Kecelakaan maut dalam perjalanan ke puncak, mengantar Senja menjadi seorang janda diusia yang masih sangat muda. Suami dan putra satu-satunya dinyatakan meninggal dunia di tempat.
Setelah peristiwa itu, takdir membawa Senja bertemu dengan Deandra dan Aleandro. Pasangan yang sudah lama menikah tetapi belum juga dianugerahi keturunan.
Deandra adalah atasan Senja di tempatnya bekerja. Karena sesuatu hal, Senja diminta untuk menjadi surrogate mother untuk calon anak dari Deandra dan juga Aleandro.
Bersediakah Senja menerima permintaan atasannya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devi21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ingin melindungi Senja
Senja dan Darren sedang menikmati makan siang mereka di sebuah restauran makanan Indonesia. Meski berbeda dalam banyak hal, ternyata selera perut mereka sama.
Senja menghentikan makannya ketika lagi-lagi dia melihat seseorang yang mirip dengan Rafli. Darren mengikuti arah pandangan mata Senja yang terlihat begitu dalam.
Darren ikut membulatkan matanya begitu melihat sosok itu.
"Rafli?" tanya Darren.
"Bukan ... hanya mirip," jawab Senja walau dalam hati dia juga sebenarnya penasaran.
"Tingkat kemiripan fisik seratus persen ... Belum tau kalau sifatnya. Kalau dia bukan saudara kembar, pasti dia memang Rafli. Tidak mungkin ada orang yang sama persis di dunia ini kalau bukan seorang yang kembar identik," ucap Darren dengan sangat yakin.
"Setauku mas Rafli tidak mempunyai saudara kembar," sahut Senja cepat.
"Apa kamu yakin Rafli benar-benar meninggal?" tanya Darren penuh tanda tanya.
"Tentu saja. Mana ada orang tua memanipulasi kematian anaknya sendiri. Aku memang tidak melihat jenazahnya langsung, karena masih tidak sadarkan diri waktu itu. Keluarganya langsung memakamkan Rafli tanpa menunggu aku sadar, " jawab Senja.
"Kamu harus mencari tau kebenarannya Senja! Keluarga suamimu sangat licik. Jika memang Rafli masih hidup dan yang kita lihat sekarang ini adalah Rafli, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Darren lagi.
"Aku tidak ingin membayangkannya Tuan. Biarlah aku berkeyakinan, bahwa mas Rafli sudah meninggal. Kalau memang mas Rafli masih hidup, dia pasti akan kembali padaku. Dia bukan mas Rafli!" tegas Senja berusaha menguatkan dirinya sendiri.
"Aku akan mencari tau ... aku yakin kalau pun dia bukan Rafli, pasti dia kembaran Rafli." ucap Darren lalu berdiri dan menghampiri laki - laki yang mirip Rafli dan seorang wanita cantik berwajah khas usbekistan.
Darren sedang berpura -pura menanyakan sebuah alamat pada mereka dengan bahasa inggris. Perempuan di samping laki - laki mirip Rafli yang dominan menjawab. Darren terus mencoba mengajak berbicara. Setelah merasa cukup, Darren pun kembali ke mejanya. Dia tidak berbicara apapun pada Senja, biarlah dia menyimpan apa yang ada di pikirannya sendiri.
"Bagaimana?" tanya Senja sedikit penasaran.
"Tidak ada yang aneh. Anggap saja pendapatmu benar kali ini," jawab Darren dengan wajah datar.
Senja mengangguk saja. Meski dia tau persis Darren sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
Setelah menyelesaikan makannya, mereka pun segera beranjak meninggalkan resto .
Brukkkkkkkk
Seorang anak berlarian sampai menabrak badan Senja dengan keras. Senja hampir saja terjatuh, tapi seseorang yang mirip Rafli menangkap tubuh Senja dengan sigap .
Sesaat pandangan mata mereka beradu, namun buru-buru Senja memalingkan wajahnya. Tatapan mata itu sungguh mengingatkan Senja pada tatapan mata Rafli saat awal-awal mereka saling jatuh cinta.
"Are you oke?" tanya laki - laki yang mirip dengan Rafli.
"I'm oke ... Thanks," jawab Senja dengan jantung yang berdebar kencang.
Menyadari Senja yang sedang terbawa perasaan, Darren segera menarik tangan Senja dari pegangan laki -laki itu.
"She's my dear," ucap Darren tiba-tiba dengan bahasa inggris yang sangat fasih, sangat posesih melingkarkan tangannya ke pinggul Senja.
Laki - laki itu hanya tersenyum. Lalu mengulurkan tangannya pada Senja. "Firly ... Aku bisa bahasa Indonesia dengan baik . Karena saudaraku tinggal di sana," ucapnya.
Senja sangat kaget. Mungkinkah Firly ini memang saudara kembar Rafli. Senja hendak menerima uluran tangannya, tapi Darren langsung menyambar tangan Senja dan menggenggamnya erat.
"Thanks bro! Kita permisi dulu," ucap Darren sok akrab.
Darren secara tidak langsung melindungi Senja dari kebaperan yang hakiki. Terlihat jelas, wajah Senja begitu berbinar - binar lalu tersipu malu ketika berinteraksi dengan Rafli kw alias Firly.
Darren menarik tangan Senja, ketika perempuan itu hendak membuka pintu bagian depan mobilnya. Darren merasa Rafli kw masih mengawasinya.
Darren mengajak Senja duduk di sampingnya di bangku tengah. Lalubdia menyuruh driver segera menjalankan mobilnya.
Senja terlihat senyum-senyum sendiri mengingat kejadian barusan. Membuat Darren menjadi kesal.
"Please jangan lemah Senja. Dia bukan Rafli. kenapa kamu sesenang itu?" tanya Darren uring- uringan sendiri.
"Saya tau tuan ... Tapi jika saya boleh berharap , saya ingin jatuh cinta pada orang yang sama lagi dan lagi seumur hidup saya," jawab Senja dengan lembut .
"Kamu sedang hamil Senja. Jaga perasaanmu jauh -jauh dari potensi kecewa dan sedih,"ucap Darren terdengar sangat peduli .
"Saya mengerti bagaimana harus menjaga diri, Tuan!"
Darren dan Senja lalu sama - sama terdiam. Keduanya sibuk dengan pikirannya masing- masing.
Senja terus mengingat kejadian tadi saat Firly menolongnya. Dia memejamkan matanya. Benar - benar seperti anak abg yang sedang kasmaran.
Sedangkan Darren masih bergulat dengan hatinya yang sedikit merasa iri dengan Rafli. Sampai detik ini, Darren tidak pernah merasakan dicintai dengan tulus seperti cinta Senja pada Rafli. Memang banyak perempuan yang mendekatinya, merelakan tubuh mereka untuknya, bahkan tidak sedikit yang mengajaknya menikah. Tapi semua melihatnya karena kekayaan dan kesuksesan Darren.
Mobil berhenti tepat di depan lobby gedung perkantoran megah di mana kantor Darren berada.
Darren dan Senja turun bersamaan lalu berjalan beriringan seolah mereka adalah pasangan. Wajah Senja mendadak pucat. begitu menyadari dari arah berlawanan terlihat jelas Sonya alias mantan Ibu mertuanya dulu sedang berjalan ke arah luar lobby.
Senja berharap perempuan berusia lima puluh lima tahunan itu tidak melihatnya. Tapi harapan itu sirna, begitu Sonya tersenyum sinis ke arahnya.
Senja menarik nafas dalam, lalu menghembuskan perlahan sambil memperlambat langkahnya hingga tak sejajar lagi dengan Darren.
Darren yang menyadari itu, langsung menarik tangan Senja agar kembali sejajar dengan dirinya. Selangkah lagi Senja akan berpapasan dengan Sonya. Dan benar sekali, Sonya memang sudah melihat Senja. Perempuan itu langsung menghentikan langkah Dareen dan Senja begitu tepat saling berpapasan.
"Memang dasar perempuan gat**. Setelah anak kesayanganku meninggal, langsung mencari mangsa. Dan kamu Darren Mahendra, berhati - hatilah dia hanya mengincar hartamu," ucap Sonya pelan tapi sangat menyakitkan.
"Jangan menghina saya Ibu Sonya. Dulu saya diam karena saya masih menghargai anak Anda. Sekarang tidak ada alasan apapun untuk membiarkan diri saya di hina seenaknya oleh Anda. Jangan pernah mengatakan saya perempuan ga*** , Anda tau persis siapa yang mengejar dan memaksa saya menikah. Jangan pura-pura tidak tau dann jangan berfikir seolah saya perempuan gila harta. Bahkan saya tidak membawa apapun milik anak Anda ketika keluar dari rumah saya sendiri. Jkka berbicara gila harta, berkacalah dulu. Berapa banyak harta atas nama saya yang anda ambil paksa secara ilegal untuk anak perempuan anda satu - satunya. Jangan Fikir saya tidak tau, Kalau Anda memalsukan semua dokumen dengan sangat rapi," ucap Senja panjang dan lebar penuh penekanan kemudian berjalan meninggalkan Sonya yang masih tertegun kesal .
"Jangan memperingatkan apapun pada ku Nyonya. Kalaupun Senja menginginkan hartaku. Aku akan memberinya dengan suka rela. Orangtuaku akan menerima Senja dengan baik, karena orang tuaku tidak gila harta seperti Anda. Jangan sentuh Senja! atau keluarga Mahendra akan mengibarkan bendera perang kembali dengan keluarga Anda," tegas Darren dengan sinis meninggalkan Sonya yang benar - benar kesal pada keduanya.
Darren berlari kecil mengejar Senja yang sudah berdiri menunggu pintu lift terbuka.