Pernikahan Sora dan Rian terancam hampa akibat dinginnya sikap sang suami. Di tengah kesepian yang menghimpit, hadir Aris, sahabat masa kecil Rian yang perhatian dan selalu ada. Sentuhan lembut dan kehangatan Aris perlahan mengikis benteng pertahanan Sora. Sebuah kisah tentang godaan terlarang, dilema kesetiaan, dan gairah yang membakar di balik pintu tertutup
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RAHASIA TERAKHIR
"Danu... siapa sebenarnya... yang membakar gudang bisnis ayahku lima tahun lalu?"
Suara Sora bergetar hebat di balik gagang ponsel, begitu tipis hingga nyaris tenggelam oleh deru mesin mobilnya yang masih menyala di pelataran parkir markas kepolisian.
Di ujung telepon, keheningan panjang mendadak tercipta. Tidak ada helaan napas, tidak ada alunan musik latar, hanya ada jeda yang membeku dan terasa sangat menyiksa.
"Sora... kamu bicara apa?" suara Danu akhirnya terdengar, kini tanpa kehangatan yang biasanya selalu menghiasi nadanya. "Kamu di mana sekarang? Kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu?"
Sora memejamkan mata rapat-rapat. Air mata dingin mengalir makin deras menyusuri garis pipinya, menetes jatuh membasahi pita kaset lama yang masih terpasang di pemutar audio dasbor mobilnya. Rekaman suara dingin Danu dari lima tahun lalu masih terngiang-ngiang tajam di dalam kepalanya, merobek seluruh rasa percaya yang baru saja sempat ia bangun kembali.
"Aku baru saja membuka kotak kayu milik Aris, Danu..." bisik Sora dengan nada suara yang penuh keputusasaan. "Aku sudah mendengar semuanya. Suaramu... rencanamu bersama Aris lima tahun lalu..."
Di balik kaca ponsel, Danu menghela napas panjang—sebuah helaan napas berat yang kini terdengar sama persis dengan suara pria asing di dalam rekaman kaset tersebut.
"Sora... dengarkan aku dulu," ucap Danu dengan nada bariton yang mendadak berubah sangat dingin dan datar. "Di mana kamu sekarang? Jangan pergi ke mana-mana. Kita harus bicara berdua."
"Jangan pernah mendekatiku lagi, Danu!" jerit Sora dengan sisa tenaga di dadanya. "Kalian semua penjahat! Aris, Rian, dan kamu... kalian bertiga tidak ada bedanya! Kalian cuma menjadikan aku dan keluargaku sebagai permainan gila!"
Sora langsung mematikan sambungan telepon secara sepihak, mematikan daya ponselnya, lalu mengunci seluruh pintu mobil dari dalam. Tubuhnya gemetar hebat saat ia menyandarkan kepalanya pada lingkar kemudi. Dunianya hancur berkeping-keping untuk kesekian kalinya. Pria yang selama beberapa minggu terakhir bertindak sebagai pahlawan, tempatnya bersandar, dan pelindungnya... ternyata adalah orang yang sama yang ikut menyulut api menghancurkan seluruh kehidupan keluarganya sejak awal.
Sora menancap gas mobilnya, melaju kencang membelah kemacetan jalanan kota Jakarta yang mulai diguyur hujan deras. Pikirannya kosong, matanya yang sembap oleh air mata membuat pandangannya ke jalanan di depan tampak kabur.
Ia tidak bisa kembali ke rumah mungilnya, dan ia jelas tidak bisa pergi ke galeri seni yang lokasinya persis berada di kawasan kompleks milik Danu. Seluruh tempat yang ia anggap sebagai rumah kini terasa seperti perangkap yang siap menelannya bulat-bulat.
Setelah berkendara tanpa arah selama lebih dari satu jam di bawah guyuran hujan badai, Sora akhirnya menghentikan mobilnya di pelataran parkir sebuah tempat pemakaman umum di pinggiran kota. Pemakaman tempat mendiang ayahnya dimakamkan lima tahun lalu.
Sora mengambil payung hitam dari kursi belakang, keluar dari mobil, dan berjalan tertatih menyusuri jalan setapak yang becek. Di depan batu nisan bertuliskan nama ayahnya, Sora berlutut. Ia membiarkan ujung gaunnya kotor oleh tanah basah, membiarkan air mata dan guyuran air hujan menyatu membasahi wajahnya.
"Ayah... maafkan Sora..." tangis Sora pecah di tengah deru angin dan suara hujan yang dihantamkan ke tanah. "Sora bodoh, Yah... Sora mempercayai orang yang salah lagi..."
Rasa sakit di dadanya begitu menghimpit, seolah-olah seluruh pasokan udara di bumi telah tersedot habis. Ayahnya meninggal karena serangan jantung setelah tragedi kebakaran gudang lima tahun lalu—tragedi yang ternyata bukan sekadar musibah, melainkan hasil konspirasi dingin antara Aris, Rian, dan Danu.
Pukul enam sore.
Langit makin gelap dan hujan belum juga reda. Sora perlahan berdiri dari samping makam ayahnya, melangkah kembali menuju mobilnya dengan tubuh yang lemas dan pakaian yang agak basah oleh cipratan air hujan.
Namun, begitu ia mendekati mobilnya, langkah kaki Sora mendadak terhenti seketika. Tubuhnya membeku bagai patung di tengah guyuran hujan.
Sebuah mobil sedan putih terparkir tepat di samping mobil Sora. Dan di depan pintu mobil Sora, berdiri seorang pria tegap yang memegang payung besar berwarna hitam.
Danu.
Pria itu berdiri di sana dengan kemeja basah yang menempel di tubuhnya, menatap Sora dengan sorot mata yang tak lagi memancarkan kehangatan ramah seperti biasanya. Tatapannya kini begitu dalam, tajam, dan sarat akan dominasi yang tertahan.
Sora melangkah mundur dua tapak dengan cepat, meremas gagang payungnya erat-erat. "Bagaimana... bagaimana kamu bisa tahu aku ada di sini?"
Danu melangkah maju secara perlahan, mengikis jarak di antara mereka. Suara langkah sepatunya di atas tanah basah terasa begitu mengintimidasi di tengah sepinya area pemakaman.
"Aku tahu segalanya tentangmu, Sora," jawab Danu dengan suara baritonnya yang tenang namun menggelegar di antara deru hujan. "Aku tahu tempat pemakaman ayahmu. Aku tahu kebiasaanmu kalau sedang hancur. Dulu, sekarang, dan selamanya."
"Pergi dari sini, Danu!" teriak Sora, air mata keputusasaan kembali mengalir membasahi pipinya. "Jangan sentuh aku! Jangan berpura-pura peduli lagi!"
Danu menghentikan langkahnya tepat dua meter di hadapan Sora. Ia melempar payungnya sendiri ke tanah, membiarkan hujan deras mengguyur kepala dan wajahnya secara langsung.
"Aku memang ikut merencanakan kebakaran gudang itu lima tahun lalu, Sora!" aku Danu dengan suara keras membelah gemuruh hujan. "Aku yang membiarkan Aris dan Rian mengeksekusinya! Karena waktu itu... perusahaan ayahmu yang menghancurkan masa depan keluargaku lebih dulu!"
"Tapi kamu tidak punya hak menghancurkan hidupku!" balasa Sora hysteris.
"Aku tahu aku tidak punya hak!" bentak Danu, langkah kakinya maju dalam sekali hentakan, meraih kedua bahu Sora secara mendadak sebelum Sora sempat melarikan diri.
Genggaman tangan Danu di bahu Sora begitu kuat, memenjarakan tubuh wanita itu di bawah guyuran hujan deras. Sora meronta-ronta, memukul dada tegap Danu dengan sisa tenaganya, namun Danu sama sekali tidak bergeming.
"Lepaskan aku, Danu! Lepas!" jerit Sora.
"Dengar aku, Sora!" teriak Danu tepat di depan wajah Sora. Matanya yang basah oleh air hujan memancarkan emosi yang begitu pekat dan liar. "Rencana awal memang untuk membalas dendam pada keluargamu! Tapi saat aku melihatmu berdiri di galeri itu beberapa minggu lalu... saat aku melihat mata beningmu yang terluka gara-gara Rian dan Aris... rencana itu mati, Sora!"
"Bohong!" cicit Sora dengan suara bergetar di tengah tangisnya.
"Aku jatuh cinta padamu, Sora!" aku Danu dengan nada suara yang begitu dalam dan sarat akan kegilaan yang jujur. "Bukan sebagai bagian dari dendam, tapi karena kamu adalah satu-satunya hal indah yang tersisa di tengah hidupku yang hancur! Aku memenjarakan Aris, aku memusnahkan Rian... aku melakukan semuanya agar kamu bisa bebas dan jadi milikku sepenuhnya!"
Sora membelalakkan matanya tak percaya. Pernyataan Danu bagaikan petir menyambar di siang bolong. Pria ini... ternyata sama gila dan posesifnya dengan Aris dan Rian. Semua kelembutan dan perhatiannya selama ini adalah bagian dari obsesi yang dibungkus dengan sangat rapi.
Danu menundukkan kepalanya, mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka nyaris bersentuhan. Napasnya yang hangat dan memburu terasa jelas di kulit wajah Sora yang dingin karena air hujan.
"Aris sudah mati, Sora... Rian sudah hancur," bisik Danu dengan suara bariton yang amat sangat tajam di samping telinga Sora. "Sekarang tidak ada lagi orang yang bisa memisahkan kita."
Sora menahan napasnya, jantungnya berdegup kencang oleh ketakutan yang mencekik dada saat Danu mempererat rangkulannya di pinggangnya.
"Ikut aku pulang sekarang... atau kamu mau tahu rahasia terakhir yang bikin ayahmu sebenarnya meninggal lima tahun lalu?"