelum Kepling menjawab, cahaya putih menyambar wajahku. Seorang pemuda berdiri sekitar tiga meter dari panel, memegang ponsel secara horizontal.
“Bang Jepot, coba lihat sini,” katanya. “Biar jelas dokumentasinya.”
“Matikan kameramu.”
“Ini untuk keamanan, Bang.”
“Keamanan apa? Kalau meledak, videomu cuma lebih terang.”
Beberapa orang tertawa. Pemuda itu tidak menurunkan ponsel.
Aku berjongkok di depan panel. Pintu besinya terasa hangat ketika kusentuh dengan punggung jari. Liza mengarahkan senter ke bawah, bukan ke wajahku seperti biasanya. Aku memasang sarung tangan, lalu mengambil tespen merah yang terselip di kantong dada.
Kepling berdeham. “Berapa lama kira-kira?”
“Kalau Bapak diam, lebih cepat.”
“Jefri,” tegur Liza.
“Apa? Aku sedang menghitung gangguan suara.”
Aku memeriksa sisi luar panel. Tidak ada bekas benturan. Kabel utama masuk dari bawah, sesuai jalur yang kami pasang sore tadi. Aku masih ingat tiap sambungan karena Liza memaksaku memotret semuanya sebelum panel ditutup.
“Aku masih bisa memperbaiki panel,” kataku, lebih kepada orang-orang di belakang daripada kepada Liza.
“Perbaiki dulu,” jawabnya datar. “Harga dirimu belakangan.”
Petugas keamanan yang paling dekat menahan tawa. Aku pura-pura tidak mendengar.
Bau plastik terbakar semakin jelas. Bukan dari terminal utama. Aku menyorot sisi kiri panel, tempat kabel distribusi menuju panggung dan deretan tenda. Semua label kami masih ada. Jalur panggung kuning. Tenda biru. Warung hijau. Lampu lapangan putih.
Namun, ada satu ikatan kabel baru di belakangnya.
Aku menahan napas.
“Liza, cahaya ke sini.”
Ia menggeser senter. Bayangan kabel-kabel menempel di dinding panel seperti akar hitam. Di antara jalur yang kami susun rapi, ada kabel lain yang masuk melalui lubang kecil pada sisi belakang. Isolasinya merah. Ujungnya terjepit pada terminal tambahan yang tidak kupasang.
Aku menyentuhnya dengan tespen tanpa menempelkan tangan ke konduktor.
Lampu kecil di dalam tespen menyala.
Liza melihat perubahan wajahku. “Apa?”
Aku tidak menjawab. Kabel itu masih bertegangan meskipun MCB utama sudah jatuh.
Dari belakang, Kepling bertanya, “Ada masalah?”
Aku menyorot kabel merah itu lebih jelas. Isolasinya mengilap, masih baru, dan mengarah keluar panel menuju tanah gelap di belakang panggung.
Kabel itu seharusnya tidak berada di sana.