Demi menyelamatkan diri dan bayinya, Arin memilih pergi dari suaminya dan mengubur rapat masa lalu kelam mereka. Ia mengungsi ke sebuah kampung terpencil dan menyambung hidup sebagai tukang cuci keliling demi membesarkan putra semata wayangnya.
Tapi, Takdir membawa Arin berhadapan kembali dengan laki-laki dari masa lalu yang paling ia benci dan tak ingin ia temui lagi seumur hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
Regan terdiam. Pandangannya tetap lurus ke depan, tetapi rahangnya tampak mengeras.
"Maksud lu?" tanya Regan pelan.
Fahri mengembuskan napas panjang. "Selama sembilan tahun ini... Arin gak hidup sendirian."
Nama itu seketika membuat sorot mata Regan berubah.
Arin. Nama yang selama bertahun-tahun ini tak pernah benar-benar hilang dari benaknya.
Pria itu adalah Regan. Di mata hukum, Arin sebenarnya masih berstatus sebagai istrinya. Bukan karena mereka memilih mempertahankan rumah tangga, melainkan karena sembilan tahun lalu Arin pergi begitu saja tanpa pamit. Tanpa surat cerai, tanpa gugatan ke pengadilan, dan tanpa meninggalkan satu pun kabar.
Sejak hari itu, Arin menghilang seolah ditelan bumi. Regan sudah mencarinya ke mana-mana, mengerahkan orang-orang kepercayaannya untuk menyusuri kota demi kota, bahkan mendatangi setiap tempat yang mungkin disinggahi wanita itu. Namun, hasilnya selalu nihil.
Seiring berjalannya waktu, pencarian itu tidak pernah benar-benar berhenti. Regan hanya memilih menyembunyikannya dari semua orang. Ia juga tidak pernah menikah lagi. Bukan karena masih berharap pada cinta mereka, melainkan karena ia belum mendapatkan jawaban atas satu pertanyaan yang terus menghantuinya selama sembilan tahun.
"Mengapa Arin pergi?"
Regan menoleh, menatap Fahri dengan tajam. "Katakan yang sebenarnya, Fahri."
Fahri menatap sahabatnya itu beberapa saat sebelum akhirnya membuka suara. "Arin punya anak."
Kalimat itu sukses membuat Regan membeku. Dunia di sekitarnya seolah berhenti berputar.
"...Anak?" Suara Regan nyaris tak terdengar, tercekat di tenggorokan.
Fahri mengangguk pelan. "Anak laki-laki."
Regan masih bergeming. Pikirannya mendadak penuh dengan berbagai kemungkinan yang saling bertabrakan, membuat dadanya terasa sesak.
"Berapa... berapa usianya?" tanya Regan lagi.
"Sembilan tahun."
Mata Regan membelalak sempurna. Jantungnya berpacu gila-gilaan. Sembilan tahun. Jika dihitung mundur dari waktu Arin menghilang...
Tangan Regan perlahan mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. "Siapa ayahnya?" Pertanyaan itu lolos begitu saja, dengan suara yang jauh lebih bergetar dari yang ia sadari.
Fahri tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Regan dalam diam.
"Fahri, siapa ayahnya?!" desak Regan, mulai tidak sabar.
Fahri menggeleng pelan. "Itu yang gue belum tahu."
Fahri memang melihat Arin hidup bersama seorang anak laki-laki di kampung kemarin, tetapi ia sama sekali tidak tahu kisah apa yang sebenarnya terjadi selama sembilan tahun terakhir.
Regan masih berdiri mematung di tengah keramaian terminal kedatangan. Wajahnya yang biasa tenang kini dipenuhi gejolak kebingungan.
"Gimana ceritanya?" tanya Regan dengan suara berat dan tertahan.
Fahri melirik sekeliling. Banyak orang lalu-lalang dan memperhatikan mereka. "Di mobil aja, Gan. Gak enak ngomongin hal ginian di sini."
Regan mengangguk singkat. Keduanya berjalan menuju area parkir tanpa banyak bicara. Begitu koper Regan masuk ke bagasi, mereka segera masuk ke dalam kabin mobil.
Selama beberapa menit awal mobil melaju meninggalkan bandara, suasana di dalam kabin dipenuhi keheningan yang mencekam. Regan akhirnya memecah keheningan itu karena sudah tidak sabar.
"Ceritain semuanya ke gue. Jangan ada yang ditutup-tumpuk."
Fahri mengembuskan napas panjang sebelum mulai membuka suara. "Sebenarnya gue juga baru tahu soal ini beberapa hari yang lalu."
"Dari siapa?"
"Dari Rania sama Ibu."
"Ibu?" Regan menoleh cepat.
"Ibu mertua gue," jelas Fahri pelan. "Mereka yang gak sengaja nemuin Arin di kampung halaman mereka. Semua yang gue tahu sekarang juga murni dari cerita mereka."
"Terus, apa yang terjadi sama Arin selama sembilan tahun ini?"
Fahri menggenggam kemudi sedikit lebih erat, bersiap menyampaikan bagian yang paling berat. "Arin hidup susah banget, Gan. Dia membesarkan anaknya sendirian. Selama bertahun-tahun di sana, dia kerja jadi tukang cuci keliling."
Mendengar kata itu, kepala Regan langsung menoleh patah-patah ke arah sahabatnya. "Tukang cuci? Lu serius?"
"Iya. Tiap hari dia nyuci baju warga kampung dari rumah ke rumah cuma demi menyambung hidup."
Regan mengepalkan tangannya kuat-kuat di atas paha. Dadanya mulai terasa sesak.
Fahri kembali melanjutkan, "Puncaknya beberapa hari sebelum gue ke sana, Arin sama anaknya diusir paksa dari rumah petak yang mereka sewa."
"Kenapa sampai diusir?" Regan mengernyitkan dahi, emosinya mulai terpancing.
"Karena fitnah dari warga sekitar. Bukan cuma Arin yang ditekan, tapi anaknya juga sering dihina habis-habisan."
"Dihina kayak gimana?"
Fahri terdiam beberapa detik, menimbang kata-kata yang pas agar sahabatnya tidak langsung mengamuk. Sambil menghela napas, ia berucap lirih, "Anak itu... sering dipanggil anak haram sama orang-orang kampung."
Seketika mobil mendadak senyap. Regan menatap lurus ke depan dengan sorot mata yang berubah segelap malam. Rahangnya mengeras rapat hingga otot-otot di sekitar wajahnya terlihat menegang menahan amarah yang meledak-ledak.
Setelah berhasil menguasai diri, Regan bertanya dengan nada yang sangat pelan, namun bergetar.
"Anak itu... apa dia baik-baik saja?"
Fahri menggeleng tipis. "Kata Rania, anak itu sempat mogok sekolah beberapa hari karena gak kuat di-bully teman-temannya."
Regan refleks memejamkan matanya erat-erat. Entah mengapa, ada rasa ngilu yang teramat sangat menghantam dadanya mendengar penderitaan bocah itu. Tak lama, ia kembali membuka mata dengan tatapan penuh tuntutan.
"Gue mau ketemu anak itu sekarang. Bisa, kan?"
"Gak bisa, Gan," tolak Fahri langsung.
"Kenapa? Lu kan yang bawa mereka ke Jakarta?"
"Gue udah janji sama Rania dan Ibu mertua gue untuk jagain Arin selama di sini. Mereka belum siap kalau tiba-tiba masa lalu Arin muncul dan bikin kekacauan baru. Gue gak mau mengkhianati kepercayaan istri gue sendiri," jelas Fahri sungguh-sungguh.
Regan mengembuskan napas kasar, menyugar rambutnya dengan frustrasi.
"Oke, fine."
Namun beberapa detik kemudian, Regan menoleh dengan mata menyipit curiga. "Tapi tunggu... jangan bilang lu sengaja sembunyiin mereka karena mau nikung gue?"
Fahri spontan tertawa renyah mendengar tuduhan absurd itu. "Astaga, ngaco lu!" Ia menggeleng geli.
"Gue udah punya istri secantik Rania, ya. Kurang kerjaan banget gue mikirin perempuan lain."
Untuk pertama kalinya sejak turun dari pesawat, sudut bibir Regan sedikit terangkat. "Ya... siapa tahu, kan?"
"Sialan lu. Kalau gue macam-macam, Rania yang bakal pertama kali nyunat gue dua kali," canda Fahri, membuat atmosfer di dalam mobil sedikit mencair.
Keheningan kembali merayap untuk beberapa saat sebelum Fahri menepuk pelan lengan sahabatnya itu.
"Saran gue, jangan buru-buru, Gan. Lu pulang dulu ke rumah, bersihin badan, dan tenangin pikiran. Emosi lu lagi campur aduk karena baru balik dari luar negeri." Fahri kembali fokus menatap jalanan di depannya.
"Kasih waktu beberapa hari. Kalau kondisinya udah tenang dan waktunya tepat, gue sendiri yang bakal bantu lu buat ketemu sama Arin."
Regan tidak langsung menjawab. Ia hanya memandangi gemerlap jalanan Jakarta dari balik jendela kaca.
Kota yang selama sembilan tahun ini menjadi tempatnya menyimpan harapan kosong, kini akhirnya benar-benar memberikan jawaban yang ia cari. Namun, Regan sadar, ia tidak boleh gegabah. Terlalu banyak luka yang belum terungkap, dan terlalu banyak kebenaran yang harus ia luruskan terlebih dahulu.
...****************...
Berikut adalah revisi naskah agar alurnya lebih rapi dan dialognya terasa lebih santai, mengalir, serta emosional layaknya obrolan mendalam antara dua sahabat:
Mobil terus melaju membelah jalan tol yang mulai padat. Keheningan kembali menyelimuti mereka berdua, hingga akhirnya Fahri memutuskan untuk memecah kesunyian itu. Ia melirik Regan sekilas sebelum kembali fokus menatap jalanan di depannya.
"Reg..."
"Hm? Kenapa?" sahut Regan tanpa menoleh.
"Gue mau nanya sesuatu, tapi lu jangan tersinggung ya."
Regan akhirnya menoleh, menatap Fahri dengan sebelah alis terangkat. "Nanya apaan?"
"Lu... yakin banget kalau anak itu darah daging lu?"
Pertanyaan Fahri sukses membuat Regan terdiam. Beberapa detik berlalu tanpa ada jawaban yang keluar dari mulut pria itu.
Melihat sahabatnya bungkam, Fahri kembali melanjutkan kalimatnya dengan hati-hati. "Usianya sembilan tahun. Memang, kalau dihitung mundur dari waktu Arin kabur, garis waktunya pas banget. Tapi... kita berdua kan sama sekali gak tahu apa yang dilewati Arin selama sembilan tahun belakangan ini, Reg."
Regan masih memilih untuk tetap diam, mendengarkan.
"Gue cuma gak mau lu terlalu berharap tinggi," sambung Fahri lagi. "Gue takut kenyataannya nanti malah beda dan bikin lu makin hancur."
Regan mengembuskan napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. "Jujur, gue juga gak berani mastiin seratus persen."
"Terus kenapa lu kelihatan yakin banget waktu di bandara tadi?"
Regan menatap lurus ke depan, menerawang jauh. "Karena gue kenal siapa Arin. Selama kami bareng dulu, Arin bukan tipe perempuan yang gampang berpaling atau main belakang. Makanya kalau anak itu lahir setelah dia pergi dari rumah gue..."
Suara Regan terdengar datar, namun ada keyakinan kuat yang terselip di sana. "...jauh di lubuk hati, gue mau percaya kalau dia anak gue. Tapi ya itu, baru sebatas perasaan gue aja. Gue gak punya bukti apa-apa sekarang."
Fahri mengangguk paham. "Nah, makanya itu alasan gue minta lu buat gak gegabah."
Regan tersenyum tipis, sangat tipis. "Iya, gue tahu. Gue juga gak sebodoh itu buat langsung datang tiba-tiba ke depan anak itu terus ngaku-ngaku jadi ayahnya."
Fahri bernapas lega mendengar jawaban rasional dari sahabatnya. "Terus, kalau nanti hasil buktinya keluar dan anak itu beneran anak lu... gimana?"
Regan terdiam cukup lama. Sorot matanya yang semula tajam perlahan meredup, berubah menjadi begitu sendu.
"Berarti..." Regan menjeda kalimatnya, menelan ludah dengan susah payah karena tenggorokannya mendadak terasa terikat.
"...berarti gue udah ngelewatin sembilan tahun pertama dalam hidup dia, Fahri."
Tangan Regan yang berada di atas paha perlahan meremas celananya sendiri.
"Waktu dia belajar jalan, gue gak ada. Waktu pertama kali dia masuk sekolah, gue gak ada. Bahkan waktu dia sakit, nangis, dihina orang, atau lagi butuh sosok ayah..." Suara Regan mulai sengau dan bergetar menahan sesak.
"...gue juga gak ada di samping dia. Kalau dia beneran anak gue, artinya gue udah gagal total jadi ayah bahkan sebelum gue sempat peluk dia sekali aja."
Fahri melirik Regan sekilas. Ini pertama kalinya selama bertahun-tahun ia melihat seorang Regan pria yang dikenal berhati baja menunjukkan rasa penyesalan dan kerapuhan sedalam itu.
"Tapi, Reg," potong Fahri lembut.
"Apa?"
"Lu juga harus ingat, sampai detik ini lu belum tahu alasan kenapa Arin milih kabur."
Regan mengangguk pelan, menyetujui ucapan sahabatnya. "Itu dia. Hal itu yang paling pengen gue tahu sekarang."
Ia menarik napas sedalam-dalamnya, mencoba mengusir rasa sesak yang kian menghimpit dadanya.
"Gue gak akan paksa dia buat balik ke gue, Fahri. Gue juga gak akan ngemis-ngemis minta dimaafin atas masa lalu. Gue cuma pengen dengar langsung dari mulut dia sendiri... kenapa dia milih hilang bak ditelan bumi, tanpa ngasih gue kesempatan sedikit pun buat ngejelasin atau perbaiki semuanya."