Jia Li adalah seorang dokter genius dari modern. Meski begitu, keluarganya sendiri tidak pernah menghargainya dan lebih menyayangi kakak laki-laki nya yang menjadi pengangguran.
Tepat setelah Jia Li selesai melakukan operasi. Sebuah tamparan menantinya di pintu keluar. Awal dari segalanya.
Jiwa Jia Li terseret ke zaman kuno, lebih tepat nya memasuki raga Lin Jia. Lin Jia adalah putri dari Kaisar Lin Dong dan selir kedua. Diam - diam di belakang Kaisar. Lin Jia di remehkan karena tidak memiliki Elemen apapun dalam tubuhnya.
Namun semua berubah saat jiwa Jia Li menempati raga Lin Jia. Berkat bantuan sistem dan ruang ajaib. Jia Li akan mengubah takdir Lin Jia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Ammoera(_), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perdebatan Di Depan Kamar
Lin Jia mengangkat tangan kanan-nya. Dengan satu kibasan lembut namun bertenaga, udara di sekitarnya berdesir hebat. Detik itu juga, realitas seolah terlipat. Dinding-dinding kayu berukir khas kekaisaran kuno memudar, digantikan oleh hamparan tanah rumput hijau yang sangat luas, bergoyang pelan ditiup angin yang membawa aroma embun segar.
Suasana di dalam Ruang Ajaib itu begitu tenteram, diselimuti oleh aura spiritual yang murni dan menenangkan jiwa.
Di hadapan Lin Jia, sebuah bangunan megah berdiri kokoh, menjulang dengan arsitektur menyerupai istana megah.
Namun, pemandangan di sekelilingnya sungguh kontras. Pepohonan raksasa yang belum pernah ia lihat di dunia nyata tumbuh tinggi mengitari tempat itu, dengan daun-daun yang memancarkan pendar cahaya redup. Mata Lin Jia terperangah, pupilnya melebar menatap Ruangan Ajaib yang baru pertama kali ia masuki ini.
Di sana, langit selalu berwarna senja keunguan yang hangat, memayungi sebidang tanah subur yang ditumbuhi tanaman herbal langka berkhasiat magis, yang berpendar lembut dalam kegelapan.
Sebuah mata air abadi mengalir jernih di bagian tengah, memancarkan kabut tipis berbau harum yang mampu menyembuhkan segala rasa lelah dan luka fisik dalam sekejap. Udara di dalam dimensi ini terasa begitu sejuk dan kaya akan energi kehidupan.
Di sudut utara, bunga Sembilan Kelopak Surgawi mekar dengan anggun, memancarkan pendar cahaya keemasan, berdampingan dengan Rumput Roh Pemurni Jiwa yang daunnya bergetar lembut mengeluarkan aroma terapi yang menenangkan.
Lin Jia menganga. Sangat takjub.
"Tempat ini... benar-benar nyata? Rasanya seperti melangkah masuk ke dalam negeri dongeng," gumam Lin Jia dengan suara bergetar, masih tidak percaya dengan penglihatannya sendiri.
Ketika gerbang besar bangunan di depan nya itu perlahan terbuka tanpa suara, Lin Jia memberanikan diri melangkah masuk. Awalnya, ia mengira hanya akan menemukan satu bangunan utama di dalam kompleks istana ini.
Namun, langkah kakinya mendadak terhenti begitu pandangannya menyapu area halaman dalam. Matanya menangkap beberapa plang nama bangunan yang berjejer rapi. Ada Bangunan Laboratorium, Bangunan Persenjataan, Perpustakaan Pusat, dan beberapa fasilitas lain yang tampak begitu canggih.
Langkah nya menuntun kakinya menuju bangunan dengan papan nama bertuliskan Laboratorium. Begitu mendorong pintu masuk, Lin Jia serasa dilempar kembali ke dimensi asalnya di zaman modern.
Bau khas antiseptik, jajaran peralatan medis canggih, dan pencahayaan lampu LED putih yang terang benderang langsung menyambutnya. Atmosfer tempat ini persis seperti rumah sakit tempat ia biasa berjuang menyelamatkan nyawa para pasien kritis dulu.
Lin Jia berjalan cepat di antara lorong meja lab, hingga langkah kakinya berhenti tepat di depan sebuah meja panjang berbahan stainless steel. Jari-jemarinya dengan cekatan membuka laci demi laci, mencari instrumen yang sangat ia butuhkan saat ini.
"Ketemu!" gumamnya lega, menyunggingkan senyum tipis.
Ia mengangkat sebuah jarum suntik steril dan beberapa tabung hampa udara kecil. Alat-alat modern inilah yang akan ia gunakan untuk mengambil sampel darah Selir Dua dan Pangeran Lin Tian secara diam-diam. Setelah memastikan semua peralatan medisnya siap di dalam genggaman, Lin Jia menarik napas dalam-dalam. Ia kembali mengibaskan tangannya dengan satu sentakan cepat.
Wusss!
Ruang ajaib itu lenyap dalam sekejap. Tubuh Lin Jia kembali bergeming di hadapan ranjang mewah milik Selir Kedua, menatap tubuh sang ibu yang terbaring lemah dengan wajah sepucat kertas.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, ia menyingsingkan lengan baju sang ibu, lalu menusukkan jarum suntik dengan presisi seorang ahli medis profesional.
Cairan merah pekat mengalir mengisi tabung kaca. Ia harus bergerak cepat mencari tahu jenis racun mematikan apa yang sedang menggerogoti pembuluh darah ibunya saat ini.
Sembari mendekap tabung darah itu di dadanya, Lin Jia menatap wajah sayu ibunya di zaman kuno dengan mata yang sulit di artikan.
"Aku pastikan... kau akan selamat." gumam Lin Jia dengan nada rendah yang sarat akan janji kematian bagi musuh-musuhnya.
Sementara di luar kamar Selir Dua mendadak mencekam, dihantam oleh ketegangan yang kian memuncak antara para penguasa takhta dan seorang gadis yang berdiri kokoh bak dinding batu.
Mei Mei, dengan gaun sederhananya namun memiliki sorot mata yang tidak bisa diremehkan, sedang terlibat perdebatan sengit dengan dua wanita paling berkuasa di Istana Dalam: Permaisuri Li dan Putri Mahkota Lin Ju.
"Lancang sekali pelayan rendahan sepertimu menghalangi Kaisar untuk masuk!" bentak Putri Mahkota Lin Ju.
Suaranya yang melengking tinggi memecah kesunyian malam, sementara jemarinya yang berhias kuku emas menunjuk tepat ke arah wajah Mei Mei dengan kemarahan yang meluap-luap.
Permaisuri Li melangkah maju, jubah kebesarannya yang bersulam benang emas bergemerisik tipis di atas lantai pualam. "Menyingkir... biarkan Kaisar masuk," titah Permaisuri Li dengan nada dingin yang menusuk tulang, matanya menatap tajam Mei Mei yang masih bergeming menghadang daun pintu besar di belakangnya.
Di sekitar mereka, tidak ada satu pun pengawal yang tersisa. Dua prajurit berbaju zirah yang seharusnya berjaga di pintu masuk tersebut sudah disuruh pergi oleh Mei Mei beberapa saat lalu.
Semua orang di istana tau bahwa Mei Mei sebenarnya bukanlah pelayan biasa, melainkan putri kandung dari Jenderal Besar Kekaisaran yang memegang komando tertinggi militer. Itulah alasan mengapa dua prajurit tadi sama sekali tidak berani membantah ataupun melawan perintah Mei Mei saat diminta pergi.
Melihat keributan itu, Kaisar Lin Dong akhirnya mengangkat sebelah tangannya perlahan. Isyarat mutlak yang seketika menghentikan perdebatan tersebut. Wajah sang penguasa tertinggi tampak datar, menatap tanpa emosi sedikit pun, namun aura kepemimpinannya terasa begitu menekan.
"Jelaskan padaku... kenapa aku tidak boleh masuk ke dalam?" tanya Kaisar Lin Dong. Nada suaranya pelan dan rendah, namun setiap suku kata yang diucapkannya membawa tuntutan jawaban yang tidak boleh diabaikan.
Mei Mei segera merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada, lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam sebagai tanda hormat, meski kakinya sama sekali tidak bergeser satu inci pun dari posisinya.
"Mohon ampun dan maaf yang sebesar-besarnya, Yang Mulia... Namun, Tuan Putri Lin Jia sendiri yang secara langsung meminta hamba untuk menjaga pintu ini. Beliau memberi titah agar hamba tidak membiarkan siapapun, tanpa terkecuali, untuk melangkah masuk ke dalam kamar ini," jawab Mei Mei dengan suara pelan namun penuh ketegasan yang sarat rasa hormat.
Putri Mahkota Lin Ju mengambil satu langkah lebar ke depan, menghentakkan kakinya kesal. "Tapi yang berdiri tepat di hadapanmu saat ini adalah Kaisar tertinggi! Beraninya kau menyamakan kedudukan orang lain dengan Beliau?!" bentaknya lagi, mencoba mengintimidasi.
Permaisuri Li mengangguk anggun, mendukung ucapan putrinya demi menjaga wibawa kekaisaran. "Benar apa yang dikatakannya. Di seluruh wilayah Kekaisaran Naga Langit yang membentang luas ini, tidak ada satu pun jiwa yang memiliki hak atau kuasa untuk melawan kehendak langit dari seorang Kaisar," tegas Permaisuri Li.
Namun, di luar dugaan semua orang, Mei Mei tetap bergeming di tempatnya bak patung batu yang setia. Menyaksikan keteguhan gadis di depannya, Kaisar Lin Dong justru menghela napas panjang. Guratan lelah tampak samar di sudut matanya yang tegas.
"Tadi aku sengaja mendatangi Paviliun Musim Semi demi melihat bagaimana keadaan putriku. Namun, setelah sampai di sana, dia tidak ada di tempatnya. Karena kekhawatiran itulah, aku datang kesini untuk memastikan." ujar Kaisar dengan nada suara yang melunak, menyiratkan sisi seorang ayah di balik jubah naga yang dikenakannya.
Mei Mei mendongak sedikit, memastikan suaranya terdengar meyakinkan. "Tuan Putri Lin Jia dalam keadaan baik-baik saja dan aman, Yang Mulia. Anda sama sekali tidak perlu mengkhawatirkan kondisi kesehatan ataupun keselamatan beliau saat ini," tutur Mei Mei.
Mendengar penuturan yang tulus itu, Kaisar Lin Dong pun mengangguk perlahan, menerima penjelasan tersebut dengan bijaksana. "Kalo begitu, aku akan berdiri di sini dan menunggu sampai dia selesai," putus Kaisar dengan tenang.
Keputusan spontan sang penguasa sontak membuat Permaisuri Li dan Putri Mahkota Lin Ju membelalakkan mata mereka karena terkejut.
"Tapi, Suamiku... tidak sepatutnya dan sangat tidak pantas bagi seorang Kaisar agung untuk berdiri menunggu di luar kamar seperti ini!" protes Permaisuri Li dengan nada yang tertahan, mencoba mengingatkan suaminya tentang martabat takhta.
Putri Mahkota Lin Ju menimpali dengan cibiran yang gagal disembunyikannya. "Benar, Ayahanda. Hanya rakyat jelata dan kaum rendahan yang pantas menghabiskan waktu mereka untuk menunggu!" sambungnya berapi-api.
Seketika itu juga, atmosfer disana berubah menjadi sedingin es. Kaisar Lin Dong memalingkan wajahnya, lalu menatap langsung ke arah mata Putri Mahkota Lin Ju dengan pandangan yang sangat tajam dan menghujam, seolah bisa menguliti kesombongan gadis itu dalam sekejap.
"Jaga ucapanmu, Lin Ju," desis Kaisar dengan nada peringatan yang teramat dingin.
Mendengar teguran langsung dari sang ayah, Putri Mahkota Lin Ju langsung memucat. Ia terpaksa menutup mulutnya rapat-rapat, menggigit bibir bawahnya dengan perasaan kesal dan malu yang membakar dadanya.