Rania seorang gadis manja berusia 18 tahun yang manis dan memiliki wajah cantik dengan rambut hitam panjangnya. Dia baru saja kehilangan cinta pertamanya karena kecelakaan. Semenjak kejadian itu, dirinya berusaha untuk berubah menjadi lebih kuat dan mandiri.
Hardin seorang pria dingin berusia 24 tahun yang sulit dijamah wanita. Pemilik hotel bintang 5 dan juga supermarket besar. Kecintaannya terhadap kue membawanya bertemu si gadis manja yang manis dan menjadikannya kekasih.
Akibat kesalah pahaman, Hardin harus berusaha mendapatkan kembali hati gadis nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
"Oya, tolong kamu kosongkan jadwal saya saat jam makan siang lebih lama. Saya ada keperluan di luar." ucap Hardin pada Harry.
"Baik pak. Kebetulan hari ini jadwal kita hanya asa meeting dengan pak Suryo." jelas Harry sambil melihat catatan jadwal Hardin.
Setelah itu mereka memasuki ruangan masing masing. Hardin langsung duduk di kursi kebesarannya. Di Depannya sudah duduk manis beberapa berkas yang perlu diperiksa dan ditandatangani oleh Hardin. Hardin memijit pelipisnya.
Sebelum melakukan pekerjaannya, Hardin mengirim chat untuk Rania.
H : " Selamat pagi ibu Rania. Apa kita bisa bertemu siang ini di kafe yang kemarin? Saya akan menunggu ibu di sana untuk membicarakan masalah yang kemarin sekalian kita makan siang."
R : " Waduh pak maaf saya gak bisa. Soalnya saya pulang sekolah pukul 2 siang. Gak mungkin saya bolos kan pak."
Hardin terkejut melihat balasan Rania.
jadi dia masih sekolah, ku pikir dia sudah ibu ibu.
H : "Baiklah kalau begitu kita bertemu setelah anda pulang sekolah saja. Tolong kabari saya jika anda sudah akan berangkat ke kafe".
R : "Baik pak, nanti saya akan kabari bapak."
Tiba tiba pintu ruangan kerja Hardin di buka dengan keras.
Brak
tak
tak
tak
Suara heels terdengar di hentak kan dengan kuat di ruangan Hardin. Hardin yang terkejut langsung melihat ke arah suara itu. Begitu tau siapa yang membuat keributan, Hardin langsung melengos malas.
"Sayang, kamu harus pecat security kamu itu. Dia udah gak izinin aku masuk terus dia tarik aku dengan paksa biar keluar dari hotel ini. Aku kan malu sayang dilihat sama semua orang." Andin langsung mendekati Hardin dan bergelayut di lengan Hardin dengan manja. Hardin menarik tangannya dengan kasar agar terlepas dari cengkraman Andin.
Andin terkesiap. Sejenak dia menatap Hardin. Hardin menyuruh security itu untuk keluar dengan gerakan tangannya. Tidak lama kemudian Harry datang dengan tergesa gesa.
"Ini lagi si cecunguk satu ni, bukannya ngebelain aku malah dia cuma berdiri saja tadi ngeliat aku ditarik tarik gitu." Andin langsung menyemprot Harry dengan menunjuk wajah manisnya itu.
"Heh curut, lu tau gak tau diri ya. Sudah dilarang masuk masih aja maksain buat masuk" jawab Harry sambil menepis tangan Andin yang menunjuknya.
"Emang lu siapa berani ngelarang gue masuk jumpai Hardin, ha?!" bentak Andin sambil menunjuk wajah Harry. "Lu tu disini cuma kacung, jangan berlagak bos deh" lanjutnya sambil melipat kedua tangannya di bawah dada.
Praangg
Hardin melemparkan gelasnya ke arah dinding tepat melewati samping kepala Andin. Andin langsung terkejut melihat reaksi Hardin. Wajah cantiknya langsung memucat. Karena dia belum pernah melihat Hardin marah seperti itu. Entah apa yang akan terjadi kalau sampai gelas itu mengenai kepalanya.
"Andin! Lu gak berhak ngomong kayak gitu ke Harry !! Dia sobat gue, bukan sekedar cecunguk kayak yang lu bilang tadi. Dan dia, berhak mengusir lu dari sini kapan pun dia mau. Ngerti lu!!!" sentak Hardin dengan wajah merah karena tidak terima sahabatnya di hina oleh orang lain.
Itulah Hardin. Walaupun dia terlihat dingin dan tak tersentuh, tetapi dia sangat menyayangi orang orang terdekatnya. Apalagi orang itu selalu ada buat dia. Dia akan membela orang itu mati matian.
"Dan lu, lu bukan siapa siapa gue. Lu cuma cewek kegatelan yang pakai baju kurang bahan dan selalu nempel ke gue kayak lintah. Lu pikir gue suka liat lu kayak gitu? Lu salah ndin. Gue jijik sama lu !! Ngerti lu" sambungnya dengan nada dan wajah yang meremehkan.
Mata Andin berkaca kaca. Hatinya sangat sakit mendengar ucapan Hardin. Dia melihat ke arah Harry yang melipat tangannya di dada sambil senyum sinis dan dengan tatapan meremehkan. Ingin rasanya Andin meremas wajah itu. Tapi dia tidak berani, karena itu akan membuat Hardin semakin marah dan membencinya.
Belum sempat Andin membalas ucapan Hardin, Hardin kembali bersuara.
"Pergi lu dari sini. Dan jangan pernah perlihatkan lagi wajah lu di hadapan gue. Ngerti !!" tegas Hardin sambil menunjuk wajah pucat yang sudah dipenuhi air mata itu.
"Oke. Sekarang gue akan pergi dari hadapan lo. Tapi gue ingetin sama lo jangan harap gue nyerah buat ngedapetin lo. Gue bakal terus berusaha buat dapetin lo apapun caranya" jawab Andin dengan nada suara yang tercekat.
Kemudian Andin melangkahkan kaki dengan hentakan yang kuat keluar dari ruangan Hardin sambil menghapus air matanya. Dia tidak lagi memperdulikan orang orang yang terus menatapnya dan berbisik bisik.
Terdengar helaan nafas Hardin yang berat. Sedangkan Harry tertawa lucu melihat bos sekaligus sahabatnya itu.
"Wah parah lo men. Kejam gila tu kata kata. Aku yakin tu cewek pasti bakal nangis bombay berhari hari karena ucapan lo" Harry berbicara di sela ketawanya.
"Gilak ya tu cewek, udah putus kali ya tu urat malunya. Karena gue menanggapi ajakan dinner dia waktu itu terus dia beranggapan kalau kita udah jadian. Sarap" jengah Hardin sambil membuka lilitan dasi nya dan bersandar di sofa.
"Makanya, kan kemaren gue udah bilang ama lu jangan di tanggepi eh lu nya gak denger malah ngeyel. Ya jadinya sekarang inilah. Dia nganggap lu suka sama dia, cinta sama dia padahaaaall wahaha " Harry kembali tergelak dengan ucapannya.
"Ya mana gue tau kalau dia bakal gini. Yang gue pikirkan kemarin kalau gue terima ajakan dia dinner dia bakalan udahan ngejar gue. Mana gue tau jadinya bakal gini " jawab Hardin putus asa sambil menyugar rambutnya ke belakang.
"Tapi kalo di liat liat dia juga gak jelek amat kok man. Kenapa gak lu jadi kan pacar beneran aja man.?" usul Harry seperti mengejek.
"Ogah gue punya pacar modelan gitu. Mendingan jadi jomblo dah." pungkas Hardin.
"Wahahahaha yakin lu mau ngejomblo.?" Harry memastikan ucapan sahabatnya yang sedang pusing itu.
"Tapi lu tenang aja sob. Gue jamin dia bakal berhenti ngerecokin lu mulai sekarang karena kata kata pedas lu tadi ke dia. Gue yakin tu cewek pasti udah sakit hati level dewa sama lu."
" Hah gue gak yakin man. Lu gak dengar tadi dia bilang apa? jelas jelas dia bilang gak bakal nyerah buat ngedeketin gue, hah" jawab Hardin.
"Iya sih. Berarti lu mesti siap siap man. Dia pasti bakal sering ngerecokin lu. Apalagi modelan cewek gitu, yang udah putus urat malunya." jelas Harry.
"Sabar ya man. Anggap aja lu belajar ngadepin cewek rempong sebelum lu bener bener punya pacar." Harry kembali tergelak sambil memegang perutnya yang sudah kram karena kebanyakan ketawa.