Mandala, pemuda tampan berusia 24 tahun dari kampung di seberang kota, bekerja sebagai sopir pribadi di sebuah perumahan elit. Tanpa diketahui siapa pun, pekerjaannya bukan sekadar mencari nafkah melainkan jalan untuk menemukan jati dirinya.
Mandala menyimpan kebencian mendalam pada ayah kandung yang tak pernah ia kenal, pria yang ia yakini telah menghancurkan hidup ibunya hingga mengalami gangguan jiwa. Ketika ia ditugaskan mengantar Keyla, putri cantik seorang konglomerat, Mandala yakin takdir sedang memihak dendamnya. Keyla adalah anak dari pria yang ia sebut Ayah.
Cinta pun ia jadikan senjata. Mandala berniat membalas luka masa lalu dengan membuat Keyla jatuh cinta padanya. Namun seiring waktu, perasaan yang tumbuh tak lagi bisa dikendalikan, dan rencana balas dendam perlahan runtuh.
Saat Mandala hampir menuntut pertanggungjawaban, Kenyataan mengejutkan terungkap.
Bagaimana kebenaran tentang Mandala dan bagaimana kisah cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dina Sen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kekhawatiran Heni
Keyla berhenti di samping pintu depan, tangannya sudah menyentuh gagang. Ia menoleh, menatap Mandala dengan senyum kecil yang tenang terlalu tenang untuk sekadar kebiasaan.
“Man, aku di depan saja,” ulangnya, ringan.
Mandala terdiam sejenak. Ada jeda singkat yang biasanya tak ia biarkan terjadi. “Tapi kamu… aku kan sopir kamu,” katanya akhirnya, datar, nyaris refleks.
Keyla menghela napas pendek, lalu mengangkat bahu. “memang kenapa? Aku capek duduk sendiri di belakang. Lagian sekarang cuma kita.”
Mandala melirik sekeliling. Area parkir mulai lengang. Matahari condong ke barat, bayangan memanjang di aspal. Ia membuka pintu depan tanpa berkata apa-apa lagi.
Keyla masuk, mengencangkan sabuk pengaman. “Makasih.”
Mandala menutup pintu, berjalan ke sisi pengemudi. Sebelum masuk, ia sempat melirik ponsel di saku ingatannya melintas singkat pada foto-foto yang baru saja ia ambil. Ia menepisnya, memilih fokus.
Mesin menyala. Mobil melaju perlahan keluar kampus.
Beberapa detik pertama sunyi. Sunyi yang berbeda dari pagi tadi lebih berat, lebih penuh sisa-sisa yang belum diucapkan.
“Erga nyusulin kamu?” tanya Keyla akhirnya, tanpa menoleh.
Mandala menjaga pandangan ke depan. “Iya. Sebentar.”
Keyla mengangguk kecil. “Ngancam?”
“Kurang lebih.”
Keyla menghembuskan napas, menatap keluar jendela. “Maaf.”
“Kamu nggak salah apa-apa.”
“Aku tahu,” katanya pelan. “Tapi tetap aja… kebawa ke kamu.”
Mandala tak langsung menjawab. Lampu merah menyala. Ia berhenti. Suara klakson jauh terdengar seperti gema yang tertahan.
“Dia nggak akan ngapa-ngapain,” ucap Mandala akhirnya. “Orang yang banyak ancam biasanya pengen kelihatan pegang kendali.”
Keyla tersenyum tipis. “Kamu kedengeran kayak orang yang sering ngalamin.”
Mandala menoleh sekilas, lalu kembali ke jalan ketika lampu hijau menyala. “Mungkin.”
Mobil melaju lagi. Angin dari AC bergerak lembut, menyamarkan ketegangan yang belum benar-benar reda.
Keyla memutar badan sedikit ke arahnya. “Man… kamu nggak perlu jagain aku.”
Mandala mengangguk kecil. “Aku tahu.”
“Tapi?” Keyla menunggu.
“Tapi aku juga nggak suka orang diancam,” jawabnya jujur.
Keyla menatapnya lebih lama kali ini. Ada sesuatu di matanya bukan curiga, bukan juga kagum. Lebih seperti pengakuan diam-diam bahwa ia melihat sisi Mandala yang tak ia duga.
“Oh ya,” Keyla berkata, seolah mengingat sesuatu. “Kita pulang langsung, ya. Aku pengen cepat sampai. Kayaknya malam ini ayahku akan keluar sama kamu deh.”
“oh, oke Siap.”
Beberapa menit kemudian, mobil berbelok memasuki kompleks rumah Pratama. Gerbang terbuka. Keheningan sore menyambut.
Mandala memarkir mobil di tempat biasa. Ia turun lebih dulu, refleks membuka pintu kali ini pintu depan.
Keyla keluar, berdiri di hadapannya. “Man,” panggilnya pelan.
“Iya?”
Keyla ragu sepersekian detik. “Kalau suatu hari nanti… kamu ngerasa posisi kamu bikin kamu nggak nyaman bilang. Aku nggak mau kamu ngerasa terpaksa.”
Mandala menatapnya. Ada banyak hal yang ingin ia jawab, tapi tak satu pun yang aman.
“Tenang,” katanya akhirnya, dengan senyum tipis. “Aku masih tahu batas.”
Keyla mengangguk. “Aku percaya.”
Keyla melangkah masuk ke rumah. Mandala berdiri beberapa detik lebih lama di halaman, menatap pintu yang menutup perlahan.
Di saku celananya, ponsel terasa lebih berat dari biasanya.
Mandala tahu foto-foto itu adalah pilihan. Dan setiap pilihan, cepat atau lambat, akan menuntut konsekuensi.
Ia berbalik menuju rumah kecil di sisi halaman.
“oke, Pelan,” bisiknya lagi.
***
Petang turun perlahan, membawa senyap yang berbeda di sebuah rumah sederhana di pinggiran kota.
Di ruang tengah yang lampunya menyala setengah terang, Heni duduk memeluk lututnya sendiri di ujung sofa. Matanya sembap. Di depannya, secangkir teh sudah dingin tak tersentuh sejak tadi. Televisi menyala tanpa suara, hanya cahaya berpendar yang sesekali memantul di dinding kusam.
Ringgo berdiri di dekat jendela, rokok menyala di sela jarinya. Ia tidak benar-benar mengisapnya. Hanya membiarkannya terbakar perlahan, seperti pikirannya yang berjalan ke arah yang sama berulang kali.
“Dia sudah kerja di rumah Pratama,” ucap Ringgo akhirnya, memecah diam. Suaranya rendah, menahan sesuatu. “Jadi sopir anaknya.”
Heni terisak kecil. Tangannya menutup mulut, bahunya bergetar. “Aku tahu,” katanya lirih. “Aku bisa ngerasain. Dari cara dia pamit terakhir kali… dari caranya lihat aku.”
Ringgo mematikan rokoknya dengan gerakan kasar. “Kita udah sepakat, Hen. Mandala nggak boleh tahu.”
Heni mengangkat wajahnya. Air mata mengalir tanpa ia seka. “Sampai kapan, Go? Dia bukan anak kecil lagi. Dia pinter. Dia ngerasa ada yang janggal.”
Ringgo menoleh tajam. “Kalau dia tahu semuanya, hidup kita tamat.”
Kalimat itu menggantung berat di udara.
Heni terdiam. Ingatannya berlari, melompati tahun-tahun yang ingin ia kubur rapat-rapat.
Rumah mewah Alira.
Bangunan besar dengan pagar besi tinggi yang dulu berdiri angkuh di pusat kota. Rumah yang pernah ia masuki dengan gemetar, membawa bayi kecil yang dibungkus kain lusuh. Rumah yang kini tinggal kenangan disita, kosong, sunyi, seperti hidup Alira sekarang.
Alira di balik jeruji.
Bukan karena kejahatan biasa, tapi karena pikirannya yang runtuh perlahan. Teriakan malam hari. Tatapan kosong. Nama yang berulang-ulang ia ucapkan sambil tertawa dan menangis bersamaan.
Nama Mandala.
“Aku nggak kuat, Go…” suara Heni pecah. “Setiap kali aku lihat dia, aku ngerasa jadi pencuri. Kita ngambil hidup seseorang. Kita nutup kebenaran tentang bayi itu… tentang siapa dia sebenarnya.”
Ringgo mendekat, duduk di hadapannya. Tangannya gemetar ketika menggenggam bahu Heni. “Kita nyelametin dia.”
“Atau nyelametin diri kita sendiri?” balas Heni lirih.
Ringgo terdiam.
Heni menunduk lagi. “Kalau Mandala tahu dari mana dia berasal, siapa ibunya, apa yang sebenarnya terjadi malam itu… kita bukan cuma kehilangan dia. Kita masuk penjara.”
Ia mengingat malam itu dengan terlalu jelas.
Tangisan bayi. Darah. Kepanikan. Keputusan yang dibuat dalam ketakutan, bukan keberanian. Akta yang diubah. Nama yang diganti. Sejarah yang dipotong paksa.
“Bayi itu,” Heni berbisik, “seharusnya nggak hidup dengan kebohongan.”
Ringgo memejamkan mata. “Tapi sekarang dia hidup. Sekolah. Kuliah. Punya masa depan.”
“Dengan fondasi yang rapuh,” Heni menyela. “Dan sekarang dia masuk ke rumah Pratama… Go, itu bukan kebetulan.”
Ringgo membuka mata, menatap lurus. “Kamu pikir dia tahu?”
Heni menggeleng pelan. “Belum. Tapi dia nyari.”
Sunyi kembali menguasai ruangan.
Di luar, angin petang berdesir pelan, membawa bau tanah dan debu. Dunia tetap berjalan, seolah tak peduli pada rahasia besar yang mengikat tiga kehidupan sekaligus.
Ringgo berdiri lagi, suaranya lebih keras kali ini lebih tegas, seolah meyakinkan diri sendiri. “Kalau dia tanya, kita tetap jawab sama. Kita orang tuanya. Titik.”
Heni menunduk ketakutannya tak bisa ia hindari, mengaku orangtuanya tidaklah mudah.
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuu🥰🤗💪
rasain tuh Keyla bela Mandala 😡😡
Erga stresss tuhh dia yg selingkuh dia yg gk Terima Keyla dg Mandala 😡😡
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetp semangat sayyy quuu🥰🤗💪
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuuu🥰🤗 tetap semangat Sayyy 💪💪
padahal dia yg salah selingkuh dg sahabat Keyla 😡😡
Bayu bukan ayah mu Mandala 😌😌
duhh Erga yg pura-pura siapa coba? qm yg pura-pura bukan Mandala pakai suruh Mandala jaga jarak dg Keyla, lalu perselingkuhan mu dg sahabat nya Keyla??
greget sama Erga 😌😌😄😄
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuu 🥰🤗💪🐱
kau harus cari tau kebenarannya Mandala 😌😌
waduhhhh Erga cemburu gk tuh Keyla jalan dg Mandala 😆😆
Erga gk tau malu dia yg selingkuh dg Sahabat nya Keyla, dia pula cemburu Keyla dg Mandala 😌😌
penasaran...
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuuu
tetap semangat Sayyy quu 🥰🤗💪
duhhh jangan² Mandala jatuh cinta dg Keyla tapi blm sadar 😄😄
qm bukan anak nya Bayu Pratama gk pantas qm panggil Ayah 😁😁
seandainya Mandala tau yg sebenarnya pst kecewa sama Alira. tapi jgn dulu tau yaa, nnt cepat tamat pula 😄😄
duhh ternyata Pak Arifal itu tetangga rumah nya sama Bayu Pratama.. ?? kebetulan sekali.
Mandala pun bertemu dg Pak Arifal di bengkel....
duhh akhirnya Mandala tinggal dg Pak Hermawan...
gmn yaa selanjutnya..
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu🥰🤗 tetap semangat Sayyy quuu🤗🥰💪
gmn yaa reaksi Bayu nnnt jika tau siapa Mandala 🤔🤔
duhhh jgn² Bengkel yg Pak Arifal maksud sama dg bengkel nya Keyla dongg...
gmn yaa reaksi Pak Arifal jika tau siapa Mandala 🤔🤔
di tunggu updatenya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuu 🥰🤗💪
akhirnya Mandala di Terima kerja jadi sopir nya Keyla...
duhhh Keyla ada² saja Mandala tinggal sama Pak Hermawan dekat rumah nya.
gmn klo Bayu dan Sekar tau siapa Mandala?
penasaran....
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuuu
tetap semangat Sayyy quuu🐱🤗🥰💪
duhh dalam perjalanan, Keyla curhat ke Mandala dong 🤗
waduhhh Mandala mau jadi sopir nya Keyla?? duhh gmn nnt jika Mandala ketemu Bayu Pratama🤔🤔
Keyla chat Mandala dan blg Ayahnya mau ketemu dg Mandala dong...
penasaran gmn nnt nya Mandala ketemu dg Bayu 🤔🤔
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu🤗 tetap semangat sayyy quuu🐱🥰💪