Nadia menikahi pria yang tidak pernah mencintainya. Sang suami adalah teman masa kecil nadia. Namun dimas melupakan gadis tersebut. Selama pernikahan mereka, Nadia terus merasakan sakit yang teramat sakit. Melihat sang suami bersama dengan wanita lain. Sang suami masih berhubungan dengan wanita yang masih berstatus kekasih. Dan bahkan mengajak kekasihnya itu untuk datang ke rumah. Setiap hari Nadia harus melihat kemesraan sang suami dengan wanita lain di depan mata sendiri. Nadia hanya bisa menahan rasa sakit yang ia rasakan demi keutuhan rumah tangganya. Nadia berprinsip menikah sekali seumur hidupnya. Nadia juga tidak ingin berpisah dari Dimas pria yang ia cintai sedari dulu. Dan ia ikhlas menerima rasa perih yang tidak pernah di dapatkan dari keluarganya. Nadia yakin, suatu saat nanti sang suami akan mencintainya juga, walaupun ia tidak terlalu yakin dengan hal tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Matcha Lala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Keesokan harinya. Nadia sudah di perbolehkan untuk pulang ke rumah. Darren mengantar Nadia pulang ke rumah Dimas. Darren menekan bel rumah milik sahabatnya tersebut. Cukup lama mereka menunggu, pintu pun terbuka dan terlihat Dimas dengan baju berantakan dan rambut yang juga ikut berantakan tengah berdiri di depan pintu.
"Antar Nadia ke kam-----, buset, Lo ngapain semalem? Kotor banget rumahnya? Lo mabuk lagi? Nggak ngotak sumpah, istri Lo lagi di rumah sakit, tapi Lo malah mabuk di ru------ ,"
Ucapan Darren terhenti saat Nadia memegang tangannya. "Udah kak, aku udah sampai di rumah, jadi kakak pulang saja ya. Semalem kakak enggak tidur karena jagain aku. Jadi lebih baik kakak pulang dan istirahat, makasih udah jagain Nadia. Tolong ucapkan terima kasihku juga ke kak Raka dan kak Ardana. Mereka juga udah begadang jagain aku di luar UGD," ucap Nadia.
"Kakak antar ke kam------,"
"Enggak perlu kak, Nadia bisa sendiri kok," ucap Nadia.
Darren menganggukkan kepalanya dan melihat Dimas yang masih belum sepenuhnya sadar. Kepala Dimas terasa sangat berat sakit, karena minuman semalam. Nadia mendekati sang suami dan memegang tangan Dimas.
"Ke kamar yuk kak, kayaknya kakak belum sepenuhnya sadar," ucap Nadia.
Dimas hanya menganggukkan kepalanya saja dan menggenggam tangan Nadia. Sepasang suami istri tersebut langsung berjalan ke arah kamar mereka. Darren yang melihatnya hanya bisa diam, dan memilih untuk pergi dari rumah Dimas. Sakit? Tentu saja sakit untuknya, apalagi Nadia adalah gadis pertama yang membuatnya mengenal cinta. Namun ia memendam senia perasaanya, agar dia tidak jauh dari gadis yang ia cintai itu.
'Percuma Lo bucin sama cewek lo, di urus juga kagak, dasar Dimas bego,' batin Darren
Darren masuk ke dalam mobilnya dan menjauh dari halaman rumah Dimas. Hari ini adalah hari Sabtu, dan hari ini adalah hari paling membahagiakan bagi para karyawan kantor dan lainnya. Mereka tidak menyia nyiakan hari libur, untuk berlibur bersama dengan kedua orang tua, sahabat, teman, kekasih, tunangan, istri dan anak mereka.
*******
Di dalam kamar. Nadia membantu sang suami untuk berbaring di atas kasur, walaupun tubuhnya masih belum terlalu kuat, tapi Nadia berusaha untuk membantu sang suami agar tidak terluka. Dimas tertidur di kasur dan langsung memeluk bantal guling yang ada di sampingnya. Nadia membuka kaos kaki sang suami dan meletakkannya di keranjang pakaian kotor yang ada di kamar mandi.
"Aish, sial," ucap Dimas.
Nadia mengintip dari balik pintu kamar mandi, saat mendengar ucapan dari suaminya yang tengah dalam keadaan tertidur. Dimas tengah berbicara dalam tidurnya, dan terus saja mengumpat. Nadia membuka lemari dan mengambil baju bersih untuk sang suami.
"Kak, ganti maju dulu ya. Baju kakak bau alkohol," ucap Nadia.
Dimas langsung duduk dan membuka bajunya. Nadia langsung mengambil baju kotor suaminya dan membantu Dimas untuk memakai baju kaos.
"Celananya gimana? Bisa pakai sendiri?," ucap Nadia.
"Bisa, lo keluar dulu sana. Ambilkan gue minum," ucap Dimas.
"Baiklah," ucap Nadia.
Nadia keluar dari dalam kamar, dan saat akan berjalan ke arah dapur, Jessica masuk ke dalam rumah tanpa izin. Jessica langsung berjalan ke arah kamar dimas, dan Nadia langsung menahan tangan Jessica.
"Mau apa kamu datang ke sini? Masuk rumah orang tanpa izin lagi, apa kamu tidak pernah di ajarkan tentang sopan santun masuk ke rumah orang lain hah," ucap Nadia.
Jessica menatap Nadia dengan tatapan tajam, dan menepis tangan Nadia. "Ini rumah pacar gue, jadi suka suka gue dong mau masuk dengan sopan atau enggak! Inget Lo itu dan pacar gue cuman nikah di atas kertas. Jadi jangan ikut campur dengan urusan gue dan pacar gue. Lo cuman beban, yang harus di tanggung oleh pacar gue!," bentak Jessica.
Mendengar bentakan tersebut, Nadia mengepalkan kedua tangannya, dan Jessica tersenyum miring. Saat Jessica akan membuka pintu kamar,ternyata sudah di buka lebih dulu oleh Dimas.
"Mau apa? Enggak cukup kamu buat aku sakit? Enggak cukup Jessica! Kenapa kamu bersama pria lain? Kenapa kamu minum dengan pria lain? Kenapa?!," ucap Dimas.
Nadia yang akan melarang Jessica untuk masuk, langsung terdiam saat melihat suaminya terlihat sangat marah. Air mata Dimas tiba tiba saja menetes.
"Kenapa kamu bermain dengan pria lain? Apa kurangnya aku Jessica? Apa? Sakit Jessica, sakit banget! Apalagi melihat orang yang kita sayang bersama dengan orang lain, berpelukan, bahkan lebih dari itu sampai bermesraan! Jahat kamu Jessica! Pergi dari rumahku sekarang!," ucap Dimas.
Jessica memegang tangan Dimas. "Aku akan jelaskan setelah kamu sepenuhnya sadar. Sekarang sebaiknya aku pulang dulu, kamu istirahat aja hari ini. Besok kita bertemu lagi. Kita janji akan pergi liburan seharian bersama sahabat kamu, jadi lebih baik kamu istirahat," ucap Jessica.
Dimas menepis tangan Jessica dan langsung menutup pintu kamar dengan kasar. Nadia dan Jessica terkejut melihat Dimas membanting pintu kamar, karena sangat marah dengan sang kekasih. Jessica menghela nafas dengan kasar dan memilih langsung pergi dari rumah Dimas. Nadia? Gadis itu hanya berdiri di depan pintu kamar, ia memberikan waktu pada Dimas. Suaminya pasti ingin menyendiri, apalagi baru bertengkar dengan Jessica.
Saat Nadia akan membalikkan tubuhnya, tiba tiba saja Dimas memanggil namanya. "Nadia gue mau minum," ucap Dimas.
Nadia langsung berlari mengambil minuman untuk Dimas, setelah minumannya ada di tangannya, Nadia langsung masuk ke dalam kamar dan memberikan minuman untuk Dimas.
"Ini kak," ucap Nadia.
Dimas mengambil minuman tersebut dan meminumnya. Pria itu meletakkan gelas itu di atas meja yang ada di samping ranjangnya. "Nad, tolong pijat kepala gue dengan pelan. Kepala gue sakit banget," ucap Dimas.
Nadia langsung memijat kepala sang suami dan Dimas berbaring di paha Nadia. "Jangan terlalu banyak minum kak, itu enggak baik untuk kesehatan," ucap Nadia.
Dimas hanya diam, dan pria itu memejamkan kedua matanya karena pijatan dari Nadia benar benar enak.
*****
Di sisi lain. Jessica menghentikan mobilnya di depan rumah yang terlihat sangat mewah. Jessica keluar dari dalam mobil dan berjalan memasuki halaman rumah yang ia tuju.
"Maaf, anda siapa?,"
Satpam yang bekerja di rumah mewah tersebut kebingungan melihat keberadaan Jessica.
"Aku ingin bertemu dengan anak pemilik rumah ini," ucap Jessica sombong sambil melipat kedua tangannya. Satpam tersebut langsung menekan telepon untuk melaporkan kepada anak majikannya. Setelah mendapat jawaban, satpam kembali menatap Jessica.
"Maaf, tuan muda tidak mau bertemu dengan siapapun. Ini adalah hari libur dan ini waktunya tuan muda menghabiskan waktu di kamarnya," ucap satpam tersebut.
"Alah, buka enggak gerbangnya. Gue mau ketemu sama anak majikan Lo!," bentak Jessica.
Jessica berteriak dan tatapan tetangga komplek langsung tertuju kepada Jessica. Satpam panik, Karen aia tidak enak sudah mengganggu kenyamanan warga komplek tempat ia bekerja.
"Maaf, anda harus pergi dari rumah ini. Tuan muda tidak ingin bertemu dengan anda," ucap satpam tersebut.
"Enggak! Gue mau ketemu sama majikan Lo!, kalau Lo maksa gue pergi, gue akan teriak terus!," ucap Jessica.
"Lepasin aja pak,"
Terdengar suara seorang pria yang ingin di jumpai oleh Jessica. Pria itu berdiri di balkon kamar dengan pakaian rumahan.