Renatta harus mengalami dua hal pahit sekaligus dalam hidupnya setelah ditinggal sang kekasih yang sudah dipacarinya selama 3 tahun dan ditinggal pergi oleh ayahnya untuk selamanya dalam sebuah insiden.
Kemalangan yang dialami Renatta tidak sampai disitu saja adik dari ayahnya berusaha merebut harta yang dimiliki Renatta hingga dia dipertemukan oleh sosok laki laki bernama Devan yang saat itu sedang membutuhkan biaya untuk pengobatan ibunya yang sedang sakit keras.
Renatta menawarkan pernikahan kepada Devan dengan perjanjiaan bahwa Renatta akan menanggung semua pengobatan ibu Devan tanpa tahu siapa Devan yang sebenarnya.
Devandra Narendra Abimana sosok pria misterius dengan segala rahasia yang disembunyikannya.
Renatta Desinta Maharani sosok wanita penuh dengan kerumitan di kisah hidupnya.
“Kamu akan menyesalinya karena sudah menawarkan sebuah pernikahan kepadaku”. Ujar Devan dengan nada lirihnya yang tidak bisa didengar Renatta
Bagaimana kelanjutan kisah kehidupan Renatta dan Devan?
Dan apakah Devan bisa membantu Renatta keluar dari segala kepedihan dan masalahnya atau Devan hanya akan menambah kesedihan di kehidupan Renatta?
Cinta Dendam dan Obsesi
Happy Reading
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HelmaliaPutri18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa Agnes?
Setelah kepulangan Sherly, dia masih terus kepikiran dengan perkataan Sherly tentang wanita yang Devan temui tadi, entah kenapa ada perasaan tidak suka saat Renatta mendengar hal itu.
Renatta menghela nafasnya pelan, dia bingung dengan perasaan yang dia rasakan saat ini, entah kenapa dia ingin menelfon Devan dan bertanya tentang siapa perempuan yang dia temui tadi.
Akhirnya Renatta memilih untuk merebahkan tubuhnya di atas sofa, tidak lama kemudian dia sudah tidur terlelap di atas sofa mungkin efek dirinya kurang tidur semalaman padahal dia hampir tidak pernah tidur siang.
.
.
.
Di kantor Devan tampak gelisah entah kenapa dia memikirkan bagaimana kondisi Renatta setelah dia membuatnya tidak tidur semalaman.
Devan melihat arlojinya, ini sudah menunjukkan jam makan siang, itu artinya dia harus segera menemui seseorang untuk membicarakan hal penting.
Tante Inggit yang baru saja keluar dari lantai lift bawah tidak sengaja melihat Devan yang terlihat terburu buru keluar dari kantor, dan berniat akan mengikuti kemana Devan pergi tapi ketika dia akan pergi mengikuti Devan tiba tiba ponselnya berbunyi dan mengatakan bahwa ada client penting yang ingin bertemu dengannya, terpaksa dia membatalkan rencananya untuk mengikuti Devan.
"Kenapa aku merasa aneh dengannya, aku merasa dari sikap yang selalu menunjukkan intimidasi dan sepertinya ada sesuatu hal yang disembunyikan, biar aku cari tahu nanti tentangnya" Ucap Tante Inggit sambil berjalan masuk ke lift kembali.
Saat ini Devan sudah berada di depan restauran yang tidak terlalu jauh dari kantor, dan saat ini didepannya sedang duduk seorang perempuan yang menatap tajam kearahnya.
"Aku harap kamu tidak lupa dengan tujuan kamu masuk ke kehidupan perempuan tersebut, jangan sampai kamu jatuh cinta kepadanya yang membuat kamu akan terjebak dalam rencanamu sendiri"
"Kamu tidak perlu khawatir, aku tidak mungkin jatuh cinta kepadanya justru aku akan membuatnya jatuh cinta kepadaku agar aku lebih mudah untuk menghancurkan hidupnya" Ucap Devan dengan nada dinginnya
Ya Devan memang tidak boleh sampai jatuh cinta kepada Renatta, bagaimanapun tujuan awal pernikahan ini hanya untuk dia jadikan jalan balas dendamnya, dia tidak boleh kalah dalam permainan yang dia buat sendiri.
Perempuan tersebut menaruh sebuah amplop cokelat di meja dan memberikannya ke Devan.
"Disini ada beberapa foto yang dia ambil bersama perempuan itu, dan didalamnya juga ada beberapa berkas berkas yang kamu minta, dan aku harap kamu benar benar menepati perkataanmu untuk tidak jatuh cinta kepada perempuan tersebut". Perempuan tersebut berjalan keluar restauran meninggalkan Devan yang saat ini sedang membuka amplop cokelat itu.
"Bagaimana sebuah pertemanan bisa berakhir seperti ini?" Guman Devan sambil melihat foto didalam amplop tersebut.
Sedangkan di ruang kerjanya Tante Inggit sedang berbicara dengan anaknya Clara.
"Mamah merasa ada yang aneh dengan Devan, dia seperti seseorang yang cukup dominan dan terlihat cukup berkuasa"
"Maksud mamah suaminya Kak Renatta, emang apa yang membuat mamah berfikir seperti itu bukankah suami Kak Renatta hanya seorang manajer di sini"
"Apa kita perlu suruh orang untuk menyelidiki suaminya Kak Renatta?" Usul Clara kepada mamahnya, jujur dia juga penasaran dnegan hal ini.
"Ya, kamu benar sebaiknya kita cari tahu tentangnya, bisa jadi itu menjadi peluang kita untuk mengambil alih semua aset perusahaan ini". Ucap Tante Inggit dengan senyumnya dan membayangkan dia akan bisa mengambil alih perusahaan ini dan tentu saja dia akan mengusir Renatta keluar dari perusahaan ini.
"Jujur mamah masih tidak terima jika aset perusahaan ini jatuh ke tangan Renatta, bagaimanapun Renatta hanya seorang anak angkat yang beruntung bisa dirawat oleh Om kamu"
"Betul mah Clara juga masih tidak rela kalau semua aset Om Brata harus jatuh ke tangan Kak Renatta, seharusnya mamah yang berhak karena hanya mamah yang memiliki ikatan darah dengan Om Brata"
"Mamah rasa kita harus segera gerak cepat untuk mengambil alih aset perusahaan ini"
"Bagaimana caranya mah?" Tanya Clara penasaran.
"Nanti kamu juga akan tahu" Ucap Tante Inggit yang semakin membuat Clara bingung, dan bertanya tanya sebenarnya rencana apa yang saat ini mamahnya sedang susun.
.
.
.
.
Renatta menggeliat dari tidurnya saat mendengar suara ponsel berbunyi, tetapi dia tadi merasa tidur di sofa, bagaimana bisa sekarang dia sudah berada di atas kasurnya, tidak mungkinkan kalau dia tidur sambil berjalan.
Tiba tiba terdengar suara ponsel berdering kembali, Renatta berusaha mencari sumber suara dan ternyata yang berbunyi adalah ponsel milik Devan yang berada di atas nakas.
Ketika dia akan mengangkat telfon yang sedari tadi menelfon Devan tanpa henti, takutnya yang menelfon adalah client di perusahaanya karena selain menjadi manajer, Devan secara tidak langsung juga membantunya untuk menghandle beberapa pertemuan yang harus Renatta hadiri.
"Agnes" Guman Renatta saat melihat nama yang tertera di layar ponsel Devan dan tidak lama kemudian terdapat ada pesan masuk yang bertuliskan besok kita bertemu di tempat biasa
"Siapa sebenarnya Agnes, kenapa dia berkali kali menelfon Devan dan mengatakan kalau besok mereka akan bertemu di suatu tempat, haruskan aku mengikuti Devan besok untuk menuntaskan rasa penasarannya tentang perempuan tersebut"
Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka dan menampilkan Devan yang sudah memakai pakaian santainya, sungguh menurutnya Devan terlihat berkali kali lipat terlihat lebih tampan.
"Apa yang kamu lakukan di situ Re?" Tanya Devan penasaran saat melihat Renatta memegang ponselnya.
Renatta segera menyerahkan ponsel tersebut ke Devan "Maaf Dev, tadi ponselmu terus berbunyi mangkannya aku penasaran dan mungkin saja itu hal penting"
Devan hanya menganggukkan kepalanya, kemudian dia berjalan mendekati Renatta.
"Apa kamu yang tadi membawaku dari sofa ruang tamu ke kamar tidur" Tanya Renatta kepada Devan.
"Ya, tadi saat aku melihat kamu tertidur di sofa membuatku khawatir kamu tidak nyaman dan akhirnya aku mengangkat mu dan membawamu ke kamar tidur agar tidur kamu lebih nyaman"
Tentu saja jawaban Devan membuat Renatta merasa bahagia, karena secara tidak langsung dia mengatakan kalau Devan peduli kepadanya.
"Bagaimana keadaanmu, apakah sudah lebih baik?"
Renatta menganggukkan kepalanya "Ya keadaanku sudah lebih baik setelah seharian ini tidur"
"Baguslah itu artinya kita bisa begadang lagi malam ini" Ucap Devan tepat di samping telinga Renatta dan memberikan sedikit tiupan di sekitar telinga Renatta.
Dan seketika membuat seluruh tubuh Renatta meremang dan lagi lagi terlihat semburat merah di wajahnya.
"Devan berhenti menggodaku" Ucap Renatta dengan suara gugupnya.
"Aku bersungguh - sungguh dengan apa yang aku katakan Re, apa aku terlihat bercanda" Ucap Devan dengan jarak yang semakin dekat dengan Renatta.
Renatta sudah tidak bisa berkutik saat Devan sudah menjatuhkannya di atas kasur tempat tidurnya.
Malam itu mereka kembali melakukannya lagi, menikmati dinginnya malam dengan saling berbagi kehangatan.
Dan apa yang akan terjadi dengan malam malam selanjutnya biarlah hanya Devan dan Renatta yang tahu.
.
.
.
To Be Continue
dan aku suka reaksi renata pada saat suaminya cemburu renata langsung agresif menyerang suami, kalau sudah begini suami mana tidak langsung luluh hatinya
tapi beda cerita kalau lelaki lain (pebinor) pasti reader langsung iba,
"kasian cinta tulus dia pantas bahagia"
"thor beri dia pasangan biar dia bahagia"