mohon dikoreksi ya teman2 mungkin ada kata atau alur yang masih kurang bagus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jestimjaber, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Heran
"Jadi kamu tidak tau siapa wanita itu?" tanya Bu Sefti, dan Vara langsung menggeleng.
"Saya kemarin lihat di CCTV ada karyawan yang ngomong ke saya kalo anak magang tuh ribut sama orang, gitu" Vara dan Anna hanya menunduk saja.
"saya tidak akan memarahi kalian, tapi lain kali jangan di ulang ya. Kalo misalkan memang masalah nya besar kalian datang keruangan saya kita selesaikan disini jangan adu mulut" nasehat Bu Sefti.
Saat ini mereka tengah berada diruangan Bu Sefti, tadi siang saat vara baru balik dari kantin ada salah seorang karyawan yang memberitahukan bahwa ia dipanggil oleh Bu Sefti untuk datang keruangan nya.
Dan saat ia mengetuk pintu lalu masuk ternyata ia tidak dipanggil sendirian, ada Anna disana dan seperti feeling nya Vara, benar saja Bu Sefti akhirnya mengetahui tentang masalah kemarin, disitu ia hanya disuruh menjelaskan lalu di nasehati.
"untung kita tidak dikeluarkan an, coba kalo dikeluarkan engak enak sendiri aku sama Bu Mega" ujar Vara, saat ini mereka sudah berada di luar ruangan Bu Sefti.
"Iya, aku juga kepikiran gitu ya syukurlah. Lagian siapa si itu wanita gila angkuh banget jadi orang" Anna rasanya masih kesal banget dengan perempuan angkuh itu.
"Udah lah biarin aja, nanti juga kena apes nya sendiri orang angkuh kaya dia" meskipun Anna masih tidak terima tapi ia terpaksa harus menganggap masalah ini selesai agar dirinya tidak terkena masalah lebih jauh lagi.
"Udah lah aku balik dulu keruangan, takut Bu Vero nyariin" Vara mengangguk, dan Anna pun langsung pergi.
Setelah melihat teman nya itu pergi Vara segera kembali keruangan untuk menyelesaikan tugas yang diberi Reza tadi, namun baru saja ia duduk notifikasi pesan dari ponsel nya terdengar.
"Siapa si ini" ia mengambil ponsel nya dari saku celana, dan membuka nya.
_pak Sena: keruangan saya sekarang, ada berkas yang perlu di fotocopy_
"Ternyata dari pak Sena, ambil dulu lah biar cepet beres takut lupa" Vara langsung berdiri dan keluar dari ruangan menuju ke ruangan Sena.
Tok tok tok
Setelah ketukan kedua kali nya Sena baru menjawab dan ia segera masuk, ia langsung diberi beberapa berkas yang disuruh untuk me fotocopy.
"pak Sena maaf, saya mau ngucapin terimakasih untuk buah nya kemarin. Maaf jadi merepotkan bapak" Sena langsung menatap heran Vara.
"maksud kamu?" tanya Sena, Vara semakin binggung dia mikir kenapa di ucapin terimakasih malah dia engak paham, gimana si ini pak Sena.
"Iya, saya berterimakasih karena kemarin bapak sudah repot-repot menitipkan bingkisan buah ke pak Kenzo untuk di antar kerumah sakit" jelas Vara, ia takut Sena lupa atau bahkan hilang ingatan wkwk.
"Sebentar, maksud mu itu buah apa? Bingkisan buah? Diantar kerumah sakit oleh Kenzo?" Vara mengangguk
Sena yang memang tidak tau apa-apa soal buah apalagi Vara sampai berterimakasih ia semakin binggung, apa ini maksud nya.
"Vara, saya tidak ada nitipin buah ke Kenzo apalagi menyuruh nya untuk mengantarkan ke rumah sakit" disini mulai Vara yang binggung.
berarti buah itu bukan dari bapak? Tapi pak Kenzo bilang itu buah dari bapak makan nya saya tadi ucapin terimakasih ke bapak" Sena terdiam namun sesaat kemudian ia tertawa.
Vara yang melihat Sena tertawa seketika malu, entah apa yang bos nya ketawakan itu tapi yang pasti ia mikirnya Sena menertawakan dirinya karena kebingungan.
"Jadi kemarin Kenzo datang kerumah sakit jenguk kamu sambil bawa buah? Terus dia bilang buah itu dari saya yang dititipkan ke dia suruh antar untuk kamu?" Vara mengangguk, setelah itu Sena geleng-geleng sembari tersenyum.
"Udah-udah engak usah kamu pikirin, lebih baik kamu print aja berkas-berkas itu. Masalah buah engak usah kamu pikirin" Vara menatap heran bos nya.
kenapa dia tertawa terus kenapa dia nyuruh aku buat engak mikirin soal buah, aneh. Batin Vara
Namun ia menurut saja ia keluar dari ruangan Sena dan menuju ke ruang print, namun sepanjang jalan pikiran nya masih tentang buah dan ekspresi bos nya tadi.
kaya ada yang janggal, kalo buah itu bukan dari pak Sena lalu siapa? Kalo dari pak Kenzo sendiri kenapa dia engak bilang itu buah dari dirinya, Aneh sekali.
Vara masih terus menerka-nerka tentang buah tadi, soalnya dari wajah Sena yang kebingungan lalu tertawa dan menyuruh nya untuk tidak memikirkan itu menurut nya sangat aneh, apa ada yang mereka sembunyikan tapi apa.
Bukan nya fokus ke print-print nan berkas nya ia justru bergulat dengan pikiran nya sendiri hingga tak sadar sudah ada karyawan lain yang tengah antri.
"Mba, itu seperti nya sudah selesai gantian ya" Vara langsung buru-buru mengambil berkas nya dan segera meminta maaf lalu pergi.
"kacau aku, cuma gara-gara mikirin buah sampe engak inget lagi nge print" ucap Vara pelan sembari memegangi keningnya.
...****************...