Terbelenggu dalam pernikahan yang tidak diinginkan, mampukah pernikahan itu bertahan?
Bagaimana bila yang selalu berjuang justru menyerah saat keduanya sudah disatukan dalam ikatan suci pernikahan?
“Cinta kita seperti garis lurus. Bukan segitiga atau bahkan persegi. Aku mencintai kamu, kamu mencintai dia dan dia mencintai orang lain. Lurus kan?” ucap Yuki dengan tatapan nanar, air mata yang mulai merembes tertahan di pelupuk mata. “Akan lucu dan baru menjadi bangun datar segi empat bila sosok yang mencintai aku nyatanya dicintai orang yang kamu cintai.”
“Di kisah ini tidak ada aku, hanya kamu dan kita. Bukankah kita berarti aku dan kamu? Tapi mengapa kisah kita berbeda?” Ucapan lewat suara bergetar Yuki mampu menohok lawan bicaranya, membungkam bibir yang tiba-tiba beku dengan lidah yang kelu.
Ini adalah cerita klise antara pejuang dan penolak hadirnya cinta.
*
*
*
SPIN OFF Aara Bukan Lara
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Hikari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenyataan Menyakitkan
Seminggu berlalu setelah kejadian Yuki jatuh tidak sadarkan diri. Kini dengan kebawelan Mama Agni dan Papa Leigh, serta perhatian yang dingin terkesan tampak enggan dari sang suami, Yuki sudah pulih seperti sedia kala.
Selera makannya tidak meningkat, namun setidaknya asupan nutrisi Yuki lebih terjaga dan teratur. Terkadang seorang kurir tiba-tiba datang karena ditugaskan mengirim makanan dari restoran tempat suaminya bekerja.
Terkadang Yuki cukup senang dan bingung pada sikap sok perhatian yang didapatkannya. Namun tidak lama berganti sedih, miris dan pilu saat sebuah harapan tersirat dari pertanyaan mengapa dirinya terus dikirimi makan hanya terjawab berupa alasan agar terlihat baik di mata kedua mertuanya.
“Baru pulang Mas?” Tanya Mama Agni pada anak laki-laki satu-satunya.
“Iya, Ma. Yuki di mana?” Pertanyaan itu terucap setelah sempat mengedarkan pandangan, biasanya Yuki selalu menemani Mama Agni menikmati sinetron dengan alur cerita yang mudah ditebak, namun ajaibnya sudah menjadi candu bagi Mama Agni.
“Di atas, Mas. Katanya tadi mau isi baterai ponsel dulu, tapi dari tadi belum juga turun.” Jawab Mama Agni tanpa mengalihkan sorot matanya dari layar televisi.
“Paling sebentar lagi Ma. Kalau gak turun juga pasti ketiduran waktu iseng rebahan.”
“Sinetronnya kayak kamu tuh Mas. Kamu kan kenalin Yuki ke Mama waktu lamaran aja. Itu juga Yuki kelihatan kaget kamu datang melamar. Syukurnya orang tua Yuki udah tau kamu datang mau melamar.” Ucap Mama Agni yang jelas sedang menyindir anaknya.
“Mama kan pernah ketemu Yuki di pernikahan Alia.” Ucapnya yang menyebut nama Alia dengan hati-hati.
“Gak usah sebut-sebut nama Alia lagi!” Ucap Mama Agni sewot, melotot galak pada sang putra yang baru mendudukkan tubuh lelahnya di sofa lain.
“Kan memang Mama pernah lihat Yuki di pernikahan Alia. Mama juga yang waktu itu bilang punya menantu kayak Yuki pasti lucu.”
“Udah Mama bilang stop bahas Alia! Jangan bilang kamu masih cinta sama Alia!?” Langkah kaki Yuki terhenti, ia diam-diam mendudukkan dirinya di ujung anak tangga berniat menguping pembicaraan ibu dan anak itu.
“Ng-nggak Ma..” Seketika dada Yuki mencelos, tersenyum miring pada jawaban menyangkal yang terdengar ragu, ia tau bahwa nama Alia masih tersemat di hati suaminya.
“Halah.. Mama tau kamu masih cinta sama Alia.” Cibir Mama Agni sinis yang diangguki setuju oleh Yuki dengan bibir cemberut.
“Ma..”
“Seandainya Alia gak nikah duluan, Mama pasti senang banget kamu bisa menikah dengan Alia.”
Deg!!
Detik itu juga dunia Yuki runtuh. Tangannya terkulai lemah membentur anak tangga. Lidahnya kelu dan tenggorokannya tercekat.
“Kalian itu udah kenal dari kecil. Mama juga udah anggap Alia anak Mama sendiri.” Imbuh Mama Agni yang seketika membuat Yuki mual. Rasanya ada banyak partikel asing yang menyerang Yuki dari segala penjuru.
Menarik nafasnya dengan bibir yang bergetar menahan tangis, Yuki berusaha beranjak dari duduknya. Berpegangan erat agar tidak terjatuh dan terguling hingga ke dasar anak tangga. Sebuah kerjapan berhasil meloloskan air mata kesedihan Yuki.
Berjalan cepat dengan penglihatan yang membuyar, Yuki menahan isak tangisnya. Sakit. Dadanya seperti ditusuk ribuan ekor kalajengking. Fakta bahwa sang suami tidak mencintainya sudah Yuki terima dengan ikhlas, tapi tidak dengan pernyataan Mama Agni.
Yuki seakan dikhianati oleh sikap Mama Agni yang selalu sayang kepadanya. Jika memang hadirnya tidak seberharga Alia, untuk apa ia bertahan?
Kini Yuki hanya bisa duduk termenung, meringkuk di atas lantai dingin menyandar pada tepian ranjang. Menggigit bibir bawahnya agar isak tangis tidak menggema, Yuki menangis tergugu menahan pilu menyesakkan. Meratapi kenyataan menyakitkan dengan air mata terus mengalir deras membasahi kaos kuning yang sesekali ditarik untuk mengusap kasar wajahnya.
Menerawang pada kehidupannya yang semakin menyedihkan, Yuki menengadahkan wajahnya. Menarik nafas dalam-dalam dan berdiri dengan jiwa yang rapuh. Melangkah tanpa keraguan dengan tubuh bergetar hebat yang terhenti di bawah pancuran shower.
Mengusap kasar lelehan air mata terakhir yang bertemu udara dengan lengan polos. Beberapa detik kemudian guyuran air hangat membasuh tubuh Yuki yang masih terbalut baju lengkap.
Sedangkan di lantai bawah ocehan sengit Mama Agni yang belum sempat Yuki dengar keselurahan nya masih terus berlanjut. Tampaknya dampak menguping separuh jalan membuat Yuki terperosok dalam kubangan kesalahpahaman.
“Gak salah kalau kalian dekat sampai menikah. Mama pasti merestui. Tapi itu sebelum Alia punya pasangan bahkan sudah menikah. Mama gak suka perempuan kayak gitu!” Ucap Mama Agni dengan suara meninggi.
“Dulu Alia memang perempuan baik-baik, tapi sekarang TI-DAK!!” Imbuh Mama Agni dengan suara lebih meninggi lagi dengan menekan kata ‘tidak’ diakhir kalimatnya.
“Mama gak boleh ngomong gitu dong tentang Alia.” Belanya pada Alia, meski tidak terdengar langsung oleh Alia, namun ada perasaan tidak suka saat Mama Agni mengatakan bahwa Alia bukan perempuan baik-baik lagi.
“Kamu mau marah sama Mama!?” Melipat tangannya, Mama Agni mengabaikan sinetron dengan moment paling penting saat pemeran antagonis mendapatkan karma kejahatannya.
“Sekarang gini, kamu bayangkan Papa yang udah nikahi Mama terus Papa mu itu berhubungan dekat dengan cinta pertamanya setelah menikah dengan Mama.” Ucap Mama Agni lembut dengan sorot mata tajam.
“Kedekatan mereka bahkan membawa perasaan, mereka sadar tapi tidak juga saling memberi jarak. Alasannya klasik, pertemanan. Disaat itu pula rumah tangga yang baru dibina merenggang, menyakiti satu sisi yang tidak tau apa-apa, brengsek gak itu Papa mu?” Ucap Mama Agni panjang lebar yang mulanya lembut berubah menggebu-gebu, tampak kepulan amarah sudah menguasai jiwa Mama Agni.
“Papa kenapa Ma?” Tanya Papa Leigh penuh selidik, seingatnya tidak pernah ada kisah seperti yang Mama Agni ucapkan selama menjalani bahtera rumah tangga yang hampir lebih dari 30 tahun itu.
“Papa bikin kaget aja!” Terperanjat Mama Agni menatap sengit Papa Leigh, sebenarnya itu adalah efek kesal pada sang putra.
“Iya, Papa salah apa Ma sampai dibilang brengsek?” Tanya Papa Leigh lagi, menatap penuh selidik pada istri dan anaknya secara bergantian.
“Cuma perumpamaan Pa. Kamu kan bijak dan setia, kenapa bisa punya undur-undur plin-plan?” Ucap Mama Agni sekenanya. Sikap cerewet Mama Agni benar-benar mirip seseorang yang pasti sedang tertidur di kamar, begitu pikirnya sembari mengulas senyum simpul dengan wajah tertunduk.
Diam-diam di sudut hati kecilnya, ia membenarkan ucapan Mama Agni. Alia bukan lagi perempuan baik-baik dan dirinya memang pantas disebut plin-plan. Seandainya ia tidak terpojok dan nekat memanfaatkan Yuki untuk dinikahi, mungkin kini ia tidak menambah penderitaan dalam hidup Yuki.
“Yuki..?” Suara tegas mengalun di balik pintu kamar mandi. Sudah hampir 1 jam dirinya duduk di sofa kecil menanti Yuki. Ia belum mandi dan saat hendak mandi terdengar gemericik air mengalir yang diyakini pasti ulah Yuki. Meski begitu ia sempat merasa heran pada Yuki yang tiba-tiba mandi di malam hari.
...****************...
*
*
*
Nah sebenarnya jahat, egois atau gimana ini sikap suami Yuki? 🤔
btw, terima kasih semuanya yang sudah mendukung😘 maaf ya komen nya belum dibalas satu per satu, Hana lagi cukup sibuk di real life, jadi belum bisa stay on lama-lama🙏