DALAM TAHAP REVISI
"kenapa kamu ngikutin saya terus? Kamu gak punya malu hah!! " bentak Devan .
"Aku cuma lindungi bapak dari buaya-buaya betina" ujar Dinda sambil mengedipkan matanya genit pada Devan.
"Kamu itu cuma sekretaris saya, jadi tidak usah ikut campur dengan urusan pribadi saya" ketus Devan dan pergi meninggalkan Dinda yang menatap sendu pada pria tersebut.
Dinda Rosalin gadis berumur 23 tahun , berusaha untuk mengejar cinta bosnya yang merupakan CEO di perusahaan Alvian's grub. Devan Ardiansyah pria dingin , cuek dan galak itu tidak memperdulikan Dinda yang berjuang untuk mendapatkan cintanya.
Devan tidak bisa membuka hatinya, karna mencintai seorang wanita yang bernama Asyilla istri dari sepupunya membuat dia susah untuk menerima wanita lain dalam hatinya.
Hingga suatu hari Devan terpaksa menikah dengan Dinda , karna suatu peristiwa.Dan peristiwa itu membuat rasa cinta dihati Dinda berubah menjadi rasa benci yang mendalam pada Devan.
Peristiwa apa yang membuat Dinda membenci Devan?. Dan juga membuat mereka terikat dengan pernikahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon windanor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SAH!
Saya terima nikahnya Dinda Rosalina binti almarhum Mahendra dengan seperangkat alat sholat di bayar tunai.Sekali tarikan napas Devan mengucapkan ijab kabul dengan lantang dan nyaring.
"Bagaimana para saksi? " tanya penghulu pada saksi yang hadir.
"SAH! "
"SAH! "
"SAH! "
Seruan para saksi yang berjumlah lima orang, menggema di ruangan tersebut. Semua orang mengadahkan kedua belah tangan berdoa, dipimpin oleh penghulu. Setelah selesai berdoa Devan bangkit dari tempat duduknya dan mendekat kearah Dinda yang masih berbaring di brankar.
Devan mencium kening Dinda yang telah sah menjadi istrinya secara agama maupun hukum.Bersamaan dengan itu air mata Dinda mengalir. Dia tidak tau harus bahagia atau malah sebaliknya.Devan melepaskan ciuman dan menatap Dinda yang memalingkan wajahnya.
Devan tau tidak mudah bagi Dinda menerima kehadirannya.Devan beralih mendekat kearah Nia dan mencium tangan mertunya itu.
"Tolong jaga Dinda, jangan sakiti dia, dia satu-satunya hal berharga dalam hidupku, dan juga kekuatan ku, bila kau menyakitinya sama saja kau menyakitiku" ujar Nia menghapus air matanya.
"Saya janji akan menjaga Dinda, dan tidak akan menyakitinya dan akan menjadikan dia wanita satu-satunya dalam hidup saya" ujar Devan.Nia hanya mengangguk .
"Selamat atas pernikahannya" ujar Arya mengucapkan selamat .
"Terimakasih" ujar Devan tersenyum.
"Jaga Dinda baik -baik, kamu beruntung mendapatkannya" ujar Arya beralih menatap Dinda.
*****
Tinggal Devan dan Dinda disini, semua orang sudah pulang terutama ibu Nia, dia percaya kan putrinya pada Devan untuk menjaganya, karna pria ini sudah menjadi suami Dinda.
Wanita itu hendak turun dari brankar, namun kakinya masih terlalu lemas, dan dia berpegangan pada gantungan impus.Devan yang sedang mengetok -atik ponselnya menatap kearah Dinda, melihat istrinya hendak turun Devan meletakkan ponselnya dan mendekat kearah Dinda.
"Sini biar aku bantu " ujar Devan memegang tangan Dinda, namun di tepis oleh wanita itu.
"Aku bisa sendiri! " ketus Dinda. Devan hanya menghela napas.
"Apa kau tidak lihat, kamu saja kesusahan seperti itu" ujar Devan yang mulai kesal, dia bukan pria sabar apalagi dengan tingkah Dinda seperti ini.Pria itu hendak mengangkat tubuh Dinda namun, didorong oleh wanita itu.
"Aku bisa sendiri, tidak usah kasian dengan ku! " ketus Dinda, saat akan turun dari brankar dia jatuh ke lantai .
Brakk
Wanita itu mengaduh kesakitan ,sambil memegangi pergelangan kakinya yang terkilir.
Devan langsung mengangkat tubuh Dinda walau wanita itu memberontak.
"Lepaskan aku " Dinda memukul dada Devan, pria itu tetap menggendongnya dan meletakkannya di brankar.
"Sudah aku bilang biar aku membantu, tapi kamu malah menolaknya, lihat kaki mu terkilir kan! " ujar Devan dengan galak . Ternyata sifat galak Devan sudah mendarah daging.
Dinda hanya menunduk, mendengar omelan Devan padanya.
"Mana yang terkilir ? " tanya Devan dengan nada dingin.Dinda menunjuk kaki sebelah kanannya.
Devan memegang pergelangan kaki Dinda, dan memijitnya membuat Dinda meringis kesakitan.
"Aww, sakit " jerit Dinda.
"Tahan sebentar " ujar Devan, memijit dan mengurutnya.
"Sakit! pelan-pelan " ujar Dinda.
Devan sudah selesai mengurutnya , dan menatap kearah Dinda.
"Sekarang, coba gerakin kakinya " titah Devan, wanita itu menggerakkan kakinya yang tak sakit lagi.
"Masih sakit? " tanya Devan. Dinda menggeleng kan kepalanya.
"Tadi kamu turun dari brankar mau apa? " tanya Devan.
"Aku mau pipis" cicit Dinda dengan pelan.
"Apa aku tidak dengar " Devan mendekatkan telinganya pada Dinda, membuat wanita ini gugup.
"Aku mau pipis" ujar Dinda, pipi wanita itu memerah menahan malu.
"Ayo , aku gendong " ujar Devan.
Pria itu mengangkat tubuh Dinda membawanya kekamar mandi dan mendudukan nya di toilet.
"Apa kamu bisa berdiri? membuka celana kamu? " tanya Devan. Dinda hanya menggelengkan kepalanya. Karna saat dia mau pipis, Nia memegangi dirinya agar tidak jatuh.Karna kaki Dinda masih lemas, akibat jahitan di a*r*a sensitifnya.Devan memegangi tangan Dinda agar berdiri.
"Sekarang kalungkan tangan kamu dileher aku " titah Devan. Dinda hanya menurut saja karna dia sudah tak tahan lagi untuk pipis.
Devan menarik celana Dinda kebawah, membuat Dinda kaget dan memukul lengan Devan.
"Apa yang mau kamu lakukan? " ketus Dinda.
"Bukankah kamu mau pipis, ayo sekarang pipis " ujar Devan. Sedangkan Dinda menatap tajam Devan.
"Tutup mata kamu " ujar Dinda.
"Buat apa kamu menutup mata, aku sudah melihat setiap inci tubuh kamu " ujar Devan dengan santai.Dinda menahan malu dengan pipi yang memerah.
"Tetap saja, tutup mata kamu " ujar Dinda mulai kesal . Devan menutup matanya.
"Sudah " ujar Dinda, setelah selesai dengan buah air kecilnya Devan membuka matanya dan menatap kearah Dinda.
"Sudah" tanya Devan lagi. Dinda hanya mengangguk.
Pria itu mulai mengangkat tubuh Dinda, dan membawanya keluar kamar mandi. Dinda bisa mencium aroma tubuh Devan yang maskulin, dia tatap Devan yang tengah menggendongnya. Dulu dia sangat mencintai pria ini, tapi seketika cinta itu hilang ketika Devan merebut semuanya.
Devan meletakkan Dinda di brankar dengan pelan .
"Sekarang tidur sudah malam " ujar Devan. Dinda hanya diam tanpa ingin menjawab, dia membaringkan tubuhnya dan membelakangi Devan.
Pria itu menatap punggung Dinda, dalam pikirannya apakah Dinda masih membencinya, tapi dia akan berusaha agar wanita ini menerimanya dan semoga pernikahan ini akan bertahan sampai maut memisahkan. Walau dia tau tidak ada cinta didalamnya, tapi soal hati tidak ada yang tau bisa saja dia mulai mencintai Dinda.
Bersambung....