21+
[Penuh dengan adegan dewasa yang explicit (jelas), pertengkaran, kata-kata kasar, alkohol dan gaya hidup bebas]
Cassandra De Angelis seorang produser musik yang sangat sukses harus berakhir dalam kecelakaan maut yang hampir merenggut nyawanya. Namun, keberuntungan menyelamatkannya dari maut dan membuat dia bisa sembuh. Hanya saja, saat dia terbangun dia seolah melupakan sesuatu tentang kejadian yang menimpanya. Cassandra tidak ingat sedikit pun tentang kecelakaan itu dan keluarganya pun seolah menyembunyikan sesuatu darinya. Hingga akhirnya potongan ingatannya perlahan muncul, membentuk dan menyusun puzzel yang akan menjawab misteri di balik kecelakaannya. Misteri yang akan membawa dia pada sebuah kisah yang rumit. Kisah yang akan mengubah hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aresss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Home
Happy Reading
***
"Hari ini aku pulang," ujar Cassie melalui ponsel sembari memasang kancing kemejanya. Ponsel itu dia jepitan di antara kepala dan bahunya.
"Maafkan Dad tidak bisa menemanimu, Nak."
"That's okay," mata Cassie melirik ke arah Ibunya yang tengah membereskan barang dan perlengkapannya.
"Dad akan datang berkunjung jika ada waktu,"
Cassie mengambil ponsel dengan tangannya lalu mengambil posisi duduk di atas hospital bed, "Jangan repot-repot. Italia dan LA bukanlah jarak yang dekat. Kita berbicara via ponsel seperti ini saja sudah cukup untukku
"Kalau begitu aku akan mengirim uang jajan membeli pakaian baru.."
Cassie memutar mata, "Aku sudah dewasa dan memiliki penghasilanku sendiri, Dad."
"Bagiku kau tetaplah buah hatiku yang mungil. Apa Ibumu di sana?"
Cassie melirik ke arah Ibunya, tapi Ibunya tidak merespon. Padahal, Cassie dengan sengaja memperbesar volume ponsel agar Ibunya bisa mendengar percakapan mereka.
"Sedang mempersiapkan barang-barang untuk kepulangan kami."
"Begtu, yah? Sampaikan salamku pada Ibumu, Cassie.."
"Okay, Dad. Sampaikan juga salamku pada Melinda."
Melinda, istri kedua Ayahnya. Ibu dan ayah Cassie sudah bercerai saat dia sudah berusia 15 tahun. Masa-masa itu adalah masa terberat bagi Cassie. Perasaaannya hancur saat melihat kedua orangtuanya tidak lagi tinggal satu atap. Hatinya remuk ketika Ayahnya menikah dengan wanita lain. Mimpi buruk tentang Ayahnya memiliki anak lagi menghantui malam-malamnya.
Perkembangan emosinya pada itu memang belum stabil dan membuatnya berpikir bahwa itu adalah akhir hidup dari hidupnya. Namun, ternyata tidak. Seiring waktu, Cassie sadar dan mengetahui pertanyaan-pertanyaan yang selalu menghantuinya. Mengapa mereka bercerai? Mengapa mereka tidak saling cinta lagi? Dan pertanyaan lain. Cassie mulai bersahabat dengan masa lalunya dan menjadikan itu pembelajaran untuknya.
"Good bye, my little pumpkin.."
(Selamat tinggal, puteriku)
"Good bye, Dad.."
Cassie menutup panggilan dan menaruh ponselnya di atas ranjang. Matanya menatap Ibunya yang sudah selesai mengepak barangnya.
"Thank you, Mom,"
Cassie sadar bahwa Ibunya sudah berdamai dengan masa lalu, bahkan Cassie kerap melihat Ibunya berkencan dengan pria lain walau tidak ada yang bertahan lama. Namun, dia tahu bahwa topik tentang Ayahnya masihlah sebuah topik yang sensitif. Nampaknya, semua orang yang pernah dimabuk cinta dan akhirnya berpisah akan merasa sensitif jika membicarakan tentang mantan mereka masing-masing.
"Yah.. Miranda akan datang sebentar lagi untuk menjemput kita,"
"Mom, aku ingin bertanya terkait ponsel lamaku,"
Barbara menggeleng, "Aku sudah bertanya pada pihak kepolisian, tapi ponselmu nampaknya hilang saat proses evakuasi..."
Cassie berdecak lidah, "Sial sekali"
"Kau kan masih bisa membeli ponsel baru..."
"Bukan masalah baru atau tidaknya, data-data dalam ponselku sangat berharga," Cassie bangkit dari duduknya dan bergabung dengan Barbara yang berdiri di samping jendela kamar rumah sakit.
"Aku terkadang menyimpan salinan lagu, musik, atau lirik-lirik laguku di sana..."
Barbara menatap lurus ke dapan, ke arah perkotaan LA yang padat. Di kejauhan terdapat bercak biru yang menandakan keberadaan lautan. Pandangannya kemudian ditoleh ke arah Cassie.
"Setidaknya kau baik-baik saja, Cassie. Itulah yang terpenting," tangannya meraih tangan Cassie dan meremasnya lembut.
"Awww, Mom.. Jangan bertingkah begini. Kau membuatku sedih."
"Aku hanya sangat senang akhirnya kau sembuh dan kembali memulai kehidupan yang baru,"
Cassie memutuskan kontak mata dengan Ibunya dan menatap ke arah perkotaan.
"Bukan memulai kehidupan baru, Mom. Namun melanjutkan kehidupan..." koreksi Cassie. Bagi dia, dua kalimat itu memiliki konteks yang berbeda.
"Bukankah itu sama?"
Dia menggeleng, "No.. Itu beda,"
Bunyi pintu yang terbuka menarik perhatian keduanya. Di sana, mereka melihat Miranda.
"Okay? Jadi siapa penumpang yang harus saya bawa pulang hari ini?" tanyanya dengan nada ala-ala.
Cassie melepas genggaman Ibunya dan tersenyum lebar.
"It's Me..."
(Aku)
****
"Yaps.. Penderitaan yang lain," Miranda membawa dua bundel tas dari lantai lift. Mereka bertiga keluar dari lift dan berjalan ke arah tangga yang akan membawa mereka ke tempat tinggal Cassie.
"Itu hanya sepuluh anak tangga, Miranda," omel Cassie dan mengambil posisi lebih dulu berjalan ke arah tangga. Barbara menyusul setelahnya.
"Itu karena kau tidak perlu membawa tas berat sialan ini!"
"Stt... Naik saja," timpal Barbara dan Miranda pada akhirnya melakukannya.
Di depan, Cassie menekan jari jempolnya pada kunci elektronik dan pintu menuju rooftop apartemen itu terbuka. Namun, di sana bukanlah sekadar rooftop kosong karena ada bangunan yang berada di ujung bangunan, melebar di gedung apartemen ini.
Rumah Cassie.
Cassie melepas sendalnya untuk menginjak lantai kayu yang bersih. Dia berjalan di sekitar halaman rooftop untuk menatap ayunan, tanamannya, rumput sintetis, dan jemurannya dalam keadaan rapi dan bersih. Dia menghirup udara kering dan menikmatinya. Akhirnya, dia pulang.
"Buka pintunya!" Miranda berteriak kesal dan itu membuat Cassie terkejut. Matanya menatap garang ke arah kakaknya tersebut.
"Tidak bisakah kau bersabar?" dia buru-buru berjalan ke arah pintu rumahnya dan membukanya.
"Tidak. Bersabar bukanlah keahlianku."
"Bersabar tidak pernah menjadi keahlian dalam keluarga kita, kids," Barbara menengahi keduanya dan bergerak masuk, "Minggir."
(Kids\=anak)
"Apa Mom menyuruh seseorang membersihkan rumahku?" tanya Cassie sembari melepas sepatunya dan melangkah masuk.
"Begitulah... Ah.." Barbara melemparkan tubuhnya berbaring ke atas bean-bag sofa ukuran besar. Miranda mengambil tempat di bean-bag lainnya.
"Thank you, Mom.."
"Aku sudah belanja, bisakah kau buatkan minuman dingin untukku?"
Cassie memutar mata mendengar permintaan kakaknya, "Mmm.."
"Untukku juga, nak..."
"Bagaimana bisa kalian menyuruh pasien yang baru keluar rumah sakit menyiapkan jus untuk kalian?"
"Bisakah kau turunkan suhu AC-nya? Aku benar-benar kepanasan.." Miranda tidak mengindahkan omelan Cassie dan malah memintanya melakukan hal lain.
"Huh.. Benar-benar..."
Cassie menyambar remote AC yang tergantung di dingin dan menurunkan suhu ruangan. Setelah itu, dilangkahkan kakinya ke arah dapur kecilnya yang terhubung langsung dengan ruang tamu. Tangannya membuka lemari pendingin dan membuat minuman sederhana dari sirup jeruk dengan batu es.
"Ah.. Panas-panas begini aku ingin menghabiskan waktu di pantai," Cassie mendengar suara Miranda. Sekarang sudah bulan sembilan akhir, tapi tanda-tanda musim hujan belum juga nampak. Well, masalah pemanasan global itu benar-benar nyata.
"Cepatlah nikmati waktu berjemurmu sebelum musim hujan datang," Cassie membawa dua cangkir sirup tadi ke arah mereka.
"Thank you, dear.."
"Yes, Mom.." Cassie mengambil tempat di bean-bag sofa yang lain dan melihat mereka berdua.
"Saat-saat seperti ini aku berharap tinggal di bagian bumi utara untuk menikmati musim gugur dan musim dingin," ucap Barbara setelah menyedot minumannya.
"Kenapa Mom tidak pindah saja ke New York atau San Fransisco? Aku bisa membantumu membeli tempat tinggal baru di sana," Cassie memberi saran pada Ibunya.
"Yah, aku ingin melakukannya. Namun, aku takut jika aku tidak betah."
"Itu hanya akan memakan waktu sejam perjalanan menggunakan pesawat, Mom. Lagian kita tetap masih bisa berhubungan melalui ponsel..." Miranda ikut mendukung saran Cassie.
"Sudahlah, Ibu lebih nyaman di sini. Setidaknya, aku harus melihat salah satu dari kalian menikah jadi aku bisa meninggalkan LA dengan aman dan tanpa beban,"
"Menikahlah bukanlah hal mudah, Mom..." Miranda mengerang, "Aku benci topik ini. Bisakah kita mengganti topik lain?"
"Perkataanku ini untukmu, Miranda.."
"I know.. I know.." Miranda menanamkan wajahnya pada permukaan bean bag dan Cassie hanya menatapnya dalam diam.
"Aku ingin membereskan barangku dulu," Cassie bangkit dari duduknya dan membawa tasnya ke arah kamarnya. Satu-satunya kamar di rumah ini.
Hanya ada satu kamar mandi, satu ruangan studio kecil untuk mengerjakan musiknya, dapur kecil, dan ruang tamu seadanya. Sebenarnya dia mampu membeli apartemen yang jauh lebih besar dengan gaji yang dia terima sekarang, tapi dia suka tempat ini. Berada di atas rooftop apartemen ini, di mana dia bisa menatap perkotaan secara bebas walau bangunan ini hanya memiliki 12 lantai. Dia senang berada di sini.
Saat masuk ke kamar, dia melihat kamarnya yang rapi. Ditaruhnya tas ke atas lantai. Cassie menatap sekeliling lalu berjalan ke arah dinding kaca besar yang menampilkan pemandangan di luar ruangan. Jendela itu berdiri dari bawah lantai hingga langit-langit kamarnya. Dia ingat menghabiskan banyak uang untuk merenovasi tempat ini, terutama untuk memasang kaca ini. Namun, tidak sedikit pun dia merasa menyesal.
Disibakkan gorden dinding kaca itu dan menikmati cahaya matahari yang masuk. Dari sini, dia melihat bercak biru itu lagi. Ah.. Dia rindu menghabiskan waktu di pantai. Dalam kepalanya, dia mulai menuliskan list-list kegiatan apa yang harus dia lakukan.
Cassie berlalu dari dinding kaca dan melempar tubuhnya ke atas ranjangnya yang empuk. Dia meregangkan tubuhnya, menikmati suasana yang berbeda itu.
"Aku merindukanmu, sayang.." bisiknya pada ranjangnya sendiri. Tubuhnya sudah muak dengan hospital bed yang keras. Senang rasanya bisa kembali lagi ke tempat yang seharusnya.
"Sekarang, saatnya melanjutkan hidup yang sempat tertunda.."
***
Miss Foxxy
Ceritanya akan berjalan lambat jadi sabar yah. Sebenarnya, masalah sudah ada dari awal cerita, tinggal bagaimana para karakter nanti menyadari masalah itu. Gambar karakter setiap cerita sebenarnya tergantung masing" cuman aku ganti lagi dan udah aku tambahi juga translate dari b.inggris untuk mempermudah pembaca. Rumah di atas adalah ilustrasi rumah Cassie. Jangan lupa dukung author. Thank you
mash blm paham niiii
bukany terpeleset yaaa
terlalu aneh bisa sama-sama amnesia dan melupakan waktu 6 bukan
curiga deh ikke
dunia fantasi, untuk melepaskan penat 😁