Cerita ini menceritakan tentang. Seorang lelaki yang selalu disuruh agar cepat mencari pendamping di umurnya yang hampir mengajak ke 29tahun.
Bagaimana kah kisah selanjutnya!
apakah dia bisa mencari seorang wanita idaman keluarganya?
Atau justru dia harus menerima perjodohan dari keluarganya?
Semakin aku sering bersamanya.
Maka semakin besar rasa cinta yang ku berikan kepadanya.
Semakin besar cintaku padanya.Maka akan semakin besar pula rasa sakit yang akan kurasakan nantinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon senja.21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Beli 1 Gratis 1.
Malam nanti akan di adakan pertemuan dua keluarga. Namun Adit belum juga memberi tahukannya kepada Xiodi.
Hari ini Adit berangkat ke kantor.
Aditya sudah ada di dalam ruang pribadinya.
"Yan, keruangan saya sekarang." ucap Adit, memanggil asistennya itu dengan saluran telepon kantor.
"Permisi Tuan." ucap Ayan, kepada atasannya itu setelah menutup pintu ruangan Presdir.
"Duduk." perintah Adit kepada asisten Ayan.
"Ada apa Tuan, memanggil saya kemari. " tanya asisten Ayan kepada Adit.
"Apa kau punya nomor wanita itu." ucap Adit kepada asisten Ayan.
Asisten Ayan yang tahu maksud Tuanya, ia memastikannya lagi kepada Adit.
"Apa wanita itu yang anda maksud adalah Nona Xiodi, Tuan." tanya Ayan, apa benar wanita itu adalah Xiodi.
"Menurut kamu!." balas Adit yang duduk di kursi kebesarannya itu.
"Tentu, Tuan." jawab Ayan.
"Tolong telpon dia sekarang. Saya mau bicara dengannya." ucap Adit memberi perintah kepada asistennya itu.
"Baik, Tuan." ucap asisten Ayan.
Ayan yang disuruh oleh atasannya dia langsung menghubungi orang tersebut.
"Mana ponselnya berikan ke saya." ucap Adit, meminta ponsel asistennya itu. Ayan langsung memberikan kepada atasannya itu.
Sambungan terhubung!
"Halo asisten Ayan." ucap seorang yang ada didalam ponsel itu.
Suara itu adalah milik Xiodi.
"Saya bukan asisten Ayan!." ucap Adit, kepada seseorang yang ada didalam sambungan telepon.
"Sorry.. Sir saya pikir anda asisten Ay." ucap wanita yang ada didalam sambungan telepon itu.
Namun sebelum dia melanjutkan omongannya sudah di potong oleh Adit.
"Saya tidak suka orang yang banyak bicara." ucap Adit, berhenti sejenak sebelum melanjutkan omongannya lagi.
"Dengerin! Saya baik-baik! Nanti malam saya dan keluarga saya akan ke kediaman Wiratama jam 19:00 malam."
" Buat apa Tuan. " tanya Xiodi, yang ada didalam sambungan telepon itu.
" Sudah saya bilang bukan! Saya tidak suka orang yang banyak bicara. Lalu mengapa anda bertanya." ucap Adit kepada Xiodi, yang tak paham maksudnya itu.
"Maaf Tuan." Ucap Xiodi yang selalu meminta maaf kepada Adit.
Tut... Tut... Panggilan terputus!
Hah.... Gila apa nih orang ditanya buat apa kesini malah jawabnya enggak nyambung. Batin Xiodi yang masih pantengin ponselnya yang ada tulisan asisten Ayan.
Xiodi yang tadinya ada di kamar.
Saat menerima telepon dari Adit. Sekarang Xiodi memutuskan untuk menemui Ibunya. Untuk memberi tahu bahwa nanti malam akan ada tamu ke rumahnya.
Setelah sampai di bawah Xiodi menghampiri Ibunya yang ada di luar rumah.
"Bu." panggilnya Xiodi dari belakang kepada Ibunya.
"Iya, ada apa Odi." tanya ibu, sambil membalikkan badannya untuk berhadap-hadapan dengan anaknya itu.
"Nanti malam Tuan Adit dan keluarganya akan kesini." ujar Xiodi memberi tahukan kepada Ibunya ini.
"Loh... Kok, Odi baru bilang sekarang sih, kan ini sudah jam 09.00, Ibu belum punya bahan untuk di masak." ucap Ibunya kepada Xiodi.
"Bukan salah Odi lah Bu, orang Xiodi aja baru dikabari hari ini." ucap Xiodi yang tak terima jika di salahkan Ibunya.
"Maklum Bu, orang kaya mah seenak jidatnya sendiri." ujar Xiodi kepada Ibunya.
"Husss.... Kamu itu jangan negatif thinking dulu kepada orang, bisa jadikan emang orang tuanya Tuan Adit. Bisanya malam nanti." ucap Ibunya kepada anaknya itu.
" Emang benar kan Bu!." ujar Xiodi lagi.
"Sudahlah dari pada kamu ngedumel terus. Mending beri tahu Ayah buat pulang cepat." ucap Ibu Xiodi yang bernama Clea Wiratama.
"Iya Bu, Xiodi ke kamar dulu ya Bu!." pamit Xiodi kepada Ibu Clea.
Berbeda dengan Xiodi. Adit yang mematikan sambungan teleponnya. Tadi sekarang sedang bicara kepada asisten Ayan.
"Lihatlah Yan, wanita ini bener-bener bodoh! Masak Yan. Saya bilang mau ke rumahnya. Dia tanya untuk apa? Kalau bukan untuk membicarakan pernikahan lalu untuk apa lagi!
Kalau bukan Mamah meminta saya untuk cepat-cepat cari pasangan selama sebulan ini, saya enggak akan menikahi wanita yang bodoh dan bar-bar kayak dia ini." ucap Adit memaki-maki Xiodi, di depan asisten pribadinya itu.
Asisten Ayan hanya mendengarkan atasannya saja.
"Bukankah itu lebih baik Tuan. Saya lihat juga Tuan muda Aldi sangat menyukai Nona Xiodi, Tuan." ucap asisten Ayan yang semula diam.
"Baik apanya Yan, saya rasa saya harus jauhkan wanita itu dari anak saya." ucap Adit, sambil memutar-mutarkan kursinya itu.
"Bagaimana caranya Tuan, jika Nona Xiodi ada di kediaman Jackson. Bukankah itu sangat tidak mungkin Tuan." Tanya asisten Ayan panjang lebar, selama bekerja dengan Adit dia tak pernah bicara sepanjang itu.
"Saya serahkan kau." ucap Adit yang membuat Ayan membulatkan matanya.
Hah.... Kenapa jadi saya! Bukankah ini masalah anda Tuan!
Lalu mengapa harus saya! Yang harus cari jalan keluarnya!
Kalau tadi tahu akan begini mendingan tidak perlu bertanya. Batin asisten Ayan .
"Kenapa Yan, apa kau sudah mendapatkan cara agar wanita itu jauh dari anak saya. Sepertinya kau menemukan ide. Pasalnya dari tadi saya perhatikan kau diam saja." icap Adit, yang melihat asistennya yang diam saja dari tadi. Ayan yang di tanya seperti itupun kaget.
"Aa-aa-aa-anu Tuan." ucap asisten Ayan terbata-bata.
"Anu anu apa Yan. Sejak kapan kamu gagap Yan?." tanya Adit, kepada asistennya itu sudah lama Ayan.
Selama bekerja dengan dirinya Ayan tak pernah bicara terbata-bata seperti itu.
" Sudahlah, selesaikan pekerjaan kau dulu. Nanti kalo sudah dapat ide beri tahu saya." ucap Adit kepada Ayan.
"Kalau, begitu saya permisi Tuan." ucap Ayan sambil menundukkan kepalanya. kepada atasannya itu.
Setelah Ayan pergi dari ruangan Adit. Masuklah sekretaris Dinda.
Tok... Tok.....
"Masuk." ucap Adit dari dalam.
"Permisi Tuan." ucap sekretaris Dinda, sambil membungkukkan badannya yang membuat be*ahan da*anya keliatan. Kerena kancing kemejanya dilepas dua.Namun hal itu sia-sia karena Adit duduk di kursi sambil memejamkan matanya.
"Hmmm." jawab Adit sekenanya saja.
"Saya perlu tanda tangan anda Tuan. Dan ini anda harus periksa laporan bulan ini." ucap Dinda sambil menyerahkan berkas-berkas yang dia bawa.
"Baiklah." ucap Adit membuka matanya.
"Tuan, nanti malam ada undangan makan malam dari kelien" ucap Dinda.
"Baiklah kamu datanglah ke sana." ucap Adit berhenti sejenak.
Dinda yang mendengar hal itu dia tersenyum, karena atasannya tak pernah memintanya untuk ikut jika ada undangan makan malam.
"Gantiin saya, karena saya malam ini ada acara sendiri. Kamu bisa kan?." ucap Adit, kembali yang membuat Dinda berhenti tersenyum, pasalnya Dinda berpikir bahwa atasannya mau mengajak makan malam bersama klien.
"Iya.. Tuan. " ucap Dinda menjawabnya dengan keterpaksaan.
"Baiklah saya permisi Tuan." ucap Dinda. Adit yang tahu sekretarisnya ini akan membungkukkan badannya, ia dengan cepat memutarkan kursinya otomatis dia tidak akan melihat *e*a*an da*a sekertaris Dinda saat membukukan badannya.
Jam menunjukan pukul 17:10 sore hari ini Adit memutuskan untuk pulang karena dua jam yang akan datang ia harus ke kediaman Wiratama.
"Yan, kita jalan sekarang." perintahnya yang sudah ada didalam mobil kepada asisten Ayan.
Setelah menempuh waktu beberapa menit akhirnya merekapun sampai ke kediaman Jackson.
"Udah pulang kamu Dit." yanya Ny.Rinba yang kebetulan ada diluar rumah.
"Iya Mah, Aldi dimana Mah?." tanya Adit kepada Ny.Rinba.
"Itu ada di dalam, lagi main." ucap Ny.Rinba.
"Daddy." ucap Aldi yang melihat Adit menghampirinya.
"Main apa kamu Al." tanya Adit kepada bocah itu.
"Pouwel renges, Daddy." Jawab Aldi.
Akhirnya semua orang yang ada di kediaman Jackson sudah siap. Pasalnya keluarga itu membutuhkan satu jam untuk bersiap-siap.
" Holle..Tita terumah tatak Codi" ucap Aldi sambil lari-lari mengelilingi Daddy Adit.
"Al jangan lari-lari nanti kamu jatuh ." tegur Adit kepada anaknya.
"Gimana Dit, apa kamu sia?." tnya Tuan Jinsin kepada anaknya.
"Siap apa Pah?." yanya Adit balik.
"Ya siap jalan lah Dit, masak siap ucap janji suci." ucap Tuan Jinsin, membalas pertanyaan anaknya.
"Ayo kita jalan." Ajak Ny.Rinba kepada keluarganya.
"Et Go." ucap Aldi yang mengingat kata Xiodi waktu di dufan.
" Wah... Cucunya siapa ini kok bisa bilang Let's Go." tanya Ny.Rinba.
Akhirnya keluarga Jackson memutuskan untuk jalan sekarang.
Setelah berapa menit perjalanan Akhirnya merekapun sampai ke kediaman Wiratama.
Beruntung di luar kediaman Wiratama sudah ada pelayan yang disuruh untuk menunggu kedatangan keluarga Jackson.
"Silakan masuk Tuan dan Nyonya." ucap pelayan.
"Terima kasih." ucap Tuan Jinsin sambil senyuman ke pelayan.
Akhirnya merekapun masuk ke dalam setelah di persilakan.
Ibu Clea Wiratama ia menemui tamunya itu dan mempersilakan Duduk.
"Silakan duduk, Tuan dan Nyonya." ucap Ny.Clea kepada tamunya itu.
"Terima kasih." ucap Ny.Rinba.
Ayah Xiodi muncul dari belakang.
"Malam Tuan Jinsin dan Tuan Adit." sapanya seraya mengulurkan tangannya kepada kedua pria itu.
"Malam juga, Ayahnya Xiodi." ucap Tuan Jinsin menerima uluran tangan dari Tuan Wiratama.
"Malam Nyonya Jackson." Menyapa ke Ny.Rinba.
Kerena tak tahu namanya, jadi Tuan Wiratama memanggilnya dengan nama Marganya. Kalau Tuan Jinsin dia tahu karena dia adalah pemilik perusahaan JK GROUP sebelumnya.
"Begini Tuan, saya kesini ingin melamar putri anda untuk anak saya dan menjadi ibu untuk cucu saya." ucap Tuan Jinsin kepada Tuan Wiratama.
Tuan Wiratama tak terkejut jika Adit mempunyai seorang anak, karena ia sudah di beri tahu Xiodi sebelumnya.
"Terima kasih Tuan Jinsin, telah berkenan datang ke rumah kami. Dan untuk itu saya dan keluarga saya menerima lamaran anda." ucap Tuan Wiratama.
Setelah menerima lamaran itu semua orang berbincang-bincang.
"Ngomong-ngomong anda ini namanya siapa ya Tuan, saya lupa nanya tadi." ujar Tuan Jinsin kepada Tuan Wiratama.
"Hahaha ia Tuan, saya juga lupa memperkenalkan nama saya, nama saya Denrry Wiratama dan istri saya namanya Clea Wiratama." ucap Tuan Wiratama memperkenalkan diri dan istrinya.
"Oh... Tuan Denrry." ujar Tuan Jinsin, mengulangi omongan Tuan Wiratama.
"Nah kalo Nyonya ini kalau boleh tahu siapa namanya." tanyanya Tuan Wiratama kepada Ny.Rinba.
"Kalau saya Rinba Jackson, Tuan." jawab Ny.Rinba.
"Malam Tante, Om." sapa Xiodi dan Zila yang jalan menghampiri mereka.
"Malam juga nak." ucap Ny.Rinba.
"Ji Chang Wook." ucap Zila saat melihat Adit.
Zila yang ada di samping Xiodi. Membuat semua yang ada di sana melihat kearah Zila.
"Zil kamu itu bisa diam apa tidak." bisik Xiodi kepada adiknya itu.
" Maaf Kak."ucap Zila pelan.
"Maaf Tuan dan Nyonya anak saya ini memang kalo ngomong enggak tahu tempat, jadi saya minta maaf kepada kalian." Ucap Tuan Wiratama meminta maaf untuk Zila.
"Enggak apa-apa Tuan, apa ini putri anda. " tanya Ny.Rinba.
"Iya benar, ini putri saya yang kedua adiknya Xiodi namnya Zila Wiratama." ujar Tuan Wiratama.
"Maaf Om, Tante sama Oppa." ucap Zila meminta maaf. Namun membuat reaksi orang yang ada di sana memandangnya lagi. Siapa yang Zila panggil Oppa.
"Oppa iu opa Al utan oppa tamu." Ucap Aldi.
"Hah..." ucap Zila.
"Maksudnya yang ada di samping kamu." ucap Zila lagi membalas ucapan Aldi. Dan menunjuk ke arah Adit.
"Ni Daddy nyaAl. ukan Opa talo Opa iu kayak iu." Balas Aldi sambil nunjuk kearah Tuan Wiratama.
Membuat orang yang ada di sana melihat Zila dan Aldi yang berbalas omongan.
" Zila diam enggak." bisik Xiodi lagi kepada adiknya yang selalu buat masalah.
"Dad acak Daddy ji ilang tayak Opa." Ucap Aldi kepada Daddy Adit.
"Husss." ucap Adit kepada anaknya agar tidak bicara lagi.
"Belati tamu Oma-Oma donk." ucap Aldi menunjuk Zila. Aldi tak terima jika Daddy Adit di bilang Opa. Hal itu membuat Xiodi menahan tawanya.
" Adik manis maksudnya bukan Opa tapi Op-pa." ucap Zila lagi memberi tahu Aldi.
"Cama caja cama-cama Opa" ucap Aldi membalas Zila lagi.
" Mending kita makan malam saja dahulu ." ucap Xiodi memberi saran, karena dia sudah tak tahan jika melihat Tom and Jerry langsung di hadapannya ini.
"Oh iya, mari Tuan dan Nyonya." ujar Ny.Clea mengajak tamunya itu.
Merekapun duduk dengan rapi.
Di sisi kiri Aldi ada Adit dan sisi kanannya ada Xiodi.
"Mau makan apa kamu dik." tanya Xiodi kepada Aldi. Namun Zila yang ada di sampingnya. Hal itu membuat Zila GR.
"Baklava sama borek Kak." ucap Zila yang ada di samping Xiodi.
"Hah... Apa Zil kamu bicara sama Kakak." tanya Xiodi kepada Zila kenapa memanggilnya.
"Hah.. Bukannya tadi Kakak tanya Zila mau makan apa." ucap Zila lagi.
"Emang Sejak kapan Kakak manggil kamu Dik." tanya Xiodi kepada adiknya itu.
"Oma dila GL ya,Tatak olang tanyaa cama Al." celetuk Aldi dan memanggil Zila dengan sebutan Oma.
Semua yang ada di sana tertawa dengan ocehan Aldi yang selalu bermusuhan dengan Zila.
Kecuali Adit sejujurnya ia sangat heran kepada sang anak kenapa banyak bicara dan sangat aktif setelah bertemu dengan Xiodi.
"Al enggak boleh gitu sama Kak Zila, minta maaf." ucap Adit kepada anaknya agar minta maaf.
"Dan jangan panggil Oma panggil Kakak. " ucap Adit lagi.
"Al inta maap ya tatak Dila." ucap Al kepada Zila, yangang di tanggapi dengan anggukan kepala Zila.
" Mana piringnya Kakak ambilin naklava sama borekkan Zil." tanya Xiodi, kepada adiknya itu. Setelah mengambilkan makan untuk Zila
"Nih Zil, makan yang banyak." ucap Xiodi memberikan piring yang sudah di isi makan yang di sebut Zila tadi.
"Makasih Kak." ujar Zila.
Setelah selesai makan keluarga Jackson pamit untuk pulang.
"Terima kasih atas jamuan yang keluarga Wiratama berikan kepada kami. Dan saya pamit undur diri." ucap Tuan Jinsin kepada Tuan Wiratama.
Setelah keluarga Jackson pulang. Xiodi jalan ke kamarnya, bersama Zila yang ada di belakangnya karena kamar mereka berdekatan.
"Kak tunggu." teriak Zila, sambil mengejar Kakaknya yang ada di depannya dan setelah sampai dekat Kakaknya itu langsung bergelayutan manja di lengannya Xiodi.
"Ada apa." tanya Xiodi kepada adiknya itu.
"Kak apa Aldi itu anak Tuan Adit." tanya Zila kepada Kakaknya.
"Iya." jawab Xiodi.
"Wah... Kakak Bili 1 Gratis 1 dong selamat ya!." ucap Zila sambil lari.
"ZILA GILLA." teriak Xiodi mengejar adiknya itu.
ceritanya bagus
walau tidak selurus jalan raya
terima kasih untuk author
yang sudah buat cerita nya bagus
dan agak dikit lain.
🙏🙏
sukses selalu buat authornya
Tuhan memberkati selalu🙏
salam kenal 🙏