Gisella terbangun dalam tubuh seorang wanita figuran dengan nama yang sama di dalam sebuah novel roman. Sialnya, momen transmigrasinya terjadi tepat saat sang suami, Adrian Arthur—seorang profesor riset jenius berusia 27 tahun yang dingin dan kaku—menyodorkan surat cerai di atas meja.
Mampukah Gisella mengubah takdir kematian tragisnya dan bertahan di samping sang profesor jenius, ataukah waktu satu bulan itu akan tetap menjadi akhir dari kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririne Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 25: Ketakutan yang Menjadi Nyata
Pengakuan cinta Adrian yang begitu masif di samping piano menyisakan getaran hebat di dalam dada Gisella.
Malam itu berlalu dengan keheningan yang berbeda—sebuah keheningan yang sarat akan ketulusan, di mana tidak ada lagi sekat protokol atau dinding draf perceraian di antara mereka.
Namun, bagi Gisella, kebahagiaan yang datang terlalu cepat di dunia fiksi ini justru memicu alarm bahaya di kepalanya.
Sebagai mantan manajer humas yang terbiasa membaca pola, dia tahu bahwa ketika sebuah narasi mencapai puncak romantisnya sebelum akhir cerita, maka badai besar biasanya sedang mengintai di tikungan berikutnya.
Dan ketakutan itu mewujud nyata pada Selasa siang.
Adrian sedang berada di laboratorium universitas untuk melakukan uji coba tahap akhir pada formula riset biokimianya.
Sementara itu, Gisella memilih untuk membantu Bibi Martha merapikan ruang kerja pribadi Adrian di lantai dua—sebuah area yang kini sudah bebas dia masuki sejak Adrian memberikan kepercayaan penuh kepadanya.
Saat sedang mengelap meja kayu ek yang berat, jemari Gisella tidak sengaja menyenggol sebuah laci kecil di bagian bawah meja yang rupanya tidak terkunci rapat.
Laci itu sedikit terbuka, menampilkan tumpukan berkas tua dan sebuah amplop hitam bersegel lilin merah yang tampak asing.
Kerutan muncul di dahi Gisella.
Didorong oleh rasa penasaran dan insting kewaspadaan yang kuat, dia menarik amplop hitam tersebut.
Begitu dia melihat segel lilinnya yang bermotif burung amir—lambang dari Konservatorium Pusat Aethelgard—jantungnya mendadak berdegup kencang.
Gisella membuka amplop itu dan mengeluarkan selembar dokumen tebal di dalamnya.
Matanya dengan cepat memindai baris demi baris kalimat hukum yang tertulis di atas kertas bertekstur mahal tersebut.
Semakin dia membaca, semakin pasokan oksigen di sekitarnya terasa menipis. Wajahnya seketika memucat, sedingin es, dan tangannya bergetar hebat hingga dokumen itu nyaris terjatuh ke lantai.
> DOKUMEN PENETAPAN MEDIS DAN OTORITAS HUKUM KOTA AETHELGARD
> Menimbang kondisi psikologis Nyonya Gisella Arthur pasca-insiden benturan kepala berat, serta laporan amnesia parsial yang diajukan oleh Profesor Adrian Arthur...
> Dengan ini dinyatakan bahwa seluruh hak hukum, aset pribadi, dan tanda tangan kontrak atas nama Gisella Arthur dialihkan sepenuhnya di bawah perwalian mutlak Adrian Arthur sebagai suami sah, efektif sejak satu minggu setelah kepulangan dari rumah sakit.
> Catatan Tambahan Kasus:
> Subjek menunjukkan perubahan perilaku yang ekstrem, kemampuan baru (bermain piano pada tingkat keahlian tinggi), dan pola kognitif yang tidak selaras dengan rekam medis masa lalu. Jika dalam waktu tiga puluh hari subjek terbukti mengalami gangguan kepribadian ganda atau delusi akut (mengaku sebagai jiwa lain), maka hak asuh medis mutlak akan diserahkan kepada Rumah Sakit Jiwa Pusat Aethelgard.
>
Gisella membekap mulutnya sendiri, menahan pekikan syok yang hampir lolos dari tenggorokannya.
"Adrian... sudah merencanakan ini?"
Otak Gisella berputar dengan liar, mencoba menyusun serpihan teka-teki yang selama ini luput dari perhatiannya.
Surat ini ditandatangani oleh Adrian tepat satu minggu lalu—artinya, di saat Adrian mulai bersikap manis, mengatur makan malam bersama, dan berpura-pura luluh oleh lagu pianonya, pria itu sebenarnya sedang mengumpulkan bukti medis untuk mengunci hak hukumnya!
"Jiwa siapa pun yang ada di dalam tubuh ini... dialah wanita yang kucintai saat ini."
Kata-kata Adrian semalam kembali terngiang-ngiang di kepalanya, namun kali ini tidak lagi terdengar romantis. Kata-kata itu terdengar seperti sebuah klaim kepemilikan yang mengerikan.
Adrian tahu dia adalah "orang asing".
Adrian memercayai pengakuannya di kamar nomor dua waktu itu.
Tetapi, alih-alih melepaskannya setelah tiga puluh hari seperti isi kontrak awal, pria jenius yang kaku itu justru menggunakan ilmu hukum dan medis untuk menjebaknya agar tidak bisa pergi ke mana-mana.
Jika Gisella mencoba kabur atau bersikeras bahwa dia bukan Gisella asli setelah tiga puluh hari, dokumen ini akan langsung menyeretnya ke rumah sakit jiwa atas tuduhan delusi akut.
"Kau memanipulasiku dengan caramu, Adrian... dan aku dengan bodohnya mengira kau telah berubah,"
bisik Gisella, air mata pengkhianatan menetes membasahi kertas dokumen tersebut.
Sandiwara yang dia kira sudah pudar dari sisi Adrian ternyata hanyalah lapisan luar dari sebuah rencana proteksi yang sangat ekstrem dan posesif.
Pukul lima sore.
Kenop pintu utama berputar, dan langkah kaki Adrian yang ritmis terdengar memasuki rumah.
Sore ini, cuaca di luar sedang mendung, menyelimuti ruang tengah dengan bayangan keabu-abuan yang suram.
Adrian melangkah ke ruang tengah, meletakkan tas dokumennya di atas sofa.
Matanya langsung tertuju pada piano hitam besar.
Gisella sudah duduk di sana, tegak dan kaku.
Namun, dia tidak sedang mengenakan gaun rumah yang kasual.
Dia mengenakan pakaian formal—setelan mantel abu-abu gelap yang dia gunakan saat pergi ke dermaga tempo hari.
Bros perak pemberian Adrian tidak terlihat di dadanya.
Lebih dari itu, di atas bodi piano, di samping buku partitur Chopin, terletak selembar dokumen tebal dengan amplop hitam yang segel lilinnya telah rusak.
Langkah kaki Adrian terhenti tepat dua meter di belakang Gisella.
Udara di ruang tengah mendadak terasa membeku, kembali ke atmosfer dingin seperti minggu pertama pernikahan mereka.
Adrian menatap dokumen itu, lalu perlahan mengalihkan pandangannya ke arah punggung Gisella.
Wajah sang profesor di balik kacamata peraknya perlahan kembali mengeras, topeng formalitasnya yang kaku terpasang kembali.
"Kau memasuki ruang kerjaku tanpa izin, Gisella. Itu melanggar Poin Kedua dari aturan rumah kita,"
ucap Adrian, suaranya terdengar sangat datar, dingin, dan tanpa emosi—sebuah kontras yang kejam dari bisikan lembutnya semalam.
Gisella berdiri dari kursi piano, berbalik sepenuhnya menghadap Adrian.
Sepasang mata cokelatnya yang biasa jernih kini dipenuhi oleh kilat kemarahan dan rasa kecewa yang teramat mendalam.
"Poin Kedua? Kau masih mau bicara tentang aturan bodoh itu setelah apa yang kau lakukan di belakangku, Adrian?!"
Gisella menunjuk dokumen di atas piano dengan jari yang gemetar.
"Apa arti dari dokumen ini? Perwalian hukum mutlak? Rumah sakit jiwa? Jadi... semua perhatianmu seminggu ini, sup yang kau makan, pujianmu di depan galeri, dan pengakuan cintamu semalam... apakah itu semua hanya bagian dari strategimu untuk mengurungku di sini?!"
Adrian tidak bergeming.
Dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana bahan hitamnya, menatap Gisella dengan pandangan mata elang yang tidak terbaca.
"Itu bukan strategi untuk mengurungmu, Gisella. Itu adalah tindakan preventif."
"Preventif dari apa?!"
tuntut Gisella, suaranya meninggi, bergema di langit-langit ruang tengah yang sunyi.
"Dari aku yang ingin pergi? Kau tahu aku bukan istri aslimu! Kau tahu aku ingin menyelesaikan kontrak tiga puluh hari ini dan pergi mencari jalanku sendiri di dunia ini! Tapi kau... kau menggunakan otoritas medismu untuk mencapku sebagai orang gila jika aku mencoba melangkah keluar dari pintu rumah ini!"
Adrian maju satu langkah, mengikis jarak di antara mereka.
Aura intimidasinya yang masif seketika mengepung Gisella, namun kali ini Gisella tidak mundur secenti pun.
Dia menatap suaminya dengan keberanian penuh seorang profesional yang sedang dikhianati.
"Jika kau melangkah keluar dari rumah ini tanpa status hukum yang jelas, Julian atau orang-orang dari masa lalu tubuh ini akan langsung menghancurkanmu, Gisella!"
ucap Adrian, suaranya akhirnya naik satu oktav, memancarkan emosi maskulin yang tertahan.
"Kau pikir kau bisa bertahan hidup sendirian di kota Aethelgard yang kejam ini hanya dengan modal kepintaran humas dari dunia asalmu? Dokumen itu adalah satu-satunya cara legal agar aku bisa mengerahkan seluruh pengacara dan pengaruh keluarga Arthur untuk melindungimu dari jerat hukum yang ditinggalkan oleh Gisella yang asli!"
Adrian mencengkeram kedua bahu Gisella dengan kuat, memaksanya untuk menatap lurus ke dalam matanya yang kini memancarkan obsesi dan rasa protektif yang teramat pekat.
"Aku tidak peduli jika kau menganggap ini sebagai manipulasi. Aku adalah seorang ilmuwan, Gisella. Ketika aku menemukan satu-satunya elemen yang bisa menenangkan duniaku yang kacau, aku tidak akan membiarkan elemen itu hilang atau rusak karena variabel luar. Kau tidak akan pergi ke mana-mana setelah tiga puluh hari selesai. Kau akan tetap di sini, sebagai Nyonya Arthur, di sampingku. Selamanya."
Gisella menatap wajah Adrian yang berada sangat dekat dengan wajahnya.
Di dalam manik mata suaminya, dia tidak melihat monster yang jahat, melainkan seorang pria jenius yang saking takutnya kehilangan, memilih untuk menggunakan cara yang paling ekstrem dan kaku untuk mengunci takdir mereka.
Ketakutan terbesar Gisella kini telah menjadi nyata.
Di rumah ini, dia tidak lagi hanya sedang menghadapi plot novel yang tragis, melainkan sedang berhadapan dengan cinta yang teramat posesif dari sang karakter utama yang siap membelenggunya dalam sangkar emas bernama pernikahan.
Permainan catur di antara mereka belum berakhir; babak baru yang penuh dengan benturan ego dan perasaan yang rumit baru saja dimulai.
ditunggu updatenya
pengen tau pasti tentang cinta Mereka...