NovelToon NovelToon
BAKTI BUTA SUAMIKU

BAKTI BUTA SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Bagi Bagas, surga ada di telapak kaki ibu. Namun sayang, baktinya buta. Sebagai anak keenam dari tujuh bersaudara, Bagas selalu memaksakan diri membayar iuran Bagi Rata yang dituntut kakak pertamanya demi menyenangkan sang Ibu. Ia menutup mata bahwa ekonomi mereka pas-pasan, jauh di bawah kakak-kakaknya yang sukses.

​Keuangan rumah tangga terkuras habis. Beruntung, Adinda sang istri adalah wanita tangguh. Lewat usaha katering rumahan dan kue online yang dibangunnya dari nol, Adinda berhasil membeli sebuah rumah sederhana satu kamar untuk tempat mereka berteduh bersama anak laki-laki mereka yang kini sudah SMP.

​Bukannya sadar, Bagas justru menjadikan kemandirian Adinda sebagai tameng untuk terus menyetor uang ke keluarga besarnya. Puncaknya, modal katering Adinda dikuras sepihak, dan rumah mungilnya itu mulai diincar untuk kenyamanan sang mertua.

​Saat anak laki-lakinya mulai ikut menderita dan berontak, Adinda akhirnya menyalakan mode tegas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAKTI BUTA SUAMIKU

​Pagi itu, suasana di dapur rumah kontrakan baru Adinda tampak begitu sibuk. Bau harum rempah-rempah yang menggugah selera memenuhi seisi ruangan. Asap tipis membumbung tinggi dari atas kompor gas, membawa aroma wangi dari gulai ayam kampung yang kuahnya kental kekuningan, rendang daging yang warnanya sudah cokelat kehitaman pekat, serta tumis buncis bakso yang warnanya masih segar dan hijau menawan.

​Adinda bergerak lincah dan terampil di balik meja dapur stainless steel-nya yang baru. Jemarinya yang sudah sangat terbiasa mengolah bahan masakan dengan teliti, menata setiap porsi sampel makanan ke dalam kotak-kotak bentobox plastik bening berstandar aman. Di bagian atas tutup kotak tersebut, tertempel stiker logo bertuliskan "Katering Dapur Adinda" dengan desain minimalis namun sangat elegan logo sederhana yang dibuatkan khusus oleh anak kawan Mas Danu kemarin malam.

​Mbak Anita masuk ke dapur dengan senyum hangat yang memancar dari wajah keibuannya. Ia sudah tampil rapi mengenakan pakaian bepergian dan jilbab anggunnya.

​"Bagaimana, Dinda? Sudah siap semua sampel masakannya?" tanya Mbak Anita sembari mendekati meja dapur, mengamati barisan kotak makanan yang tertata rapi.

​Adinda mengusap peluh di dahinya dengan ujung celemek kainnya, lalu mengangguk mantap dengan senyum penuh percaya diri. "Sudah siap semua, Mbak Anita. Ini ada lima paket sampel. Isinya gulai ayam, rendang daging sapi, perkedel kentang kornet, sama tumis buncis bakso. Sambal bajaknya juga sudah Dinda pisahkan di wadah cup kecil biar ndak bikin sayurnya layu."

​Mbak Anita mengacungkan jempolnya penuh kebanggaan. "Luar biasa! Aromanya saja sudah bikin perut Mbak keroncongan begini, Din. Mbak jamin Bu Dr. Ratna pasti langsung jatuh cinta begitu mencicipi masakanmu."

​Hari ini adalah hari yang sangat penting bagi perjalanan usaha Adinda. Mbak Anita, yang memiliki jaringan pertemanan luas di kalangan organisasi wanita dan instansi kesehatan kota, sengaja mengatur pertemuan khusus untuk Adinda.

Mbak Anita ingin mengenalkan katering milik adik iparnya itu kepada Bu Dr. Ratna seorang pemilik klinik utama ternama yang juga menjabat sebagai ketua panitia seminar kesehatan tahunan tingkat provinsi yang akan digelar minggu depan.

​Jika sampel masakan Adinda berhasil memikat lidah Bu Ratna, maka Katering Dapur Adinda berpeluang besar untuk memenangkan kontrak pengadaan makan siang dan kudapan sore untuk ratusan peserta seminar tersebut, sekaligus menjadi vendor langganan harian untuk jatah makan seluruh staf medis di kliniknya.

​"Ayo, Din, kita berangkat sekarang. Mas Danu sudah siap memanaskan mobil di depan," ajak Mbak Anita hangat.

​Adinda mengangguk mantap. Ia merapikan pakaian gamis sederhananya, menyambar tas bahu, lalu memeluk kantong cooler bag berisi kotak-kotak sampel masakan tersebut dengan hati-hati. Langkah kakinya saat melangkah keluar dari rumah terasa sangat mantap. Tidak ada lagi keraguan atau bayang-bayang ketakutan akan ocehan Bagas yang biasanya selalu meremehkan setiap usahanya.

​Pukul sepuluh pagi lewat sedikit, mobil MPV perak milik Mas Danu berhenti di area parkir sebuah gedung klinik kesehatan yang cukup besar dan megah di pusat kota.

​Adinda dan Mbak Anita melangkah masuk menyusuri koridor klinik yang bersih, wangi, dan sejuk ber-AC. Mereka diantar oleh seorang staf sekretariat menuju ke sebuah ruangan kantor yang bernuansa modern di lantai dua. Di pintu kayu berpelitur gelap itu, terpasang papan nama kuningan bertuliskan Dr. Hj. Ratna Juwita, Sp.A.

​"Assalamualaikum, Mbak Ratna," sapa Mbak Anita hangat saat pintu kantor terbuka.

​Seorang wanita paruh baya berwajah anggun, mengenakan jas dokter putih di luar pakaian batik mewahnya, langsung berdiri dari balik meja kerja dengan senyum lebar. "Waalaikumsalam! Masya Allah, Mbak Anita! Akhirnya sampai juga. Silakan masuk, silakan duduk!"

​Mbak Anita dan Adinda melangkah masuk lalu bersalaman dengan dokter tersebut. Setelah bertukar sapaan hangat sebagai kawan lama, Mbak Anita langsung merangkul pundak Adinda untuk memperkenalkannya.

​"Mbak Ratna, ini Adinda, adik kandung Mas Danu yang kemarin sempat Anita ceritakan lewat telepon. Dinda ini pemilik dan juru masak utama dari Katering Dapur Adinda," jelas Mbak Anita penuh kebanggaan.

​Bu Ratna menatap Adinda dengan sorot mata yang teduh dan ramah. Ia menjabat erat tangan Adinda. "Salam kenal ya, Mbak Adinda. Mbak Anita ini dari kemarin sudah memuji-muji masakan Mbak Dinda setinggi langit. Katanya rasanya authentic seperti masakan rumahan zaman dulu tapi disajikan sangat bersih. Saya jadi makin penasaran."

​Adinda tersenyum bersahaja, rasa gugup yang sempat menghinggapinya perlahan sirna berganti dengan profesionalisme seorang pembuat katering.

"Salam kenal juga, Bu Dokter. Terima kasih banyak atas waktunya yang berharga sudah mau menerima kami di sini. Sesuai janji Mbak Anita kemarin, hari ini saya membawa beberapa sampel masakan olahan Dapur Adinda untuk dicoba langsung oleh Bu Dokter."

​Adinda dengan sigap dan rapi mengeluarkan lima kotak bentobox sampel masakan dari dalam cooler bag-nya. Ia menatanya dengan sangat sopan di atas meja tamu kantor Bu Ratna, lengkap dengan sendok dan garpu steril yang masih terbungkus plastik rapi, serta tisu dan segelas air mineral.

​Bu Ratna mengamati cara Adinda menyajikan sampel tersebut. Dari pandangan pertamanya saja, mata sang dokter sudah berbinar kagum melihat kebersihan wadah, kerapian penataan lauk pauk, serta paduan warna makanan yang tampak sangat menggugah selera.

​"Wah, presentation-nya sangat cantik dan bersih sekali, Mbak Dinda. Stiker logonya juga rapi," puji Bu Ratna tulus.

​"Silakan dicicipi dulu, Bu Dokter. Ini ada gulai ayam kampung dan rendang daging sapi. Untuk sambalnya sengaja saya pisahkan agar rasa pedasnya bisa disesuaikan," tutur Adinda lembut.

​Bu Ratna membuka salah satu kotak sampel tersebut. Seketika itu juga, aroma rempah-rempah yang kaya dan segar langsung menyeruak memenuhi ruangan kantor ber-AC itu. Bu Ratna memotong sedikit bagian dari daging rendang menggunakan sendoknya. Daging itu begitu empuk, mudah terpotong tanpa perlawanan, menandakan proses memasaknya dilakukan dengan kesabaran tinggi.

​Dokter paruh baya itu memasukkan suapan pertama ke dalam mulutnya. Ia memejamkan mata sejenak, mengunyah perlahan demi menikmati setiap bulir rasa yang meledak di lidahnya. Dagingnya gurih meresap hingga ke serat terkecil, bumbu rendangnya kaya akan bumbu alami tanpa ada jejak penyedap rasa buatan yang berlebihan.

​"Masya Allah..." cetus Bu Ratna refleks begitu menelan suapan pertamanya. Matanya melebar menatap Adinda dengan rasa terkejut yang luar biasa gembira. "Mbak Dinda... ini rendangnya enak banget! Dagingnya empuk luar biasa, bumbunya legit tapi tidak bikin enek di tenggorokan!"

​Tanpa membuang waktu, Bu Ratna langsung memotong bagian gulai ayam dan mencicipinya bersama kuahnya. Sekali lagi, anggukan kepala yang mantap terlihat dari sang dokter.

​"Gulai ayamnya juga juara! Kuahnya gurih alami dari santan segar, rempah kapulaga dan ketumbarnya berasa banget tapi halus di lidah," puji Bu Ratna lagi dengan raut wajah puas yang tak bisa disembunyikan. "Jujur ya, Mbak Dinda, selama ini klinik kami sering gonta-ganti vendor katering untuk acara rapat medis atau jatah makan harian dokter. Tapi kebanyakan katering luar itu masakannya terlalu asin, minyaknya membanjir, atau bumbunya pakai penyedap instan yang bikin leher gatal. Tapi masakan Mbak Dinda ini beda sekali! Ini cita rasa masakan ibu rumah tangga sejati yang mengutamakan kualitas dan kesehatan!"

​Adinda mengelus dadanya, mengucap syukur yang begitu mendalam di dalam hati. Rasa bahagia membuncah di dadanya mendengarkan pujian tulus dari seorang dokter yang mengerti soal kualitas makanan.

​"Alhamdulillah kalau Bu Dokter cocok dengan rasanya," jawab Adinda dengan nada penuh rasa syukur. "Semua bumbu yang saya pakai memang bumbu giling segar buatan sendiri, Bu. Tanpa pengawet dan tanpa pelezat sintetis, jadi sangat aman dan sehat untuk dikonsumsi setiap hari."

​Bu Ratna meletakkan sendoknya, mengambil tisu lalu menatap Adinda dan Mbak Anita dengan raut wajah yang mantap.

​"Mbak Dinda, saya tidak perlu pikir panjang lagi," tegas Bu Ratna langsung pada intinya. "Minggu depan, klinik kami menjadi tuan rumah untuk Seminar Kesehatan Provinsi selama tiga hari berturut-turut. Pesertanya ada sekitar dua ratus lima puluh dokter dan tenaga medis dari berbagai kota. Saya mau seluruh pengadaan makan siang, es teh segar, dan dua kali coffee break kudapan kue tradisional selama tiga hari itu dipegang penuh oleh Katering Dapur Adinda!"

​Mendengar hal itu, Adinda sempat tertegun tidak percaya. Dua ratus lima puluh porsi selama tiga hari! Itu adalah pesanan skala besar pertama yang pernah ia terima secara mandiri!

​"Beneran, Bu Dokter?" tanya Adinda memastikan, matanya berbinar haru.

​"Sangat serius, Mbak Dinda!" jawab Bu Ratna mantap. "Bahkan tidak cuma untuk acara seminar minggu depan. Mulai bulan depan, saya juga mau kontrak Dapur Adinda untuk jadi vendor resmi jatah makan siang harian staf dan dokter piket di klinik ini. Setiap hari sekitar empat puluh porsi. Gimana, Mbak Dinda sanggup?"

​Mbak Anita yang duduk di samping Adinda langsung meremas pelan jemari adik iparnya itu, memberikan dorongan semangat yang luar biasa.

​Adinda menegakkan punggungnya, menatap Bu Ratna dengan senyuman paling hangat dan penuh rasa percaya diri yang memancar dari matanya.

"Alhamdulillah... Saya sanggup, Bu Dokter! Saya berjanji akan menjaga kualitas rasa, kebersihan, dan ketepatan waktu pengiriman sebaik-baiknya untuk klinik Bu Dokter."

​"Luar biasa!" seru Bu Ratna gembira. Ia langsung memanggil sekretarisnya lewat telepon intercom meja. "Nita, tolong buatkan draf SPK (Surat Perjanjian Kerja) pengadaan katering untuk Seminar Kesehatan minggu depan dan kontrak harian klinik atas nama 'Katering Dapur Adinda'. Minta uang muka lima puluh persennya ditransfer hari ini juga ke rekening Mbak Adinda ya!"

​Di dalam ruangan kantor yang sejuk itu, Adinda menandatangani nota kesepakatan kerja sama pertama untuk usaha katering mandirinya. Ketika uang muka pesanan dalam jumlah yang cukup besar resmi masuk ke dalam rekening banknya, air mata kebahagiaan Adinda menetes pelan di sudut matanya.

​Adinda menyapu air mata bahagianya dengan ujung jilbab. Di dalam hatinya, ia berbisik tulus, berterima kasih kepada Sang Maha Pencipta yang telah membuka pintu rezeki begitu lebar setelah ia berani melepaskan diri dari belenggu pernikahan yang beracun bersama Bagas. Tanpa harus bergantung pada gaji Bagas yang selalu diungkit-ungkit, kini Adinda membuktikan bahwa dengan kerja keras, kejujuran dan keahlian tangannya sendiri, ia mampu berdiri tegak di atas kakinya sendiri demi menafkahi dan membesarkan Dimas dengan penuh kehormatan.

1
Zhafran Althaf
mantap dindaaaa
Heni Setiyaningsih
bagus adinda 👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Zhafran Althaf
🤣🤣🤣🤣🤣
Heni Setiyaningsih
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Jetva
keren ceritax...semoga keren hingga akhir..aq suka perempuan yg mandiri dan tak takut suami dgn alasan surga ada pada suami....semangat Thor...
Jetva
istri Danu, Anik apa Anita, Thor..??🤔
blcak areng: iya kak aku keder sendiri 😄😄
total 1 replies
Heni Setiyaningsih
/Heart//Heart//Heart//Heart//Heart/
Anonim
BAGAS HALAL DARAH NYA... AYO BUNUH DIA
blcak areng: kak😁🤣🤣
total 1 replies
stela aza
q pingin nya si Bagas itu habis naik jabatan sebentar langsung khilaf trs di pecat jadi gembel biar g belagu trs sombong 🤭 ok Thor ❤️❤️❤️
Zhafran Althaf
hai kak aku mampirrrr😍😍😍
blcak areng: Hay juga kak Terima kasih 🙏
total 1 replies
stela aza
Thor ceritamu hampir mirip kaya kisahnya si abdi dan Disa ,,, yg lakinya manipulatif ,,, bodoh ,, belagu sombong trs so kaya kenyataan nya kere ,,, bergaya yg terlalu di paksakan 🤭
stela aza
rasain,,, syukurin ,,, bergaya tapi g mampu ,,, tinggal nunggu di pecat dr kantor biar jadi gembel ,,,, coba ibunya mau Nerima dia g ,,, kalau udh g kerja pasti bakalan di buang sama ibunya sendiri 🤦
Heni Setiyaningsih
💪💪💪 adinda
Lee Mba Young
bagus lanjutt
Lee Mba Young
bagus lah jng mau jd budak. anak sdh besar.
Heni Setiyaningsih
lbh baik lepaskan suami kyk gitu, hdup berdua dgn anak mu sj drpd dirong-rong terus sama suami pecundang
Heni Setiyaningsih
👍👍👍👍👍👍👍👍👍😍😍
Heni Setiyaningsih
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!