Saat mantan suami istri di pertemukan kembali setelah sekian lama, dengan banyak perubahan dari masing-masing. Apa kedua orang itu masih bermusuhan? Atau malah saling jatuh cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nine
Vote sebelum membaca 😘
.
.
Finn tersenyum tipis melihat Mamanya sudah datang menjemputnya.
"Sayang maaf Mama lama."
"Gak apa-apa."
Arapun menggandeng tangan Finn erat, setelah itu mereka masuk ke tempat makan yang tak jauh dari sana.
"Mama kita jangan terlalu sering makan diluar, aku lebih suka masakan Mama dari pada di sini."
"Benarkah? Kalau begitu nanti Mama akan sering masak deh di rumah."
Ara sebenarnya tahu jika putranya itu hanya tak ingin Ia menghabiskan uangnya saja dengan makan di restoran, Finn sangat hemat. Bahkan anak itu jarang sekali meminta sesuatu padanya, bahagia tentu saja, tapi terkadang juga sedih karena belum bisa memberikan apapun pada Finn.
"Gimana sekolahnya?"
"Biasa."
"Kenapa biasa? Kamu banyak temenkan di sekolah?"
"Em i-iya." Gugup anak itu. Jika ibunya sampai tahu Ia anak pendiam di sekolah, bagaimana ya? Finn bahkan tak punya teman satupun, Ia lebih suka menyendiri bersama dengan buku-bukunya.
"Sebentar ya Mama mau ke toilet, pengen pipis."
Finn mengangguk lalu kembali melanjutkan makannya. Walaupun Ia memang suka makanan enak seperti ini, tapi sayang juga jika ibunya harus mengeluarkan uang yang banyak hanya untuk sekali makan. Finn tak bohong jika Ia memang lebih suka masakan ibunya.
"Hei."
Finn mengangkat kepalanya, dahinya mengernyit melihat seorang pria yang tak asing. Saat ingat Ia tersenyum tipis. "Hai."
"Bertemu lagi Finn."
"Iya Om."
Arion duduk di hadapan anak laki-laki itu. Kenapa mereka sering bertemu ya? Padahal tak saling kenal, jika hanya kebetulan sajapun tak mungkin sesering ini.
"Makan siang sendiri?"
"Bersama Mama."
"Oh, baru pulang sekolah?" Tanya Arion karena melihat anak itu masih memakai seragam sekolah.
"Iya."
Kedua pria itu lalu terdiam karena tak tahu harus berbicara apa lagi, gugup itulah yang mereka rasakan.
Arion juga merasa aneh kenapa Ia malah duduk di sini, bukannya mencari meja lain untuk makan. Tak apalah, mungkin Ia akan bergabung saja di sini. Sekalian untuk berkenalan dengan Ibu dari Finn.
"Nama Om siapa?"
"Hah?" Benar juga, selama ini Ia belum pernah memperkenalkan diri pada Finn, huh bodohnya. Pria itu tersenyum tipis "Namaku Arion Kailli."
Finn mengaduk jusnya, lalu meminum-minuman itu. Sempat merasa aneh karena belakang nama mereka sama, tapi segera Ia tepis, mungkin hanya kebetulan saja.
"Kau suka jus mangga?"
"Iya, Mama juga suka."
"Benarkah? Berarti kita bertiga suka jus itu."
Finn dan Arion pun tertawa kecil, tapi tawa mereka terhenti saat mendengar seseorang.
"Sayang sudah habis makannya?"
Arion langsung menoleh dan terkejut melihat orang itu. Sedang apa Arabelle di sini? Dan kepada siapa wanita itu berbicara?
Tak jauh berbeda dari pria itu, Ara juga ikut terkejut. Apalagi Ia melihat Arion yang duduk di meja mereka.
Oh Tuhan bagaimana ini? Batin Ara.
"Lo? Ngapain lo di sini?" Tanya Arion.
"Bukan urusan lo!"
Ara mengalihkan pandangannya pada Finn. "Ayo pulang."
Dan Finn hanya mengangguk, lalu berdiri mendekati ibunya. Sebenarnya Ia masih lapar, tapi entah kenapa baru kali ini Ia melihat wajah ibunya yang terlihat.. Ketakutan?
"Tunggu!"
Arion menahan pergelangan tangan Ara, berdiri di hadapan wanita itu.
"Siapa dia?" Tanyanya sambil menujuk Finn dengan dagunya.
Ara mulai berkeringat dingin, Ia sungguh gugup entah harus apa saat ini. Wanita itu mengeratkan genggaman tangannya dengan Finn.
"Siapa dia Arabelle?" Desis Arion. Mata pria itu menatap tajam wanita di depannya yang hanya diam, percayalah saat ini juga Ia merasa jantungnya berdetak cepat.
"Gak mau jawab?" Arion terkekeh lalu melepaskan tangannya pada Ara, Ia lalu berjongkok didepan anak itu. "Finn apa dia ibumu?"
Saat mendengar pertanyaan itu, Ara lebih mengeratkan pegangan tangan mereka. Ia menundukan pandangannya, menatap putranya yang sedang menatapnya.
Matanya sudah berkaca-kaca karena takut akan sesuatu. Tuhan apa ini sudah saatnya?
"Mama?"
DEG!
Arion langsung terduduk di lantai dingin itu, Ia menatap wajah kecil di hadapannya lekat.
Mama?
Finn anak Ara? Tapi..
"Ayo pulang."
Ara segera menarik tangan Finn pergi dari sana, Ia berjalan cepat. Air matanya sudah tak bisa ditahan, wanita itu lalu segera naik ke dalam bus. Menangis dalam diam, menatap jalanan dari kaca mobil. Pandangannya kosong, mengingat kejadian tadi. Sungguh Ara tak menyangka jika sesuatu yang di takutkannya selama ini akhirnya terjadi juga.
Sekarang apa yang harus Ia lakukan? Apakah Ara harus menghindari pria itu? Dengan pergi lagi? Tapi Ia sudah lelah karena selama bertahun-tahun terus bersembunyi.
"Mom sorry."
Mendengar bisikan di sampingnya membuat Ara menoleh ke samping, Ia sampai lupa pada Finn.
"Hm?"
"Sorry."
Mengusap kepala anak itu pelan. "Kenapa minta maaf?"
"Mama menangis, dan itu karena Finn."
"Sayang.."
"Maaf Finn belum bisa bahagiain Mama, sering buat Mama susah. Jangan menangis lagi, nanti Finn ikut nangis."
Ara langsung memeluk tubuh Finn erat, Ia terisak di pelukan putranya. Kenapa Finn menyalahkan dirinya sendiri? Ini bukanlah salah anak itu.
Walaupun Finn anak yang cuek dan dingin, tapi saat seperti ini maka anak itu akan bersikap dewasa. Ara sangat menyayangi Finn, putranya adalah segalanya baginya.
"I love you, Mom."
"I love you too."
***
Ara menatap bayangannya yang telanjang di depan cermin itu. Tangan kanannya terulur mengusap perutnya yang semakin membesar, didalam sana ada darah dagingnya, buah hatinya. Sekarang usia kandungannya sudah menginjak tujuh bulan. Tak terasa memang, dan Ara tak percaya masih mempertahankannya.
Tahukah kalian jika saat dulu Ara mengetahui jika dirinya hamil, saat itu juga Ia sangat frustasi. Bahkan sampai pernah terpikirkan untuk menggugurkan kandungannya, tapi ternyata Ia tak bisa.
Ara mulai sadar jika semua ini yang sedang Ia hadapi adalah cobaan dari Tuhan. Takdir yang akan menentukan bagaimana kehidupan masa depannya, dan perlahan rasa sayangpun tumbuh di hati Ara untuk darah dagingnya itu.
Selama ini Ara berjuang sendiri, ya sendiri karena orang tuanya telah tiada beberapa bulan lalu. Jika ditanya, apa sebelum orangtuanya meninggal mereka sudah tahu kehamilannya? Ya mereka tahu. Awalnya mereka sangat terkejut dengan pengakuannya itu. Ara kira kedua orangtuanya akan menyiksanya, tapi mereka malah tersenyum dan memeluknya.
Kedua orangtuanya sangat bahagia mengetahui kehamilannya dan berencana memberitahukan kabar itu pada keluarga Arion. Tapi saat itu juga Ara menolak keras, Ia tak mau pria itu sampai tahu. Kenapa? Entahlah Ia ragu, karena saat itu mereka tak punya hubungan apa-apa lagi.
Ara rela menjaga buah hatinya sendiri, disaat orang lain sedang bahagia di masa mudanya. Maka lain halnya dengan Ara, yang harus menjaga bayinya. Ia juga bahagia, sangat bahagia.
"I love you my litle prince." Bisik Arabelle tersenyum lebar sambil mengusap perutnya.
Flashback off
hanya org bodoh yg mengagungkan cinta sampai mati, krn bertepuk tangan tdk bisa dilakukan sendirian
.