NovelToon NovelToon
BAKTI BUTA SUAMIKU

BAKTI BUTA SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Bagi Bagas, surga ada di telapak kaki ibu. Namun sayang, baktinya buta. Sebagai anak keenam dari tujuh bersaudara, Bagas selalu memaksakan diri membayar iuran Bagi Rata yang dituntut kakak pertamanya demi menyenangkan sang Ibu. Ia menutup mata bahwa ekonomi mereka pas-pasan, jauh di bawah kakak-kakaknya yang sukses.

​Keuangan rumah tangga terkuras habis. Beruntung, Adinda sang istri adalah wanita tangguh. Lewat usaha katering rumahan dan kue online yang dibangunnya dari nol, Adinda berhasil membeli sebuah rumah sederhana satu kamar untuk tempat mereka berteduh bersama anak laki-laki mereka yang kini sudah SMP.

​Bukannya sadar, Bagas justru menjadikan kemandirian Adinda sebagai tameng untuk terus menyetor uang ke keluarga besarnya. Puncaknya, modal katering Adinda dikuras sepihak, dan rumah mungilnya itu mulai diincar untuk kenyamanan sang mertua.

​Saat anak laki-lakinya mulai ikut menderita dan berontak, Adinda akhirnya menyalakan mode tegas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAKTI BUTA SUAMIKU

​Matahari siang berderang di atas atap rumah ibu Bagas. Angin sepoi-sepoi berembus lembut, membawa aroma bunga melati yang ditanam di pot-pot tanah bagian teras depan. Di rumah yang selalu ia anggap sebagai 'istana sebenarnya' ini, Bagas sedang menikmati momen santainya. Ia duduk bersandar di kursi malas berukir kayu jati, meluruskan kedua kakinya yang beralaskan sandal rumah nan empuk.

​Di atas meja kaca kecil di sampingnya, telah tersaji segelas es teh manis dingin dengan potongan jeruk nipis, lengkap dengan sepiring pisang goreng renyah yang baru saja diangkat dari penggorengan oleh ibunya. Di halaman depan yang berpagar besi tinggi, mobil MPV hitam mengkilap miliknya terparkir dengan gagah, memantulkan kilau cahaya matahari siang yang begitu menyilaukan mata.

​Bagas menghirup udara siang itu dengan dada membusung lega. Senyum puas tak henti-hentinya terukir di bibirnya.

​"Ah... ini baru namanya hidup," gumam Bagas pada dirinya sendiri, seraya menyesap es teh manisnya perlahan. Rasa segar seketika membasahi tenggorokannya.

​Bagas merasa keputusan untuk memboyong kembali seluruh barang-barangnya dan menetap di rumah ibunya adalah langkah paling tepat di dalam hidupnya. Di rumah ini, ia merasa benar-benar diperlakukan bak seorang raja. Semua kebutuhannya dilayani tanpa perlu meminta dua kali. Setiap pagi, kemeja kerjanya sudah disetrika licin dan digantung rapi di depan lemari. Makanan selalu tersedia hangat di bawah tudung saji tanpa ada ocehan tentang anggaran dapur yang membengkak atau keluhan tentang harga beras yang naik. Ibunya tidak pernah menuntut apa-apa selain senyuman dan sedikit uang jajan untuk menyombongkan kehebatan anak laki-lakinya kepada tetangga sekitar.

​Dan yang paling membuat dada Bagas bergejolak bangga adalah kondisi rekening banknya bulan ini.

​Pagi tadi, notifikasi dari aplikasi perbankan di ponselnya berbunyi, menandakan gaji bulanan beserta bonus kenaikan performa kerja telah masuk secara utuh. Angka nominal yang tertera di layar ponselnya membuat Bagas hampir tertawa terpingkal-pingkal. Untuk pertama kalinya dalam belasan tahun pernikahan mereka, seratus persen dari gaji utuhnya masuk bersih ke dalam rekening pribadinya tanpa ada potongan sepeser pun untuk dikirimkan kepada Adinda!

​"Ndak ada lagi potong gaji buat bayar kontrakan tripleks yang pengap itu," batin Bagas dengan senyum pongah yang semakin melebar. "Ndak ada lagi uang jajan buat Dimas yang ndak tahu diri, ndak ada lagi jatah belanja beras, minyak, atau bayar listrik! Semua uang ini utuh milikku!"

​Ia membayangkan bagaimana sengsaranya Adinda saat ini di luar sana. Bagas sangat yakin, tanpa suntikan uang gajinya dan tanpa adanya pesanan katering besar yang biasanya terbantu oleh fasilitas uang muka yang ia berikan meski kenyataannya Adinda memakai uangnya sendiri Adinda pasti sedang kelimpungan memutar otak hanya untuk membeli sebutir telur di pasar.

​"Biarkan dia merasakan bagaimana susahnya mencari uang sendirian," desis Bagas sinis. "Baru beberapa hari pisah saja dia sudah harus pontang-panting, sementara aku di sini hidup enak, makan tinggal makan, baju tinggal pakai, uang gaji utuh, plus punya mobil baru mewah di halaman!"

​Ibunya keluar dari pintu depan membawa nampan berisi tambahan kue bolu kukus. Wanita tua itu tersenyum manis menatap anak laki-laki kesayangannya yang tampak begitu makmur dan santai.

​"Gimana, Gas? Enak kan tinggal di rumah Ibu lagi?" tanya ibunya sembari meletakkan piring kue di atas meja. "Ndak perlu kamu mikir bayar ini-itu, ndak perlu dengar omelan perempuan penjual nasi kotak yang mukanya selalu ditekuk tiap subuh. Di sini kamu itu anak raja! Biarkan Dinda yang pusing sendiri di luar sana!"

​Bagas tertawa renyah, mengambil sepotong kue bolu kukus itu. "Bener banget, Bu. Bagas baru sadar, selama belasan tahun ini Bagas itu seperti terikat rantai. Sekarang rantainya sudah putus. Uang gaji Bagas bulan ini utuh seratus persen, Bu! Nanti sore Bagas mau ajak Ibu ke mall, kita beli perhiasan baru buat Ibu biar tetangga-tetangga di sini makin melek kalau anak Ibu ini sudah sukses besar!"

​Ibunya memekik gembira, melambaikan tangannya di udara. "Aduh, anak Ibu memang pangeran! Ya Allah, untung kamu cepat lepas dari perempuan pembawa sial itu, Gas!"

​Di tengah gelak tawa dan suasana pesta kecil-kecilan di teras rumah yang dipenuhi kesombongan itu, dari arah pintu gerbang depan, terdengar suara klakson sepeda motor yang berhenti mendadak.

​Seorang petugas pos berpakaian seragam oranye turun dari motornya, memegang sebuah amplop cokelat tebal berkuran besar yang dilengkapi dengan lembar bukti penerimaan berstempel khusus.

​"Permisi... benar ini rumah Bapak Bagas Perkasa?" tanya petugas pos itu dari balik pagar besi.

​Tawa Bagas dan ibunya terhenti sejenak. Bagas meletakkan kue bolunya kembali ke piring, lalu berdiri dengan santai sembari membetulkan letak kerah kemeja kasualnya. "Iya, benar. Saya sendiri Bagas."

​"Ada surat tercatat dari instansi resmi untuk Bapak Bagas Perkasa. Mohon tanda tangan dan nama terang di lembar penerimaan ini ya, Pak," ujar petugas pos tersebut sembari menyerahkan pulpen dan amplop cokelat tebal itu melewati sela-sela pagar.

​Bagas menandatangani resi tersebut dengan dahi yang sedikit berkerut. Setelah petugas pos berpamitan dan memacu motornya pergi, Bagas kembali melangkah menuju teras rumah dengan amplop cokelat tebal di tangannya.

​Ibunya mengintip dari balik bahu Bagas dengan rasa penasaran yang tinggi.

"Surat apa itu, Gas? Dari kantor pusatmu lagi? Apa ada bonus tambahan lagi buat mobil barumu?"

​Bagas tidak menjawab. Ia membalikkan amplop tersebut untuk melihat nama pengirim yang tertera di bagian sudut kiri atas. Dan detik itu juga, jantung Bagas yang tadinya berdetak santai mendadak seperti berhenti berdetak selama satu hitungan penuh.

​Di sana, tertulis dengan huruf kapital tegas berwarna hitam, lengkap dengan lambang garuda dan cap basah berwarna merah menyala:

​PENGADILAN AGAMA KOTA

SURAT PANGGILAN SIDANG PERTAMA (REQUISITIE)

PERKARA GUGATAN CERAI TALAK / CERAI GUGAT

PENGGUGAT: ADINDA MAYANG SARI

TERGUGAT: BAGAS PERKASA

​Darah di dalam tubuh Bagas seketika terasa berdesir dingin naik hingga ke kepalanya. Jemari tangannya yang memegang amplop cokelat itu tanpa sadar mengetat hingga pinggiran kertas tebal tersebut menjadi remuk.

​Ibu Bagas yang melihat perubahan drastis pada wajah anaknya langsung merebut amplop itu dari tangan Bagas. "Lho, kok muka kamu mendadak pucat begitu, Gas? Coba Ibu lihat surat dari siapa ini..."

​Begitu membaca tulisan PENGADILAN AGAMA dan melihat cap basah merah di surat tersebut, wanita tua itu ikut tersentak. Napasnya tercekat sejenak. Namun, berbeda dengan Bagas yang sempat terkejut, ego dan keangkuhan yang ditanamkan oleh Mas Broto kemarin malam seketika bangkit dalam diri ibu Bagas.

​Sret!

​Ibu Bagas merobek amplop cokelat itu dengan kasar, mengeluarkan beberapa lembar kertas tebal yang berisi surat panggilan sidang resmi beserta salinan berkas gugatan yang telah disusun rapi oleh tim hukum Pak Baskoro.

​"Oalah! Ternyata benar-benar dikirim surat cerai ini sama si Dinda!" bentak ibunya dengan suara melengking penuh kemarahan. Ia mengibaskan kertas-kertas itu di udara dengan wajah yang memerah padam. "Kurang ajar betul perempuan kampung itu! Dia pikir dia siapa berani-beraninya melayangkan gugatan cerai resmi ke Pengadilan Agama buat anak Ibu yang sukses begini?!"

​Bagas menarik surat-surat itu dari tangan ibunya, memindai isi lembaran pertamanya dengan mata yang melebar. Di dalam dokumen hukum itu, tertera tanggal dan jam sidang pertama yang harus mereka hadiri pekan depan. Dan yang paling mengejutkan Bagas, di bagian akhir lembaran tersebut, Adinda sama sekali tidak mencantumkan gugatan pembagian harta gono-gini sepeser pun. Adinda hanya menuntut satu hal secara mutlak Hak Asuh Anak Sepenuhnya atas Dimas Perkasa, serta kewajiban nafkah anak bulanan yang besarannya disesuaikan dengan kemampuan gaji Bagas.

​Bagas menatap lembaran kertas berstempel resmi pengadilan itu dengan napas yang mulai memburu. Rasa terkejutnya dalam sekejap berubah menjadi badai kemurkaan dan amarah yang membakar habis seluruh harga dirinya sebagai seorang pria.

​"Dia... dia benar-benar nekat..." bisik Bagas, suaranya bergetar hebat dipenuhi rasa dendam yang amat sangat.

​Bagas merasa ditampar di tengah-tengah kebahagiaan dan kesuksesan yang baru saja ia nikmati siang ini. Di saat ia sedang berada di puncak kejayaan dengan mobil baru, gaji utuh seratus persen, dan pengakuan dari keluarganya, Adinda justru melayangkan pukulan hukum yang sangat telak, secara resmi mendaftarkan perceraian mereka ke lembaga negara! Ini bukan lagi sekadar gertakan di atas kertas nota katering, melainkan sebuah maklumat perang hukum yang nyata!

​Brak!

​Bagas memukul meja kayu di teras dengan kepalan tangannya hingga gelas es teh manisnya tergoncang keras dan tumpah membasahi lantai.

​"Kurang ajar kamu, Dinda!" teriak Bagas dengan mata yang memerah penuh amarah. "Kamu pikir dengan bawa-bawa Pengadilan Agama dan menyewa pengacara, kamu bisa bikin aku takut dan berlutut di depanmu?! Kamu pikir kamu siapa?!"

​Ibunya mendekat, menepuk-nepuk dadanya yang naik turun sembari terus memanaskan suasana. "Jangan takut, Gas! Ingat kata Mas Broto kemarin! Jangan pernah mau diintimidasi sama surat sampah dari perempuan ndak punya modal seperti dia! Dia mau cerai? Kasih! Biarkan dia jadi janda telantar tanpa ada sepeser pun uang darimu! Nanti di pengadilan, kamu datang bawa mobil barumu itu! Biar hakim dan semua orang di sana melihat siapa yang sebenarnya sukses dan siapa yang melarat!"

​Bagas mencengkeram lembaran surat panggilan sidang itu hingga agak remuk di tangannya. Senyum sinis yang penuh dengan kebencian dan dendam membara kini terukir jelas di wajahnya yang culas. Rasa paniknya telah sepenuhnya tergantikan oleh keinginan membara untuk menghancurkan Adinda di depan sidang majelis hakim nanti.

​"Ibu benar," ucap Bagas dengan suara rendah, dalam, dan penuh ancaman yang mematikan. "Dinda sudah salah memilih lawan. Dia pikir dia bisa mempermalukan aku dan keluargaku dengan surat cerai ini?"

​Bagas menatap lurus ke arah jalan raya di depan gerbang rumahnya, seolah-olah sosok Adinda sedang berdiri di sana.

​"Dengarkan baik-baik, Adinda..." desis Bagas dengan gigi rapat yang bertautan. "Aku sumpah... aku akan buat kamu menyesal setengah mati karena sudah berani mengambil langkah ini! Aku akan pastikan kamu keluar dari Pengadilan Agama itu nanti tanpa membawa apa-apa, tanpa uang sepeser pun dari gajiku! Aku akan tunjukkan di depan hakim, siapa aku dan seberapa melaratnya kamu tanpa adanya nama Bagas Perkasa di hidupmu! Kita lihat saja nanti di persidangan!"

​Di bawah terik matahari siang yang membakar teras rumah mewah ibunya, Bagas berdiri tegak dengan lembaran surat panggilan pengadilan di genggamannya. Pria egois itu sama sekali tidak menyadari bahwa keangkuhan, kebencian, dan rasa percaya dirinya yang berlebihan itu justru akan menjadi perangkap sempurna yang disiapkan oleh hukum untuk meruntuhkan seluruh hidupnya dalam waktu dekat.

1
Zhafran Althaf
mantap dindaaaa
Heni Setiyaningsih
bagus adinda 👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Zhafran Althaf
🤣🤣🤣🤣🤣
Heni Setiyaningsih
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Jetva
keren ceritax...semoga keren hingga akhir..aq suka perempuan yg mandiri dan tak takut suami dgn alasan surga ada pada suami....semangat Thor...
Jetva
istri Danu, Anik apa Anita, Thor..??🤔
blcak areng: iya kak aku keder sendiri 😄😄
total 1 replies
Heni Setiyaningsih
/Heart//Heart//Heart//Heart//Heart/
Anonim
BAGAS HALAL DARAH NYA... AYO BUNUH DIA
blcak areng: kak😁🤣🤣
total 1 replies
stela aza
q pingin nya si Bagas itu habis naik jabatan sebentar langsung khilaf trs di pecat jadi gembel biar g belagu trs sombong 🤭 ok Thor ❤️❤️❤️
Zhafran Althaf
hai kak aku mampirrrr😍😍😍
blcak areng: Hay juga kak Terima kasih 🙏
total 1 replies
stela aza
Thor ceritamu hampir mirip kaya kisahnya si abdi dan Disa ,,, yg lakinya manipulatif ,,, bodoh ,, belagu sombong trs so kaya kenyataan nya kere ,,, bergaya yg terlalu di paksakan 🤭
stela aza
rasain,,, syukurin ,,, bergaya tapi g mampu ,,, tinggal nunggu di pecat dr kantor biar jadi gembel ,,,, coba ibunya mau Nerima dia g ,,, kalau udh g kerja pasti bakalan di buang sama ibunya sendiri 🤦
Heni Setiyaningsih
💪💪💪 adinda
Lee Mba Young
bagus lanjutt
Lee Mba Young
bagus lah jng mau jd budak. anak sdh besar.
Heni Setiyaningsih
lbh baik lepaskan suami kyk gitu, hdup berdua dgn anak mu sj drpd dirong-rong terus sama suami pecundang
Heni Setiyaningsih
👍👍👍👍👍👍👍👍👍😍😍
Heni Setiyaningsih
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!