Alhena tidak pernah berhenti memikirkan Althara dari 3 tahun setelah Althara meninggalkan nya tanpa sebab. Alhena terus di hantui pertanyaan apa yang membuat Althara pergi, padahal sebelum nya mereka baik-baik saja, bahkan mereka selalu mengucapkan janji tidak akan pernah meninggalkan satu sama lain. Tapi kenapa sekarang Althara meninggalkan Alhena tanpa pamit ?
Ada apa dengan Althara ?
Apa Alhena telah membuat kesalahan sampai Althara pergi ?
Apakah Althara menyembunyikan rahasia besar dari Alhena ?
Bisakah Alhena memaafkan Althara setelah Althara kembali ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ega Endrawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari kedua
Hari ini aku sudah bersiap pergi untuk di jemput Althara lagi. Aku sudah sarapan lebih pagi dan menunggunya di ruang tamu. Tidak lama terdengar suara motor di depan gerbang rumah ku. Aku segera bergegas menghampirinya sebelum dia mengirimi pesan menyebalkan nya lagi kepadaku.
Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut nya ketika aku menghampirinya, dia selalu bersifat seperti ini dingin dan tidak memperdulikan ku. Dia sudah bersikap seperti tukang ojek yang hanya mengantarkan pelanggan nya sampai tujuan. Tapi kurasa tukang ojek pun masih bisa terasa menyenangkan karena bisa di ajak berbincang, sementara Althara ? Entah makhluk seperti apa dia ini ?
Motor nya berhenti di perempatan lampu merah,menunggu lampu berubah menjadi hijau. Di sebelah kiri ku berhenti sebuah motor dengan membawa sebuah kaca yang besar tebal dan pajang menjulang ke atas sekitar 2 meter,terlihat sekali seseorang yang memegangi nya di belakang sedang kesulitan. Tidak ada yang bisa ku perbuat aku hanya membiarkan nya dan berharap benda itu tidak jatuh menimpa ku.
Aku memalingkan wajah ku ke arah lain dan tiba-tiba,
“Awasss” teriak orang yang ada di sampingku.
Aku menolehnya dan begitu terkejut nya aku melihat tangan Althara yang begitu sigap menahan kaca besar yang hampir menimpaku.
Aku lihat Althara sekuat tenaga menahan kaca itu dengan tangan kirinya, dan semua orang di sekitar kami membantu untuk membalikan kaca ke posisi semula.
Kaca itu memang begitu tebal dan berat, tangan Althara begitu kuat bisa menahan nya, tidak terbayang jika Althara tidak sigap dan kaca besar itu menimpa kepalaku, bukan hanya kepala ku saja yang akan hancur, bisa-bisa nyawaku bisa ikut hancur.
Jantung ku mulai berdetak kencang karena terkejut dengan apa yang aku lihat di depan ku.
“Maaf maaf dek, saya ga bisa nahan” ucap laki-laki paruh baya itu.
“Gak apa apa pak” terlihat sekali begitu panik bapak itu, melihatnya saja kita sudah kasihan, pasti tidak akan tega Althara memarahinya.
“Sekali lagi saya minta maaf ya de” bapak itu terus meminta maaf dengan kedua tangan di tempelkan seperti memohon.
“Iya pak udah gak apa-apa, bapak hati-hati di jalan ya” ucap Althara begitu tulus.
Aku tidak menyangka Althara ternyata bisa semurah hati ini. Aku kira dia adalah sosok makhluk yang berhati dingin dan kejam, aku tidak menyangka bisa melihat dia sebaik ini kepada orang lain yang hampir mencelakai kami berdua.
“Lo gak apa-apa ?” Tanya Althara membalikan tubuh nya melihat keadaan ku.
“Hah ?”Aku sedikit terkejut dan menjadi kikuk.
“Iya gak apa-apa” ucap ku sambil terus memalingkan wajah, berusaha menyembunyikan ekspresiku yang masih setengah sadar.
Harusnya aku pun menanyakan hal yang sama kepadanya, apa tangan nya tak apa-apa menahan kaca besar yang berat seperti itu dengan satu tangan nya. Namun aku tak berani menanyakan nya, aku terus diam dengan gengsi ku.
Sesampainya di ruang musik aku melihat Althara terus memegang pergelangan tangan kiri nya,dan mengibas ngibaskan nya.
“Kenapa lo?” Tanya Rizal.
“Ga tau gue, pegel aja kayak nya pegang kupling motor”
Teman-teman nya tertawa mendengar alasan Althara yang menurut mereka tidak logis.
“Mana bisa lo pegel karena kupling motor?” Ledek Edo sambil tertawa.
Aku terus diam dan merasa tidak enak kepadanya.
Sepanjang latihan aku melihat Althara yang begitu risih dengan rasa sakit di tangan nya berusaha untuk memainkan piano dengan benar. Dia memainkan piano dengan begitu hati-hati. Rasa bersalah kini menyambar dalam diriku.
Kami di beri waktu 1 jam untuk berisitirahat. Edo,Kevin dan Rizal sedang bermain game dengan snack di hadapan mereka. Althara tetap duduk di kursi nya dan memijat mijat pergelangan tangan nya yang kesakitan, aku jadi terus merasa kasihan melihat nya seperti itu. Dia cedera karena aku.
Aku berdecak kesal dan menghampiri Althara.
“Ikut gue” kata ku yang langsung berdiri di hadapan Althara.
“Kemana ?”
“Udah ikut aja” ucapku sambil menarik tangan kiri nya.
“Awww sakit” ucap nya meringis kesakitan.
“Sorry sorry” lalu aku menarik tangan kanan nya menarik nya keluar dari ruang musik dan berpindah ke ruang PMR.
Disana sudah seperti ruang rawat inap lenkap dengan alat-alat rumah sakit, seperti tempat tidur untuk pasien , ada tiang infus, ada monitor pengecek jantung, ada juga lemari obat dan P3K.
Di dalam sana tidak ada petugas sama sekali dan itu membuatku harus mencari sendiri minyak untuk memijat tangan Althara.
“Sini duduk” pinta ku sambil ikut duduk di sofa.
Althara hanya menurut saja dengan wajah nya yang begitu datar.
“Sini tangan yang sakit”
“Emang lo bisa ?”
“Gue pernah di kasih minyak ini sama nyokap”
“Ya tapi emang lo bisa mijet nya?”
Terlihat sekali keraguan di dalam diri Althara.
“Tenang aja, lo keseleo kan bukan patah tulang?”
“Ya kayak nya sih patah tulang” ucap nya membuat ku kesal.
“Gue serius Althara” jengkel ku dengan menatap nya sinis.
“Ya lo fikir aja, masa iya gue patah tulang, kalo iya harusnya gue tuh langsung kerumah sakit bukan malah diruang PMR kaya gini sama dokter abal-abal kayak lo”
Ck, aku berdecak begitu kesal kepadanya dan tak lagi menghiraukan nya. Aku mengambil minyak hangat dan langsung memijat pergelangan tangan Althara dengan lembut.
“Aww..awww”
“Tahan Althara”
“Aww pelan pelan”
Aku melembutkan pijatan ku menekan pergelangan Althara berusaha memijtanya agar dia merasa lebih baik dan sebisa mungkin aku bisa menebus rasa bersalah ku. Dan sepertinya Althara sudah mulai menikmatinya,dia tidak lagi meringis kesakitan, aku terus berfokus memijat pergelangan tangan nya dengan kedua tangan ku. Althara tak terdengar suara sepatah katapun. Aku melirik nya dan memergoki nya sedang memandangku dengan dingin. Dia sama sekali tak melempar pandangan nya ke arah lain saat ku menatap nya,dia malah terus menatap ku. Mata kami malah saling bertemu dan malah aku yang merasa canggung.
Aku langsung memalingkan wajah ku dan kembali memijatnya.
“Udah lebih baik kan ?” Jawab ku sambil melepaskan tangan nya menghindari rasa salah tingkahku.
Althara tak menjawab, dan terus terdiam. Terlihat memikirkan sesuatu yang tidak bisa aku mengerti.
Aku membereskan dulu kotak obat kedalam lemari dan terdengar suara langkah pergi dari Althara.
Aku menoleh nya kebelakang, dia sudah meninggalkan ku sendiri di ruang PMR, tanpa mengucapkan terimakasih atau berpamitan pergi.
Aku berdecak kesal dengan sikap dingin nya. Dia benar-benar tidak tahu terimakasih.
Aku jadi memikirkan tatapan nya yang begitu tajam.
kenapa dia melihat ku seperti itu ? Sikap Althara membuat ku bingung. Padahal sebelumnya aku begitu membenci Althara, tapi kenapa sekarang aku malah berbaik hati kepada nya? Kalau saja Althara tidak usah menolongku dan biarkan saja aku terus membencinya seperti sebelum nya, aku tidak akan merasa bingung seperti ini.
Tapi jika bukan karena dia aku pasti sudah terluka parah,dan pasti akulah yang akan dirawat di rumah sakit.
Aku menggelengkan kepalaku dan menghilangkan semua fikiran ku tentang Althara.
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu