Tujuh tahun lalu, Kirana Ayu Pradipta ditinggalkan tanpa penjelasan oleh kekasihnya, Raditya Alamsyah Wibowo. Kirana pergi tanpa tahu kebenaran, membangun hidup dan kariernya dari nol, tumbuh jadi perempuan tegar yang tak lagi percaya cinta. Tujuh tahun kemudian, mereka bertemu kembali. Bukan sebagai sepasang kekasih, tapi sebagai rival bisnis dalam tender proyek properti terbesar di Jakarta. Radit yang dingin berusaha merebut kembali hati Kirana, sementara Kirana harus memilih antara membalas dendam, melindungi perusahaannya, atau membuka hatinya lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
XXXIII - Konferensi Pers Kedua
Keesokan harinya, setelah percakapan antara Kirana dan Radit, tepat pada pukul 08.00, Kirana berdiri di depan cermin apartemennya, mengenakan blazer berwarna abu-abu gelap, Bersiap untuk melakukan salah satu hal paling penting untuk menyelamatkan kehidupannya saat ini. Tangannya sedikit gemetar saat merapikan kerah blazer itu untuk yang kesekian kalinya. Semalaman ia hampir tidak sempat memikirkan apa pun selain kalimat yang akan ia ucapkan kalau-kalau ada wartawan yang bertanya langsung kepadanya.
Ia mengingat kembali percakapan teleponnya dengan Radit kemarin sore, bagaimana ia akhirnya setuju untuk berdiri di sampingnya hari ini. Ini bukan keputusan yang mudah, tapi entah kenapa, begitu ia mengucapkan "*iya*" di telepon, ada perasaan seperti beban yang selama ini ia pikul sendirian sedikit berkurang. Ia tau, mulai hari ini, tidak akan ada lagi ruang untuk bersembunyi bagi dirinya.
DRRT.
Ponselnya bergetar di atas meja rias. Pesan dari Radit.
Aku otw jemput kamu. Lima belas menit lagi.
Kirana mengetik balasan singkat.
Oke. Aku tunggu di lobi.
Nadia masuk ke kamarnya tanpa mengetuk, Kirana memintanya untuk menginap dan menemaninya semalam. Nadia membawa secangkir teh hangat untuk menenangkan Kirana. "Lu udah siap?"
"Nggak tau," Kirana menjawab jujur, menatap pantulan dirinya di cermin. "Tapi gua nggak punya pilihan lain selain siap."
"Lu yakin mau maju bareng dia di depan kamera?" Nadia bertanya, meletakkan cangkir teh itu di meja rias. "Begitu lu berdiri di sana, nggak ada jalan buat mundur lagi, Kir."
"Gua tau," Kirana menjawab, mengambil cangkir itu, meminum sedikit untuk menenangkan diri. "Tapi gua nggak boleh sembunyi terus, Nad. Sama kayak Radit."
Nadia duduk di tepi ranjang, memperhatikan Kirana yang masih sibuk merapikan penampilannya. "Kalau ada pertanyaan yang bikin lu nggak nyaman, lu nggak harus jawab semuanya, Kir. Lu boleh diem, atau lempar aja ke Radit."
"Gua tau," Kirana menjawab, tersenyum tipis ke arah sahabatnya. "Makasih udah nemenin gua sampe sejauh ini, Nad."
"Ya udah, sana," Nadia berkata, mendorong pelan bahu Kirana ke arah pintu. "Radit pasti udah nunggu di bawah."
...****************...
Ruang konferensi di lantai dasar gedung Wibowo Group dipenuhi wartawan sejak pukul 09.30, jauh lebih ramai dari konferensi pers Radit sebelumnya. Kursi-kursi terisi penuh, kamera berjajar di belakang ruangan, beberapa jurnalis bahkan rela berdiri karena kehabisan tempat duduk.
Di lobi, sebelum masuk ke ruang konferensi, Radit berhenti sejenak, menatap Kirana. "Kamu nggak harus jawab pertanyaan apa pun kalau nggak mau. Aku yang bakal handle dan jawab sebagian besar pertanyaan dari mereka."
"Aku udah siap, Dit," Kirana menjawab, menghela napas sekali. "Kita hadapin ini bareng, kan? Kayak yang kamu bilang kemarin."
Radit mengangguk, mengulurkan tangannya. Kirana menggenggamnya sebentar, cukup lama untuk saling menguatkan, sebelum mereka melepaskan genggaman itu dan berjalan masuk menuju podium.
Radit berjalan ke podium pukul 10.00 tepat, Kirana berada di sisinya, langkah mereka sengaja disamakan agar terlihat berjalan berdampingan. Farrel berdiri di sudut ruangan, mengawasi setiap sudut dengan waspada.
"Terima kasih sudah hadir pagi ini di konferensi pers ini," Radit membuka pernyataannya, suaranya tenang meski matanya sempat melirik sekilas ke arah Kirana sebelum melanjutkan. "Saya tau banyak spekulasi yang beredar sejak kemarin. Hari ini, saya ingin memberikan klarifikasi secara langsung, bukan lewat pihak ketiga atau spekulasi media."
Kamera-kamera berkedip serentak, suara jepretan memenuhi ruangan, hampir menutupi suara Radit sendiri.
"Foto yang beredar kemarin memang benar," Radit melanjutkan. "Saya dan Ibu Kirana Ayu Pradipta memang memiliki hubungan pribadi, di luar hubungan bisnis antara Wibowo Group dan Cipta Prada Land. Hubungan itu bukan sesuatu yang perlu kami sembunyikan, dan saya minta maaf karena membiarkan pihak lain menceritakannya lebih dulu, dengan cara yang tidak seharusnya."
Beberapa wartawan mulai berbisik, sebagian mencatat cepat di ponsel mereka.
"Saya juga ingin menegaskan," Radit melanjutkan, "bahwa rumor soal ketidakstabilan Cipta Prada Land yang beredar minggu lalu sepenuhnya tidak berdasar. Perusahaan itu sehat, dan kerja sama kami di proyek revitalisasi pesisir tetap berjalan seperti seharusnya. Saya harap, dengan klarifikasi hari ini, spekulasi yang selama ini merugikan banyak pihak bisa berhenti."
"Saya juga ingin menyampaikan," Radit melanjutkan, suaranya sedikit lebih berat, "bahwa pertunangan saya dengan Valerie Wijaya akan dibatalkan. Keputusan ini murni datang dari saya, dan saya bertanggung jawab penuh atas segala konsekuensinya, baik secara pribadi maupun bisnis."
Kirana berdiri tegak di samping Radit, tangannya terlipat rapi di depan tubuhnya, wajahnya tenang meski di dalam dadanya jantungnya berdegup kencang mendengar semua orang di ruangan itu menyaksikan momen yang seharusnya menjadi urusan pribadi mereka berdua.
"Saya akan buka sesi tanya jawab singkat setelah ini," Radit melanjutkan, "tapi sebelum itu, saya ingin sekali lagi menegaskan, Kirana Ayu Pradipta bukan bagian dari masalah yang terjadi minggu ini. Dia adalah korban dari rumor dan manipulasi orang yang tidak bertanggung jawab. Saya berdiri di sini bukan cuma untuk membela hubungan pribadi kami, tapi juga untuk membela kebenaran yang selama ini ditutupi oleh banyak orang."
Seorang wartawan dari barisan depan mengangkat tangan lebih dulu. "Pak Radit, apakah keputusan ini akan memengaruhi hubungan bisnis Wibowo Group dengan keluarga Wijaya?"
"Itu kemungkinan yang saya sadari dan saya siap menghadapi itu," Radit menjawab. "Tapi saya percaya, keputusan bisnis yang baik dan hubungan pribadi nggak harus saling mengorbankan satu sama lain."
Wartawan lain mengangkat tangan sebelum Radit sempat menunjuk siapa pun. "Pak Radit, benarkah ada dugaan bahwa penyebaran foto ini terkait dengan pihak Valerie Wijaya sendiri? Apa Anda akan mengambil langkah hukum?"
Radit terdiam sesaat, mempertimbangkan jawabannya. "Saya nggak akan memberi pernyataan di depan publik soal siapa yang bertanggung jawab atas penyebaran foto pribadi itu. Yang bisa saya pastikan, tim legal saya sedang meninjau opsi yang tersedia. Fokus saya hari ini adalah memastikan kebenaran tersampaikan, bukan mencari siapa yang harus disalahkan."
"Tapi Anda tidak menutup kemungkinan untuk mengambil langkah hukum?" wartawan itu mengejar, tidak puas dengan jawaban pertama.
"Saya tidak menutup kemungkinan apa pun," Radit menjawab tegas, "termasuk melindungi privasi orang-orang yang ada di sekitar saya."
Wartawan lain di baris tengah mengangkat tangan. "Ibu Kirana, bagaimana perasaan Anda menghadapi sorotan publik seperti ini, terutama setelah rumor dan tekanan yang dialami Cipta Prada Land beberapa waktu terakhir?"
Kirana menarik napas sejenak sebelum menjawab, suaranya jelas meski terasa berat di tenggorokannya. "Saya nggak akan bohong, ini bukan situasi yang mudah. Tapi saya memilih untuk berdiri di sini, terang-terangan, daripada terus-menerus disorot lewat rumor yang nggak pernah saya konfirmasi sendiri. Cipta Prada Land akan tetap berjalan seperti biasa, dan saya percaya kinerja perusahaan yang akan bicara lebih jelas dari spekulasi mana pun. Karyawan saya bekerja keras setiap hari, dan mereka nggak pantas terus-menerus dihantui oleh berita yang tidak berdasar."
Ruangan itu hening sesaat, beberapa wartawan mengangguk, mencatat jawaban itu kata demi kata.
"Satu pertanyaan lagi," seorang wartawan lain menyela, suaranya cepat sebelum sesi ditutup. "Apa rencana Anda berdua ke depannya, baik secara pribadi maupun untuk kerja sama bisnis Wibowo Group dan Cipta Prada Land?"
"Proyek revitalisasi pesisir tetap berjalan sesuai rencana," Radit menjawab tegas. "Itu komitmen bisnis yang berdiri sendiri, terlepas dari hubungan pribadi saya dengan Bu Kirana. Kami berdua sepakat, urusan pribadi dan urusan bisnis harus tetap diberi batasan yang jelas, demi kepentingan kedua perusahaan dan semua pihak yang terlibat di dalamnya. Soal masa depan kami berdua, itu sesuatu yang akan kami jalani pelan-pelan, tanpa perlu terburu-buru menjelaskannya ke publik."
Kirana mengangguk kecil, menambahkan, "Yang penting sekarang, kami berdua sama-sama fokus memastikan perusahaan kami masing-masing tetap sehat dan bisa dipercaya. Sisanya, biar waktu yang menjawab."
Farrel melirik jam tangannya, memberi isyarat kecil ke arah Radit bahwa waktu hampir habis. Beberapa wartawan masih mengangkat tangan, berharap pertanyaan mereka terpilih sebelum sesi ditutup.
"Kita kasih kesempatan untuk satu pertanyaan terakhir," Radit berkata, matanya menyapu ruangan.
Seorang jurnalis dari media besar mengangkat tangan, wajahnya serius, jelas tau pertanyaannya akan jadi sorotan utama pemberitaan sore itu.
"Pak Radit," wartawan itu bertanya, suaranya tajam, "apakah ini berarti pertunangan Anda dengan Valerie Wijaya resmi berakhir?"
Ruangan itu hening seketika. Bahkan suara jepretan kamera seolah berhenti sesaat, semua orang menahan napas menunggu jawaban yang akan menjadi kutipan utama di setiap pemberitaan sore itu.
Radit menatap lurus ke arah kamera, tidak sedikit pun ragu.
"Ya, seperti yang saya sampaikan tadi, saya memutuskan untuk membatalkan pertunangan saya dengan Valerie."
...****************...
Di kediaman Wibowo, Hartono menyaksikan siaran langsung itu dari layar televisi ruang kerjanya, tangannya mencengkeram sandaran kursi begitu Radit mengucapkan kata terakhir itu. Bu Ratna berdiri di sudut ruangan, tidak berani bersuara, menunggu reaksi yang mungkin akan meledak kapan saja.
Tapi ledakan itu tidak datang. Hartono hanya menatap layar dalam diam, rahangnya mengeras, sebelum akhirnya mematikan televisi itu dan duduk di dalam ruangan yang tiba-tiba terasa sangat sunyi. Untuk pertama kalinya sejak konflik ini dimulai, ia tidak tahu lagi langkah apa yang harus ia ambil selanjutnya.